
Mobil berwarna putih pun datang. Sebuah mobil Elf dengan penumpang di belakang yang sudah penuh.
Aku pun berdiri dan mengambil ranselku. Tak aku sadari tanganku dan Yofie malah bergandengan.
Aku kemudian memandang ke Yofie. Ya, kami saling menatap sesaat. ...
Aku melepas tangan Yofie, lalu aku mengambil ranselku.
Yofie membawakan tas berisi bekal yang ia beri kepadaku. Lalu kami keluar ke arah jalan.
Supir yang aku tafsir seumur ayahku menyambutku. Ia tersenyum dan membuka pintu di samping kemudi.
Malam itu aku harus duduk di samping supir. Aku meletakan ranselku, lalu aku berpaling ke Yofie.
"Pulang dulu ya kak.... " Aku lalu tersenyum dan bersiap naik ke atas mobil.
"Cathrine.... "
"Ya?" Aku berhenti dan membalikkan badanku.
"Cepat kembali ya, jangan lupa sms aku, beri kabar ketika kamu sudah kembali.... " Yofie memandangku dengan mimik wajah sedih.
Aku hanya mengangguk dan tersenyum. Aku masuk ke dalam mobil dan supir menutup pintuku.
Sopir Travel mulai memasukkan perseneling. Ini saatnya aku pulang.
Aku melambaikan tangan ke Yofie. Ia membalasku dan senyumnya begitu manis.
Dalam hatiku mengapa malah sedih ya? Aku seperti berat meninggalkan kota ini.
Aku memandang suasana malam, saat mobil mulai mengantri ke jalan toll. Suasanya padat merayap, ya ini jalan utama untuk keluar dari kota ini.
Aku menyandarkan kepalaku ke arah jendela. Banyak kelip lampu kendaraan yang menjadi hiburanku.
Seperti ada yg berat, tapi apa. Seperti ada yang sedih, tapi apa?
Lagipula, aku tak seharusnya merasa berat untuk meninggalkan kota ini. Banyak rintangan yang aku hadapi untuk hanya sekedar bertahan hidup.
Aku ingin kembali ke rumahku. Kembali bersama kedua orang tuaku. Merasakan ada yang menyambutku saat aku pulang. Ada yang sekedar menemaniku walau hanya diam.
Makan pun, aku tak mengharuskan sebuah daging. Asal bisa bersama keluargaku, aku sudah merasa bahagia. Ini mungkin harga yang paling mahal dari hidupku.
Hanya sekedar berkumpul dengan keluargaku.
.........
Perjalanku menghabiskan sepanjang malam. Cuaca saat itu terhitung cerah, hanya hembusan angin malam yang menemaniku.
Saat sinar surya mulai menampakkan, kedua mataku terbuka perlahan. Aku melihat jalan utama masuk ke kota ku.
Banyak truck bermuatan besar yang ikut mengantri untuk masuk.
Aku menegakkan posisi dudukku, kemudian aku mengambil ponsel dari dalam tas. Aku menekan tombol panggil.
'Ah rupanya pukul 7 pagi.'
Aku masih harus menempuh setengah jam lagi untuk sampai ke rumahku.
Aku merasa senang melihat jalanan di kotaku. Hanya beberapa bulan aku meninggalkannya, banyak perubahan yang sudah terjadi.
aku seperti orang asing yang memandang jalanan kotaku. Sedikit perubahan yang terjadi, namun asing menurut hatiku.
Supir mengantar satu per satu. Memang rumahku dekat dengan kantor travel tersebut. Itulah mengapa aku selalu di antar terakhir.
Aku turun di depan rumahku. Tak banyak berubah, namun kemana kursi yang ada di teras?
Aku membawa tas ku, lalu aku membuka pintu pagar. Aku masuk ke dalam rumah.
Langkahku terhenti di pintu masuk rumahku. Aku menghela nafas dan memberanikan mengetuk pintu.
Tok.... Tok....
"Papa... Mama.... Aku pulang.... "
Tak berapa lama ada seseorang yang membuka pintu...
Aku tersenyum menatapnya, ya... Papa ku yang paling aku sayangi...
Aku langsung memeluk papa..
"Papaaa.... Aku kangen sama papaa... "
Papa hanya tersenyum dan menepuk pundakku. Ia tak berkata apapun, hanya aku rasa tubuh nya sedang tidak sehat.
__ADS_1
Badan papa pun jauh lebih kurus. Aku rasa ada yang di sembunyikan papa. Aku pun melepaskan pelukkanku.
Aku menatap wajah papa, agak menjadi gelap wajah papa. Seperti ada yang tidak beres.
"Duduk yuk kak, papa mau ngobrol... "
Aku pun duduk di ruang keluarga. Disana ada sofa kecil dan tv. Tempat papa biasa menonton dan membaca koran.
