
"Tapi seandainya nih.... Andai aja...
Lo jadi cinta sama dia.... Apa yang bakalan lo lakuin? Bertahan dengan pernikahan lo ini.. Atau bakalan pisah juga?" Louise menunjuk ke arah Jimmy.
Jimmy diam sesaat, ia mengepal kedua tangannya.
"Gw belom mikir.... Yang terlintas, gw ngebebasin Cathrine... Dia yang memilih..... Karena gw khawatir kalau sampai orang tua gw tau... " Jimmy menutuo kedua wajahnya dengan telapak tangan nya.
"Sudah Bro... Lo harus berusaha, gw ada di team lo sm Cathrine... " Jawab Louise sambil menepuk pundak Jimmy.
********
Aku membereskan laptop dan mengembalikan ke laci meja tv. Saat itu aku memandang juga bunga yang Jimmy kasih.
"Kenapa aku ga jadi marah sama Jimmy...apa gara - gara kamu?" Aku berbicara dengan bunga itu.
Aku lalu duduk di lantai dan memandangi bunga itu. 'Cantik, kalian berdua cantik...'
Aku teringat dengan balasan pesan Jimmy.
Ponselku pun berbunyi, aku melihat ada pesan masuk.
Jimmy : kamu mau membeli sesuatu sebelum pulang?
Me : tidak, besok saja aku membeli roti di stasiun.
Jimmy : tunggulah di lobby, 10 menit lagi aku sampai. Kita makan malam bersama.
Me : okay.
Aku bergegas mengganti pakaianku. Aku memilih dress sepanjang lututku. Dress simple berwarna merah muda.
Aku menyisir rambutku, senengnya memiliki rambut lurus. Aku bisa tampak rapi dengan cepat.
Aku mengambis tas coklat andalanku. Tapi, aku berhenti sesaat.
Aku mengingat perkataan Jimmy.
"Kamu harus memantaskan dirimu jika bersama denganku."
Aku lalu mengambil tas tangan Hitam yang Jimmy berikan. Aku memasukkan beberapa barang berhargaku.
Aku lalu memakai tas jinjing itu. Aku pun keluar dan mengambil kartu (kunci) apartemen Jimmy.
Aku berjalan keluar dan menunggu lift. Persis angka 10, lift terbuka. Aku masuk ke dalam, isi nya hanya diriku dalam lift.
Lift berjalan perlahan, rasanya aku deg - deg'an.
Apa ini wajar? Ingin bertemu Jimmy membuatku tidak tenang di hati.
Hampir sama saat bersama Yofie dulu. Namun, ini membuatku tak bisa berhenti tersenyum... Rasanya berbeda.
Lift pun sampai ke Lobby, pintu lift terbuka. Aku melangkah keluar, petugas keamanan menyambutku dengan ramah.
Aku pun membalas tersenyum kepadanya. Aku berjalan keluar, mobil suv hitam sudah menungguku.
Kaca tempat duduk bagian belakang terbuka. Aku melihat sosok yang jelas aku kenal. Jimmy.
"Cepat naik!" Ia berkata dengan agak keras.
Aku masuk dengan wajah datar. Di depan ada Pak Teddy yang memegang kendali sebagai driver kami.
"Pak Teddy?" Aku kaget melihat dia menjadi driver kami malam itu.
"Selamat malam Bu... Silakan duduk, biar saya membawa mobil ini... " Ucap Pak Teddy dengan sopan.
"Pak, panggil Cathrine aja.. Apa mbak juga gapapa.... " Aku tersenyum manis.
Aku melirik Jimmy dari kaca spion atas. Ia mengernyitkan dahi, matanya melirik tajam ke arahku.
"Sudah, jalan Pak." Jimmy menengahi kami.
Perjalanan kami cukup cerah, walaupun langit tadinya sudah menguyur hujan.
Aku mengintip langit dari dalam mobil.
"Kamu tumben pake dress gitu. Dandan juga?" Jimmy berkata.
"Iya, aku kebeneran banget belum pake baju ini..... Aku cuman pakai lisptik, bedak, pensil alis... Apa aneh?"
Aku lalu mengambil kaca dari dalam tas.
