
Sore itu aku membereskan piring bersih. Kemudian aku menata dengan rapi di rak piring.
Lalu aku menyapu lantai dan membersihkan semua meja. Hari ini saatnya aku untuk pulang.
Aku tetap berangkat kerja atas permintaan Uni. Kebetulan juga ada pesanan nasi dus di beberapa tempat.
Namun, kini jam menunjukkan pukul 5. Uni bilang aku boleh pulang lebih cepat dan bersiap untuk pulang.
Aku pun melepas celemek dan menaruhnya di tempat pakaian kotor. Lalu aku mencuci tanganku dengan air dan sabun.
Aku menuju ke pintu keluar warung Uni. Namun, uni menarik tanganku.
"Ada apa Uni? Ada yang saya bisa bantu kerja kan?" Aku berkata.
Uni malah memberiku amplop putih yang terlipat. Ia menarik tangan kananku dan menaruh amplop tersebut.
"Apa ini Uni..??" Aku kebingungan.
"Ini indak banyak, tapi bisa untuk kamu beli oleh - oleh untuk keluarga. Jangan pulang dengan tangan kosong. Pantang, anggap ini dari Uni untuk kalian... "
"Terima kasih sekali Uni.... Terimakasih... " Aku tersenyum sumringah.
"Sudah cepat pulang, kamu harus makan Nak. Dan bersiap.. Hati - hati di jalan, jangan mau minum air dari orang indak di kenal. Jaga diri baik - baik dan cepat kembali ya... " Uni memelukku.
Rasanya ia seperti Ibu yang melepas anaknya pergi. Uni kurasa berat melepasku pergi.
"Baik Uni... Saya pulang dulu ya... Sampai jumpa Uni, salam untuk Uda.. Saya akan kembali kok... "
Uni tersenyum dan mengangguk kan kepala.
Aku pun berjalan keluar dan menuju ke belokan di samping warungku. Sore itu cuacanya cerah. Secerah perasaanku yang akan pulang.
Aku berjalan dengan cepat. Aku ingin bersiap dan menunggu Travel menjemputku. entah energiku seperti tak berkurang mungkin karena aku akan bertemu dengan keluargaku.
Namun, saat aku sampai di depan kostku. Aku melihat Yofie baru pulang ke rumah.
motor putihnya berhenti persis di hadapanku. seharusnya aku tak perlu menggubris. tapi, dalam hatiku seolah berkata untuk menunggunya.
Ia membuka helm dan tersenyum kepadaku. Kedua kakiku lemas melihat senyumnya. Aku melangkah perlahan mendekatinya.
"Kok pulang cepet? Ada acara?" Yofie membuka suara.
"Iya kak.... Aku mau balik sebentar... " jawabku dengan suara pelan.
"Owh gitu... Aku pikir kamu engga ada acara, mau aku ajak pergi... Naik apa udah sore gini?"
"Aku naik travel kak, uhmm aku tinggal dulu ya kak... Aku harus siap - siap dan nyari makan dulu... Bye... See you..."
Aku meninggalkan Yofie begitu saja. Aku mempercepat langkahku ke dalam teras. aku membuka pintu kayu dan akh langsung masuk ke kamarku kemudian mengunci pintu.
'Akh!! Bodohnya aku pergi begitu saja.' aku berbicara dalam hati.
namun aku tak ingin membuang waktuku dengan menghayal. Aku langsung mengambil handuk dan mandi.
kini aku telah berganti pakaian. Memakai kaos warna putih dengan legging hitam. Aku menyiapkan cardigan warna merah di atas tempat tidurku.
Aku mengambil uang pecahan 20rb dan menaruh di kantung leggingku. Kemudian aku keluar dari kamarku.
Aku berjalan menuju pintu depan...
pemandangan tak biasa yang aku lihat. Diteras Yofie duduk sendiri sambil membaca koran. namun aku terus berjalan tanpa memperdulikannya.
"Mau kemana Cath?" Yofie memanggilku. juga mengambat langkahku.
