CARAMU MENCINTAIKU

CARAMU MENCINTAIKU
22


__ADS_3

Sisa perjalanan, aku hanya diam. Kami saling membuang pandangan ke sisi jendela.


Apa benar yang Jessy katakan soal Yofie?


Kenapa aku harus sedih? Bukannya ini bukan hal pertama buatku? Di permainkan oleh pria.


Tapi, dalam dada ini rasanya kenapa sesak ya?


Apa ini sakit?


Apa ini luka?


Apa ini kecewa?


Sedih?


Banyak yang tanya yang berputar dalam pikiranku. Aku hanya diam dan memandang gerimis hujan di jalan.


Untung mobil yang kami gunakan amat nyaman. Aku baru kali ini menaiki mobil mewah ini. Memang di sini banyak taxi mewah yang beroperasi, dan ini kali pertamaku naik.


Sebenarnya, lebih menarik mencari tau darimana Jessy punya uang untuk membayar. Argo nya saja sudah menuju angka 100rb lho.


Aku hanya melirik nominalnya saja sudah merasa merinding. Tapi gadis muda di sampingku tetap dalam keadaan tenang.


Sungguh, darimana segala uangnya?


Mulai dari rambut, wajah, pakaian, tas hingga alat kaki nya. Aku yakin ini bukan barang dengan harga 100rb.


Bukan aku meremehkan dia, tapi saat aku kemarin pulang..


Aku sempat bertemu dengan mama Jessy. Kami tak sengaja bertemu di pusat belanja saat bersama Anne.


******


Wanita seumuran ibuku menepuk pundakku saat aku sedang berjalan.


"Cathrine ya? Bener cathrine kan?" Ucap wanita tersebut.


Aku sedikit mengernyitkan dahi. Aku mencoba mengingat siapa dia. Sepertinya aku mengenal nya, namun....


"Tante? Mama Jess bukan?" Aku mencoba menebak. Aku hanya bertemu sekali dengan mama Jessy saat acara final kontes pemilihan.


"Iya... Yaampun kamu pulang? Kok sendirian... Jessy engga ikut kamu? Tante... Tante kangen... "


Tiba - tiba wanita tersebut malah menangis.


"Lhoo tante... Tante kenapa? " Aku panik.


Aku langsung mengajak duduk wanita tersebut. Lalu aku mengambil tissue dari dalam tas ku.


Aku memberikan kepadanya, ia pun menghapus air mata dan mengatur nafasnya.


"Maaf.... Tante terlalu emosional. Tante cuman kangen Jessy... Sudah hampir sebulan kami lost contact dengannya... Tiap kami mau tlp ada saja alasan jessy... Maka nya tante seneng bisa ketemu kamu...."


"Jessy sekarang sibuk tante... Sudah banyak kegiatan dan acara tv tante... Sabar ya tante, pasti suatu saat Jessy bakalan telpon tante balik... " Aku mencoba menenangkan mama Jessy.


"Tante harap begitu... Tante menyesal... Menyesal meminta dia untuk pergi Cathrine.. Andai tante bisa memenuhi semua yang ia butuhkan.. Pasti tidak akan begini... " Mama Jessy menyeka air matanya.


"Owh... Begitu ya tante? Tapi jessy sepahamku amat menyanyangi keluarganya... " Aku menjawab.


"Tidak.... Semua salah tante.. Saat bisnis papa Jessy goyang, jessy harus membantu untuk membiayai kedua adiknya.... Sampai suami tante pergi entah kemana... Jessy yang harus menanggung semuanya sendiri.. Tante memang tidak bisa berbuat apapun. Tante cuman bisa merepotkan jessy.. Memaksa ia harus mencari uang di usai yang muda.... "


"Tante... Tante harusnya bangga banyak produser yang cocok dengan dia. Bahkan jessy banyak dapet Job dari situ. Aku yakin ia juga sedang berusaha membahagiakan tante dan semua adiknya... " Aku memegang tangan mama Jessy.


"Tante harap begitu... Tante sudah lama tidak bertemu dan mendengar suaranya. Tante kangen dengan suara Jessy.... Tolong sampaikan kepadanya ya... Betapa tante amat rindu dengannya... "


"Baik tante... Akan aku sampaikan kepadanya begitu aku ketemu Jessy." Aku menjawab.


