
"Jadi.. Apa kamu memaafkan ?" Jimmy membuka suara.
"..... " Aku mengernyitkan dahi, yang bener aja. Aku lagi menikmati pelukan nya, tapi kalau di maafkan gengsi diriku. Gampang banget dia minta maaf!
"Cathrine.... " Jimmy mengusap kepalaku.
"Iya..." Aku lalu melepaskan pelukan Jimmy.
"Sebenarnya aku marah dan sedih. Kamu nampar dan bicara kasar ke aku. Sedang papa saja tidak pernah melakukan hal itu ke aku...... Tapi aku mau apa lagi.... "
"Ssst .. Maaf.... Aku terlalu larut semalam.... " Jimmy memelukku kembali.
Aroma parfume Jimmy menenangkan jiwaku. Ada satu hal yang juga mengangguku.
"Apa kamu akan menampar aku lagi.....?"
Jimmy mengelengkan kepala nya.
"Kalo kamu terlalu mabuk, apa kamu akan melakukan hal itu ke perempuan lain. Melakukan hal yang biasa kita lakukan.. Juga... " Aku meneteskan air mata.
Jimmy membalik tubuhku agar berhadapan dengan nya. Ia menatapku tajam, tapi sorot matanya mengisyaratkan kesedihan.
"Aku ga bisa berkata apapun Cathrine. Yang jelas aku tidak akan menyakiti kamu dalam hal apapun lagi. Aku.... Aku..." Mulut Jimmy berat untuk berkata.
"..... " Aku hanya diam dan membelai rambut Jimmy.
"Aku tahu kamu butuh waktu untuk melupakan nya... Aku tak akan memaksa, tapi biar kita tetap bersama ya Cathrine... "
Aku hanya tersenyum sedikit dan memeluk Jimmy. Entah, rasanya sulit melupakan. Tapi, aku selalu ingin kembali kepadanya.
*******
"Stacy, apa kita harus mengundang Cathrine?"
"Jelas.. Kenapa engga? Ini hanya resepsi, apa yang aneh... " Stacy menjawab santai.
"..... " Yofie hanya memandang undangan di tanganya dengan tulisan Jimmy - Cathrine.
"Apa lo masih kepikiran perempuan itu? Inget, lo udah mau jadi bapak. Tu perempuan juga udah punya suami... " Nada Sinis Stacy berbicara ke Yofie.
"..... " Yofie hanya mengehembuskan nafas dalam dan meletakan undangan tersebut.
Stacy sibuk membereskan segala persiapan dan undangan yang akan di sebar.
Sudah cukup lama yofie menunda pernikahan ini.
Jika bukan karena Stacy yang mengakui kehamilan atas perbuatan Yofie. Mungkin ia akan nekat merebut Cathrine.
Yofie jelas membenci wanita yang akan di nikahinya. Ia juga pria yang lemah, begitu takut pada orang tua nya.
Ia bahkan tak berani mengatakan keinginannya.
Bagaimana ia bisa menjalani rumah tangga nanti? Jelas.... Segala akan di atur oleh Stacy.
"Hallo..... Ini gw stacy.... Malem bisa ketemu di TeaGarden kan? Gw mau ngomong penting bareng sama lo.. Bye... " Stacy berbicara di telepon.
Lalu ia menaruh ponselnya dan memandang tajam ke Yofie.
"Lo telfon siapa pake Hp gw?" Yofie kaget.
"Cathrine." Jawab Stacy singkat.
"Hah? Dia mau ngangkat???" Wajah Yofie berubah sumringah.
"Iya, malem gw mau pergi dan lo harus pake banget nganter gw... "
Lalu Stacy pergi meninggalkam Yofie sendiri di ruang tengah. Entah apa yang mau di kerjaan perempuan itu.
Yofie tersenyum sendiri, dalam hatinya ia senang akan bertemu wanita yang di cintainya.
*********
Pagi itu ponselku berdering. Aku melepaskan pelukan Jimmy lalu mengambil ponselku.
"Yofie?" Aku membaca panggilan tersebut dari siapa.
"Hallo" Aku berkata di sambungan panggilan.
"Oh, baiklah... Atur aja... "
Panggilan pun terputus, aku meletakkan kembali ponselku. Lalu aku duduk dan memulai ritual pagiku dengan berdoa.