"Eh kak, aku pikir engga lihat... Hehe...ini mau cari makan... " Aku menjawab singkat.
"Kakak antar aja, biar ga kelamaan." Yofie meletakkan koran dan mengambil kunci motornya.
"Gimana kak?" Aku masih engga menangkap apa yang di maksud Yofie.
"Udah cepet naik... " Yofie sudah bersiap dengan motornya di jalan depan kost.
"Baiklah kak.... " Aku pun naik ke atas motor Yofie.
Ia membawaku pergi dengan motornya. Sore itu untuk pertama kali aku pergi ke sekitar kost menggunakan motor.
Rasanya aku senang sekali. Bisa jalan - jalan ke tempat yang lain di daerah ini. Yofie membawaku berputar ke belakang perumahan.
jalan yang bahkan aku saja baru mengetahui sekarang. disana ada area foodcourt di tengah lapangan.
__ADS_1
Yofie memarkir kan motornya. lalu kami pun masuk ke dalam. kami melihat papan nama disana, banyak menu dengan harga yang miring. uhm... aku rasa ini bisa jadi referensiku nanti.
"Kamu mau makan apa?" Tanya Yofie.
"Bebas kak... Eh, kalo engga baso sama ketupat aja kak... Aku belum begitu lapar kok... " aku menjawab Yofie.
"yaudah, duduk dulu ya... kakak yang pesan aja.."
kemudian aku duduk di salah satu area. Aku memilih area yang sedikit terbuka. Biasanya Yofie akan menyulut rokok nya.
Dan aku kurang suka dengan bau asap rokok. sebenarnya ayahku juga seorang perokok. namun hal tersebut malah membuatku kurang suka dengan laki - laki yang merokok.
yofie pun datang, aku melihatnya membawa bungkusan plastik berwarna putih. kalau aku lihat dari merk nya. sepertinya dari sebuah bakery yang ada disana.
"Ini buat di jalan... " Yofie memberiku plastik putih tersebut.
Aku menerima kemudian membukanya, ada roti dan minuman. Ada pula beberapa cemilan kecil. tapi ini terlalu banyak, lagipula perjalanku malam. biasanya aku enggan makan lagi. aku lebih memilih tidur.
"Kak... Banyak banget... Aku engga akan habis... " Aku memandang Yofie yang duduk di hadapanku.
"Udah engga papa, buat orang rumah aja kalo engga habis."
Benar dugaanku, yofie mengeluarkan sebungkus rokok dari saku nya. Ia lalu menyalakan dan membuang asap ke udara.
Sebenarnya aku mulai memiliki rasa kepadanya. Tapi melihatnya merokok dengan tenang, membuatku kehilangan simpatik.
aku meletakan bungkusan tersebut di atas meja. lalu aku menghela nafas melihat Yofie.
"Kamu pulang sampe kapan?" Tanya Yofie sambil membuang puntung rokok ke tanah.
"Cuman 5 hari kak, aku udah kerja jadi engga bisa libur lama... "
"Owh gitu, bagus deh... Jadi kakak engga nunggu lama...buat ngajak kamu jalan lagi...Oh iya ni dateng makannya.. "
Pelayan menyajikan dua mangkuk bakso dan es teh. Kami langsung menyantap hidangan tersebut.
"Cathrine.... Kamu udah punya pacar?" Tanya Yofie saat kami masih menyantap hidangan sore itu
"Belum kak, belum mikir juga sekarang. Malu juga kak, mau pacaran pun... Pasti cowo mikir kerjaanku. Kan kerjaan kasar ... aku juga masih pengen kuliah kak,..." Aku menjawab dengan santai.
Yofie melipat sendoknya, ia lebih dulu selesai makan. Aku masih kurang sedikit lagi.
"Kan kak Yofie yang bangga....bukan orang lain lagi pula kakak kan emang baik orang nya..." Aku menjawab sambil melahap bakso terakhirku.
"Kan engga papa.... Kalau kakak bangga dan kakak tertarik sama kamu... " Yofie berkata dengan lembut.