Wajahku tampak biasa saja, tapi memang aku tak pernah dandan saat bersama dia. Ini pun simple saja menurutku.
"Terlalu tebal, lain kali pakai bedak dan pewarna bibir yang peach atau nude saja. Jangan merah seperti itu... "
Jimmy berbicara tapi ia tidak melihatku. Bagaimana ia mengerti?
Aku kesal dan membuang pandanganku ke arah lain. Kami diam, canggung sebenarnya.
Aku sudah lama tidak pergi dengan adanya Pak Teddy. Biasa kami hanya berdua.
Kami berhenti di sebuah restauran jepang. Mungkin sejenis suki atau grill menurutku dari papan iklan di depan.
"ayo masuk, kita makan lalu bersiap untuk besok.. " Jimmy menarik tanganku masuk ke dalam.
aku tak pernah makan di tempat seperti ini. aku hanya menuruti Jimmy. ia membawaku duduk di salah satu meja yang bisa melihat pemandangan keluar.
"kamu suka ya? duduk dengan pemandangan jalanan.." aku membuka suara.
__ADS_1
"ya... " jawab Jimmy datar.
dihadapan kami ada beberapa daging mentah. aku masih tak mengerti cara memasak dan memakan semua ini.
aku diam melihat Jimmy mulai memasak daging dan sosis. ia pun mengambil beberapa lembar lettuce lalu mengisi dengan nasi dan saus.
ia lalu memakan dengan santai.
"apa enak?" aku bertanya polos.
"enak, cobalah. ... kemarikan nasi dan piringmu."
aku memberi mangkuk nasiku. lalu jimmy mengisi dengan daging yang sudah matang. ia lalu mengambil lettuce, ia mengisi seperti apa yang ia makan.
"buka mulutmu... " ucap Jimmy.
"buat apa? malu ah, taruh saja aku akan makan sendiri." aku malu jika ia menyuapiku.
"sudah Cepat!"
aku pun membuka mulutku, ia memasukan lettuce tersebut. rasanya segar, ada nasi, daging dan saus. semua mencampur aduk di mulutku.
aku mengunyahnya hingga habis.
"bagaimana?"
"enak.... ternyata rasanya begini... " aku menjawab.
"tentu, tapi di negaraku jarang aturan makan seperti itu.. aku pun belajar saat sekolah di universitas. teman ku mengajakku makan di resto pinggir jalan. kalau kamu cocok, apa kamu bersedia aku ajak makan seperti ini lagi?" Jimmy bertanya.
"tentu, makanan ini enak. kenapa tidak... oh iya, waktu kamu kuliah apa pernah menyukai seorang wanita..?" pertanyaaan konyol dariku.
"pernah, tapi dia sudah menikah. lagi pula aku juga tak menyukai nya terlalu. aku lebih suka denganmu... " Jimmy menjawab.
aku hanya diam, tidak merespon ucapan Jimmy. waktu itu aku memang polos. masih tidak bisa membedakan mana rayuan? mana yang tulus.
"kamu diam? ash! aku pasti di tipu Louise. dia bilang jika berkata demikian wanita akan tersenyum dan senang.. " Jimmy meletakkan sumpitnya.
wajahnya kulihat jadi kesal.
"kamu berusaha merayuku?" aku bertanya polos.
"iya, kata mu tadi pagi, kita pacaran. aku berusaha merayumu seperti biasa pasangan lain.. walau aku rasa mulutku jadi aneh... " Jimmy menjelaskan.
"huahahaa.... kamu lucu Jimmy. aku tuh engga pernah denger kalimat rayuan. pernyataan cinta saja tidak pernah."
"sudah lupakan, ayo cepat makan. besok kita penerbangan jam 10." Jimmy melanjutkan makan nya.
gantian aku yang meletakkan sumpitku.
"penerbangan? pesawat?" aku bertanya.
"aku tidak pernah naik pesawat .... apa rasanya akan mual?"
"tidak asal kamu tidak telat makan. cepat makan!"
aku menghabiskan nasi di piringku. Jimmy kali ini makan dengan porsi cukup besar. baru kali ini aku melihat dia makan sebanyak itu.
