
Aku berjalan dengan cepat. Beruntung kost ku hanya terpisah oleh tanah dan taman kecil.
Aku tinggal di kost yang terdapat di dalam perumahan elite. Letaknya di salah satu gang yang langsung mengarah ke pusat jalan utama.
Disana tertutup oleh beberapa bangunan pertokoan dan pusat niaga.
Banyak pohon yang rindang disana. Namun warga sekitar rajin merapikan. Entah mengapa bagi mereka kurang nyaman jika suasana gelap di malam hari.
Aku menghentikan langkahku, kurang beberapa pijakan kaki lagi aku sampai. Namun, aku melihat ada mobil terparkir.
Tapi, itu bukan mobil Jimmy. Aku berjalan lagi menekan langkahku. Jangan sampai terdengar.
Namun aku langsung bersembunyi ke samping. Ada seseorang yang keluar dari rumah.
Jantungku berdebar kencang, entah mengapa hatiku tak tenang. Sepertinya akan terjadi sesuatu.
Deg!!
Itu Jessy...... Dia.... Dia bersama... Pak Lutfi???
Aku menggelengkan kepalaku, aku hampir melongo melihat mereka...
Jessy memeluk dengan mesra. Dahi mereka saling bertemu dan gesture tubuh mereka seperti sangat intim hubungan mereka.
Dan.... What??? (Aku menutup mulutku).
Akhirnya mereka pergi, aku langsung melompati pagar kecil dari rantai. Memang sengaja di pasang oleh warga di depan gang.
Aku langsung membuka kunci pagar.
"Hah!!" Aku menjerit.
"Cathrine" Esyeh menjerit juga.
Kami berdua berpapasan, betapa kagetnya diriku. Perempuan itu menggunakan masker dan rambut panjang terurai. Hampir copot jantungku melihat nya.
"Lo apaan sih? Bisa kali rambut di iket apa tu masker di copot. Gw pikir apaan tau!! " Aku marah ke Esyeh.
"Maaf, cici buru buru.. Mau liat Jess... Kamu sih tadi liat apa engga?"
"Liat apaan?? " Aku memjawab sambil memegang dadaku. Masih berdetak kencang rasanya.
"Dia itu lhhoo pergi sama om - om.."
"Hah?? Gue engga liat kok.. Emang lo liat? Jangan asal deh.. " Aku melengos masuk ke dalam.
Esyeh mengikutiku masuk ke dalam. Ia lalu menarik tanganku.
"Duduk Cath, gw mau ngomong... "
"Iya gimana? Gw dengerin.... " Aku menjawab dengan malas.
Aku pun duduk di sofa ruang tamu.
"Gini, gw waktu pergi pernah liat dia sama laki - laki tua lain juga. Jangan - jangan dia jadi simpenan, makanya bisa beli ini itu. Bajunya juga bagus semua..."
Aku langsung mengernyitkan dahi. Aku tak berani berkata apa - apa.
"Terus ya Cath... Gw pernah denger pas di lokasi syuting, dia itu callingan gara - gara main film panas. Sekalian sama sambilannya... Idih... Awas lho kan dia sekamar sama lo... "
Aku menghela nafas dengan cepat dan memejamkan mataku sesaat.
"Kakak Esyeh yang cantik... Cicik Esyeh yang dewasa dan teman kost ku yang baik.. Kita lebih baik ga usah denger kata orang. Tanya aja langsung... Lagi pula ya aku, udah capek pulang kerja dari siang... Eh tau nya balik dapet cerita begini...
Tau ga sih? Kaya engga ada bahan obrolan lain... "
Aku berdiri dan mengambil tas ku.
"Lagipula nih ya.. Mau dia ngapain juga kita ga boleh sedikit pun menghakimi dan ngomongin di belakang. Aku jadi mikir, kalo aku ga ada. Kamu pasti ngomongin aku juga. Udah ya, aku mau tidur. Besok masih banyak tumpukan piring berlemak yang aku cuci...
Selamat malam.... "
"Eh, belom selesai. Kamu di ajak ngomong kok malah pergi.. Sini dulu. ." jawab Esyeh menyusulku berjalan di belakangku.
