CARAMU MENCINTAIKU

CARAMU MENCINTAIKU
33


__ADS_3

Lift pun sampai pada lantai dasar. Pintu lift pun terbuka, semua yang ada keluar.


Jimmy pun keluar, meninggalkanku di dalam lift. Aku masih kaget dengan apa yang dilakukan oleh Jimmy.


Jimmy pun menoleh ke arahku.


"Come on...."


Aku tersipu malu melihat wajahnya, entah mengapa wajahnya bersinar terang.


"Ayo, keburu nutup lagi.... " Jimmy menarik tangan kananku.


Aku yang memegang tas ku dan mengikuti Jimmy. Ia tersenyum tiap kali memandangku.


Kenapa ya?


Rasanya aneh, jantungku berdegup kencang. Tanganku juga menjadi sulit aku gerakkan.


Padahal aku hanya memandang pundaknya. Tapi reaksi tubuhku seperti itu. Normalkah?


Sampai di dalam mobil pun. Rasanya mengapa malu ya menatap Jimmy.


"Ada yang aneh? Kamu engga berbicara apapun dari kita turun. Apa kamu masih marah denganku?" Tanya Jimmy sambil membenarkan seatbelt dan menyalakan mobil.


"Tidak... Aku cuman pengen ngelihat kamu lebih jelas. Engga paham kenapa, kok aku pengen lihat ke arahmu terus... " Aku berbicara jujur ke Jimmy.


Tak ku sangka, Jimmy malah melotot dan pipi nya menjadi merah.


"Jangan begitu, aku malu.... "


Mobil pun mulai jalan, kami pergi keluar dari apartemen.


Aku melihat ke jam yang ada di dashboard. Ini pukul 8.20 malam, kemana ia akan membawaku.


"Kita ga makan lagi kan?" Aku memberanikan diri untuk bertanya.


"Tidak... Aku hanya membawa mu ke temanku. Kita ngobrol santai, sambil menikmati musik... " Jawab Jimmy.


"Dugem?"


"Bukan... Lounge... Musicnya tidak berisik kok. Aku benci pub yang berisik dan ramai.."


"Lalu??" Aku mengernyitkan dahi.


"Pub juga, tapi ekspatriat dan temanku yang suka music yang sama... " Jawab Jimmy.


Aku tak pernah pergi ke diskotik, pub atau apa lah tempat itu. Aku hanya melihat dan membaca bagaimana tempat itu.


lebih baik menurut saja, aku juga tak ingin membuatnya malu. bagaimana pun, ia mengajakku bertemu temannya.


mengapa tidak aku ikut dengannya?


siapa tahu, ini bisa membantuku mendapat pekerjaan atau relasi baru. Jimmy, ia membawaku masuk ke dunia yang berbeda dan tak ku pernah pikirkan.


Mobil pun berhenti di sebuah gedung. Kami pun turun dan berjalan menuju panah Inn.


Jimmy berjalan di depanku, aku hanya mengekor kepadanya. Tapi Jimmy menhentikan langkahnya.


Ia berbalik dan menarik tanganku. Ia memberi gestur tubuh agar aku berjalan di sampingnya.


"Saat di dalam, jangan jauh dariku. Jangan juga berjalan di depanku. Jangan juga menunduk, tunjukan wajah dan percaya pada dirimu... " Ucap Jimmy.


Anggukan kepalaku menghentikan Jimmy yang terus berbicara.


"Ingat apa yang aku bilang... " Jimmy menekankan lagi apa yang ia katakan.


Memangnya seperti apa yang Jimmy maksud. Apa memang yang menjadikan Jimmy sebegitu takut.


Kalau takut, kenapa harus mengajakku kemari. Bertemu orang lain yang aku tidak kenal.


Kami masuk ke sebuah ruangan. Disana lampu dengan cahaya yang lumayan terang. Ada live musik di tengah ruangan.


Beberapa orang duduk di sofa dan kursi duduk. Beberapa aku lihat adalah warga negara asing.


Mereka berbicara dengan bahasa yang tak aku pahami.


"Anyeong .. " Ucap salah satu servant disana.


"Halo, saya speak bahasa.. " Aku menjawab.


"Kami ngomong bahasa, hari ini saya bersama dia. Kenal kan namanya Cathrine.... " Ucap Jimmy.