Walau aku tak tahu, kapan aku bertemu dengannya. Bahkan aku saja sudah jarang berbicara dengan Jessy...


******


Perjalanan kami memang sangat jauh... Tak aku bayangkan dari ujung utara ke ujung timur. Hampir sejam perjalanan ini, kepalaku agak pusing.


Apa aku mual? Mabuk darat.


Memalukan.


Aku biasa berkendara dan ini mobil mahal. Kenapa aku malah mual, dihadapanku ada permen yang di taruh oleh supir.


"Pak... Saya minta permen nya ya.. " Lalu aku mengambil dan memakannya.


"Lo kenapa? " Tanya Jessy.


"Engga papa, mulut gw engga enak aja Jes... " Aku menjawab dengan cepat.


Sepertinya aku masuk angin. Ya efek dari perjalanan malamku lalu aku langsung bekerja.


"Makanya lo itu makan yang teratur. Jangan cuman alesan diet sm ngirit lo jadi ga makan. Lo kalo sampe sakit yang mau ngurus siapa.!? " Jessy malah marah melihatku.

__ADS_1


Anggaplah dia perhatian kepadaku.


aku memasuki kawasan yang agak sepi. namun sekeliling aku lihat banyak industry dan pabrik. apa ini bagian sisi kota yang aku blm datangi?


kami pun berhenti di sebuah mall dengan nama Baymall. Jessy memberikan kartu kepada supir. lalu supir mengesek ke mesin Edc di sampingnya.


'keren sekali... eh tapi jessy sejak kapan punya Creditcard?!' aku hanya berani berkata dalam hati.


aku pun turun saat Jessy sudah lebih dulu turun. aku melihat sisi bangunan yang megah. biasanya aku cuman melihat dalam sinedrama. kini aku ada di salah satu mall yang mewah.


"cathrine, ayo masuk. keburu makin gelap dan malam... " Jessy berjalan dengan cepat.


seperti biasa aku hanya mengekor di belakangnya. aku masih takjub dengan mall ini. aku melihat ada celah luar bangunan, wow... ada laut..


"Jes... beneran ni? mall nya di samping laut gini?"


"udik (kampungan) lo... iya nih mall nempel sama laut. keren kan? makanya main lo yang jauh engga cuman sekitar kost doang... " jawab Jessy dengan santai.


"maaf kali Jess, gw kan jarang keluar. fokus gw kerja sama nyari duit... " aku menjawab dengan nada parau.


"duh, lo itu harus balance Cath. main sama cari duit. lo itu juga mesti nikmatin hasil jerih payah kerja. bukan cuman abis buat ngidupin keluarga."


perkataan Jessy membuat langkahku berhenti. aku melihatnya berjalan terus di depanku. hampir tak percaya dengan apa yang aku dengar.


ia adalah orang yang paling semangat saat pertama kami datang. ia selalu memberiku semangat untuk bekerja dan membantu keluarga dengan ikhlas.


kini? apa hedonisme sudah merasuki pikiran nya?


Jessy berhenti, sepertinya ia sadar kalau aku berdiri jauh dibelakang. Lalu ia membalikan badan dan berkatam


"Kok lo brenti Cath? Ada masalah? Atau lo mau belanja ?"


Aku hanya mengelengkan kepala. Aku tersenyum dan menyusul melangkah mendekatinya.


Aku berdiri tepat di depan Jessy. Aku melihatnya dari ujung rambut hingga kaki nya.


"Lo emang punya aura bintang Jess... Tapi gw jadi inget sama pesan seseorang ke gw.... "


Jessy binggung dengan maksudku. "Duduk dulu Cath, gw ngga paham maksud lo.. "


Kami pun memilih duduk di bangku yang ada di salah satu sudut. Jessy dapat aku pastikan mengerti apa yang akan aku katakan.


"Jes... Pas gw balik, gw sempet pergi ke mall sama sahabat gw. Dan disana gw juga ketemu mama. Dia bilang nitip pesen kalo kangen sama lo. Dia berusaha buat ngehubungi lo.. Tapi yang ada selalu di reject telpon dia... "


"Oh... Baguslah... " Jessy malah kesal mendengar ku.


