CARAMU MENCINTAIKU

CARAMU MENCINTAIKU
67


__ADS_3

"Siapa dia Non?" Tanya Pak Teddy saat aku duduk di bangku belakang.


"Entah pak.. lelaki aneh. Waktu saya kumpulin berkas juga ada...mungkin anggota apa..? Bem?" Jawabku cuek.


"Non, Pak Jimmy itu pencemburu. Jadi pesen saya. Jangan terlalu menggubris kalo emang engga ada rasa.... Jaga jarak kalo bahasa anak jaman sekarang.. "


Aku lalu melihat ke spion tengah mobil. Apa maksud dari Pak Teddy?


Kami pun berjalan meninggalkan kampus.


Jalanan cukup macet, mungkin memang area kampus ini memang lebih padat kendaraan lewat.


"Pak... Apa Jimmy biasa pergi lama?" Tanyaku memecah keheningan.


"Hanya 2 minggu non, cuman kalau biasa bersama akan terasa lama..." Pak Teddy tersenyum menggodaku.


"Aku pengen pulang ke keluargaku, atau mengajak mereka kesini.. Liburan pak... " Aku memandang jalanan dari kaca.


Pak Teddy mengangguk, kami pun melanjutkan perjalanan. Namun bukan kembali ke apartemen.


Kami berhenti di lobby kantor Jimmy. Aku melihat pria itu berjalan menghampiri dan masuk dari sisi sampingku.


Senyum nya manis dengan cekung pipi dan bibir merah nya. Aku refleks tersenyun ke Jimmy.


"Jadi sudah semua? Bulan depan mulai orientasinya?" Jimmy bertanya.


Aku hanya menahan senyum dan mengangguk. Aku malu untuk tersenyum kepadanya.


"Jangan di tahan kalo mau senyum.. apa aku begitu menggoda dan mempesona?" Jimmy malah mendekatkan wajahnya.


"Udah - udah... Cukup... Pak Jalan deh kemana... Lho... "


Aku tak melihat ada Pak Teddy.


"Ayo pindah depan, kita jalan berdua ya... " Jimmy lalu keluar dari mobil dan pindah ke kursi kemudi.


Aku pun keluar dan ikut pindah. Banyak petugas melihatku dan memberi hormat lewat tundukan kepala.


Bukan aku senang malah aku binggung. Aku masih melihat petugas - petugas tersebut.


"Kenapa ngeliatin security sama driver gitu?" Jimmy berkata sambil mulai memacu kendaraannya.


"Engga kok mereka ngasi hormat gitu... " Aku menjawab


"Kan tanda sopan seperti kearifan lokal bangsa ini yang ramah... " Jimmy menjawab simple.


Aku pun diam dan menerima penjelasan Jimmy.


"Kita makan ya, nanti pesawatku jam 7 malam. Jadi jam 5 kita harus berangkat ke airport... "


"Kenapa aku ikut?" aku bertanya.


"Emang kamu ngga mau nganter suami kamu?" Jimmy keceplosan.


"Hei! Kita ini masih pacaran. Gausah alay deh manggil suami - istri. Lagi pun kamu juga ga pernah banyak ngenalin aku ke temen kamu... " Jawabku dengan manyun.


"Emang penting ya pengakuan gitu?" Nada Jimmy berubah serius.


"....... " Aku diam.


Sebenarnya aku teringat dengan pacar semasa sekolahku. Bagaimana ia menyembunyikan hubungan kami hanya karena takut di ketahui bagaimana pacar anak Basket itu.


Michael..


Cukup membuatku paham apa itu rasa jatuh cinta.. Bagaimana mempermainkan perasaanku.


Aku memegang dada ku yang mendadak sesak. Aku menahan agar tak perlu aku menangis.


"Kamu kenapa?" Tanya Jimmy saat kami berhenti di lampu merah.


"Engga apa - apa, cuman keinget aja... " Jawabku santai.


Aku sedikit menghapus air mata di ujung lipatan mata. Aku gengsi jika ia tahu.


"Ngapain kamu nangis? Apa ada yang salah? Bukan nya daripada sebuah pengakuan lebih penting tanggung jawab kedepannya atau setelahnya?"


Aku memandang matanya? Ya.. Jawaban yang engga aku pengen...


Kami pun melanjutkan perjalanan kami. Jimmy memilih makan siang kami tidak terlalu jauh dari apartement.