"Sudah ya ... Aku mau tidur.... Byeee..... " Aku tak memperdulikannya dan langsung masuk kamar.
Dok... Dok..... (Mengetuk pintu)
"Buka dulu Cath... "
Ctak... Ctak... (Mengunci pintu)
"Cath!! Eh lo ya... Mesti belain dia gara - gara lo tinggal gratis sama makan sering di beliin dia kan.. Liat aja nanti pas udah kena sekali masalah.. Pasti lo bakalan ngelakuin kaya gw...!"
Aku tak memperdulikan ocehannya. Aku sibuk membuka sepatu dan bersiap mandi.
Segar rasanya saat air hangat mengguyur tubuhku. Masih teringat tumpukan piring kotor yang aku temui hari ini.
__ADS_1
Tapi lebih teringat kebaikan bossku. Betapa mereka menerima ku dan memberi bayaran ku dengan baik. Sejak aku mulai bekerja aku bisa makan dengan wajar.
Aku mengeringkan rambutku dengan handuk kecil. Lalu aku duduk di atas tempat tidurku.
Aku mengambil ponsel dari dalam tasku. Kulihat ada banyak panggilan dari mama dan adek ku. Banyak pula pesan yang mereka kirim.
'Kak. Kalo udah tlp mama.'
'Kak. Mama besok mau beli obat papa.'
'Kak, mama pinjam 200rb buat beli obat papa.'
'Kak balas ya kalau sudah. Mama tunggu uang nya.'
'Kakak, adek sedih. Papa tadi dadanya sesak dan berkeringat kak. Papa harus beli obat selama belum pasang Ring. Tapi mama udah ga punya uang. Adek juga belum di bayar dari hasil ngajar kak. Adek harus gimana kak? T.T'
Aku menepuk dahiku, baru seminggu aku bekerja. Aku baru memiliki uang 350rb. Dan kini mereka butuh uang itu.
Aku memejamkan mata sambil memegang ponselku. Aku membuka mata dan menekan tombol balas pada pesan adikku.
'Dek, maaf kakak baru balas. Besok pagi kakak kirim uang ke mama. Belikan papa obat dulu. Doakan kakak ya dek, kakak pasti beri kalian kehidupan lebih baik. Kakak sayang adek.' Kirim.....
Aku menekan panggilan ke Jessy. Aku tak peduli dia sedang apa dan mau apa. Intinya aku mau mengirim uang lewat ia.
"Hallo Cath... " Suara jessy agak sendu.
"Maaf Jessy, gw mau minta tolong dong... Transferin duit ke ade gw 300 aja. Ini gw ada uang cash nya tapi udah malem, gw ga bisa ke atm. Maaf bisa kan?"
"Bisa.... Biissa kok.. Nanti gw kabarin yaa... Byee.... " Jessy langsung menutup panggilanku.
Aku hanya diam dan memandang ponselku. Ada angin apa dengan anak itu?
Aku meletakkan ponsel ke meja di samping tempat tidur. Aku lalu berbaring dan memandang langit - langit.
'Apa gw jual diri ya, biar papa bisa ketolong.... Jual diri sekali aja... Udah ga akan lagi... '
'Jangan!! Lo aja pacaran engga pernah. Body lo juga ga oke. Wajah lo biasa aja, mana laku?'
'Ya udah lah, kerja aja yang giat sama nabung. Kali aja nasib lo berubah... '
Ya itulah pikiranku yang selalu melayang. Apalagi saat aku akan tidur malam. Banyak hal yang mengganjal pikiranku.
Tanggung jawabku sebagai anak pertama. Sebagai contoh untuk adekku, dan sebagai orang yang harus berbakti pada orang tuaku.
Aku memilih memejamkan mataku. Berharap yang terjadi hanya mimpi. Mimpi akan apa yang terlewati, dan kembali bangun di kasur ku yang empuk. Kamarku yang nyaman dan dingin.
Malam itu jessy mengirimkan pesan bahwa ia telah mengirim uang. Aku sendiri malam ini, nampaknya ia akan menghabiskan malam di tempat lain.
