
Jimmy mengarahkan mobilnya sampai ke sebuah area ruko pusat niaga. Dia berbelok sedikit ke arah dalam.
Ia berhenti di sebuah ruko. Di atas tertulis nama Heldy & Rekan.
Jimmy turun dan membawa beberapa berkas. Ia langsung masuk ke dalam, petugas keamanan menghentikan langkah Jimmy.
"Selamat Pagi Pak Jimmy. Tunggu sebentar, saya lapor ke Boss.. "
Petugas keamanan naik ke lantai 2. Kantor tersebut masih sepi, tak nampak banyak orang lalu lalang.
Tak lama petugas keamanan tersebut kembali. Ia menghampiri Jimmy yang menunggu di bawah.
"Pak.. Sudah, bisa lewat sini.... "
Jimmy lalu berdiri, ia mengikuti petugas tersebut. Mereka berjalan menaiki anak tangga.
Banyak langkah dengan keadaan kantor yang sepi.
Mereka pun sampai di lantai atas.
Ada beberapa ruang disana. Tapi petugas keamanan membawa Jimmy ke ruangan utama. Ada di dekat tangga, dimana ruangan tersebut menghadap ke luar.
"Silakan Pak.. Sudah di dalam Pak Heldy... " Ucap petugas keamanan tersebut.
"Terima kasih... " Jimmy membalas.
Ia lalu membuka pintu kayu tersebut. Didalam seorang pria berperawakan tinggi dan tegap serta berkulit agak gelap menyambut Jimmy.
"Pagi sekali datangnya... Mari duduk.. Mau minum apa?"
"Tidak usah sungkan Pak Heldy. Saya hanya mampir kok, ini berkas nya... "
Heldy menerima dan membaca detail semua berkas. Berikut copy id card dan rekomendasi keluarga. Dimana berkas tersebut masih kurang.
"Pak... Surat rekomendasi atau pernyataan orang tua mana? Kan kami membutuhkan karena usia Cathrine baru 19 tahun... Pernikahan paling tidak di usia 21 tahun baru legal... " Pak Heldy bertanya.
"Jika itu menyusul apa boleh? Saya baru bertemu hari jumat ini.. Dimana kami pulang bersama... " Jawab Jimmy.
"Hmm... sebenarnya agak rumit, saya sendiri menghindari praktik suap... Atau begini saja, saya coba nego ke teman saya. Dia memang orang dalam, tapi anda harus janji sebelum jumat, paling tidak Scan surat itu sudah ada... " Heldy mencoba mencari jalan.
"Baik saya janji Pak... Saya usahakan sebelum jumat sudah clear semua..." Jimmy berkata dengan yakin.
"Jadi, lo udah yakin dengan wanita ini?" Nada bicara Heldy berubah.
"Sudah Bang, gw yakin aja lah. Pertama benernya gw cuman kasian sama dia. Membantu di lokasi syuting, tapi pas gw ngerti semua yang dilokasi memperlakukan dia buruk.
Gw malah penasaran kenapa, puncaknya waktu gw disana lihat sendiri salah satu adegan yang membuatnya cedera.... " Jimmy bercerita.
"Aaa... Abang paham sekarang, lo kasian kan sama dia.. Makanya lo nikah aja sama ni cewe.. "
Mereka sebenarnya dekat, bisa di bilang berawal dari client. Namun seiring berjalan waktu, heldy malah seperti kakak bagi Jimmy.
"Iya Bang, tapi gw masih takut bawa dia ke sana. Gw masih trauma sama penolakan yang gw alami." Jimmy menghela nafas.
"Jimm, lo percaya diri aja... Tapi, kalau lo trauma.. Buat apa lanjut?" Heldy binggung.
"Setidaknya gw coba. Dia harus kuliah dan memiliki pekerjaan bagus, setidaknya saat aku membawanya... Ia tidak dengan statusnya saat ini.... "
Heldy memandang Jimmy, ia tersenyum. sebenarnya Heldy senang, akhirnya Jimmy mau mencoba mendekat dengan perempuan.
kehilangan yang membuat Jimmy hancur. Ia bahkan tak lagi percaya pada perasaan. namun semakin ia mengenal Cathrine. semakin Jimmy tidak bisa mengatur perasaannya.
"Abang dukung paling depan. Kamu harus bisa move on! Apapun itu jangan sampai kejadian masalalu terulang... "
"Iya, gw pamit dulu bang.. Mau lihat Gibran. Bagaimana kabar dia... Aku sudah hampir 2 bulan tidak menjenguk... " Jimmy mengernyitkan dahi.
