CARAMU MENCINTAIKU

CARAMU MENCINTAIKU
32


__ADS_3

Aku masih duduk di sofa. Jimmy sedang tersambung dengan panggilan di teras apartement.


aku memandang dari dalam. senyumnya membuat lesung pada pipi nya. hal itu membuatku ikut tersenyum.


bagaimana orang yang baru aku kenal begitu peduli kepadaku. bahkan berfikir soal masa depanku.


jujur ku akui, ia tak menyentuhku sejak kemarin. sedangkan yang aku dengar, pria hanya membutuhkan "hal" macam itu saja.


Aku masih berfikir, apa aku ambil tawaran Jimmy. Semua perkataannya ada benarnya. Aku bersama dengannya sampai aku selesai kuliah.


Tapi soal hidup bersama, tak lazim sebenarnya bagi masyarakat kami.


mengenai tas mahal ini, apa aku jual saja ya. walau aku senang sekali bisa membelinya. bahkan bisa menampar nenek sihir itu.


"Kamu masih melamun?" Jimmy mengangetkan ku.


"Oh, aku tidak tahu, kamu masuk kapan... " Aku menjawab Jimmy.


"Hmm... Baru saja. Aku melihat kamu diam dan melamun. Aku pikir kamu mulai bosan...." Jimmy mendekati ku.


"Hmm.. Sebenarnya tidak.... "


Maaf aku harus berbohong. Aku cuman tidak mau kamu berfikir buruk.


kring..... (ponselku bunyi)


"hallo... mama... "


"kak, makasih uangnya... mama sudah beli obat papa. selasa nanti papa akan ke dokter jantung."


aku diam mendengar mama. pasti sebentar lagi ia akan meminta uang lagi dariku.


"sekolah adik gimana?" aku bertanya.


"sudah mama bayar, adik mu sudah bisa ujian besok senin... "


"baguslah... gunakan uang itu dengan bijak. entah kapan aku bisa mendapat lagi.... "


"kak... uangnya sudah mau habis. apa boleh kamu kirim lagi buat selasa besok?" suara mama mengiba kepadaku.


"apa! ma! yang benar saja? mama gunakan untuk apa? kenapa bisa mau habis.?!" nada bicaraku menjadi tinggi.


"obat papa, dokter, makan, sekolah Ghea.... mama kemarin pengen beli baju dan cincin baru. mama juga mau pergi sama teman mama.... jadi mama beli baju yang bagus.. " mama berkata tanpa rasa bersalah.


"mama sadar? mama itu jahat.! ghea itu butuh banyak biaya, papa juga! mama malah sibuk dengan teman mama. uang yang aku kumpulin susah sama capek.... bisa - bisanya... mama emang... "


"udah Diem kamu. papa kamu datang, kalo sudah kirim uang kabarin mama... "


panggilan pun di putus oleh mama.


**********


"Jessy, tunggu.... " Suara Yofie dari lantai 2 kost.


Jessy berhenti di depan pintu kamar. Ia membalik badan dan menunggu Yofie di depan kamar.


"Ada apa ? " Tanya Jessy dengan ketus.


Yofie berdiri di hadapan Jessy. Ia melirik ke arah pintu kamar Jessy.


sebenarnya lebih penasaran apa ada Cathrine di dalam.


"Gw mau tanya, apa Cathrine uda balik? Soalnya gw sms engga respond apa - apa... lo kan temen sekamar, siapa tahu lo dapet kabar dia dimana...." Ucap Yofie.


"Anshh.... Eh, mana gw tau. Yang ada ni kamar udah kosong dari kemarin. Gw aja baru balik. Kalo lo penasaran dia dimana, cari kek. Bukan diem aja di rumah. Lakuin lah sesuatu... urusan gw itu banyak. ga ngawasin ni cewek juga.


Dah gw capek... " Jessy berusaha masuk ke dalam kamar nya.


Yofie masih menunggu di belakang Jessy. Ia pun mendekati Jessy, kemudian berbisik.


"Bantuin gw Jess... Gw janji lo minta apa bakal gw lakuin. Tapi bantu gw deket dan dapetin Cathrine.... "


Jessy diam sesaat, ia mencoba berfikir akan tawaran tersebut.


Bagi nya untung jika Cathrine tidak punya kesempatan bertemu dengan Jimmy.