"Hello, saya Adit...salam kenal... " Adit memberikan tangannya untuk berjabat tangan.


"Hallo, salam kenal... Senang bertemu... " Aku menjawab.


"Kamu disini dulu ya, saya mau menyapa teman disana... " Ucap Jimmy.


Aku menurut saja, aku duduk di kursi bar dekat adit. Dia bartender muda, namun hampir mengenal semua pelanggan yang datang.


"Udah lama mbak? Sama Jimmy?" Tanya Adit.


Ia memberi orange Juice di hadapanku. Lalu aku mengambil dan meminum sedikit.


"Sebenarnya aku baru kok sama Jimmy."

__ADS_1


"Dari daerah ya lo.. Logat medok gitu... Hm.... " Adit berbicara sembari meracik minuman.


"..... " Aku hanya diam dan melihat aksi Adit jugling dengan beberapa botol minuman.


"Terkesima sama gw?" Adit mencoba menggodaku.


"Tidak.... " Jawabku singkat.


"Bohong, lo aja engga berkedip ngelihatin gw tadi... " Adit tersenyum nakal kepadaku.


"Hahahhaa... Lo itu pede banget sumpah... Gw itu liat tangan lo, bisa engga meleset gitu muter botolnya... " Jawabku sambil tertawa.


Tak berapa lama aku merasa seseorang memegang kedua pundaku. Aku refleks menoleh, rupanya Jimmy.


"Apa yang lucu? Kenapa kamu tertawa dan sepertinya seru... " Tanya Jimmy.


"Engga papa Bro... Cewe lo itu ngelihatin gw.. Makanya dia ketawa, ngelihat gw lucu kali... " Ucap Adit.


"Eh... Enak aja, ni dia itu ngelucu... Masak aku liat dia muterin botol di bilang suka sama dia... " Aku bercerita sambil menahan tawa.


"Oh begitu, ayo pergi kesana... " Jimmy mengajakku pindah ke sofa di ujung.


Aku menurut membawa gelas minuman dan mengikuti Jimmy. Beberapa dari mereka menyapa Jimmy, namun tak jarang melihatku dengan tatapan aneh.


Kami berhenti di sofa, disana ada 2 pasangan yang menunggu. Aku mencoba tersenyum ke arah mereka.


"Kenalin, Cathrine.... " Ucap Jimmy.


Mereka bersalaman denganku, aku tak mendengar jelas nama mereka. Suara mereka kalah dengan musik yang sedang ramai.


Aku pun duduk di samping Jimmy. Ia merangkul pundakku, lalu aku menyandarkan badanku ke dirinya.


Mungkin jika di lihat agak kaku gaya kami. Tapi, memang benar aku tak pernah melakukan ini.


"Kalian masih saja malu. Sudah lah, anggap tempat sendiri." Ucap pria disana.


Penampilannya seperti Yakuza yang aku tonton di film.


Kemeja yang sedikit menunjuk kaan dadanya, terdapat tato. Jika tak salah itu burung Phoenix.


"Itu tato burung Phoenix ya kak?" Aku bertanya.


Berani sekali aku bertanya, padahal mereka berbicara hal lain.


Tapi memang benar hal itu membuatku penasaran.


"Ha.. Ha... Pintar wanitamu, beda dengan wanita di sekitarmu.. Ya! Benar ini Phoenix... " Ucap Pria tegap tersebut.


"Oh rupanya benar.... Maaf ya, aku penasaran jadi bertanya langsung." Aku menjawab.


"Kamu mau tahu? Kenapa ada tato ini?" tanya Pria itu.


"Boleh... " Aku antusias mendengar.


"Artinya ini adalah Pertanda baik, lambang hal yang sakral dan dihormati. Ini permintaan ayahku, tato ini adalah warisan yang harus aku jaga.


Ia berharap, aku bisa menjadi lebih baik dari dirinya.."


"Owh, seperti doa ya.. Tapi aku pernah membaca maknanya memang indah, seperti ekornya yang berwarna warni... Melambangkan air, tanah dan elemen logam.. Pokoknya keseimbangan gitu.. " Aku menjawab.


"Benar! Kurang lebih begitu... " Jawab Pria itu.