"Rupanya kamu masih menjenguk anak itu.. Abang bangga, Jimmy masih menjaga anak itu dari jauh... Cuman jika suatu saat ayah biologisnya datang, apa siap? Anak itu juga ga ngerti kalo ibu nya nitipin dia kesiapa.....ada dirimu aja anak itu tidak tahu Jim..." Heldy penasaran bagaimana nasib anak Mira.
"Entah bang, yang jelas selama saya hidup... Anak itu dalam pemantauan saya, ayah biologisnya? Aku rasa pria itu sudah lupa. Anak dan istrinya. .. " Jimmy menjawab sinis.
"Sebenarnya apapun yang terjadi, pria selalu menjadi yang paling beruntung. Mereka tetap menang dan selalu tidak akan gagal.... Beda dengan perempuan, mahluk yang menurut Abang, selalu menjadi yang tidak beruntung... " Heldy menjawab sambil menyandarkan badannya ke sofa.
"Iya, makanya gw jaga Cathrine. Jangan sampai ada anak lahir dari pernikahan kami.... setidaknya untuk beberapa tahun ini... " Ucap Jimmy.
"Iya, anak itu tidak bisa memilih di lahirkan oleh siapa. Mereka berbuat dan anak adalah konsekuensinya...
Terserah bagaimana kalian, yang abang tahu... Kalian bebas melakukannya sekarang ....
Eh, apa bener lo engga bakal ngomong kalo kalian sebenernya suami istri?"
"Jelas Bang, setidaknya sampai aku merasa waktu sudah pas... Bang, sudah siang ternyata. Saya pamit dulu, sampai jumpa..." Jimmy berdiri.
"Ya, hati - hati di jalan... " Heldy membalas Jimmy.
Jimmy keluar dari ruangan Heldy. Ia turun ke lantai dasar. Rupanya karyawan sudah datang, banyak dari kaum hawa mencuri pandang ke Jimmy.
Jarang mereka bertemu Warga Asing dengan usia muda yang datang kesana. Jimmy salah satu yang terhitung sering datang.
__ADS_1
Jimmy kedalam mobil, ia memacu kendaraan dengan kecepatan sedang. Jalan menuju pondok pak Haji agak macet.
Jimmy harus menempuh perjalanan setidaknya 2 jam. Ia sebenarnya tidak membawa apapun. Ia hanya ingin berbicara dan bercerita dengan Pak Haji.
Akhirnya ia sampai di rumah tersebut. Rumah rindang di lingkar luar kota.
Dari jauh Keadaan cukup riuh, sepertinya sedang ada acara disana.
Jimmy memilih parkir di bawah pohon. Tempat yang selalu menjadi spot favorit nya.
Ia turun dan mencari siapa yang ada disana. Dari jauh ia melihat istri dari Pak Haji.
Ia pun mendekati, memberi salam dengan menumpu kedua tangan. Hal tersebut agar mereka tidak bersentuhan.
"Selamat siang Bu... " Ucap Jimmy denyan sopan.
"Wa'alikumsalam... Selamat siang Nak... Tumben kamu mampir, sudah dari lama kami membicarakan. Lama tidak datang. "
Banyak murid wanita yang mencuri pandang ke Jimmy. Murid setingkat SMA disana memang pengagum Jimmy. Tiap ia datang, banyak yang mengintip dan melihat dari jauh.
"Saya pas sulit kesini Bu.. Banyak pekerjaan yang tidak bisa saya tinggal... Bapak ada Bu?" Jimmy menjawab.
"Baiklah, kamu datang siswi kami jadi begini. Ada di dalam, masuk saja langsung... "
"Permisi ya Bu... " Jimmy berjalan masuk ke ruangan yang ia selalu datangi.
Dari luar sosok berwibawa nan hangat sudah terlihat. Jimmy tersenyum, ia makin masuk ke dalam.
"Assalamu'alaikum Bapak.... " ucap Jimmy
Pria tersebut refleks membalik badannya.
"Nak! waalaikum salam.. kamu mengangetkan bapak. sejak kapan kamu bisa bicara salam dengan benar?" Pak Haji kaget, ia langsung menghampiri Jimmy.
Jimmy duduk di kursi mirip sofa dari kayu. Didalam ruangan itu mirip seperti ruang guru dan ruang tamu juga.
