CARAMU MENCINTAIKU

CARAMU MENCINTAIKU
9


__ADS_3

Cathtine duduk di salah satu kursi. Ia melamun dan memandang hujan yang turun.


Uni gemas melihat anak buah nya. Ia pun mendekatomi Cathrine dan duduk di hadapannya.


"Anak perempuan tak bagus melamun.. Apalagi anak gadis manis..."


"Ah Uni... Apa pula.. Aku cuman liat hujan turun itu.. Rasanya tenang dan hati jadi adem."


"Bisa saja lah kamu tu." Uni memberiku sepiring nasi dan lauk.


Aku pun menatap Uni dengan wajah binggung.


"Ini untuk apa?"


"Kamu makan Nak, Uni lihat kamu belum makan dari datang. Lauk ini anggap lah Uni memberi lebih."


"Terima kasih Uni. Aku makan ya.... " Aku pun menyendok nasi dengan kuah rendang yang enak itu.


"Oh iya, Uni penasaran. Mengapa teman kamu tempo hari kemari tak sama sekali berbicara sama kamu.?"


"Uni, tahu darimana dia temanku? Aku kan belum cerita ke Uni.. " Aku menghentikan makan ku.


"Uni pernah tak sengaja dulu melihat kalian lewat berdua. Kenapa jadi seperti tak saling kenal?"


"Saya di anggap berkhianat Uni... "


"Apa maksudnya Nak?" Wajah Uni binggung. Mungkin ia mengira kami memiliki hubungan lain.


"Bukan begitu Uni... Kami bertemu saat ajang pemilihan Bintang Majalah. Tapi saya sama sekali engga menang. Cuman dapat bernaung di salah satu managemen artis. Tapi makin kesini uang saya habis dan belum berkarya apa - apa.. "


"Lalu?"


"Lalu teman saya nasib nya baik Uni. Dia sekarang udah main sinetron baru. Sudah main iklan shampoo juga. Hidupnya udah beda.. Tapi dia minta saya kerja ikut dia aja jadi assistant gitu Uni..."


"Hmmmm.... " Uni membetulkan kacamatanya yang turun.


"Tapi saya engga mau Uni. Saya pernah ikut dia syuting daripada nganggur. Tapi, saya malah di anggap sebagai pesuruh Uni... Dan dia kesel pas tau saya kerja sama Uni. Mungkin maksud dia kenapa ga kerja sama dia malah sama Uni..."


"Begitu rupanya.. Lalu haruskan sampai tak saling kenal?"


"Bagaimana ya Uni, saya kerja ikut Uni bisa ngasih adik saya uang sedikit.. Kalau kerja dengan casting ga jelas ga tau kapan Uni bisa beli obat dan bantu operasi papa.... "


"Nak... Kalian bersahabat?"


"Entah Uni, makin kesini saya lihat nya dia menganggap saya musuh... Padahal kami berasal dari kota yang sama. Tapi beda nasib Uni. Papa dia pengusaha dan punya banyak rumah. Sedang orang tua ku, mau makan aja harus kerja ke pasar...."


"Nak..... Kalau kalian bersahabat, seharusnya ia mendukung pilihan kamu. Setidaknya saat ini kamu bisa makan dengan layak. Soal casting kamu tetap bisa ambil jika libur datang. Tapi kalau bicara soal harga diri, kamu tak pantas di perlakukan seperti pembantu Nak... Kalian masih sama merintis entah artis atau sebagai wanita karir.... Seorang sahabat tak akan mungkin mau merendahkan dirimu di hadapan orang lain... Apapun pekerjaan nya, jika kamu lakukan dengan halal dan ikhlas, akan jadi berkatmu" Uni kemudian membelai rambutku.


"Iya Uni... Aku paham.... Makasih ya Uni... " Aku menjadi sungkan dengan Uni.


"Iya, kamu lanjut kan makan, uni mau kesana dulu ada orang datang.. " Uni pergi meninggalkan ku. Ia melayani pembeli yang datang untuk makan.


Perkataan Uni ada benarnya, bagaimana mungkin seorang teman menjadikan aku pembantu. Tapi, kami sekampung harusnya kami saling rukun.