Jimmy ikut terbangun dan duduk di sampingku. Saat aku membuka kedua mataku, ia tersenyum memandangku juga.
"Yofie telpon? Ada apaan lagi... " Jimmy bertanya.
"Stacy yang telpon, dia mau ngajak ketemu di TeaGarden jam 6 mungkin, aku agak lupa... "
"Lalu kamu mau kesana?"
"Uhm... " Aku ragu apakah akan menemui atau tidak.
__ADS_1
Aku masih ingat bagaimana pandangan Stacy kepadaku. Masih ingat juga bagaimana kasarnya ia berbicara kepadaku.
"Kalo kamu mau, aku temani saja... " Jimmy berkata, lalu aku memandang Jimmy.
"Baiklah, aku malas bertemu sebenarnya. Tapi, mungkin ada sesuatu yang penting yang ia ingin sampaikan... " Aku menjawab.
"Undangan?"
"Mungkin... " Lalu aku pergi menyiapkan sarapan untuk kami.
Hari ini sepertinya lebih baik untuk kami. Jimmy bersiap dan berangkat setelah ia sarapan.
Bu Sumi pun datang lebih pagi untuk membersihkan dan mencuci pakaian kami. Aku hanya sibuk menonton dan bersiap berangkqt kursus.
"Non mau pergi?" Tanya Bu Sumi.
"Iya Bu, saya sekarang kursus masak di ruko niaga sebelah. Tapi cuman sampe jam 1 palingan Bu.... Nanti kaya biasa aja ya Bu... " Aku menjawab.
"Iya..non hati - hati di jalan, sekarang banyak orang jahat... "
"Iya Bu, saya pergi dulu ya.... "
Aku pun meninggalkan Bu Sumi. Berjalan dengan santai menuju tempat kursus.
Aku melewati unit dimana kemarin, aku bertemu dengan Nicky. Entah lah, aku malah seperti mencari Nicky.
Rasanya cukup senang menemukan teman yang tinggal dekat dengan kita. Ya, aku mencari ia ke sekitar.
Sepertinya kemarin hanya suatu kebetulan aku bertemu dengannya. Aku memilih berjalan lagi ke arah tempat kursus.
Disana Nicky sudah duduk santai di depan pintu masuk. Disalah satu anak tangga dengan rokok di tangan nya.
Aku menghampiri nya dan berdiri di depannya. Ia memandangku dengan tak acuh. Kami hanya diam dan saling melempar pandangan.
"Pagi.. Udah pada kumpul aja disini.. " Inez datang.
"Iya Nez, gw pagi kesini. Sambil santai... " Jawabku.
"Eh, sakit gigi lo udah ilang? Pipi lo uda ga memar sama ga pake masker lagi... " Inez menunjuk pipi ku.
"Iya obat dokternya mantap deh, gw cepet sembuh nya.. " Aku meringis menjawab Inez.
"Dokter apa nya, paling di usap sayang sama laki nya... " Nicky sinis.
"Eh biarin kali, brati Cathrine cewek normal doyan sama cowok... Lagi pula hari gini lo ga ngapa - ngapain sama pacar.. Ga mungkin kali Nick... " Inez meladeni Nicky yang bete.
"Pacar.... Emang cewek apaan tinggal se kamar sama cowok nya... "
"Lo kok ngomong gitu ke gw? Ada masalah apa sih lo sama gw? " aku berkata membalas nicky.
Nicky sepertinya kaget, ia lalu mematikan rokok nya dan membuang nya.
"Gw ga maksud apa - apa. Cuman gw cukup tahu aja perempuan apa lo.. Gw pikir lo akan berbeda karena dari daerah. Ternyata gw salah, lo aja udah tinggal sekamar cowok lain.."
"Nick, lo kebangetan. Mulut lo yang kontrol ya kalo ngomong... " Inez mencoba menengahi kami.
"Gw cuman ngomong jujur penilaian gw ke dia. Lagi pula, bukan urusan gw juga dia mau ngapain. Cuman kemarin gw baru tahu.. Dia perempuan apaan... "
Nicky lalu meninggalkan kami masuk ke dalam. Aku diam tak berkutik dengan apa yang di katakan Nicky.
"Cath, lo jangan marah ya.. Mungkin Nicky lagi sensi aja kali... Masuk aja yuk.. "
Aku mengangguk dan masuk ke kelas. Suasana di dalam belum begitu penuh. Aku memilih duduk di belakang Nicky.