Aku melonggo langsung memandang Yofie. hampir aku terhipnotis dengan apa yang Yofie katakan.
"Ha ha ahaa.... Kamu tu lucu kak... " Aku tertawa mendengar kalimat dari Yofie. ya, aku langsung sadar dan memberi batas di hatiku.
"Hmm..... Boleh kamu tertawa Cathrine... Tapi.... "
"Sudah... Sudah.... Kakak tu lucu... Udah yuk balik, katanya aku di jemput lebih cepat nih...." Aku langsung mengajak Yofie pulang.
Bukan karena apa, tetapi aku enggan mendengar kalimat Yofie. Aku takut soal pria. Mereka mudah berbicara dan mudah melupakan.
Aku juga tidak mau terbawa suasana serta perasaan dengan apa yang Yofie katakan. bagaimana aku mau mengulang saat SMA ku. dengan kisah cinta yang tidak ingin aku ulangi.
..........
Sudah cukup saatku dulu di bangku sekolah. Bagaimana aku hanya di jadikan mainan oleh kakak kelasku.
orang bilang ini cinta pertama. ya pertama kali aku dekat dengan lawan jenisku. pertama kali aku mendengar pria menembakku menjadi pacarnya.
memiliki kekasih yang masuk dalam barisan pria keren di sekolah. itu mungkin mimpi sebagian gadis seusiaku.
Dia anggota osis aktif dan juga atlit basket di sekolahku. Namanya Michael.
Dia tinggi dan tidak terlalu kurus. Tidak juga gemuk atau atletis. Matanya agak sendu dan suaranya berat khas laki - laki. kulit nya sawo matang, rambut belah tengah khas salah satu boyband asal Taiwan.
Awal aku mengenalnya saat perlombaan antar sekolah. Kami di kirim untuk mewakili. Aku untuk iptek dan dia untuk olah raga.
selama perlombaan aku mengenal nya sebagai laki - laki yang baik. ia menemani dan mengawal kami hingga selesai. sampai kembali ke sekolah kami, ia pun selalu duduk di dekatku.
Perlahan kami mulai dekat, mulai saling bertukar nomer. Saling mengirim pesan dan berbicara di telpon seusai sekolah.
kedekatan kami yang amat singkat. serta perkenalan kami yang manis, membawaku jatuh cinta kepada nya. aku ingin mengatakan perasaanku, tapi aku malu dan takut.
ia adalah laki - laki yang banyak di kelilingi perempuan. juga begitu terkenal di sekolah, sedang aku cuman murid yang biasa saja. kami di sekolah berbicara langsung pun tak pernah.
__ADS_1
saat ia melihatku mendekat, ia malah menghindariku. pertama aku pikir hanya perasaanku saja. karena setelah pulang, ia akan menelpon dan meminta maaf kepadaku.
hal tersebut berlangsung, hingga ia menyatakan perasaannya kepadaku. Saat itu aku yang juga memiliki rasa menerimanya. Tanpa aku sedikit pun curiga atau menuntut untuk membuka Hubungan kami di sekolah.
Kami hanya komunikasi selama istirahat dan pulang sekolah. Tak pernah ada obrolan langsung dari kami. hanya lewat panggilan telpon atau pesan singkat. benar - benar Michael ingin menjaga rahasia akan hubungan kami.
aku sih tidak masalah. karena ia masih ingat untuk membalas pesanku. juga memanggilku jika aku di dekatnya.
Aku hanya melihat Michael berlatih basket dari jauh. Aku pernah mencoba menyiapkan air mineral dingin untuknya.
Belum sempat aku berikan Fira datang dan memberinya. Aku ingin marah, mengapa wanita itu mendekati Michael terus.