Malam itu aku pulang dengan di temani gerimis. Jalanan yang basah dan lembab.


Dari luar pagar, aku melihat jendela kamarku menyala. Apakah ada Jessy? Bukan nya dia bilang ada pemotretan.?


Aku membuka pagar dan menguncinya kembali. Ada suami tante kost ku dan anak lelakinya Yofie di teras.


"Baru pulang Cath?" Yofie menyapaku.


"Iya kak Yofie., malam Om.. Masih di luar aja..?" Aku menjawab sapaan dari Yofie.


"Iya, udara nya enak kalo hujan gini. Mau gabung Cath?" Yofie mematikan rokok yang ada di tangannya.


"Makasih kak, besok lagi aja ya.. Aku mau ke dalam dulu, besok ada pesenan jadi aku harus berangkat pagi..." Aku agak menghindar dan membuka pintu rumah.


"Oh gitu, boleh deh,.. Sabtu ato kapan ya kita ngobrol lagi... " Jawab Yofie.


"Baik kak.. Aku ngikut aja nanti, malam Om.. Malam kak... "


"Ya.. Malam... Malam... " Jawab ayah Yofie.


Yofie masih mengintip ke dalam. Entah biasanya ia hanya kembali di akhir minggu.

__ADS_1


Tapi sudah 2 minggu ini ia sering datang dan menginap. Yofie tinggi dan berkulit putih, matanya juga begitu tajam jika melihat lawan bicara.


Tapi, ia selalu baik kepadaku. Setidaknya, itu lah yang aku tau. Kata Tante Kost, dia itu amat keras dan sulit berbicara.


Namun, ini sudah kedua kali nya ia mengajakku berbicara. Entahlah, aku memilih masuk ke dalam kamarku.


Aku membuka pintu dan masuk ke dalam.


"Permisi..... " Aku berkata sambil masuk ke dalam.


"Cathrinee..... Gw kangen sama looo!!" Risa menjawabku langsung memelukku.


Ia teman yang aku kenal saat acara final pemilihan. Ia dari luar daerahku, tapi orangnya sangat baik dan ramah.


Kami berpisah kost karena penuh tempat kostnya. Dia anak yang kuat dalam hal agama. Dia pula yang sering mengingatkan aku untuk berdoa.


Meski agama kami berbeda. Kami merasa nyaman saat berteman. Dan yang aku paham...


Ia tak pernah berpura - pura...


"Risa... Kok engga bilang kesini??" Aku memeluk balik Risa.


"Ia gw tu dateng dari jam 7. Jessy bilang lo balik jam 8 atau 9 gitu. Yaudah gw nunggu disini aja... "


"Oh gitu... Duduk deh, gw mandi dulu yaa... "


Risa memilih duduk di kursi meja rias. Ia memperhatikan barang - barang Jessy.


"Ni semua punya dia?" Risa memberi kode dengan jari telunjuknya.


"Iya.. Oh iya jessy nya kemana?"


"Tadi di pamit sama gw katanya ada acara gitu.. Tapi apaan gw kaga paham sih... "


"Owh... Bentar ya, gw mau mandi dulu.. Lo nginep sini sekalian?"


"Lo besok berangkat jam berapa emang? Kalo gw nginep kakak gw tu mau dateng jam 8. Jadi gw mau balik kost... "


Breesssss...... (Hujan deras turun tiba - tiba).


"Yaudah kita piyama Party yaaa... " Jawab Risa.


Aku lega setidaknya aku tidak sendiri malam ini. Bukan karena aku takut, tapi aku merasa senang bertemu sahabatku ini.


aku berbaring bersama Risa di sampingku. ia lebih gemuk sedikit daripada aku. tapi tak masalah buatku, yang penting cukup untuk kami dan bisa saling berbagi cerita.


"jadi lo udah engga Casting sekarang?"


"iya sementara Ris.. gw ga ada callingan dan sms soal panggilan casting. padahal gw kan butuh makan."


