CARAMU MENCINTAIKU

CARAMU MENCINTAIKU
13


__ADS_3

Aku berhenti sesaat di salah satu sudut dinding. Aku mengatur nafasku, rasanya aku sehabis berolah raga memutar lapangan yang amat luas.


Nafasku berat dan dadaku sesak. Padahal Yofie tak melakukan apapun kepadaku. Tapi hal seperti itu saja sudah membuatku seperti ini.


Setelah agak tenang, aku berjalan lagi. Kurang sedikit lagi aku sampai ke warung. perjalanku yang harusnya singkat rasanya begitu jauh hari itu.


"Assalamualaikum .... " Aku berbicara saat masuk.


Sebenarnya aku terbiasa berucap kalimat tersebut. Aku hanya di ajari oleh pengasuhku. Dimana aku berada, mayoritas kami berkata demikian.


"Walaikumsalamm.. " Jawab Uda dan Uni. mereka duduk di salah satu meja makan.


Aku langsung mengambil gelas. Aku mengisi dengan air dan buru - buru meminumnya.


Uda dan Uni melihat sampai melongo. Mereka takut melihatku yang minum dengan cepat.


"Nak... Kau tak apa?" Uni kebingunggan melihatku.


"Minum lah perlahan, kau tersedak kami yang susah... " Ucap Uda dari balik meja kasir.


"Engga papa Uda, Uni... Saya cuman hauss bangettt.. Udah saya langsung cuci piring dulu ya... "


Aku pun ke belakang. Disana sudah ada tumpukan cucian menungguku. Baru pagi sudah banyak yang harus aku bersihkan.


Karena warung ini tidak ada yang tinggal. Maka semua di bawa dari rumah dan hanya di sajikan saat di jual.


Banyak wadah penuh bumbu dan minyak. Pertama aku merasa mual dan jijik. seumur hidupku aku tak pernah mengerjakan pekerjaan seperti ini.


Namun aku ingat dengan isi dompetku. Rasanya mual ku jadi hilang dan aku semangat mencuci semuanya. menurut bossku, aku karyawan dengan cucian paling bersih yang mereka punya.


Sekarang lebih baik, Uni memberi ku sarung tangan khusus. Yang di setiap jarinya ada seperti serabutnya.


Kata Uni, sayang jari anak Gadis ini. Setiap hari mencuci menjadi kasar. Jadi ia memberiku sarung khusus ini.


aku sih menerima saja apa yang diberi Uni dan Uda.


Celemek juga wajib aku gunakan. Uni dulu koki masak di salah satu kerajaan di melayu. Baginya penting penampilan kita sebagai crewnya.


Kami di beri penutup kepala dan celemek. Selain untuk kebersihan pakaian kami. Bisa sebagai pelindung kami dari cipratan air dan minyak.


Meski hanya warung makan padang - melayu. Boss ku selalu mementingkan kebersihan dan rasa masakan.


Mungkin itu rahasia warung ini begitu laris. Selain itu Uni dan Uda selalu memberi makan pengemis dan pengamen secara gratis.


Walaupun tidak dengan lauk daging setiap hari. Tapi yang selalu aku lihat mereka memberi dengan ikhlas.


Aku pernah bertanya, "uni apa tidak sayang membagi makanan setiap hari? Aku hitung ada 10 orang yang uni kasih. Padahal kita belum ada 4 orang yang makan... "


"Lah, aku saja tak menghitung. Yang penting mereka semua makan dengan kenyang. Aku bahagia melihat orang sehat dan makan dengan cukup. Soal rejeki, Uni rasa sudah ada porsinya..."


"Tak akan rugi nak, ini Ilmu hukum alam. Uni dan Uda memberi secara gratis, ada rejeki lain yang nantinya singgah.. Walau kami indak pernah mengharapkan... Tapi, insyallah ada selalu rejeki buat kami.. . . "


Ya mungkin itulah penglaris dari bossku. Yaitu doa dari mereka yang mendapat makan dengan cuma - cuma.


Aku telah selesai membereskan meja dan cucian kotor. Aku pun duduk di sudut meja dan melamun.