Jessy hanya diam, namun wajahnya malah seperti tak suka mendengar apa yang aku sampaikan.


"Udah Cath? Yuk cepetan gw janjian sama orang penting.. " Jessy lalu berdiri dan ia menarik tanganku.


Aku berjalan setengah di tarik olehnya. Ia berjalan cepat dan menyusuri beberapa toko. Aku sebenarnya senang melihat pemandangan Mall.


Maklum saja di daerahku jarang ada mall. Apalagi dengan tatanan semewah ini. Ada taman di dalam mall dan toko yang di sisi jalan.


Jessy pun berhenti di sebuah kedai. Aku mengintip kami bisa melihat laut dengan dekat. Aku membaca papan nama diatas, TeaGarden.


"Ayo Cath kita masuk...udah dateng orang yang janjian sama kita.." Jessy masih menarik tanganku.


"Iya Jess..." Aku menyusulnya masuk.


Aku pun berjalan di belakangnya. Katanya ia ingin mengajakku makan. Namun malah ingin bertemu dengan kita?


Aku berjalan di belakang Jessy. Tatanan cafe atau kedai ini sangat bagus. Banyak bunga buatan disini, benar seperti di taman.


"Maaf kami terlambat pak... " Jessy berbicara dengan seseorang.


Lalu aku mengintip, siapa yang ia ajak bicara. Betapa kagetnya aku, kedua mataku melotot..


Jimmy??


"Perkenalkan ini teman saya Cathrine... Cathrine ini boss Jimmy. Ia produser muda, sukses dan ganteng.. " Jessy memperkenalkan.


"Hallo... Kita bertemu lagi.." Jimmy memberikan tangannya kepadaku untuk bersalaman.


"Hai... Kita bertemu juga.. Dan lagi... " Aku menjawab sapaan dan jabat tangan Jimmy.


Agak kikuh rasanya...


"Kalian sudah kenal?" Jessy seperti kurang suka.


"Tidak.." Jawabku.


"Ya... Tapi aku kehilangan kontaknya.. " Jawab Jimmy.


Lalu aku memandang Jimmy. Apa maksudnya?


"Oh iya, gw inget! Jadi gw sempet nemenin dia pergi pertemuan gitu... Tapi, udah lama ya kayanya?" Aku memberi kode ke Jimmy.


"Iya, dia teman kencanku. Tapi aku malah tidak pernah meminta nomer kontaknya." Jawaban Jimmy membuat jessy melotot.

__ADS_1


Jessy memandangku dengan tatapan mengerikan. Aku malah menatap Jimmy. Sedang Jimmy malah tersenyum kepadaku.


"Silakan duduk. Jangan berdiri terus. Lutfi akan datang sebentar lagi." Jimmy mempersilakan kami duduk.


Jessy langsung mengambil posisi di hadapan Jimmy. Aku hanya duduk disebelah Jessy.


Jessy lalu menata rambutnya dan tersenyum ke Jimmy. Ia mencoba mengajak bicara terus kepada Jimmy.


Aku hanya memperhatikan mereka. Ya mereka secara fisik cocok, Tampan dan cantik. Aku memilih melihat isi buku menu di hadapanku.


"Jadi sudah daritadi ya menunggu kami? Maaf ya.. Saya harus jemput Cathrine dulu, soalnya dia kerja di warung padang gitu. Jadi nunggu dia balik agak lama.. Maaf lho ya... " Ucap Jessy.


Kesal aku mendengarnya, aku menaikan saja buku menu ke atas meja. Aku menutupi wajahku, malu? Bukan. Tapi aku jijik dengan gestur temanku yang memanja.


Eh, tapi kenapa Jimmy cuman diam. Penasaran sebenarnya bagaimana reaksinya.


"Terus gimana bisnisnya? Lancar engga Mas Jimmy. Eh boleh ya panggil Mas..? Kalo tau ketemu nya Boss, saya pasti minta temen, eh Cathrine dandan juga.. " Ucap Jessy lagi...


Aku masih bersembunyi dan menutupi wajahku.


"Mau pesan sekarang Bu?" Pelayan di belakangku mengagetkan.


