CARAMU MENCINTAIKU

CARAMU MENCINTAIKU
24


__ADS_3

Tok.... Tok.... (Suara pintu kamarku)


"Siapa??! " Aku berkata.


"Ini aku... " Suara Yofie.


Aku meletakkan sisir di atas meja rias. Aku langsung berdiri dan menuju ke pintu.


Aku membuka pintu, yofie ada di hadapanku. Wajahnya terlihat sedih?


"Ada apa kak?" Aku bertanya.


"Boleh kakak masuk? Kakak mau ngomong sesuatu... " Wajah yofie terlihat sendu.


"Uhm..... " Aku binggung, aku tak pernah mengajak pria masuk ke dalam kamarku.


Lagipula bukan kan aneh? Jika berbicara mengapa harus di dalam kamar.


"Maaf kak... Aku ga biasa bicara berdua dalam kamar... Gimana kalau di kursi depan Tv aja..?" Aku menunjuk kursi malas di belakang yofie.


"Kenapa?" Kedua alis Yofie naik, sepertinya ia kurang suka dengan ideku.


"Karena kau ga biasa kak.. Dan lebih nyaman kita bicara di luar saja kak... " Ucapku.


"Soalnya kalo menurutku ini agak rahasia jadi kenapa engga kita bicara berdua di dalam.?" Yofie tetap memaksa.


Aku diam dan menghela nafas. Aku memandang yofie kedua matanya.


"Tidak kak, lebih baik di luar saja.. " Aku langsung berjalan keluar dan duduk di salah satu sofa.


Yofie dengan wajah kesal menyusulku. Ia duduk di sampingku. Aku kemudian menyilangkan kedua tanganku.


"Soal kemarin Cathrine.. Stacy. .. Kakak sebenarnya engga ada hubungan seperti yang kamu pikirin... "


"Hm... Ada juga engga papa kak... " Aku menjawab dengan tersenyum.


"Engga Cath,.... Please... " Yofie mendekekatiku. Ia lalu mencoba memegang tanganku.


"Kak?" Aku binggung harus berbuat apa.


"Kakak pengen serius Cath.. Pengen sama kamu lebih dari saat ini... Jadi kakak ga pengen kamu salah sangka.. Soal kemarin, termasuk baju yang di pake Stacy.."


Aku diam dan memandang Yofie penuh tanya..aku masih tak paham apa yang ia mau.


"Kak... Sudahlah aku udah berkali - kali bilang. Kakak mau ngapain ya silakan. Soal hubungan pun, kita itu ga terikat apapun kak... Aku malah sungkan kalo kakak sampe mikir, aku yang kebawa perasaan atau sakit lah......"


Yofie langsung melepaskan tanganku.


"Terima kasih kak, kakak udah bilang maksud kakak. Tapi, buat saat ini.. Aku nyaman dengan kita yang begini kak... Justru wanita kemarin itu pantas sama kakak... Aku pernah lihat dia di salah satu majalah, sepertinya dia model ya... " Aku mencoba menata perkataanku.


"Iya, dia model. Juga model yang kakak foto, makanya kakak bisa kenal... " Jawab Yofie.


"Nah... Sudah ya kak... Jangan mikir gimana lagi, kakak sendiri yang bilang.. Kalau aku sudah kakak anggap adek. Yah..sudah aku bakalan ga marah kakak jalan sm Stacy lagi.."


Tiba - tiba pintu kamar Esyeh terbuka. Ada laki - laki yang keluar dari kamarnya. Kemudian di susul oleh Esyeh keluar dengan menggunakan pakaian tidur tipis.


"Bye Honey... " Ucap pria itu ke Esyeh. Kemudian ia mencium kening Esyeh.


Aku dan Yofie seperti tak di anggap disana. Mereka menunjukan kemesraan tanpa sungkan.


Tapi seingatku pacar Esyeh bukan dia. Ferdy tak setinggi itu dan tidak setampan itu. Lalu siapa lagi?


Setelah pria itu pergi, Esyeh masuk ke dalam dan melihat kami. Ia seperti kaget melihat kami yang daritadi memperhatikannya.


"Ci, kamu bangun tidur?" Aku bertanya. Bodoh nya pertanyaanku!