"Anak Gadis kok melamun!" Uni menepuk pundakku.


"Eh Uni.. Indak uni.... Cuman merenung saja... " Aku menjawab sambil malu - malu.


"Alah .. Kau mikir apa? Eh hari ini kamu cantik sekali... Mau bertemu siapa ke?"


Aku memegang pipi dan rambutku. "Ah engga Uni... Cuman pengen rapi aja.... "


"Kamu kalo pergi syuting begini?" Tanya Uni sembari memperhatikanku.


"Iya Uni... Kenapa ya Uni?"


"Cantek begini, tak satupun di lirik? Apa ada yang salah?" Uni memujiku.


"Alaah Uni, apasih... Saya biasa saja Uni... Sudah lah Uni... Saya malu.."


Aku melihat ada mobil yang berhenti. Sepertinya mobil mewah, mungkin kah milik pejabat?


Aku menghampiri dan bersiap di dekat makanan yang kami jual. Aku mengintip dari kaca.


'Hah? Jimmy?' Mataku melotot, aku pun menepuk pipiku.


'Sakit... Berarti ini bukan mimpi... Tapi kenapa mereka kemari??' Aku masih melonggo melihat mereka.

__ADS_1


Mereka pun masuk ke dalam. Aku masih tak berkedip memandang mereka. Entah bagai tersihir apa yang terjadi padaku.


"Selamat siang, mau makan disini atau bawa pulang?" Uni menyapa kedua pelanggan tersebut.


"Hallo... Saya yang tempo hari pesan. Kami malah belum sempat mencicipi.." Pak Teddy membalas sapaan Uni.


"Baiklah, kami berikan yang terbaik. Segala lauk masih lengkap disini. Silakan jika ingin melihat."


Pak Teddy dan Jimmy melihat ke lauk yang ada di sampingku. mereka kemudian berjalan di belakangku. jarak diriku dan Jimmy begitu dekat.


Aku pun masih terpana melihat mereka. Namun kini Jimmy malah ikut memandangku. bagai cerita sintron atau bagai cerita film romansa.


Rasanya duniaku berhenti sesaat. Kami saling memandang dan tertegun. Tak ada kata dan suara apapun. hanya kami yang saling memandang.


Hanya kami dan denting jam dinding. Aku bertemu dengannya kembali, si Tuan kaya yang selalu menolongku.


Bagai dongeng seorang kaya dan si miskin. Apa aku juga berakhir demikian?


"Nak.... Nak.... " Uni menepuk pundakku.


Aku pun sadar dan mengambil piring. Aku mengambil nasi dan mencetak nya di piring.


"Dengan lauk apa pak? Kami yang special rendang daging.... Sangat empuk dan lezat. Dengan minyak dan santan yang khusus kami buat... " Aku menjelaskan sedikit produk Uni dan Uda.


"Baik saya coba ya... Juga sama mau kuah merah itu di mangkuk lain... " Pak Teddy menjawab.


Aku pun dengan lihai mengambil pesanan Pak Teddy. Lalu aku menaruh di atas meja makan kami.


Aku kembali dan mengambil piring baru. Kali ini aku melayani Jimmy yang daritadi hanya diam.


"Bapak mau lauk apa?" Suaraku tiba - tiba menjadi pelan dan hilang.


"Apa? Kurang bisa saya dengar... " Jimmy sengaja menggoda Cathrine.


"Uhem... Maaf, Bapak mau saya ambilkan lauk apa?" Aku langsung menghela nafasku. Rasanya lebih baik dan aku bisa mengatur suaraku.


"Apa saja yang penting enak... " Jimmy berkata dan meninggalkanku duduk.


Aku melonggo mendengar jawabannya. 'Ah gila ni, gw ambilin jeroan tau rasa lo.... '


Biasanya WNA itu kurang suka memakan jeroan. Namun aku berfikir sesekali aku harus memperkenalkan nya.


Aku mengambil paru yang di goreng dengan kering. Uni menyebutnya Kripik karena bentuknya tipis memanjang.


Aku lalu menaruh di atas meja Jimmy. Ia mengernyitkan dahi.