"Eh boleh... Aduh apa ya... Uhm. Ini aja mas, Telang ice Tea sama chicken steak ya... " Ucapku sambil menunjukan menu paket.


Jessy lalu mengambil buku menu dariku. Ujung buku mengenai hidungku, hampir saja mataku yang terkena.


"Saya T-bone Welldone sama fresh Juice Guava." Jessy lalu menaruh buku menu di atas meja.


"Baik saya ulangi, paket chicken steak 1 dan T-bone Steak Welldone, serta Guava fresh Juice.. Sudah benar? Mohon di tunggu." Ucap pelayan mengulangi pesanan kami.


"Terima kasih mas.. " Ucapku. Pelayan pun tersenyum dan pergi menjauh.


"Apa ini sakit?" Tangan Jimmy mendekati hidungku.


Ia mendekatiku dan menyentuh hidungku. Wajahku menjadi sedikit merah (seharusnya).


"Hah? Engga papa kok... Cuman kena dikit.. " Jawabku dengan cepat.


"Apa sih? Emang kenapa hidung Cathrine?" Tanya Jessy.


"Kamu tahu, cara mu mengambil buku amat kasar. Ujung buku yang tajam mengenai hidung temanmu sendiri." Jimmy menjawab.


Aku malah binggung hanya melihat mereka berdua. Jimmy mengeser duduknya ke hadapanku.. Ia duduk di sofa dan kami di kursi.


"sudah engga papa kok... cuman kena buku doang... " aku berkata.


aku harap mereka tidak belebihan. aku mulai malas karena Jessy tampak kurang suka dengan reaksi Jimmy.


"oh kena ya? maaf gw engga tahu... " jessy mencoba berpura - pura simpatik.


"sudahlah, hati - hati. kamu?" jimmy lalu melihatku.


"iya saya?" aku menjawab.


"kamu kalo memang sakit bilang ke aku. biar aku bawa ke dokter. kalau cedera hidung itu berbahaya. indra penciuman kamu bisa rusak dan fatal akibatnya lho. jangan main - main.. " jimmy menganggap serius apa yang terjadi.


"sudahlah.. saya engga papa. mari kita ngobrol santai saja..." aku mencoba mencairkan suasana.


"ah bener juga Cathrine. jadi Jimmy... eh Mas Jimmy.. " Jessy masih mencoba merayu Jimmy.


"Pak Jimmy lebih enak aku dengar." jawab Jimmy tegas.


Jessy langsung menutup mulutnya rapat. ia tak menyangka reaksi Jimmy dan jawaban Jimmy seperti ini.


"hallo semua.. maaf saya terlambat... " seorang pria berdiri di belakangku.


aku membalikan badanku. hah??


dia kan pria yang ada dirumah produksi. dia salah satu yang memaksaku untuk membuka pakaianku. kenapa dia bisa disini, apa benar Jessy mengenal? atau jangan - jangan waktu itu Jessy sengaja menjebakku.?


"hallo... kita ketemu lagi... " Jessy menyapa Pria itu.


di belakangnya ada Pak Lutfi, sutradara film yang aku kenal. Jessy mencium pipi kedua pria tersebut. sepertinya sudah mengenal dan terbiasa melakukannya.


aku hanya menyimak dan melihat yang mereka lalukan. Jimmy menggeser duduknya mendekati ku. mengapa pria ini malah berlaku demikian?


sakit kah dia?


di hadapannya ada wanita muda cantik dan segar. dua pria di hadapanku yang baru datang saja berebut duduk di dekatnya. aku jadi ingat seperti kucing yang berebut ikan segar.


tanpa aku sadari aku tersenyum saat mengingat kucing. ya, kucing di depan rumahku yang berebut jatah ikan.


"kamu kenapa tersenyum?" suara Jimmy pelan. aku memalingkan pandangan ke Jimmy.


"apa ada sesuatu yang lucu? boleh berbagi denganku? apa yang membuatmu tersenyum?" ucap Jimmy lagi.


mataku malah meloto mendengar Jimmy berkata demikian.


"jangan terlalu kaku, tersenyum lah Cathrine. kamu manis ketika tersenyum, ada cekungan di pipimu. itu membuat mu makin menarik.... " Jimmy berkata. kemudian kami saling berpandangan.

__ADS_1


__ADS_2