"Oh iya, Cathrine... Tadi itu pacar cici yang baru.. Gantengkan? Daripada mantan yang item itu... " Jawab Esyeh sambil menutupi bajunya yang minim.


"Ci, jangan gitu ngomongnya. Gitu juga kamu suka kan dulu.. Hehe... Sudahlah semoga langgeng ya.... " Aku menjawab.


"Ah tauk lah, mau mandi aja sama siap - siap. Callingan jam 10 pagi ni.. Lumayan jadi penjaga toko... "


"Wah.. Hebat ya ci, sekarang udah dapet dialog. Berarti bayaran nya udah besar juga?" Aku bertanya.


"Iya dong, gw gitu lho.. Makanya dapet cowo ganteng. Lumayan sekarang, kamu sih sibuk kerja di warungan.. Mendingan kaya aku ni.. Dapet duit, makan dan kenalan baru... " Jawab Esyeh dengan sombong.


"Oh iya juga.. Maaf ya ci kerjaanku cuman gitu... " Jawab ku dengan nada pelan.


"Sudah dulu ya... Orang sibuk mau pergi... " Esyeh pergi meninggalkan kami.


Yofie terdiam melihatku, rasanya canggung. Lebih baik aku pergi saja bersiap untuk interviewku sore ini.


"Kak, aku balik ke kamar dulu ya. Mau siap - siap dulu, soalnya sore aku mau ketemu orang... " Aku berdiri dari sofa, dan berjalan ke arah kamar.


Yofie menarik tanganku, ia menahan langkahku. Apalagi yang mau ia katakan.

__ADS_1


"Tunggu, kamu mau kemana? Kakak antar ya..."


Lumayan juga sih, kalau di antar dia. Aku irit biaya angkutan dan cepat sampai.


"Plazaindah jam 3 kak.. Bisa dan engga merepotkan kak?" Aku bertanya.


"Engga. Kakak antar jam 2 ya. Kalau lebih cepat, kamu bisa bersiap dulu disana.."


Aku mengangguk, "terima kasih kak... "


"Sampai nanti Cathrine.... "


Aku tersenyum dan meninggalkan Yofie. Aku masuk ke dalam kamar dan menutup pintu.


Rasanya mengapa biasa saja.?


Biasanya jantungku berdetak keras. Kenapa rasanya biasa saja..


Apa yang terjadi padaku?


********


"Jadi boleh ya lo kasi kesempatan sahabat gw. Dia rajin kok, jadi sekertaris atau assistant pribadi lah..."


"Jung (panggilan Anne), bahkan bertemu saja belum. Mengapa kamu begitu yakin aku akan setuju?" Jimmy berbicara dengan Anne.


"Boleh lah, lo lihat dia nanti Coffecok jam 3. Gw udah atur janji kalian ketemu. Ohiya, jangan lupa.. Kalo lo engga langsung nikah dalam waktu 2 bulan. Lo harus pergi dari sini. Kembali ke negara diktator.... " Anne berdiri dan meninggalkan ruangan Jimmy.


Di penghujung pintu, Anne berbalik. Ia pun berkata, "gw yakin lo bakalan oke sama temen gw. Biar sedikit atau paling engga lo berusaha melupakan Mira... "


Anne pun meninggalkan Jimmy.


Jimmy menghentikan aktifitasnya, ia kembali membuka laci kerjanya. Ia mengambil Box dari dalam.


Jimmy membukanya, disana ada foto Mira dan Jimmy. Mereka sepertinya memiliki hubungan yang dekat.


Beberapa foto terlihat mereka berdua sedang liburan bersama. Jimmy kemudian meneteskan air mata.


Rupanya ia menyadarinya, lalu ia menghapus air mata. Jimmy langsung mengembalikan box tersebut ke dalam. Ia lalu mengunci rapat meja nya.


Jimmy mengambil ponselnya, ia menekan kontak seseorang. Lalu ia mulai berbicara.


"Hallo... Heldy? Saya mau minta pilihan lain, dari menikah. Apa ada?"


"Masalahnya, tak semudah itu. Jika parents saya sampai ketahuan. Saya bisa tidak di anggap anak. Di negara saya pernikahan itu hanya satu. Dan rumit buat saya... " Jimmy memegang kepalanya.