Jimmy adalah incaran Jessy selanjutnya. setelah itu ia bisa mendapatkan pria yang ada di atas Jimmy.


"Lo pasti seneng kan, kalo engga perlu berkompetisi dengan dia.... " Ucap Yofie.


Jessy tersenyum nakal dan membalikkan badannya. Ia memandamg Yofie, wajahnya cukup manis juga ternyata.


sesaat Jessy memang tergoda dengan wajah Yofie. ia berfikir, bagaimana jika bersenang - senang sebentar dengan Yofie.


"Gw kasih tau ya, gw itu bukan level bertarung atau bersaing dengan Cathrine. Bahkan berfikir dia berada di atasku itu.... Hal bodoh. Paham?


uh....gini aja deh, gimana jika kita have fun sebentar. mumpung kita sama - sama sendiri." Jessy masih merasa di atas Cathrine.


"Jangan begitu, kalau pria cerdas. Ia malah akan memilih temanmu daripada dirimu..... bersenang - senang denganmu? tidak akan."


"....... " Jessy melotot mendengar Yofie.


"Lo boleh percaya diri. Tapi lo harus sadar... Di atas langit masih ada khayangan.....


gw lebih milih temen lo, sorry...." Yofie kesal dan meninggalkan Jessy.


"lo bakalan sadar, kalo dia itu perempuan murahan! " jessy terus berbicara walau Yofie meninggalkan nya.


brak!! (Jessy kesal dan membanting pintu kamarny).


ia melempar tas ke atas tempat tidur Cathrine. ia lalu menginjak kasur itu. terlihat sekali bagaimana Jessy membenci Cathrine.

__ADS_1


"lo itu Jelekkk.!! miskin! engga pantesss punya cowok! apalagi sampe bikin cowo gitu! benci gw sama loo... ! "


Jessy menumpahkan amarahnya, ia kesal dan merasa harga dirinya kalah.


sejak kejadian di Teagarden, Jessy semakin membenci temannya ini. baginya yang biasa di sanjung dan dicari pria. kenapa Jimmy justru lebih memperhatikan Cathrine.


"gw harus bisa, bukan! gw pasti bisa dapetin Jimmy atau pria di atas Jimmy. ini baru gw menang. ga akan gw biarin lo hidup lebih enak dari Gw!" jessy berbicara sendiri.


ia melihat kaca di meja Rias. ia melotot dan tangannya mengepal, bagaimana bisa Yofie sampai menyukain Cathrine juga.


"gw itu cantik. kulit gw putih, body gw bagus, rambut gw pirang dan wangi.... gimana bisa? pasti semua orang gila!"


Jessy sepertinya sudah hilang akal. ia bahkan menjadikan Cathrine musuh baginya. padahal ia adalah orang pertama yang mengajak tinggal bersama.


persahabatan? aku rasa bukan. tapi persaingan antara mereka. Musuh dalam selimut lebih tepatnya.


********


aku memilih menghadap ke dinding. aku meletakkan ponsel disampingku.


aku diam dan menangis, aku malu menghadap Jimmy. ia pasti mendengar percakapan kami.


"kamu mau sesuatu?" Jimmy mendekatiku.


"..... " aku hanya menggelengkan kepala.


"hmm... kamu mau minum? aku ambilkan ya... "


Jimmy berdiri dan mengambil air dari dalam lemari pendingin.


ia menuangkan ke gelang transparan dan berjalan ke arahku. ia memegang gelas tersebut pada tangan kirinya.


ia menepuk pundakku, aku diam dan mencoba menahan air mata.


lalu aku berbalik, aku tak berani menatap wajahnya. aku hanya mengambil gelas tersebut dan meminumnya.


"terima kasih... " ucapku.


Jimmy menepuk pundak dan tangan nya menyentuh tanganku. aku masih menunduk, rasanya malu dengan percakapan kami.


"sudahlah...... tenang.... " Jimmy kemudian memelukku.


aku diam dan menikmati pelukan Jimmy. sebentar saja aku menyandarkan tubuhku. mencari sandaran saat lelahku.


Aku berfikir, jika aku melayani Jimmy lagi. Aku bisa mendapatkan uang dan mengirimkan kepada keluargaku.