***********
Yofie masih setia mengintip dari celah jendela. ia selalu berharap lampu menyala di kamar Cathrine. begitu juga sandal yang berbaris rapi di depan kamar nya.
sudah beberapa hari Cathrine tidak kembali ke kost. Yofie belum mengetahui bahwa Stacy sudah memintanya angkat kaki dari rumah itu.
"yof, lo udah coba jas ini?" Stacy menunjuk Jas berwarna putih di samping Yofie.
"belum, gw ngga punya waktu. gw sibuk dengan projek baru ini... " ia menunjuk ke layar komputer.
"hmm.... tapi lo ngga melakukan apapun dengan komputer itu...bahkan kursor lo aja diem aja.." Stacy menjawab balik.
"udahlah, kenapa sih lo ribet banget... gw pake apa ajalah yang lo seneng.. yang penting lo engga ribut. pusing kepala gw... " jawab Yofie kesal.
Stacy duduk di samping Yofie. ia diam dan melihat kedua tangannya.
"lo masih berharap sm Cathrine? kenapa lo beda ke cewe ini?"
yofie diam dan berfikir, ia benar merasa aneh. harusnya ia hanya menjadikan Cathrine penghuni kost biasa. namun, makin lama rasanya makin beda.
"lo udah tahu? dia udah jadi kekasih orang lain? bahkan dia udah mau nikah juga... " ucap Stacy.
"dia mau nikah juga silakan Stac. gw kan juga sebentar lagi bakalan nikah sama lo. posisi kami sama kan?" Yofie menjawab dengan mudah.
"tapi, kenapa lo begitu tertarik sama dia?"
"dia beda Stac, dia itu cuek... polos... dan gw ngerasa dia itu beda....tenang aja, gw juga ga punya kepikiran lebih ke dia... please berhenti bersikap seperti ini.." jawab Yofie.
Stacy pun berdiri dan berjalan menjauhi yofie.
"Tenang aja Stac, pernikahan kita akan tetap terjadi. Tapi kalo lo tanya, gw gimana perasaan nya sama lo. Sampai saat ini masih sama.... Gw masih sayang sama seperti saat kita kecil... Lo sebagai adik gw... " Yofie berkata.
Ia rasa percuma berbicara dengan Stacy. Hati dan pikirannya sudah keras sesuai dengan kemauan dia.
Yofie hanya berharap semoga pernikahan ini bisa menjadi jalan baginya. Melupakan Cathrine dan belajar mencintai Stacy.
******
Aku sudah kembali lagi ke apartemen. Jimmy berjalan disampingku kini. Aku melihatnya, wajah yang manis.
"Kenapa kamu ngeliatin terus?" Tanya Jimmy.
__ADS_1
"Tidak! Perasaanmu aja kali.... " aku membantah apa yang aku lakukan.
"Besok kamu dan aku pulang bersama. Tapi, aku akan meninggalkan mu untuk 2 hari. Setelah itu aku akan menjemputmu dan kita kembali bersama kesini.... " Jimmy menunjukan selembar kertas kepadaku.
Aku membacanya, ini rupanya tiket pesawat. Atas nama dia dan aku. Kami akan bersama pulang?
"Lalu kamu akan tidur di hotel?" Aku bertanya.
"Jelas.. Dan kamu menemaniku. Ingat. Kamu personal assistantku.." Ucap Jimmy sambil membereskan beberapa pakaian ke dalam ransel nya.
"Tapi, apa... "
"Gausah banyak tapi tapian. Nurut aja deh!" Jimmy langsung menutup mulutku.
Malam itu kami memutuskan tidur cepat. Aku mendengar Jimmy mendengkur, suaranya tidak begitu keras.
Tapi, Aku yang tidak bisa memejamkan kedua mataku.
Perasaan senang dan jantungku berdegup kencang. Aku akan naik pesawat untuk pertama kali dalam hidupku.
Jimmy sepertinya mengetahui aku tidak bisa tidur. Ia lalu memelukku dari belakang.
Hembusan nafas nya bisa aku rasakan di pundakku. Tentram, nyaman dan hangat rasa itu yang aku dapat saat bersama Jimmy.
"Tidurlah, aku tak akan melepaskan pelukanku sampai kamu tidur. Atau aku harus membuatmu kecapekan baru kamu bisa tidur?" Jimmy berkata sambil memejamkan matanya.