"Jimmy, wanita mu ini pintar. Apa kamu mendapatkannya dengan mudah? Tidak seperti perempuan yang pernah kamu bawa kemari... " Ucap wanita di samping pria bertato itu.


"Sudahlah, dia terlalu banyak bicara. Lupakan. Anggap wanita ini ngelantur. Abaikan saja yang ia bilang.. " Ucap Jimmy.


"Tidak... Tidak.... Aku... Merasa wanita ini cerdas.. Pantas bersama mu.. " Ucap Pria lain disana.


"Lou.. Please, aku pengen seneng aja. Jangan bahas gitu, belum tentu juga dia bakalan gw ajak lagi kesini... " Ucap Jimmy.


"Kenapa engga? Kalian cocok kok... Perempuan ini cukup manis.. " Ucap Pria yang di panggil Lou.


"Jangan menggodaku, ia hanya kebetulan aku bawa kemari. Bukan seperti yang kalian pikir... " Ucap Jimmy.


Aku kaget mendengar kalimat Jimmy.


Sepertinya ia memang tak serius memi taku bersama dengannya.


Aku cukup seneng dengan respond teman Jimmy. Aku bisa berbicara dengan mereka, bahkan mereka memuji diriku. Pertama kali orang memandangku bukan dari fisik.


Bahkan mereka memuji diriku.


Pria yang membawaku kesini malah menganggapku membual atau meracau. Ia tak menghargaiku seperti teman - temannya.


Ah, mungkin saja benar... Mereka hanya merasa tidak enak makanya mereka berkata begitu.


Ingat Cathrine! Mereka itu orang kaya.


Kamu bukan berada di level mereka. Kamu hanya kebetulan berada di antara mereka.


Jika bukan Jimmy yang membawamu, mereka juga tidak mungkin melihat dan berbicara kepadamu. Ingat Cathrine! Kamu harus sadar!!


"Aku ke kamar mandi sebentar ya... " Aku berkata, dan Jimmy hanya menangguk.


Ia sibuk berbicara dengan temannya yang lain. Aku berdiri dan menjauh dari Jimmy.

__ADS_1


Aku masuk ke dalam toilet. Aku membasuh tanganku, aku ingin menenangkan hatiku.


Mendengar ia tak membelaku atau ikut memuji diriku.. Kenapa membuatku sakit ya...


Aku menatap cermin, aku mengedipkan mata beberapa kali. Aku lakukan agar air mataku tidak keluar.


Aku juga menghela nafas beberapa kali. Diriku menjadi sensitif dengan apa yang baru saja terjadi.


Aku memang hanya temannya. Teman dalam apartementnya, jadi benar kalau Jimmy berkata begitu.


Aku tak seharusnya membawa perasaan atau tersinggung dengan Jimmy. Aku mengatur emosiku, agar aku bisa keluar dari kamar mandi.


Aku pun berjalan keluar, aku melihat dari jauh mereka asik berbicara. Bahkan aku bisa melihat Jimmy tertawa dan bercanda.


Memang benar, aku tak seharusnya ada disini. Jimmy dan kawan - kawannya, memang jauh aku raih untuk sepadan dan duduk berbicara santai.


Aku mencoba kembali dan berjalan kesana. Tapi, aku bisa mendengar dari sini, sedikit hal yang mereka bahas.


"Oh jadi wanita itu temen kencan semalam? Pantas saja kamu engga menanggapinya... " Ucap wanita di samping pria bertato.


"Tapi, kalau menurutku. Wanita itu cocok. Pas denganmu, ia wanita pintar dan... " Ucap Pria bertato.


"Tidak cantik. Tidak seksi, nampak bukan dari kalangan atas... " Ucap Jimmy.


Aku kaget mendengar perkataan Jimmy. Apa maksudnya berkata demikian..?


"Hei.... Jangan begitu, ingat kan aku? Fukuda mengangkat aku dan hidupku. Makanya aku masih bersama dia, aku juga seburuk itu saat pertama bertemu dengan Fukuda... " Ucap wanita si pria bertato.


"Iya, jangan begitu. Wanita ini cukup cantik kok, kalau di rawat sedikit... " Ucap Pria bertato.