"Pa... Apa papa sakit? Kenapa papa begitu pucat?" Aku khawatir melihat fisik papa.
"Iya kak, maaf kan papa... Papa berbohong jika papa sehat... Papa mau minta tolong sama kamu.."
"Minta tolong apa sih pa? Kok ngobrolnya tegang banget... " Aku malah mengacuhkan papa.
Kini aku membuka tas ransel yang aku bawa. Ada beberapa buah tangan untuk keluargaku.
"Kak.... Papa pengen kamu nerusin kuliah..."
"....... (Diam) .... Iya pa..." Jawabku lirih.
"Papa juga minta tolong jaga mama dan adek kamu.. Kamu anak tertua dan kebanggan papa.... Kamu juga anak kuat, papa yakin kamu sanggup... "
Bagai tersambar petir mendengar kata - kata papa. Aku langsung berpaling ke arah papa.
"Maksud nya apa? Kenapa papa ngomong gitu?!"
"Engga papa, cuman sudah lama papa pendam.. Makanya mumpung papa bisa ngobrol sama kamu... Papa sampaikan saja."
"Iya pa.... Sudah ya pa... Papa jangan pusing mikirin hal begitu. Penting papa itu sehat. Aku bakal kerja keras buat kita semua pa.... Aku janji pa... "
Papa tersenyum, mimik wajahnya berubah drastis. Seperti rasa lega dan tenang.
Aku hanya melihat papa dengan seribu tanya. Apa yang sebenarnya terjadi?
...Aku menguyur badanku dengan air hangat. rasanya segar seperti aku telah menempuh perjalanan yang jauh....
aku segera masuk ke kamarku, namun saat aku berjalan. tak biasanya aku melihat papa terbaring dalam kamar.
papa biasanya suka duduk dan membaca buku. atau biasanya ia pergi untuk menjadi makelar bermacam barang. apapun ia lakukan agar kami bisa makan.
namun saat itu ia hanya terbaring. aku mengamati dari pintu kamar yang terbuka. ia nampak begitu lelah. nafasnya pun.... agak pendek dan terkadang aku tak melihat perubahan di perutnya, saat mengambil nafas.
aku mengigit bibir bawahku, aku khawatir dengan papa. apa benar jika papa tidak memiliki umur yang panjang lagi?
aku harus cepat mendapat uang agar jantung papa bisa di obati.
aku tak ingin kehilangan papa. orang yang amat mencintaiku tanpa pamrih.
Pukul 11 siang.....
aku melihat adikku kembali... ia membawa banyak barang dan terlihat begitu lelah.
mama di belakang menyusulnya sambil memasukkan motor butut kami. mereka terlihat begitu lelah dan berkeringat.
"Ghe..... kakak pulang..... " aku berdiri di pintu depan.
"Kakakkk..... " Ghea menyambut ku.. ia langsung memelukku dengan erat.
adikku yang paling aku sayang, dia harta yang aku punya saat ini. semangatku saat aku berangkat bekerja.
"kak.... kamu pulang?" mama menepuk pundakku.
aku melihat mama dan mengangguk. mama tersenyum dan matanya menjadi merah. aku paham mama menahan tangis.
kami pun masuk dan duduk di kursi depan tv. Papa masih terbaring di kamar, diam dan hening.
"ma.... papa kenapa sekarang jadi begitu?"
"...... " mama hanya diam, menyembunyikan sesuatu dariku.
"kak.... papa itu harus cepet pasang Ring.... " jawab Ghea.
"dek...... " mama melotot ke arah Ghea.
Ghea pun diam dan memajukan bibirnya. ia merasa di salahkan atas apa yang ia katakan.
"ma.... mama jujur aja ada apa sebenarnya? biar aku engga kaya orang bodoh gini ma... aku engga biasanya liat papa begitu."
mama menarik nafas dalam - dalam.
"mama sebenarnya engga mau cerita. jadi komplikasi papa kamu sudah makin parah. papa kalo minum obat untuk jantung, maka ginjal papa tidak akan kuat. jika hanya meminum satu obat, jantung papa yang tidak bisa bekerja. tapi uang untuk operasi itu besar..... mama sudah habis kan semua untuk bawa papa ke alternatif dan dokter....
jadi papa mutuskan untuk sudah biarkan saja, sampai Tuhan yang mengambilnya saja.... " mama bercerita singkat, namun air mata mama rasanya sudah kering.
__ADS_1
Ghea masih meneteskan air mata saat itu. aku hanya diam dan berfikir. lama aku tak kembali, aku tak menyangka jika keadaan papa sudah separah ini.