Aku kemudia melepaskan pelukan Jimmy. Kami pun saling berpandangan, jimmy memelukku lagi..


Aku kemudian mencoba menggoda Jimmy. Aku mencoba agar ia mau menyentuhku lagi..


Ia membawaku pindah ke tempat tidur...


Ia mulai menyentuhku, sampai ia berbisik..


Aku memandangnya dengan tatapan sayu dan sendu....


"Tapi karena kamu mulai merayuku, baiklah... Layani aku, maka aku akan membayarmu dengan layak.... "


Ya, dia melakukan nya lagi...


Sakit buatku namun ada perasaan senang dan rasa ingin memiliki.


malam hari...


aku masih merebahkan tubuhku di tempat tidur. selimut menutupi tubuhku, pendingin udara membuatku nyaman dalam posisi ini.


Bau harum dari Butter yang mencair menusuk hidungku. Terdengar ada benda yang masuk juga ke dalam Pan.


"Bau nya enak... Kamu bikin apa?" Aku berkata.


Jimmy berdiri disana sibuk dengan apa yang ia buat. Ia kemudian menoleh ke arahku.


"Sesuatu yang enak. Aku harap kamu suka... " Jawab Jimmy.


Aku kemudian bangun dan mengambil kimono handuk di sofa. Rupanya Jimmy menyiapkan semuanya untukku.


Aku tersenyum, kemudian aku melihat ke arah kaca. Wajah polosku dengan rambut ikal. Apa aku telah menjadi pela***?


Pertanyaan ini yang membuatku merasa rendah. Tapi, apa sama jika aku hanya melakukan dengan orang ini?


Jika suatu saat ada anak bagaimana?


Sudahlah, aku menikmati saja dan berfikir nanti bagaimana kelanjutannya.


Aku lalu menyusul Jimmy, dan aku duduk di pantry yang ada disampingnya.


Ia melihatku dan tersenyum, rasanya kenapa aku senang ya. Sepertinya aneh, tapi aku bahagia sekali.


Jimmy membawa dua piring ke arahku. Lalu ia meletakkan di hadapanku. Bau harum dari piring menusuk hidungku.


Aku melihat ada daging dan roti yang di pangganng. Ada pula saus yang di siram di atas daging tersebut.


Jimmy menusul duduk di sampingku. Ia menatapku yang terlihat lapar.


"Mau mencoba?" Tanya Jimmy sambil memberi pisau kecil ke arahku.


Aku mengangguk dan mengambil, aku memotong dan mulai memakan daging tersebut. Rasanya daging yang belum pernah aku makan.


"Enak?" Jimmy bertanya tentang ekspresiku.


"Kenapa rasanya seperti ada air yang keluar dari daging? Tapi matang dan bumbu nya enak ya... " aku menjawab.

__ADS_1


"ini daging sapi kok. import dan teknik masak saja, jadi masih ada juice yang keluar." jawab Jimmy.


kemudian Jimmy mengambil garpu ia mengambil potongan dagingku. lalu ia memakannya, Jimmy terlihat menikmati dengan hidangan tersebut.


aku hanya diam dan memandang Jimmy. aku mengaguminya yang pintar dalam segala hal.


senyumnya..


suaranya...


apa aku mulai memiliki perasan kepadanya?


seharusnya jangan...


karena aku dengannya hanya sebatas urusan timbal balik. seharusnya aku bisa membatasi diri. lagi pula, hanya dalam serial dongeng..


pangeran tampan mendapat putri dari rakyat biasa....


"mengapa melihatku seperti itu? apa ada yang salah?" Jimmy melihat ke kimono handuk yang ia pakai..


aku tak menjawab, malah hanya memandangan nya. ia pun terlihat salah tingkah dengan apa yang aku lakukan.


"hei... jangan begitu.. aku merasa kurang nyaman.... " Jimmy menutup wajahnya dengan tangan kirinya.


aku tersenyum dan melanjutkan makanku. Jimmy pun tersenyum, melihat wajahnya saja membuatku senang.


"sebenarnya aku senang melihat kamu. maaf ya.. jika kamu jadi kurang nyaman.... " aku berkata.


Jimmy lalu melihat ke arahku.


"sebenarnya kamu tak masalah melihatku selama apa mau mu. tapi, aku agak malu jika seorang wanita yang dekat memandangku seperti itu.... " jawab Jimmy.


aku hanya diam dan mengangguk. kalimat yang ia katakan...


agak aneh, tapi di bagian mana aku juga binggung.