Rasanya pusing bagi Jimmy. Ia sudah nyaman dengan negeri ini. Banyak pajak dan lapangan pekerjaan yang ia buka untuk membantu negara ini bangkit.


Tapi soal ijin tinggalnya pun. Kini ia harus pergi. Jika ia kembali kepada orang tuanya, pernikahan tanpa cinta juga yang ia hadapi. Usianya sudah menuju 30 tahun.


Bagi pria ini usia yang muda. Ia bisa mencari pasangan yang jauh lebih muda.


"Baiklah, saya coba cari. Saya kabari ketika saya membutuhkan Perjanjian Pranikah dan Pisah Harta.. "


"Ha ha ha... Sudah tenang, saya sabar menunggu kok. Saya biasa menghadapinya, kalau sudah.. Saya bantu cari wanitanya.. " Suara pria di ujung sana.


Jimmy mengangguk, ia hanya tahu yang akan di temuinya nona Jons. Nama belakang yang di ingat oleh Jimmy.


Ia melihat jam di tangannya. Ini baru pukul 2 siang. Lebih baik ia berjalan perlahan, Pak Teddy sedang liburan lama. Jadi ia harus membawa sendiri kendaraan.


Jimmy membereskan semua pekerjaannya. Ia sebenarnya malas mengikuti hal semacam ini. Apa bedanya dengan ajang perjodohan?


******


Cathrine sedang bersiap, make up sudah tertata di wajahnya. Bedak tipis, alis yang ala kadarnya dan lipstick senada dengan bibir.


Aku memang tak pintar bersolek. Aku pun sedang mencoba meluruskan rambutku. Setidaknya bisa mendekati bentuk rambut Stacy.


Jika aku ingin rambut seperti Jessy, sulit bagiku. Rambutku pendek hanya sebatas bahu. Apalagi di tambah tipe rambutku ikal seperti ini.


Hampir setengah jam aku merapikan rambutku. Astaga ya Tuhan, tak ada perubahan!


Sulit sekali menata rambut ini. Arg! Memang aku tak berbakat menjadi cantik!!


Aku kesal lalu mencabut dari listrik alat pelurusku. Lalu aku menyisir rambutku, aku mengambil rambut dari samping kanan dan kiri. Lalu aku menjadikan satu di bagian belakang.


Aku membiarkan bagian bawah rambutku terurai. Aku melihat ke cermin, ini lebih baik.


Aku merapikan pakaian ku. Kemeja putih dengan celana jeans gelap. Aku lalu mengambil sepatu flat ku berwarna coklat.


Ini hanya sepatu yang aku punya. Aku membersihkannya dan mencoba. Untung masih cukup, aku juga memeriksa tak ada bagian perekat yang lepas. Bisa malu aku nanti.


Tok.... Tok..... (Suara pintu diketuk)


"Cath, ayo berangkat!!" yofie berteriak dari depan kamar Cathrine.

__ADS_1


"Iyaaa....!" Aku menjawan Yofie.


Aku berdiri dan melihat kembali ke cermin. Aku tersenyum, segalanya akan baik - baik saja. Aku pasti bisa.


Lalu aku keluar, Yofie sudah tidak ada di depan kamarku. Kemana ia?


Aku keluar ke arah teras. Motor Yofie masih disana. Tapi mobil Tante Noni di depan. Masak ia? Yofie mengantarku naik mobil?


Aku keluar dari rumah dan menunggu di depan. Kaca mobil di turunkan, rupanya benar ada Yofie.


"Ayoo... Naik mobil, kakak mau jemput Om soalnya di bandara... "


"Oh begitu... "


Aku senang dong, jadinya rambutku bisa tetap rapi. Engga perlu kempes kena helm Yofie yang pas di kepalaku.


Aku pun naik, langsung memasang sabuk pengaman. Dan perjalanan pun di mulai.


Banyak hal yang kami bahas. Terutama saat masih sekolah. Rupanya Yofie pernah memiliki mimpi menjadi seorang nahkoda. Tapi, karena test kesehatan yang ia jalanin..


Membuatnya gagal, jadi kini ia lebih bermain dengan komputer dan fotografi.


"Tapi kakak tu beruntung. Masih dapet support dari Tante Noni lho.. Walau udah sampai habis berusaha biar kakak bisa jadi pelaut... " Aku menanggapi Yofie.


