CARAMU MENCINTAIKU

CARAMU MENCINTAIKU
68


__ADS_3

"Lo ngga ada kepengen bantu Inez?" Aku menahan Nicky.


Nicky berbalik dan melihatku, mungkin bagi nya aku naif.


"Gw bisa bantu apa? Dia uda milih jalan hidup nya... Dia udah punya solusi buat masalah dia... Jadi? Gw bisa apa?"


"Bukan gitu, lo kan tau dia itu berbakat daripada kita. Kenapa engga dia ngembangin diri?" Aku masih memaksa.


"Cathrine... Ngga semua orang itu seberuntung lo. Ngga semua cowok semapan suami lo.... Gw aja kerja di perusahaan bokap gw... " Nicky menjawab dengan realistis.


Ya, menurutku realistis, kita memilih jalan sendiri atas masa depan kita. Ngga semudah cerita novel membantu teman kita.


Ketulusan? Bukan soal utama dalam pertemanan.


"Sekarang gw sadar, ini arti temen buat lo? Bahkan apa yang Inez uda alamin, lo ngga ada simpatik sedikit... Dia korban... " Aku masih membantah.


"Banyak orang di luar sana yang lebih ngga beruntung dari Inez! Kalo semua lo bantu, kerja aja di dinas sosial.... " Nicky lalu meninggalkanku.


Aku berjalan lunglai, kembali ke apartemen dengan sejuta pertanyaan dan pikiran.


Bagaimana nasib Inez., bagaimana bisa keluarganya berlaku demikian, berat jalan yang di lalui Inez.


Segala berkumpul di pikiranku. Aku langsung meletakan tas ku di sofa dekat tempat tidur kami.


Aku mengambil ponsel, ada pesan dari Jimmy.


Jimmy : kamu jangan lupa makan. Apa sudah siap segala keperluan kuliah? Jadi pulang ke papa?


Me : mungkin besok aku beli tiket kereta pulang. Segala udah siap, 2 minggu lagi mulai ospek. Gimana disana? Semua aman?


1 menit.....


2 menit....


5 menit...


Lama sekali balasan Jimmy, apa di negara nya memang sudah sinyal? Atau apa dia sibuk?


********


"Ma... Sudah cukup ini? Aku akan pulang segera.... " Jimmy berkata di ruang keluarga.


"Jadi kamu sudah menikah? Bagaimana bisa tanpa restu kami?" Sorot tajam tatapan wanita paruh baya itu.


"Memang akan di restui? Lebih baik kalian engga ikut campur. Lagi pula aku sudah punya kewarganegaraan di sana. Silakan mama dan papa terhormat untuk fokus mengurus negara ini... Membantu kemajuan dan lain nya... " Jawab Jimmy ketus.


Brakk! (Ayah Jimmy mengebrak meja di hadapannya).


"Kamu sama sekali tidak pernah menghormati kami! Kamu lupa asal kamu! Harusnya kamu tahu leluhurmu!" Ayah Jimmy berkata keras.


"Kalau aku lupa akan leluhurku, aku tak akan mungkin pulang sekarang. Aku memilih bersama pekerjaan ku disana.. Sudahlah, hari makin malam. Aku ingin istirahat. Selamat malam... "


Jimmy berdiri dan menuju pintu keluar ruangan tersebut. Ia pun berhenti sebentar dan berkata. "Jangan lupa minum vitamin dan obat kalian... "


********


Aku memandang keluar jendela apartemenku. Aku melihat beberapa bangunan lain.


Sisi bawahnya ada banyak mobil dan kendaraan lain lalu lalang.


Aku menghela nafas dan duduk di sofa. Aku mengambil ponsel dan menekan pesan ku ke Jimmy.


"Kok belum bales ya?" Aku berbicara sendiri.


Tak lama ada pesan masuk, aku melihat Anne.


Anne : gw di kota, ntar ketemu ya di mak MIK jam 5.


Me : ok, gw telpon Pak Teddy dlu yah...


Aku pun menekan panggilan ke Pak Teddy. "Hallo, pak.. Nanti kalo jam 4.30 jemput terus anter ke mall MIK ya?"


"Baik Pak.. Terima kasih... " Aku menyudahi panggilanku.


**********


Aku berjalan sendiri di mall baru ini. Jujur aku sebenarnya ada rasa malu dan takut jika masuk ke tempat baru dengan orang yang tidak aku kenal.


Aku melihat ada patung yang Anne maksud. Aku melihat juga, wanita potongan rambut Bop dengan warna blonde.