Namun, aku lebih banyak menghabiskan makananku sendiri. Jimmy sibuk dengan tablet dan ponselnya.


Aku memandang steak di hadapanku. Banyak hal yang belum kami bagi? Tapi kenapa rasanya pikiranku tidak karuan?


"Kamu mikir apa daritadi?" Jimmy kembali memperhatikanku.


"Engga... Cuman galau aja... Aku khawatir tapi juga ga tau apa yang aku khawatirkan... " Jawabku polos.


"Apa kamu pernah pacaran?" Tanya Jimmy.


"Pernah lah! Maksud kamu nanya gitu apa?" Aku kesal mendengar pertanyaannya.


"Aku memang ga cantik, tapi aku juga pernah kok pacaran...!" Aku kesal.


"Ok ...ok... Tak perlu seperti itu... Maaf jika salah ya.. "


Ucapan nya seperti meruntuhkan hatiku. Seketika aku langsung berubah yang tadi nya khawatir menjadi sumringah..


"Makasih ya... " Jawabku dengan senyum.


"Sudah... Jaga diri kamu selama aku pergi, kalau kamu memang mau pulang. Naiklah pesawat atau ajak papa dan ghea kemari... Kalian bisa sewa hotel... "

__ADS_1


*******


Aku memandang keluar jendela apartemen. 2 jam lalu aku mengantarnya pergi ke bandara.


Kini aku harus melewati 2 minggu tanpanya.


sepi sekali....


Aku melihat ke arah tempat tidur. Biasa kami bersama dan bercanda..


"Ya Tuhan... Baru 2 jam berpisah aku sudah seperti ini?!"


Aku menekan panggilan ke papa.


"Pa... Papa apa bisa main kesini? Jimmy pergi 2 minggu, kuliahku juga baru masuk bulan depan..." Aku menyandarkan kepalaku ke papan tempat tidur.


"Bisa nak.. Tapi minggu depan, tunggu adik kamu terima raport ya baru kami kesana... " Jawab papa di ujung.


"Iya Pa... Aku ngerasa kesepian aja... Aku ga pernah sendirian gini.... " Jawabku manja.


"Ssst... Kamu harus membiasakan diri. Kamu itu harus kuat.. Sabar ya, papa akan kesana yah, lumayan sekarang toko papa di pasar. Semua bisa balik modal. Bahkan ghea juga bisa membayar sekolah tepat waktu ... "


Suara papa terlihat senang dan bangga. Aku ikut senyum mendengarnya, tapi bagaimana jika papa tahu aku bertemu dengan wanita mirip mama.


"Nak... Kamu masih disana?" Suara papa.


"Oh iya pa.. Aku masih mendengar.. Cuman sedikit melamun tadi... " Jawabku.


"Sudah.. Ayo tidur, besok kamu pasti sudah sibuk.. Papa juga harus bangun pagi menyiapkan semuanya... "


"Iya pa... Istirahat dulu ya pa.. Metbobo... "


Pembicaraan kami pun berakhir. Aku langsung merebahkan tubuhku.


Sepintas aku teringat dengan michael. Rambut hitam nya, manis senyumnya, pesonanya bahkan tak bisa membuatku lupa.


Bagaimana kabarnya kini, apa dia masih bersama Fira?


Sebenarnya juga tak ada guna nya aku memikirkan dia. Toh dia sudah menyakitiku amat dalam.


*******


"Maaf, kamu Anne kan?" Seorang pria menyapa Anne di kantin kampus.


"Iya, kenapa mich?" Jawaban Anne sinis.


"Aku duduk sini ya... " Michael langsung duduk di hadapan Anne.


"....." Anne sama sekali tak tertarik berbicara dengan lelaki di hadapannya.


"Maaf aku cuman mau tanya, apa nomer hp Cathrine ganti? Soalnya aku mencoba mencari kontaknya ga ada... "


"Bukannya kamu yang ngeblok nomer dia?" Anne to the point.


"Jangan sok kecakepan Michael... Kamu boleh bodohin Cathrine, tapi aku sudah banyak ketemu cowo kaya kamu.. Inget pacar kamu itu galak nya kaya A*nj*ng abis beranak..." Anne menjawab kasar.


"Memang apa salahnya? Aku ngerti kok seperti apa temen kamu.. Dia engga akan mungkin melupakan pria yang dia suka. Apalagi cinta pertama dia..." Michael berkata dengan sombong.