"Jadi bagaimana kabarmu?" Tanya Pak Haji.
"Baik Pak.... Saya baik, amat baik.. Bagaimana Gibran?" Jimmy bertanya.
Dalam hati ada rasa khawatir dengan anak angkatnya itu.
"Bagaimana ya, beberapa hari lalu ada laki - laki datang kemari. Ia bilang ayah kandung Gibran. Dan akan membawa anak itu pindah.... Tapi, kami belum memberi ijin.... "
"Bagaimana ciri - ciri pria itu?" Jimmy penasaran.
"Pak... Sebenarnya jika memang itu adalah ayah kandungnya. Saya tidak punya hak melarang bertemu dengannya. Yang saya khawatirkan apa bisa ayahnya menjaga dia?" Jimmy mengeryitkan dahi.
Pak Haji pun haya menghela nafas. Sebenarnya ia juga tak ingin membatasi ayah kandung untuk bertemu dengan Gibran.
"Yah, pemikiran kita hampir sama. Anak tersebut anak yang baik. Jangan sampai pengaruh ayahnya membuatnya melakukan hal yang tidak baik..."
"Benar pak... Ohiya, saya hari ini sudah menikah pak.. Tepat hari ini... " Jimmy memberi kabar bahagia.
Wajah Pak Haji berubah drastis. Ia langsung tersenyum sumringah.
"Alhamdulillah, sakinah, mawadah warohmah ya Nak... Bapak senang.. Bahagia bapak... Wanita beruntung mana yang kamu peristri?" Pak Haji memuji dan menepuk pundak Jimmy.
"Ehm... Dia baru aku kenal Pak.... Cukup Gambling sebenarnya, cuman aku hanya merasa... Aku bisa menolongnya Pak... " Jimmy berbicara sambil mengosok kedua tangannya.
"Haha... Kenapa tidak? Pacaran setelah menikah.. Eh, tunggu dulu... Kenapa kamu bisa berfikiran menikahinya dulu. Apa karena tidak ingin masa lalu terulang?" Bapak itu menggoda Jimmy.
"Bapak kan paham.. Hehe... Entahlah... Aku cuman merasa, ada sesuatu dalam diri yang merasa bersalah.... Memang kami melakukan hal dosa.... " Jawab Jimmy dengan nada pelan.
"Bapak sebenarnya membenci kamu, Nak.... Bukan soal agama atau dari mana kamu...
Tapi, karena kamu hidup dalam ketidak benaran.... Kalian tinggal dan hidup seperti suami - istri. Tanpa ikatan....." Jawab Pak Haji dengan lembut.
"Saya mohon maaf Pak... Kejadian masa lalu juga saya anggap sebagai kesalahan saya. Khilaf dan dosa saya....
Maka dari itu,.......sebenarnya.... " Jimmy merasa terbata - bata saat bercerita.
"Ceritakan lah, saya tidak akan marah... " Ucap Pak Haji dengan lembut.
"Sebenarnya saya sudah melakukan sebelum menikah... Saat itu pun sebenarnya hati saya tidak tenang....
Tapi, rasa nya saya makin cepat ingin menikahinya....
Dia perempuan baik dan perempuan lugu. Saya pertama melihatnya langsung merasa jangan sampai wanita ini menempuh jalan yang salah.... " Jimmy lalu berbicara dengan hati - hati.
"Hmm..... " Senyum bahagia terpancar dari wajah Pak Haji.
"Lalu makin saya mengenal, dia memang berbeda. Kebetulan juga, ijin tinggal saya abis......
Itulah yang membuat saya menikahinya... Karena saya menganggap Jodoh yang kebetulan... " Jimmy berbicara dengan malu - malu.
"Hmm... Sudah bapak kira, tapi syukur Alhamdulillah. Kamu sadar akan kesalahan dan dosa. Berarti Allah masih ada dalam hati kamu...
__ADS_1
Jodoh tidak ada yang kebetulan. Setiap pertemuan pasti memiliki arti sendiri."
Pak Haji lalu menghela nafas dan memandang ke langit.
"Pantas saja langit cerah, rupanya kamu membawa kabar bahagia. Bapak bangga dan mendoakan pernikahan kalian akan baik - baik saja....
Sewajarnya juga, kamu mulai menata hidup dengan keluarga kamu...