Hari pun berganti, Siang ini aku bersiap untuk berangkat ke warung tempatku kerja. Aku menyisir rambut ku dan memadang ke meja rias.
Jessy di terlihat dari pantulan cermin sedang memandaku. Namun tatapannya seperti menyimpan sesuatu.
"Cath, lo berarti udah stop mau casting?" Jessy membuka suara.
"Sementara ini...paling engga uang gw cukup buat bayar kost sama makan... Kalau pas gw off kan kita bisa casting lagi... " Aku menjawab sambil memulas pipiku.
"Emang bayaran lo berapa sih jadi pelayan? Cukup buat makan lo? Apa lo mau kerja sama gw aja?"
Aku tersentak mendengar perkataan jessy.
"Lumayan kok, setidaknya aku bisa makan dan mengirim keluargaku. Ini uang kemarin aku taruh di meja ya. Oh iya sudah siang.. Aku berangkat ya... "
Aku berdiri dan mengambil tas slempang berwana coklat. Tas kecil kebanggaanku, kemana aku pergi ini menemaniku.
"Tunggu Cath.... Lo belom jawab.. "
"Soal?" Aku mengernyitkan dahi.
"Ya kerja sama gw.. Lo bantu gw bawa barang dan lain nya. Bisa kok gw ngasih gaji sama kaya lo kerja di sana. Tapi lo nemenin gw kemana aja."
"Aku pikir dulu ya, tapi aku berangkat kerja dulu aja. Kayanya mau hujan, aku harus cepat. Byee...."
Aku meninggalkan jessy, entahlah dan aku tak sudi menjadi seperti dulu. Bagaimana ia memperlakukanku selama di lokasi.
Emang bukan tempat mewah, tempatku mencari rejeki. Namun aku tenang dari rasa khawatir. Khawatir akan makan apa dan akan di bayar berapa aku.
Aku bisa bertemu banyak orang dan bisa pulang dengan wajar. Walaupun orang tua ku tak tahu dimana aku kerja.
Kring..... (Panggilan)
Aku mengambil ponsel dari saku celanaku. Aku melihat layar ini dari mama.
"Hallo mama... "
"Kak.... Makasih uang nya, mama udah beli obat papa dan beli beras... "
"Syukurlah ma... Bagaimana keadaan mama dan adek disana ... "
__ADS_1
"Mama baik kak... Tapi mama mau bicara.. Papa kamu kak... "
"Kenapa lagi ma?"
"Papa pengen kamu pulang. Kumpul disini aja, jangan pergi lagi. Papa seperti kehilangan sesuatu yang berharga selama beberapa hari."
"... Ma.... Kalo uang kakak udah cukup, kakak pulang ya.. Pake uang sendiri... Kakak lagi nabung buat papa operasi. Mama doakan kakak ya... "
"Iya nak... Mama pasti doakan kakak, mama sekarang di rumah terus kak. Mama kasian liat adek kalo mama tinggal acara RT sama RW terus."
"Iya ma.. Ma, udah dulu ya... Kakak mau kerja dulu. Besok sambung lagi ya.. Bye maa.. Mama yang sehat ya... "
Aku langsung memutus panggilan mama. Bukan tanpa alasan, aku makin berat jika terus mendengar mama bercerita. Biarlah saat ini aku fokus mencari uang dengan benar.
Aku memandang langit yang agak mendung. "Kamu kok ikut mendung? Tahu suasana hatiku ya? Ayo kembali cerah dan bersemangat!!"
Aku meneruskan langkahku hingga ke pusat niaga depan. Banyak pembeli yang sudah antri di depan.
Hebatnya uda dan uni adalah mereka memasa dengan enak dan bersih. Banyak kantor yang mempercayakan makan siang kemereka.
Begitu pula dengan antrian siang ini. Baru pukul 10 tapi antrian pesanan sudah panjang. Aku bergegas mencuci tangan dan menbantu Uni untuk menyiapkan kardus makan.
***********
Jimmy menghadiri rapat pemegang saham. Ia berdiri sebagai pemilik saham terbanyak. Dilihat dari merk dagang mereka ini adalah elektonik rumah tangga.