"..... " Anne melongo.


"Dia bilang sendiri kalo aku cinta pertama dia, bahkan saat aku memutuskan hubungan... Hm... Dia menelepon dan menangis.... Memang saat itu Fira menyenangkan... Tapi, aku bosan dengan Fira.... "


"Kamu bosen?" Anne bertanya.


"Iya, semua terlalu mudah aku dapat. Jika temanmu yang polos itu.. Mencium bibir nya saja aku tak boleh. Haha... Sangat polos... "


"Tujuan lo apa sih! Gw kenal lo dari lo kecil, tapi ga sangka ya.. Gedenya lo jadi pengecut. Baj****n menurut gw." Anne berkata dengan nada menahan amarah.


"Ssst... Lo jangan emosi Anne.... Aku... Aku cuman minta kontak Cathrine.. Apa salah? Apa dosa? Engga kan?" Michael membela diri.


"Udah lupain, Cathrine udah engga disini. Dia uda ke kota dan dia uda nikah. Udah ngga usah bikin dia galau lagi..." Anne memelankan suaranya.


"Lho.. Kenapa? Seru kalo emang dia uda nikah. Eh.. Emang ada yang mau sama dia? Kan Cupu sama Biasa aja mukanya... " Michael cekikikan menanggapi Anne.


Anne tak tahan ia berdiri, mengambil air mineral di hadapannya.


Michael melihatnya dan masih tertawa. Pria itu tidak percaya Cathrine sudah menikah.


'Byuuurrrr' (air membasahi wajah Michael).


Anne menyiram di dekat mulut Michael. Ia lalu meremas botol bekas tersebut.


"Apaan sih lo!" Michael marah dan membersihkan wajahnya.


"Gw rasa air ya cukup buat nyiram mulut kotor lo.! Dasar Sampah!" Anne lalu melempar botol ke michael dan meninggalkan nya.


Anne pergi ke arah parkiran, lalu ia masuk ke dalam mobilnya. Ia kesal bagaimana pria sampah itu merendahkan Cathrine.


Anne bahkan ingat saat Cathrine hampir saja menghabisi nyawanya. Saat ia sama sekali tidak makan apapun selama seminggu.


Badannya drastis turun hanya karena Michael meninggalkan nya tanpa pamit. Bagaimana sekarang ia datang dengan tujuan mempermainkan lagi sahabatnya.


Cathrine sudah bahagia dengan sepupu jauh Anne. Sudah tak perlu ada pria rendah semacam Michael.


Anne mengambil ponselnya, lalu ia menekan panggilan ke Cathrine.


"Hallo.... " Anne berkata.


"Hei.. Gimana? Tumben telpon aku.. Haha... "


"Kamu dimana?" Tanya Anne.

__ADS_1


"Baru selesai kursus, kenapa An? Ada apa? Kamu kabur lagi dari rumah...?" Cathrine panik.


"Engga cuman kesel tadi ada michael... Tau? Dia minta nomer kamu.. Aku kesel aja mulut sampahnya... Mana ngehina kamu lagi.... "


"Ngehina?" Cathrine menjawab dari jauh.


"Iya, fisik lagi mainnya. Gila emang, secara bilang bosen sama fira. Dia ga percaya kamu uda punya pacar yang jauh di atasnya... Jengkel sumpah aku... Terus ya.. Aku siram aja mulutnya pake air mineral. Sekalian aku lempar botolnya... Hihh!!" Anne bersemangat.


"Oh... Jadi dia masih penasaran sama aku?" Aku bertanya.


Perkataanku membuat Anne kaget.


"Iya kali.. Buat jadiin lo mainan. Udah ada sepupu gw yg lebih care sama lo kali... "


"An... Udahan dulu ya.. Gw mau balik ke apartemen... " Jawabku.


Anne kesal lalu membanting ponsel nya ke bangku sebelah kemudi.


Ia memejamkan mata, masih teringat jelas bagaimana Cathrine menangis sampai tidak bisa makan apapun. Hanya karena cowok seperti Michael.


"Dasar sampah cowok itu... " Anne mengumpat.


******


"Cath? Jadi mau jalan?" Inez menepuk pundakku.


"Sorry tadi di telpon temen gw... Jadi dong, nicky mana?" Aku mencari teman ku.


"Dia di mobil... Udah nungguin lo dari tadi mana ngomel mulu lagi... " Inez menjawab.