*******
Aku duduk di salah satu warung di dekat tempat kursus kami. Inez menemaniku makan siang saat itu.
"Nez... Gw kalo marah atau tersinggung sama Nicky wajar ga sih?"
"Ya wajar aja sih, dia ga sepantasnya juga ngomong begitu. Lo juga kan baru kenal sama Nicky. Bisa pede sama enteng banget . Mulutnya... " Inez kesal.
"Hmm..... " Aku hanya memainkan sendok di piringku.
Aku jadi malas menghabiskan makan siangku. Inez malah sebaliknya, ia makan dengan santai dan lahap.
"Cath.. Lo ngga makan?"
"Gw lagi kepikiran sama kata - kata Nicky.... " Jawabku.
"Sebenarnya lo kenapa sama Nicky.. Atau hari sebelum nya kalian ada beda pendapat...? " Inez bertanya.
"Gw kemarin emang berangkat pagian.. Terus ketemu Nicky di taman Apartemen, dia terus ngomong yang intinya buat apa gw bertahan sama cowo.... Yang... Main tangan kerjaannya.. Karena dia liat luka lebam di wajah gw.... " Jelasku.
"Ooooo... Terus?"
"Ya gw bilang aja, jangan ikut campur. Nicky juga ga tau siapa gw dan siapa cowok yang tinggal sama gw.... Lebam pun karena ada kecelakaan bukan karena gw di siksa... " Aku melipat kedua tanganku.
Sedikit menutupi siapa Jimmy dan hubungan kami.
"Hmm... Berlebihan banget Jimmy, kepo nya dia ketinggian.... Oh tapi dia tau dari mana lo tinggal sama cowok...? " Inez bertanya lagi.
__ADS_1
"Itu yang gw ga tahu Nez... Gw emang tinggal di apartemen sama laki gw.. Tapi, dia tu tunangan gw... Gimana ya, anggap cowo itu pasangan gw.... Simple lah Nez... " Aku jadi binggung menjelaskan.
"Wajar aja kali di kota orang tinggal barengan kaya lo... Nicky aja yang berlebihan.. Udah biarin aja, kali dia cowo yang baper.... " Inez menenangkanku..
Aku hanya mengangguk, lalu aku melanjutkan makan siangku.
Lalu aku berpisah dengan Inez. Aku kembali ke apartemen dan Inez pulang dengan motornya.
Aku berjalan dengan santai di tengah hari yang panas. Aku tak melihat Jimmy atau pun mobil nya di area parkir. Eh, kenapa aku malah mencari Jimmy?
******
Jimmy mengendarai mobil sendiri sore itu. Pak Teddy ijin ada acara keluarga. Jadi kami hanya pergi berdua.
Aku memandang jalanan di sore hari. Mungkin ini jam pulang kerja, jalanan cenderung macet.
"Udah lapar sayang?" Jimmy bertanya.
"Engga Jimmy, aku cuman menikmati macet aja. Sehari - hari aku kan cuman di kamar sama tempat kursus aja... "
"Apa kamu deg - deg'an mau ketemu Yofie..?" Jimmy menggoda.
"Engga juga, biasa aja... Yang menghubungi pun Stacy... Mungkin hanya dia yang kita temui... " Aku menjawab.
"Aku pikir kamu masih punya perasaan sama Yofie... "
Aku kaget mendengar Jimmy berkata demikian. Lalu aku menoleh ke Jimmy, dan mengeryitkan Dahi.
"Iya kan....? " Jimmy berkata sambil memajukan bibir bagian bawah.
"Eh kamu lucu lho kalo bibir nya gitu... Kaya anak kecil... Haha... "
Jimmy lalu membetulkan posisi bibir nya menjadi seperti biasanya.
"Kamu cemburu ya..... " Aku mengoda balik Jimmy.
"...... " Jimmy hanya diam dan memutar bola matanya.
"Kalo diem.. Berarti..... " Aku belum menyelesaikan kalimatku.
"Iya aku cemburu. " Jimmy memotong.
"...... " Aku kaget dan tak merespon lagi.
"Aku sudah mengakui. Aku cemburu kamu masih berhubungan dengan Yofie. Tapi, begitu aku tahu, itu Stacy.. Aku lega, karena kamu juga cuek dengan panggilan Yofie...aku menyimpulkan sudah tidak terikat rasa ke Yofie...." Jimmy lalu melirikku.