"Apa ini?" Tanya Jimmy dengan ekspresi jijik.


"Makanan... Dan itu enak...seperti permintaan anda " Jawabku santai.


"Oh, itu sangat enak pak.... Dari paru sapi... Apa yah inggrisnya? Uhm... Beef lungs Pak... " Pak teddy tertawa kecil.


"What???? " Mata Jimmy melotot.


"Please, cobain aja pak.. Ga buruk kok rasanya malah menjadi favorit di sini... " Jawabku sambil meninggalkan meja nya.


Aku duduk di dekat meja kasir. Sembari mengamati kedua orang tersebut. sebenarnya mereka tak berbeda dengan tamu ku yang lain. banyak juga orang kaya yang datang kemari.


namun karena sebelum nya, aku pernah menjadi kencan sewaan Jimmy. hal itu yang membuatku menjadi salah tingkah.


Jimmy masih dengan wajah binggung. Tapi, aku lihat ia memegang makanan tersebut.


Membuka mulutnya perlahan dan mulai mengigit. Kunyahan pertama, kunyahan kedua, kunyahan ketiga... Kemudian ia menelannya.


Aku tak melihatnya memuntahkan. Malah ia memakan kembali dengan nasi. Oh berarti laki - laki tersebut suka dan bisa menerima.


Mereka terlihat menikmati makanan yang kami sajikan. Syukurlah jika memang cocok dengan lidah mereka. Mereka pun telah selesai makan. Kemudian mereka menuju meja kasir.


Masih ada aku yang duduk di samping kasir. Jimmy terus melihat ke arahku. Hal tersebut membuatku salah tingkah.


Aku pun berusaha membuang pandanganku. Tapi tatapan Jimmy tak berkedip, rasanya aku tidak nyaman dengan hal ini.


"Ada apa mbak?" Tanya Pak Teddy.


"Hah? Engga pak... Bolpen ... Saya nyari pulpen.... " Aku menjawab dengan asal.


"Ini kembaliannya Pak... " Uni memberi kembalian beberapa uang pecahan.


"Terima kasih ... " Pak Teddy menerima dan memasukkan ke dalam kantongnya.

__ADS_1


"Makanan yang di masak enak. Saya suka, kapan saya akan pesan lagi... " Ucap Jimmy dengan memandang Uni.


Kini gantian aku yang tak berkedip melihat Jimmy. Aku memandangnya dari meja kasir. apa aku saja yang kebawa perasaan menjadi salah tingkah? sebenarnya Jimmy tak memiliki rasa apapun kepadaku?


Ia pergi menjauh dan masuk ke dalam mobil. Hingga mobil tersebut pergi... Aku masih memandang mereka. Apa aku gila??


"Kamu engga berkedip lho liat yang muda tadi... " Uni berbisik di telingaku.


"Ih apaan sih, engga Uni... Uni ngaco... Udah balik kerja lagi ah.... " Aku mengambil piring kotor mereka.


"yang muda tadi juga endak Buruk ya Uda? bisa lah kamu pepet harusnya.... " Uni masih menggodaku.


aku malah tak menggubris Uni, aku membawa piring kotor ke belakang. aku langsung kembali ke pekerjaanku.


Aku berusaha fokus dengan pekerjaanku. targetku minggu depan aku harus pulang ke kampung.


********


"Halo pak? Saya mau pesen travel ya, ke arah kota S. Jam 9 malem ya, jemputnya di Area C blok K."


"Bisa mbak... Duduk depan ya, samping supir... Habis soalnya yang di tengah."


"Ah tidak papa... Terima kasih... " Aku pun menutup panggilanku.


Akhirnya aku cukup uang untuk pulang. Aku membuka lemari kecil di samping mejaku.


Ada amplop putih di bawah bedak ku. Aku mengambil dan membukanya. Ada beberapa lembar pecahan 50rb dan pecahan kecil lain.


Aku mengitung beberapa kali dan melipatnya sesuai hitunganku. Untuk transportku, makan ku di jalan, jajan adikku, ongkosku balik dan sisa untuk aku beri ke mama.