"Kamu tahu dari mana aku ga bisa tidur... Aku tuh seneng tapi juga takut.."
"Sudahlah, pejamkan mata mu.. Aku ada disini, semua akan baik - baik saja... "
Ucapannya bagai mantra, aku langsung bisa memejamkan kedua mataku. Aku tidur nyenyak malam itu. Dalam pelukan pria yang kini hidup denganku.
.
.
jam dinding menunjukan pukul 7 pagi. aku masih terlelap di tempat tidur. sayup terdengar ditelingaku seseorang sedang mandi. aku berusaha membuka kedua mataku.
"sudah bangun?" tanya Jimmy.
ia berdiri disampingku, wajahnya terlihat segar. aku hanya membalas dengan anggukan kepala.
"mandi dan bersiap ya, kita butuh waktu untuk sampai ke airport .. " Jimmy lalu duduk di sampingku.
aku bangun dan mengumpulkan nyawaku, aku sejenak diam berdoa. bahwa aku masih terbangun pagi itu. masih berada disini bersama Jimmy.
aku pun turun dari tempat tidur. aku langsung membersihkan diriku, rasanya segar air hangat yang keluar dari shower.
aku tak tahan melihat rambutku yang mulai berminyak. aku langsung mencuci rambutku, astaga rasa gatal dan lepek hilang langsung.
aku harap rambutku tidak kembali ikal.
setelah selesai aku menggunakan handuk untuk menutup tubuhku. aku keluar dan mencari pakaianku..
eh, dimana Jimmy?
aku secepat kilat menggunakan pakaianku dan mengeringkan rambutku. lalu aku mencari pria itu, dimana dia?
tak lama Jimmy masuk dari balkon. aku kaget melihatnya sudah siap.
"mau berangkat sekarang?" aku bertanya dengan polos.
"tentu saja, kita butuh 1 jam perjalanan. check in ticket, untuk sarapan disana saja. cepat kita berangkat. ponsel, dompet dan tas pakaianmu sudah aku siapkan tadi. kamu hanya tinggal membawanya... "
aku melihat ke tumpukan tas di dekat pintu keluar. ia benar mempersiapkan segalanya, aku saja masih santai dengan diriku sendiri.
Jimmy lalu mengambil tas tersebut. ia memberi tas jinjing hitam kepadaku, aku menerima dan membawanya.
kami pun keluar dari apartemen, berjalan ke arah lift.
lift pun terbuka, hanya ada kami disana. Aku tersenyum sendiri melihat pantulan kami dari dinding lift.
"ada yang aneh?" tanya Jimmy.
"tidak... aku ngga tahu tiap bersama kamu sering rasanya senyum sendiri..... " jawabku.
Wajah Jimmy berubah jadi merah. ia malu mendengar perkataanku.
lift pun terbuka, kami sampai di Lobby. kami pun berjalan keluar menuju parkiran. disana mobil Suv semalam sudah terparkir lagi.
Pak Teddy menyambut kami, ia membuka bagasi dan memasukkan semua barang kami. aku pun naik ke kursi tengah mobil bersama Jimmy.
setelah semua siap, Pak Teddy menjalankan mobil. kami menempuh perjalanan yang cukup lancar.
menurut Jimmy biasanya ia harus menghadapi 3 titik macet sebelum tiba di Airport.
benar sekitar 1 jam kurang kami sudah sampai. Pak Teddy menurunkan kami di tanda Drop Off.
semua barang kami pun diturunkan ke trolly bandara.
setelah itu Pak Teddy meninggalkan kami. aku yang baru pertama kali kesana terpesona, biasanya aku hanya melihat di serial tv.
kini aku berada langsung di bandara ini.
Jimmy memegang tanganku, agar aku tersadar dari lamunanku. kemudian ia mendorong trolly masuk ke dalam. disana ada beberapa bagian pemeriksaan bagasi.
aku sama sekali tidak paham, bahkan aku mengekor pada Jimmy. sampai kami tiba di ruang tunggu.
disana ada beberapa toko yang menjual cendera mata dan makanan.
__ADS_1
Jimmy pergi membeli sarapan untuk kami. aku memilih duduk dekat jendela dan pintu masuk kedalam pesawat.