"oh gitu, sama gw juga gitu. cuman gw sekarang lanjut kuliah lagi Cath. jadi besok pas masuk mahasiswa gw pindah kost. biar deket sama kampus gw gitu... " Risa menjawab sambil membetulkan selimutnya.


"oh gitu, terus kuliah lo di sana gimana?"


"ah gapapa, kakak gw punya duit buat mindahin gw kuliah. jadi gw ngikut aja deh, namanya juga di bayarin kan... "


"ya ampun, kakak lo baik banget Ris.. doain gw dong, biar bisa kaya kakak lo. nyekolahin adek gw biar sampe sarjana juga... " aku membuka kedua tanganku. seperti orang sedang berdoa.


"amin... gw yakin lo bisa Cath... semangataja terus dan selalu positif pikiran lo.. " Risa menepuk lenganku.


*************


"mira.... sudah 5 tahun berlalu. apa kamu tahu, ada perempuan yang memiliki magnet seperti kamu? tapi bedanya dia pemalu dan aku tidak mengenal nya dengan baik... " Jimmy berkata dengan menatap foto Mira.


"kenapa juga waktu itu kamu memilih mengakhiri hidupmu? aku tak akan marah kepadamu dan aku akan menerimamu Mira.... "


"tahu kah dirimu Mira... bagaimana aku menjalani hidupku selama ini dengan rasa bersalah. karena mengabaikan panggilanmu, aku langsung kehilangan dirimu Mira..... maaf kan aku.... "


"besok aku akan mengunjungi Gibran. aku membawakan nya banyak buku untuk dibaca. anakmu kini sudah besar Mira.. ia bahkan amat berprestasi, kamu pasti bangga melihatnya.


perasaanku akan sama, dia tetap bagian dari diriku.... "


Jimmu pun bangkit dari kursi. ia meletakkan kembali foto Mira ke dalam laci meja kerjanya.


Jimmy mengambil Goodie bag berwarna putih yanh ada di atas meja nya. ia juga mengambil Kunci mobil yang ada di sampingnya.

__ADS_1


Jimmy menuju ke garasi mobil di rumahnya. Ia memang memiliki rumah yang juga di gunakan sebagai lokasi Syuting.


Baginya ia hanya butuh sebuah ruangan untuk bekerja dan istirahat. Begitu besar rumah ini hingga telah memproduksi banyak cerita di film yang terlaris di televisi.


Siang itu Jimmy memilih berkendara sendiri. Ia menuju ke pinggir kota, ia masih hafal dengan detail kemana arah Gibran di titipkan. Bukan keinginan Jimmy menitipkan Gibran.


Tapi, ia tak paham bagaimana menjadi sosok pengganti ibu sekaligus ayah. Apalagi ia hanya sendiri di negara ini.


Sebuah Pondok dengan pemimpin yang bijak lah, yang dapat menggerakkan hati Jimmy. Ia percaya pada lelaki paruh baya itu.


Lelaki yang sehari - hari menggunakan sarung dan baju berwarna putih. Lengkap dengan peci di kepalanya.


Jimmy memasuki pekarangan rumah Bapak Abdul. Ia berhenti di bawah pohon mangga.


Persis di dekat kursi kayu panjang. Tempat nya dan Mira dulu bercerita dan menggunjungi Gibran.


Sesaat ia terdiam dan memandang kursi tersebut. Membayangkan bagaimana Mira dan ia tertawa bahagia. Melihat Gibran tertawa dan berlari serta belajar di tempat tersebut.


Jimmy menghela nafas dengan mata yang hampir menangis. "Sudah Jimmy, semua sudah menjadi kenangan... " Ia berbicara sendiri.


Tak lama Jimmy keluar dari mobilnya. Pak Abdul telah menyambutnya, ia berdiri di pelataran dan tersenyum.


Jimmy pun berjalan sambil membawa bungkusan tersebut. Ia berjalan mendekati pak Abdul.


Ia Pun memberi salam kepada bapak Tua tersebut. Namun justru pelukan hangat yang di beri oleh Bapak Abdul.


"Sudah lama kamu tidak kemari... Selamat datang... " Jawab Pak Abdul.


"Iya Pak, saya akhir - akhir ini sulit libur untuk kemari. Oh iya apa Gibran ada?"