Namun pikiran Jimmy kembali saat makan malam. Ia tak bisa berhenti memikirkan Cathrine.
Wanita manis yang polos. Bahkan Jimmy masih terbayang senyum manisnya Cathrine.
'Apa ini merupakan doa yang Mira ucap dalam suratnya. Agar aku menemukan orang lain sebagai pengganti nya?'
Jimmy mengepalkan kedua tangannya. Dagunya bertumpu pada kepalan tangannya.
'terlalu dini untukku memikirkan wanita itu. Paling tujuan ia sama seperti wanita para temanku. Butuh uang dengan menjual diri nya.'
Jimmy masih berfikir Cathrine mempunyai tujuan lain. ia pun masih menerka dalam pikirannya...
'pasti wanita itu memiliki tujuan lain. temannya saja sudah menjadi wanita lutfi. tak mungkin dia polos kepadaku. aku tak boleh lengah atau kasian.'
"kita akhiri ralat malam ini. terima kasih hadirin." ucap dari seorang wanita di ujung ruangan.
Jimmy langsung berdiri dan mengancingkan jas hitam nya. ia berjalan ke ujung tempat wanita itu berdiri.....
bukan untuk bertemu, tapi memang pintu hanya ada di belakang wanita itu. semua hadirin pun satu persatu keluar.
namun wanita tersebut menghentikan langkah Jimmy. ia berdiri tepat di hadapannya. wanita muda dengan setelan hitam putih, rambut bentuk poni tail dan lipstik merah bata.
"tunggu Jimmy, bisa kita bicara?" ucap wanita dengan name tag Fanny.
"ada apa? disini saja, waktu saya tak banyak." jawab Jimmy dengan ketus.
"kamu kenapa mengabaikan panggilanku? kenapa kamu engga menjawab ajakan makan siang dan malam? dan siapa wanita yang kamu ajak kemarin ke pesta pisah sambut?" Fanny langsung bertanya ke Jimmy dengan nada yang kurang enak.
"aku sibuk, maaf dan wanita itu dia teman kencanku. kenapa?" jawab Jimmy santai.
"kenapa mengajak wanita itu? bukankan aku sudah bilang, jika kita pergi bersama saja. apa ada masalah?"
"tidak, aku cuman ingin ganti suasana. jika sudah selesai, maka aku duluan. masih ada acara lain. permisi."
Jimmy pergi berlalu begitu saja. ia tak menggubris sama sekali.
Fanny sebenarnya wanita baik dan pintar. namun Jimmy tak pernah tertarik dengan nya. bagi Jimmy lebih baik Fanny mendapat pria lain daripada dirinya.
Jimmy masuk ke dalam mobil sedan nya. ia memilih duduk disamping pengemudi.
pak Teddy ada di sampingnya memegang kemudi. Pak Teddy memberikan sebotol air mineral. Jimmy menerima dan meminumnya, hampir separuh botol habis di minum Jimmy.
"apa wanita itu terlihat di lokasi? atau di kantor?"
"tidak Pak. sudah hampir seminggu ini saya tidak melihat nya. jika temannya masih saya lihat berkeliaran."
"sudah dapat informasi siapa yang menjerumuskan perempuan itu?" jimmy bertanya sambil memainkan ponselnya.
"temannya... "
"apa?!" Jimmy langsung memandang Pak Teddy.
"iya, temannya terlibat dalam salah satu produksi film ilegal. dan mereka membutuhkan pemain pendukung. oleh karena itu wanita tersebut di ajak."
"sh**!! kenapa mereka terus melakukan! sudah cukup Mira saja yang menjadi korban. entah apa yang ada di otak mereka. hal bodoh jika mereka percaya pada industri film kotor macam itu."
Pak Teddy hanya diam, ia kemudian menyalakan mesin mobil.
"pokok nya sudah saya mau cabut modal saya untuk mereka. saya membantu mereka pada anak muda berbakat. tapi mereka lebih memilih memproduksi seni kotor macam itu."
Pak Teddy hanya mengangguk dan mereka pergi dari gedung pertemuan. Jimmy memandang jalanan kota yang mulai macet.
__ADS_1