Fira adalah teman sekelas Michael. kata orang mereka berpacaran. namun jelas aku tidak percaya. aku lah Pacar Michael!
aku selalu marah setiap orang membicarakan mereka. rasanya aku ingin berkata bahwa akulah pacar Michael.
aku masih ingat jelas, Kami berpacaran hanya selama 10 hari.....Kami pacaran secara Backstreet dengan alasan anak basket di larang untuk pacaran.
jujur aku amat bodoh mempercayai apa yang Michael katakan soal larangan berpacaran. aku terlena dengan apa yang michael beri lewat rayuan di tiap pesan dan telpon.
bahkan mendengar ia berkata kangen berbicara langsung padaku saja aku udah bahagia. aku menurut apa yang michael katakan. bahkan aku tak pernah menegurnya di sekolah. aku melalukan apa yang ia mau.
Tapi yang aku dapat apa? kejadian itu aku masih ingat jelas!
Michael malah mencium teman sekelasnya di hadapan mataku. ya, ia mencium Fira saat keadaan sekolah agak sepi.
aku yang baru keluar dari laborat fisika pun hanya menatap mereka. membawa buku di genggaman tanganku.
Bahkan saat itu semua anak yang ada disana, menyaksikan bagaiman michael meminta Fira menjadi pacarnya. Semua riuh menyoraki Fira agar menerimanya.
Aku hanya diam mematung memandang adegan tersebut. sakit.....rasanya aku tak dapat membendung lagi namun yang ada malah, Air mataku tak dapat menetes.
Aku memberanikan diri mengirim pesan kepada Michael.
"Apa maksudnya? kamu mabuk?"
"Kita putus." Michael membalas smsku dan kembali memeluk Fira.
Ya mereka berpacaran, dan aku kandas sendiri. Sakit sendiri atau cinta sendiri?
tangan ku gemetar membaca pesan michael. kepalaku langsung sakit dan berkunang - kunang. kedua kakiku lemas, hampir aku jatuh. namun aku memilih duduk di bangku yang ada di sampingku.
Aku hanya sanggup memandang mereka dari jauh. Teman sebangku diriku mengetahui hubungan kami marah.
hanya dengannya aku berani menceritakan. bahkan ia tahu sebagaimana dalam aku terlena dengan rayuan Michael.
"Udah Cathrine... Dia emang engga baik sama kamu.... " temanku menepuk pundakku.
Aku hanya mengangguk dan meninggalkan tontonanku.
"thanks ya Lolla..... " aku menjawab Lola dan menyandarkan kepalaku ke bahunya.
"udah Cath.... kamu harus kuat. tunjukin kalo kamu engga lemah. nangis aja engga, biar dia tahu, kalo kamu itu engga mengangap dia... jadi impas kalian.... "
Sejak saat itu aku memilih untuk tinggal dalam kelas saat jam istirahat. terlalu sakit dan malas melihat sekitar.
tiap kali aku keluar kelas aku melihat lapangan. kejadian yang lewat rasanya selalu terulang di mataku. aku ingin kuat dan melakukan yang Lola katakan.
jijik rasanya saat Michael tanpa rasa malu mengumbar kemesraan dengan Fira. sengaja atau apa aku tak paham. yang aku paham, sakit rasanya melihat mereka.
**********
Kami kembali ke kost. Tak banyak yang kami ucapkan. Rasanya pun seperti ada yang membuat kesalahan.
Kami berhenti di depan kost dan aku pun turun. Aku lalu membuka pagar dan Yofie masuk ke dalam.
Aku menyusul dan membuka pintu rumah. Aku melihat Yofie malah duduk di teras rumah.
Aku langsung masuk ke dalam kamar. Aku mengambil ransel dan tas jinjing. aku memandang tempat tidur Jessy.
"gw pulang bentar ya Jess... gw bakalan balik kok.. byee... " aku berbicara sendiri ke arah tempat Jessy tidur.
Lalu aku keluar dan menunggu Travel menjemput di teras. Aku keluar ke arah teras, disana Yofie masih duduk sendirian.
Aku duduk di samping Yofie. Kemudian meletakkan barang ku disamping.
"Cathrine, gw temenin nunggu ya... Mumpung gw juga ga ada kerjaan... " Yofie lalu meletakkan ponsel nya di meja depan kami.
"Engga papa kak.. Malah ada temen nya kak.. " Aku menjawab Yofie.
__ADS_1