"Mari kita masuk dulu. Tak sopan jika tamu tak ku ijinkan masuk.. " Pak Abdul mempersilakan Jimmy masuk ke dalam.


Mereka duduk di ruang tamu. Disana terdapat beberapa foto anak yang juga di titipkan di tempat tersebut. Pandangan Jimmy langsung tertuju pada Gibran.


"Sudah besar ya Pak... Saya masih ingat bagaimana saya mengantar Mira kemari.... " Jimmy membuka suara.


"Ya... Benar sudah hampir 5 tahun berlalu. Bapak berfikir kamu akan melupakan Gibran... "


Seseorang datang dengan membawa 2 gelas teh. Kemudian meletakkan di atas meja.


"Terima kasih... " Ucap Jimmy. Namun wanita muda tersebut hanya mengangguk dan masuk ke dalam.


"Silakan di minum... Gibran sedang ada lomba cerdas cermat sebentar lagi mungkin ia akan sampai... "


"Tidak apa - apa pak... Saya mau nitip ini saja untuk Gibran. Semoga ia suka... " Jimmy memberi bungkusan putih tersebut.


"Baik saya sampaikan nanti ya... Nak....sebenarnya kamu tidak harus seperti ini ke Gibran..."


"Saya paham Pak... Saya cuman memperlakukan Gibran, selayaknya saya memperlakukan Mira .. Walau dunia kami sudah berbeda... Tapi rasa sayang saya ke Gibran tidak pak... 5 tahun lalu atau sekarang.. "


"Sebegitu dalam nya rasa cinta mu ke Ibu Gibran. Sampai membawa mu untuk mencintai Gibran.. Sungguh Hanya Allah yang bisa memutar balik hati manusia.... Bapak tidak keberatan, namun akan lebih baik Gibran tidak mengetahui apa yang terjadi antara kalian.. " Ucap Pak Abdul sambil meminum teh nya.


"Iya Pak.. Saya paham dan ini juga yang membawa saya kemari... Saya tetap memantau Gibran, tapi saya tak akan muncul di hadapannya. Mendengar berita nya dari bapak saja saya sudah bahagia... Tulus dari hati saya pak... "


Pak Abdul menganggukkan kepala nya. "Saya paham Nak, cuman Gibran masih terlalu kecil.. Yang ada di pikirannya Ibu nya pergi, karena Anda yang tidak dapat menolongnya.... Bapak pun tahu, bahwa justru kamu yang menolong Mira... "


"Iya pak.. Apa sih yang ada di pikiran anak kecil... Saya yang terdekat dan yang pertama ada di tempat kejadian... Pasti ia sedikit banyak berfikir buruk soal saya..."


"Sabarlah.... Waktu akan memberi jawaban dan saya percaya Allah ada di hati anda... Jadi tenanglah, saya akan menjaga Gibran dengan sekuat tenaga saya ..... Seperti saya menjaga anak yang ada disini.." Ucap Pak Abdul dengan mantab.


"iya Pak, ini lah yang membuat saya merasa tenang.. Gibran setidaknya berada di tempat yang lebih baik. bersama teman nya ia bisa mendapat Ilmu Agama dari orang yang benar.... saya bangga denhan anak itu.. sungguh luar biasa prestasinya..."


"ya.. benar saya juga bangga... " pak Abdul tersenyum dengan ramah.


"baik Pak, saya pamit dulu. sudah hampir petang dan sepertinya saya juga harus pulang dengan cepat... " Jimmy berdiri dari tempat duduknya.


"baiklah Nak, mari saya antar... "


mereka pun berjalan ke pintu depan. Pak Abdul merangkul pundak Jimmy.


"bersabarlah, dan terima kasih masih memperhatikan Gibran dengan baik... Bapak berdoa untuk mu selalu... " pak Abdul menepuk pundak Jimmy.


"iya Pak.. saya permisi dulu... " Jimmy pergi ke arah mobilnya.


ia langsung menyalakan mesin dan pergi dengan cepat. ia takut Gibran akan melihatnya datang.

__ADS_1


__ADS_2