"mama tidak mau merepotkan kamu, mama cuman minta tolong bantu mama buat sekolah Ghea. mama masih kuat untuk kerja di pasar, tapi uang sekolah Ghea makin mahal. dan mama lihat Ghea ingin sekali menjadi dokter.... "
"mama...! udah lah, aku engga jadi dokter juga gapapa. mahal dan lama sekolah untuk jadi dokter. lebih baik aku sekolah hotel atau kecantikan ma. biar aku cepet dapet duit ma!" Ghea menjawab dengan berapi - api.
aku hanya menepuk pundak Ghea dan tersenyum. entah tak banyak kata dan tak sanggup berkata apapun aku.
"kamu mau makan apa? mama masakkan ya... "
"engga usah ma, aku udah makan kok sama nasi dan sayur di meja... " aku menjawab mama.
"kak... itu sayur kemarin lhooo... "
"Gheaa..... " mama mencubit tangan Ghea.
"sudah ma, jangan begitu sama Ghea.. mau nasi kemarin atau sayur kemarin. asal buatan mama sudah enak buat aku... lebih baik , aku sekarang istirahat dulu ya... nanti malam aku janjian sama Anne.... "
aku pun masuk ke dalam kamar. membaringkan badan di kasur ukuran queenbed. kasur yang harus aku bagi dengan Ghea.
walau kasur kapuk ini sudah lama. rasanya nyaman daripada kasur di dalam kost. aku memejamkan Kedua mataku.
*************
aku bersiap untuk pergi, jeans dan Blouse warna biru langit jadi pilihanku. aku pun keluar dari kamar dan menuju ruang tengah.
biasanya papa yang mengantarku kemanapun aku pergi. dengan motor butut yang kini kami punya. kemanapun aku akan pergi, papa semangat mengantar dan menjemputku.
aku duduk di ruang keluarga. namun aku tak melihat tanda papa siap mengantarku. Ghea tak nampak sore itu. kemana pula adekku itu?
tak lama papa keluar dengan baju pergi. ia menggunakan jaket tebal dan celana pendek kesayangannya.
aku pun berdiri dan mengambil helm. papa menyusulku ke depan. kami pun keluar dari rumah.
banyak tetangga memperhatikannku. aku merasa sepertinya mereka sering membicarakan aku.
aku naik ke atas motor. papa masih memanaskan kendaraan tua ini agar tidak mogok.
sayup - sayup aku mendengar...
"katanya artis.. kok aku lho ga pernah liat?"
"heh.. masak artis masih naik motor butut gitu.. "
"artis gimana? lha saya aja lho Bu liat turun dari mobil travel. kalo emang bukan artis udah ngomong aja. gausah sombong.... "
"ya allah.. kalo aku ya... udah ga punya muka... "
aku memeluk papa, tanganku meremas jaket papa. tanganku pun di tepuk oleh papa.
sepertinya papa juga mendengar kalimat dari tetangga itu. aku jadi curiga jangan - jangan setiap hari mereka membicarakan keluargaku ?
papa sepertinya sudah tak betah. ia pun menjalankan motor dan mengeraskan suara gas. agar asap nya terbuang ke arah tetanggaku.
"makan tu asep!" kata papa...
jarak dari rumah ke mall tidak jauh. inilah mengapa aku suka dengan perumahan di sini.
aku turun di salah satu pintu loby. papa pergi meninggalkanku, aku pun masuk ke dalam. melewati pemeriksaan oleh security.
aku berjalan masuk dan duduk di salah satu sudut. aku menunggu Anne dengan sabar, biasa nya ia emang tidak pernah bisa ontime...
sahabatku yang mengerti saat keadaanku jatuh. Anak dari pengusaha kaya, walaupun ibunya istri kedua. tapi ia tak pernah kulihat bertengkar dengan keluarga istri pertama ayah nya.
Anne tumbuh dalam rumah besar. dengan keluarga yang besar. baru kali ini aku melihat sebuah keluarga yang tinggal satu atap, dengan kedua istri nya.
Bisa dibilang hanya Anne yang menjadi penerus. istri pertama ayahnya mengidap penyakit yang aku tak mengerti jelas. hanya saja itu membuat nya tidak dapat memiliki keturunan.
sedang istri kedua, yaitu mama Anne... dia wanita mandiri yang juga merawat serta menemani mama Anne. karena kedekatan mereka, maka terjadilah hal semacam ini...
"Cathh!! " suara nya sangat khas.
aku pun menoleh dan melambaikan tangan..
"Anne... " aku berdiri dan menghampiri Anne.
kami berpelukan, bagaikan saudara yang telah lama tak bersua.
Anne melepaskan pelukannya, ia melihatku dengan menyipitkan matanya.
"kamu tetep aja ya? engga make up kemana pun tempatnyaa .... " celetuk Anne melihatku.
"ya iyalaahh.... gatel mukanya ini kalo pake bedak An... " aku menjawab sambil memegang pipiku.
__ADS_1