"mari habiskan, lalu kita jalan keluar... " ucap Jimmy.


"keluar? kan sudah jam 8 malam.... " aku melihat ke jam dinding.


"kamu tinggal di kota Cath... ini masih sore.. apalagi, ini jumat. mendekati weekend, biasanya tempat hiburan akan ramai... " jawab Jimmy.


"lalu, kita mau kemana? baju yang harus aku pakai apa?"


sebenarnya aku jarang pergi malam. kecuali saat aku syuting, dimana aku mendapat mobil untuk mengantar jemput bersama rombongan.


jalan ke Pub? atau kemana yang Jimmy mau. aku tidak mau membuatnya malu dengan pakaianku.


apalagi, aku tidak pintar dalam bersolek...


"pakai ini saja... " Jimmy melempar ke arahku sebuah dress..


"wow, bagus juga simple ini... aku juga punya ini, tapi berwarna biru muda." aku meraba baju tersebut.


benar mirip dengan baju bekas yang aku dapat dari lokasi syuting dulu.


"bagaimana kamu bisa punya? sorry.... maksud ku... darimana kamu punya baju itu?" tanya Jimmy.


"aku dapat bekas dari lokasi syuting dulu. dibagi gratisan, aku ambil soalnya ukuranya yang pas hanya ini... " jawabku sambil memakai baju tersebut.


Jimmy hanya diam dan mengernyitkan dahi. ia nampak tidak suka dengan jawabanku.


aku balik memandangnya dengan wajah penuh tanya.


"apa aku salah?"


"tidak... mungkin aku yang terlalu berfikir saja. mulai sekarang, selama kamu masih bersamaku,... jangan pernah ke lokasi syuting atau pun mengambil baju bekas... " ucap Jimmy dengan suara yang hangat.


"kalau ke lokasi syuting, sudah lama sekali aku tidak kesana... memang ada apa ya? ah... kita harus merahasiakan apa yang terjadi kan?"


"....... " Jimmy diam tidak merespond ku, atau dia sedang berfikir.


"kalau baju bekas.... baiklah, tapi jika untuk keluargaku apa tidak boleh juga? aku juga pengen memberi mereka baju.... " aku mencoba negosiasi dengan Jimmy.


"tidak! kalau aku bilang engga. ya berarti Tidak dalam segalanya! kamu mau baju, ambil ini... bayar dengan itu, atau pergi denganku!


kamu tau, yang kamu lakukan bisa merendahkan diriku. dan aku tak sudi kamu mengambil pakaian bekas untuk keluargamu.!"


aku kaget dengan reaksi Jimmy. aku tak menyangka dia akan bereaksi sekeras itu. salahku juga aku harus berkata jujur kepadanya.


"maaf..... maafkan aku jika kelakuanku salah, aku hanya berusaha jujur dan apa adanya.... " aku pun duduk di pinggir tempat tidur.


Jimmy sepertinya menyadari reaksinya berlebihan. mungkin bagi orang lain di negaranya kalimat dan nada bicara tinggi seperti itu biasa.


namun untuk Cathrine yang halus, ini mengagetkan dirinya.


Jimmy menyusul Cathrine duduk di samping nya.


"ayo kita pergi, lupakan soal tadi... "


Jimmy menarik tangan Cathrine, ia pun hanya menurut. ia mengikuti Jimmy keluar dari apartement.


dalam hati Cathrine terbesit perasaan sedih dan kecewa. apa benar tak seharusnya Jimmy bersama wanita sepertinya?


mereka saling diam, hanya Jimmy yang mencoba memeluk pundak Cathrine.


namun Cathrine hanya diam tanpa kata. senyum di wajah pun tak ada yang nampak.


hingga saat lift tertutup, Jimmy meraih pipi Cathrine. Jimmy memanggut bibir Cathrine dan ia mencium nya.


sesaat mereka terpejam, menikmati lift yang turun perlahan ke tiap lantai.

__ADS_1


hingga Lift terbuka, Jimmy langsung melepas bibir dan tangannya.


wajah Cathrine pun menjadi merah, beruntung orang yang masuk tidak memperhatikan mereka...


__ADS_2