"Ya, bener Cath... Tapi kakak seneng aja sekarang bisa deket sama mama. Apalagi kalo ada apa - apa.. Kakak harus dekat dengan mama kan... "


Buset senyum Yofie... emang cakep ni cowo.. (Aku berbicara dalam hati).


"Cath... Kamu mau interview apa sih?" Tanya Yofie penasaran.


"Belum tau kak... Dapet info dari sahabatku. Ini tuh sepupu dia yang punya beberapa usaha. Siapa tau ada yang butuh pegawai... " Jawabku dengan polos.


"Oh gitu.. Tapi kamu pastiin ini perusahaan apa lho.. Jangan sampe nantinya praktek penjualan manusia... Apalagi kamu sampe di jual keluar segala. . " Yofie terlihat cemas.


"Iya kak, pokoknya aku bakalan cerita kok nanti. Hasilnya gimana, soalnya aku juga belum bikin surat lamaran. Biar ketemu dulu gitu kak... "


"Pokoknya yah.... Kamu langsung telpon kakak begitu tau, ada indikasi ga bener dari ni orang. Soalnya kamu engga ada siapa pun yang kenal Cath.... " Yofie begitu perhatian kepada Cathrine.


ini yang me buatnya malah jadi tidak nyaman. ia hanya ingin fokus bekerja dulu. tapi, usia dan karakter Yofie yang terus mendekati membuat jadi tidak nyaman.


Mobil Yofie keluar dari jalan bebas hambatan. Perjalanan ini terasa cepat, tak seperti yang kemarin aku lewati dengan Jessy.


Mobil Yofie lalu masuk ke salah satu gedung. Apa ini mall yang di maksud?


Kenapa banyak gedung di samping nya. Dan aku lihat ini lebih mirip pusat perkantoran daripada tempat belanja.


ia berputar ke arah belakang. sepertinya Yofie hapal dengan bangunan ini. aku memilih diam saja dan pasrah kemana aku akan dibawa.


eh, sepertinya ini gedung yang dulu aku gunakan untuk makan malam dengan Jimmy. saat aku menjadi teman kencan pura - pura.


benar, gedung yang baru saja aku lewati. aku menoleh ke arah belakang.


"kenapa Cath?" tanya Yofie kepadaku.


"ah engga kak, kaya nya gedung bagus itu.." aku menjawab asal saja.


"ini daerah kantor, kedutaan dan pusat niaga Cath. jadi bangunannya pasti modern dan banyak orang asing disini... " jawab Yofie.


"oh begitu, aku baru sekali ini kesini kak... " aku menutupi kenyataan, aku pernah kesini sebagai teman kencan.


Yofie mengantri di barisan mobil. aku melihat tulisan Dropoff.


"kakak turunin disini ya, kalo kakak ga salah ingat. ini ga jauh dari kedai kopi yang kamu tuju. nanti masuk terus belok ke arah kanan ya. kalau kamu nyasar... ada keamanan yang biasa bantu... "


"iya kakk... aku bisa cari nanti..." jawabku sambil bersiap turun. aku merapikan baju, dan tas yang aku bawa.


"pokoknya .... nanti kalo udah ngerasa engga aman. kamu harus telpon kakak, tunggu kakak dateng.. " yofie begitu posesif..


"hmmm" aku malas menjawab lagi.


giliran Yofie pun tiba, ia menghentikan mobil. petugas membuka pintu mobil untukku.


"makasih ya kak, see you..." aku langsung keluar meninggalkan Yofie.


samar aku mendengar ia masih terus bicara. aku tak peduli apalah nanti. yang jelas aku jangan telat.


aku masuk ke dalam, melewati pemeriksaan tas dan badan. aku lolos, dan aku berjalan masuk ke dalam.


benar ada belokan ke arah kanan, aku masuk ke dalam sana. lalu aku berjalan saja melewati toko yang mahal.


ya mahal, untuk merk yang aku belum mampu beli.


aku melihat orang saling tak peduli satu sama lain. pramuniaga menawarkan barang ke pengunjung lain. tak ada yang menggubris kehadiranku..


seperti biasa... ada tapi tak anggap....

__ADS_1


__ADS_2