"Sudah, kita ganti topik saja.. Bagaimana soal lahan yang kamu ceritakan kemarin?" Ucap Jimmy.


kalimatnya, tak satupun membuatku nyaman. Rasanya down dan sedih, aku membalik badanku. Aku memilih menjauh dari mereka.


lingkaran pertemanan yang aku tak pantas ada. mereka dengan dunia mereka, aku hanya menganggu ada disana.


Aku melihat meja bar sepi. Aku berjalan kesana dan duduk di kursi paling ujung.


aku menarik kursi dan duduk disana. aku melamun melihat ke meja. pandanganku kosong, seperti mendengar berita buruk.


entah hal itu membuat moodku menjadi hancur.


kenapa sedih ya? padahal yang Jimmy katakan itu memang fakta. aku ini memang pecundang yang sensitif. aku memamg bodoh membawa perasaan atas apa yang Jimmy lakukan beberapa saat lalu.


"Kok engga gabung?" Adit menyapaku.


"Engga, aku kayanya mendingan duduk disini aja. Sepi, ga berisik musik dan orang ngobrol... " Aku menjawab.


"Masak sih? Tapi wajah dan ekspresi engga bisa bohong..lo itu keliatan sedih..Ada masalah pasti?"


"..... " Aku tak menjawab.


Antara malas dan terlalu pribadi jika aku menjawab. lagipula Adit memang bartender yang cukup dekat dengan semua tamu.


ia pasti sudah paham tanpa aku harus bercerita.


"Gw paham kok posisi lo... Lo dateng kesini, sama pria mapan dengan masa depan yang amat terang.. Dimana kumpulan di lingkaran dia ya orang yang gitu...


sedang gw tebak, lo bukan dari dalam lingkaran itu. Bisa di bawah atau di atas. tapi kalo dari ekspresi lo... kayanya kita dari lingkaran yang sama..." Ucap Adit.


Aku hanya sedikit melirik ke arahnya. Aku mencoba mendengarnya tanpa ingin menjawab.


Aku mau mendengar apa yang ia pikirkan soal diriku.


"Gw udah sering ketemu cewe model kaya lo.. Dateng sebagai teman kencan yang berakhir di kursi sini...si pria sibuk bercanda dan bicara dengan teman - temannya.


dan kembali menjemput si wanita..saat akan pulang...ya gitu siklusnya..."


"Kenapa? Bagaimana dengan nasib mereka?" Aku bertanya.


"Semua tak ada yang kembali lebih dari 2x.. Hubungan mereka akan selesai. Ya balik lagi, si wanita engga bisa mengikuti mau pria dan kawan nya... mulai dari bahan pembicaraan.. materi.. dan strata sosial..


Terlalu jauh dan mereka juga ga mungkin sampai bersama menikah. Living together oke lah, but..no one dari mereka sampe merit..." ucap Adit


"Pernikahan? Engga mikir gw... banyak hal yang masih jadi fokus gw.." Aku mencoba menutupi impian masa kecilku.


"Jangan gitu, kebanyakan cewe kesini itu udah di level berharap banget pernikahan kaya dongeng. Apalagi dongeng si kaya dan miskin..


Ancur banget tu, bikin mimpi tiap cewe gitu...


kalo lo ga mikir sampe nikah...ya gw salute sama lo....give a plause Gw..." Ucap Adit sambil bertepuk tangan.


"Hmm.... Gw cuman baru sadar, lebih baik gw engga banyak bicara sama Jimmy and the gank... Salah bicara gw... Jadi gw denger fakta dan kaya kaget sama engga siap, eh bukan ga sadar sama kenyataan.. " Jawabku.


"hmm... okeii... tapi lo harus inget... Jimmy itu berbeda. gw yakin, dia engga sembarangan memperkenalkan lo ke temen - temennya...


gw berharap bisa ngeliat lo dateng lagi sama Jimmy.. engga berhenti hanya 2x kesini terus hilang.... "


"gw engga berharap kok, gw juga cuman beberapa hari sama Jimmy. setelah ini gw bakalan balik ke kenyataan...


begitu pula dengan Jimmy.." ucapku.


ya... setelah ini, aku kembali ke kehidupan asli. aku sebagai pelayan warung, asistent untuk artis dan kost yang harus berbagi dengan Jessy.


sudah cukup aku tidur nya. sudah cukup waktu berhayal. aku harus menabung dan bekerja, beban yang aku bawa berat...

__ADS_1


__ADS_2