"Yaudah yuk.... Maaf ya... "


Kami pun pergi keluar, Nicky sudah menunggu kami dengan wajah bete. Ia memang terlihat ganteng dengan kacamata hitam. Namun, entah aku tak tertarik kepadanya.


"Nezz... Kali - kali sebelah gw Cewe cantik ngapa sih? Lo mulu perasaan... " Nicky protes ketika kami sudah masuk dalam mobil.


"Emang gw ga cantik?!" Inez menjawab.


"Ya.. Jelas... Engga lah.... " Jawab Nicky.


"Udah... Kalo lo pengen sebelah cewe cantik... Modalin aja Inez.. Bakalan cantik kok dia.. " Aku menengahi mereka.


"Ogah di modalin dia!" Jawab inez.


kami akhirnya pergi dari tempat kursus. Nicky mengajak kami makan di batas kota. menuju ke daerah atas yang cukup dingin.


Kami berhenti di salah satu kafe yang menjual makaroni panggang sebagai hidangan utama. Inez dan aku baru pertama kali kesana.


"Cus duduk, mau pesen apaan... " Nicky langsung nyelonong ke dalam dan duduk di salah satu sisi bagian dalam.


"Ni kita bebas mau pesen apa? Yang mau bayar siapa?" Tanya ku ke Nicky.


"Udah tenang aja.. Gw dapet kerjaan kok.. Walau cuman IT consultant di kantor bokap.. Anggep aja syukuran.. " Jawab Nicky.


"Lah keren juga kerjaan lo.... " Jawabku.


"Emang ga sayang ilmu kursus lo? Malah jadi IT...? " Tanya inez polos.


"Kagak... Kan gw sambil bikin makanan, gw kaga harus di kantor terus sekian jam..." Jawab nicky santai.


"Congratulation Nicky... Gw seneng lo uda dapet kerja duluan... " Aku tersenyum.


"Bulan depan Cathrine uda kuliah.. Trus gw mau ngapain coba... " Inez berkata lesu.


Nicky menatap dalam gadis di hadapannya. Aku bisa merasa ada perhatian dan rasa dari tatapan Nicky.


"Lo ga mau bantu Paman lo lagi?" Nicky bertanya ke Inez.


"...... " Ia hanya mengelengkan kepala. Tatapannya jadi kosong, ngga lama ia malah meneteskan air mata.


"Nez... Lo kenapa??" Aku panik, aku memeluk Inez.


"Cath.... Gw ngga mau balik ke neraka... " Inez berkata dengan sesegukkan.


"Hus.. Nez... Nyebut... Huss.... " Aku menepuk pundak inez. Mencoba menenangkannya.


"...... " Nicky hanya diam menatap kami.


"Nez... Coba lo jujur... Kenapa.... " Aku berbisik.


"Gw... Gw berkali - kali hampir di lecehin sama suami tante gw Cath... Gw takut.."


Bagikan sambaran petir bagi kami. Aku dan nicky saling menatap. Nicky langsung mengeser kursi ke dekat Inez.


"Coba lo cerita ke kita apa yang udah terjadi.... Apa jangan - jangan lo udah pindah atau lo uda di apain... " Nicky panik.


"Engga.... Gw takut.... " Inez makin erat memelukku.


"Huss... Udah... Nez... Tenang.... Uda.. Lo aman sama kita.... " Aku berbisik mencoba menenangkannya.


"apa ini alesan motor lo jual?" Aku bertanya.


"Iya.... .. " Inez hanya menjawab singkat.


Aku menepuk pundak nya, ia masih muda tapi cobaan sudah cukup besar untuk nya.


"Nez... Lo sekarang ngekost pake uang jual motor itu? Terus sehari - hari lo makan pake uang apaan?" Nicky bertanya.


Inez melepaskan pelukan nya. Ia lalu menghela nafas dan mengatur nafasnya agak bisa berbicara.


"Gw bertahan dari uang itu. Tapi, lama - lama uang gw habis. Mungkin gw mau kerja jadi kasir ritel deh... Gw udah intervew kemarin, jadi gw cuman nunggu hasil aja... " Wajah Inez lesu.

__ADS_1


"Lo ngga mau PKL aja? Siapa tau nyantol jadi bisa dapet kerja di resto atau hotel.. " Jawab Nicky.


"Engga.... Gw butuh uang Nick buat makan sama bayar kost'an.... " Jawab Inez singkat.


__ADS_2