Jangan hanya Gibran terus yang menjadi pikiran dan fokusmu... Miliki lah keluarga dan masa depan mu sendiri... "
"Iya Pak... Saya mohon maaf jika harus menitipkan Gibran disini.... Sesuai pesan Mira.... Saya takut, anak itu akan memandang saya seperti apa. Lagi pun, dia berada di tempat yang tepat... " Sorot mata Jimmy berubah sedih.
Saat itu sebenarnya Jimmy sudah memberi tawaran. Agar Gibran tinggal bersama mereka.
Hanya saja, Mira kekeh tidak. Malu jika anaknya mengetahui bagaimana ibunya memiliki hubungan tanpa ikatan dengan pria di hadapannya.
Ia memilih menitipkan nya ke Paman jauh. Seorang sepasang suami istri yang memiliki sekolah dan panti asuhan khusus anak Laki - laki.
Disana Gibran bisa belajar soal agama, akhlak dan belajar akademis. Dalam pengawasan orang yang tepat dalam pikiran Mira.
********
Jimmy mengendarai sendiri mobilnya, ia pulang kembali ke kota. Ia masih harus mengurus Cathrine dan pekerjaannya.
Cukup lega melihat Gibran tumbuh dengan baik. Memiliki banyak teman dan dalam keluarga yang baik pula.
Ia pun mengingat pesan terakhir dari Pak Haji sebelum kembali.
"Sekarang fokuslah pada Keluarga baru mu. Gibran biar bersama kami. Rumah kami akan selalu terbuka jika kamu mau datang Nak....
Cinta akan bersemi dalam keluarga yang menikah tanpa berpacara. Jika suami menjalani perannya dengan baik. Begitu pula istri.. Kuncinya apa? Komunikasi dan terbuka...
Sudah, kamu tidak akan paham.. Tapi, jalanin saja apa yang Bapak bilang tadi..."
Jimmy binggung, peran suami seperti apa?
Peran istri?
Mereka saja menikah agar Jimmy tidak perlu di deportasi.
***********
Cathrine sudah kembali ke apartemen. Jam menunjukan pukul 7 malam. Ia sama sekali tidak mendapat kabar dari Jimmy.
Ting.. Tong... (Suara bel pintu)
Cathrine berjalan menuju pintu, ia langsung membukanya.
"Pak Teddy?" Aku bertanya.
"Malam Bu, saya suruh ngantar ini sama Bapak... Katanya Ibu makan dulu saja.." Pak Teddy berkata.
"Oh, silakan masuk pak.... " Aku mempersilakan.
"Permisi Bu... " Pak Teddy masuk.
Ia meletakan bucket bunga mawar putih dan merah. Dengan sebuah hidangan di tempat lain.
Ia meletakannya di atas meja Pantry. Tempat biasa kami makan. Lalu Pak Teddy kembali ke pintu.
"Bu, saya tinggal dulu... Silakan menikmati dulu hidangan dan bunga dari Bapak... Saya juga mengucapkan Selamat ya bu... Semoga bahagia selalu... " Pak Teddy tersenyum dan meninggalkanku.
Aku menutup pintu, kemudian aku duduk di kursi pantry.
Dihadapanku ada steak dengan kentang tumbuk.
Kemudian ada coklat hangat di sana.
Aku mengambil bunga tersebut. Aku melihatnya, cukup cantik. Bentuknya seperti bunga untuk orang menikah.
Wanginya pun sangat harum. Aku inisiatif mengambil ponsel. Lalu aku berfoto selfie dengan bunga tersebut.
Aku lalu mengirimkan foto tersebut ke kontak Jimmy. Aku menulis, apa bunga ini cantik? Lihat bagaimana rambutku, rapi kan?
Aku menanti sebentar, kenapa tidak ada balasan ya?
Tapi perutku lapar, aku menaruh ponsel di samping piring makan. Aku lalu mencoba makanan di hadapanku.
Rasanya lezat, daging yang matang dengan pas. Masih bisa aku rasakan juice yang keluar dari daging tersebut.
Kentang tumbuk pun rasanya enak, tidak hambar sama sekali.
Setelah selesai, aku membereskan bekas makan malamku. Aku membereskan juga meja pantry dari beberapa sampah.
Aku sudah selesai, kini aku bersantai di sofa depan tv. Aku berkali - kali melihat ponselku.
Kenapa tidak ada balasan Jimmy?
__ADS_1
Pesan pun belum dibaca oleh nya. Apa ia memang sibuk sekali?