"Kamu tahu dari mana kalo aku punya rasa ke Yofie...? Aku aja engga tahu, apa itu cinta.. Apa itu suka dan apa itu ikatan hati atau batin yang saling terikat... " Jawabku.
"Aku pria.. Aku bisa merasakan, kalo kamu beneran suka atau engga.... Aku juga berani yakin... Kamu masih ragu ke aku... Masih takut dan penuh tanya... " Jimmy bangga berkata demikian.
"Iya, jelas kalau itu.. Segala yang terjadi kaya skenario film... Aku ngga pernah mimpi bisa kuliah lagi.. Keadaan keluargaku lebih baik... Dan aku bersama pria mapan dan misterius seperti kamu.... "
Kami diam sesaat, tanpa ikatan kami tinggal bersama. Hidup dan melakukan hal layak nya suami - istri. Apa itu wajar.?
"Jadi, mau kamu apa cath?" Jimmy membuka.
"Jika aku wanita pada umum nya di umurku sekarang. Pasti aku mau kita pacaran kek, menikah kek.. Bukan tinggal bersama tanpa ikatan jelas...."
"Jadi kamu mau kita nikah? Siap kamu buat tahu siapa aku? Siap untuk semua resiko nya?" Jimmy menantang balik.
"Engga.... Aku takut soal pernikahan, apa semua masalah akan selesai jika ada penikahan? Masalah ekonomi, masa depanku, tanggung jawab akan masa di depan mata aja aku belom jelas Jimmy... " Jawabku.
"Hmm.... Cathrine.... Wanita di usia seperti itu.. Pasti mendambakan pernikahan, hidup bahagia dengan pria yang mencintai dan saling cinta... Tapi, kamu ga tahu, apa beratnya cari duit.. Bagaimana menghadapi keluarga. Bagaimana bertahan dengan seorang di hidup kamu.... " Jimmy menjawab.
"Jimmy, yuk kita pacaran... Biar kalo aku di tanya orang, aku bisa bilang kamu pacar aku... " Aku mengajak Jimmy menegaskan hubungan ini.
"Oke.. Ngga masalah, malahan aku sering mengakui kamu sebagai istriku.." Jimmy memberi clue kepadaku.
"Ya semoga suatu saat aku bisa menjadi istri kamu.. Menjadi yang terbaik untuk masa depan kita.... "
Jimmy tersenyum kepadaku, "jadi kita ngomong kesana - sini itu intinya, kamu nembak aku?" Ia mengodaku lagi.
"Hihh.. Kamu tu tanya lagi, iya! Anggep gitu! Kamu sih, udah ini itu engga nembak aku duluan... Kesel kan nunggu kamu. Keburu ada cowok lain lagi...! mana kamu ga bilang yuk kita pacaran..cuman bilang anggap aja kita pacaran..." Aku kesal Jimmy menggodaku terus.
"Ada pria lain pun, aku jamin ia tak akan bisa memiliki kamu.... Aku jamin itu... " Jimmy bangga.
Dalam hati Jimmy ia tertawa. Wanita polos ini lucu dan lugu sekali. Bahkan ia belum menyadari status mereka sebenarnya.
Perjalanan yang terasa menyenangkan. sudah lama mereka tak berbicara seperti itu. kesibukan dan jarak yang Jimmy buat kadang membuat mereka menjadi kaku satu dengan lain.
tak lama mereka pun sampai di Mall. valet membatu Jimmy untuk memarkir mobil. mereka pun turun dan masuk ke dalam.
Jimmy teringat di mall ini ia pertama kali mengajak bicara dan makan Cathrine . Walau dengan bantuan Jessy, kenangan itu selalu ada dalam pikiran Jimmy.
"Kamu inget ga, pertama kali kita ngobrol ini itu dalam satu meja di Teagarden..." aku berkata sambil menyandarkan kepala ke lengan Jimmy.
Dan Pria itu hanya mengangguk. Jimmy mencoba tetap cool dan jaim di hadapan Cathrine.
mereka pun sampai disana, Stacy dan Yofie sudah lebih dulu datang. Jimmy menarik Cathrine masuk ke dalam.
lalu mereka duduk saling berhadapan.
__ADS_1
"sore, maaf kami terlambat. tadi agak sedikit macet... " aku membuka pembicaraan.