Nominalnya tidak besar, namun aku harap bisa menolong mereka. Setidaknya ini pertama kali aku kembali setelah 3 bulan merantau.


Aku mengembalikan lagi ke dalam lemari. Aku kemudian menyiapkan ransel kecilku.


Aku membawa beberapa pakaian baru yang aku beli untuk adikku. Ada juga baju yang aku dapat dari lokasi.


Pada saat itu ada salah satu artis yang membagikan pakaian secara gratis. Aku memilih dua pakaian pria dan wanita. Aku rasa ini cocok untuk mama dan papa.


Aku juga membawa dompet yang adikku minta. Aku hanya membawa sedikit pakaian ku...aku hanya pergi selama 5 hari saja.


lagipula lemari pakaianku masih penuh disana. banyak baju yang aku tinggal.


Sebenarnya Uni hanya memberi aku libur 3 hari. Tapi mereka kasihan melihatku. Sudah lama aku tidak pulang, apalagi ini pertama kali nya aku merantau.


Akhirnya mereka memberiku libur lebih lama. Menurut Uni, tanggal aku pulang pun biasanya tidak ramai. Yasudah bagi Uni tak masalah karena aku tak pernah bolos sehari pun.


Tiba - tiba Jessy masuk ke dalam kamar. Ia melihatku dan tak berucap apapun.


Ia melepas sepatu sandal tingginya. Kemudian ia duduk di kursi meja Rias. Ia mengambil kapas dan pembersih wajah.


Aku masih sibuk membereskan pakaianku dan beberapa barangku. sebenarnya kamar ini luas,tapi hampir semuanya di isi oleh barang Jessy saja.


Aku menyadari ia memperhatikanku dari cermin. aku masih tak acuh melihatnya.


"Lo mau kemana? Kok beberes barang... " Jessy memulai percakapan.


"Aku beresin aja biar rapi," Aku menjawab sambil menumpuk pakaianku yang bersih.


"Oh iya kita lama engga ngobrol... Gimana kerjaanmu? dan maaf soal di warung tempo hari..."


"Lancar Jess... Oh iya, aku besok mau pulang ya...soal itu sudahlah, lo juga butuh jaga image lo. sekarang lo udah sering nonggol di TV. jadi gw paham banget Jess..." Aku lalu memandang Jessy dari pantulan cermin.


"Hah? pulang? Kok mendadak? Emang papa kenapa? terus lo bakalan balik lagi kan? apa perlu gw pesenin tiket." Jessy kaget.


"Engga papa Jess... Lagi pula mumpung gw ada ongkos pulang. gw naik travel kok yang berhenti di depan rumah. benernya gw balik juga engga ngabarin sih, gw takut orang rumah malah menyambut gw dengan makanan. oh iya, besok aja gw masih masuk kerja dulu sebentar .... gw juga cuman pulang 5 hari... cepet banget... lo ada titipan buat orang rumah? biar gw anter sama adek gw"


Aku kemudian merebahkan badanku.


"Cathrinee.... Pleaseee...Jangan lama - lama... gw bakal kesepian di kost... Sejak lo mulai kerja disana gw ngerasa kesepian..... makanya gw pergi terus sama temen - temen dari lokasi..Maaf kalau gw pergi terus..." nada bicaea jessy jadi lembut.


"Gapapa Jess... Maaf ya, gw juga udah jarang Casting sama lo... Tapi, aku janji kok aku bakal ikutan Casting lagi...biarin sekaranang gw ngumpulin duit dulu."


"Promise??" Jessy terlihat berharap kepadaku.


"Sure! Eh mandi sana udah malem... Keburu airnya makin dingin... "


Jessy pun mengangguk, ia mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi.


Aku memainkan Game di hpku sambil tiduran. Sesekali aku mendengar guyuran air dan suara Jessy menyanyi.

__ADS_1


aku kadang berfikir kemana anak ini pergi? hampir setiap malam ia pergi. balik udah pagi, kadang engga balik beberapa hari.


baru malam ini ge bisa ngobrol sama Jessy. biasanya saat ia kembali aku sudah tidur. atau saat aku bangun, jessy yang masih tidur.


__ADS_2