"Cathrinee!!!! " Anne berlali dan memelukku.


Aku membalasnya dan rasanya aku berterima kasih kepadanya. Berkat dia aku bertemu dengan Jimmy.


"Yuk, duduk sana..." Anne menarikku masuk ke salah satu tempat makan.


Kami pun memesan beberapa makanan disana. Lebih mirip ke masakan asian dan indonesia jika aku lihat dari menu.


"Jadi... Jimmy ninggalin lo sampe kapan?"


" Entah An.. Katanya semingguan lagi balik. Tapi sampe sekarang pesen gw aja ga di bales... " Jawabku cemberut.


"Lo harusnya sabar ya kalo dia balik kesana.. Soalnya... Keluarganya itu ribet disana... " Jawab Anne seolah menyembunyikan sesuatu.


"Hmm.. Mungkin ya, gw juga ga pernah keluar negeri... " Jawabku santai.

__ADS_1


"Eh, lo udah di kenalin sama anak angkat Jimmy?" Anne bertanya.


"Uhukk... " (Aku tersedak)


"Eh sorry.. Maaf Cathrine... Mungkin lo belum tau... Udah.. Udah... " Anne memberiku air putih.


"Tunggu, Jimmy uda punya Anak?!" Aku tak percaya dengan apa yang aku dengar.


"Gimana ya... Bukan anak kandung.. Itu anak pacar.. Eh mantan... Mantan nya... " Anne terbata - bata menjelaskan.


"Eh, brati Jimmy punya mantan? Pacar orang sini juga?!" Aku penasaran.


"Gw ga seharusnya cerita, tapi biar Jimmy yang ngasih tahu aja ya..." Anne mencoba mengubah percakapan kami.


"Please Anne... Ceritain dong ke gw.. Terus cantik siapa? Tajir siapa? Sekarang tu perempuan dimana?" Aku memberondong pertanyaan.


"Satu aja kali kalo tanya!" Anne kesal.


"....." Aku cemberut dan kesal mendengar jawaban Anne.


"Ya udah gw kasih tahu dikit aja. Tu cewe udah meninggal stress foto naked nya kesebar.... Dulu artis nya Jimmy, kalo wajah... Beda deh.. Tu cewe juga lebi tua dari kok dari lo.... " Jawab Anne singkat.


"Terus hubungan sama anak nya?" Tanyaku polos.


Pramusaji memecah percakapan kami. Ia menyajikan makan dan minum pesanan kami. Lalu ia memberi tanda di atas meja. Mana saja pesanan kami yang sudah datang.


"Anak itu... Anak perempuan itu sama mantan suaminya.. Jimmy merasa bertanggung jawab sana anak nya juga.. Maka nya sampe sekarang masih nengokin gitu di panti. Eh.. Pondok apa gitu... "


"...... " Aku diam melihat ke piring makan ku.


Apa Jimmy masih kebayang mantannya ya? Makanya dia kadang suka aneh ke aku.... (Tanyaku dalam hati).


"Gausah takut, Jimmy setia kok.. Pun itu cewe uda ga di dunia.. Dia cuman ada di bagian masalalu Jimmy... "


"Ann.... Kan kamu tahu.... Soal... "


"Michael? Laki sampah? Udahlah, lo itu hampir mati konyol gara - gara cowo macem dia... "


"Ga...aku.... Eh gw... Cuman takut kalo Jimmy akan ngelakuin hal yang sama kaya Michael.... Lo inget kan kejadian itu... Gw trauma, bahkan gw ga punya keberanian soal asmara gw.... " Jawabku.


"Udah.... Jadi diri lo apa adanya aja deh... " Anne berkata sambil melihat ke belakang badanku.


Bahkan kedua matanya tak berkedip. Ia seperti tak percaya dengan apa yang di lihat.


Aku refleks ikut memalingkan badanku dan mencari apa yang di lihat Anne.. Rupanya...


"Itu tante kan? Mama... Mama lo Cath?! " Anne berdiri hendak mengejar.


"Udah... Udah duduk An.... " Aku menahan.


"Gw kemarin uda ketemu... Tapi, ya gw ga tahu.. Mama bener apa bukan.... Bahkan gw yakin dia lihat pas gw berdiri jarak beberapa meter dari dia.... But.... Dia pergi gitu aja, gesture nya ga kenal gw.... " Jelasku.


"..... " Anne kini balik diam.


"Emang kalo mama bener itu.. Ada yah, orang tua yang lupa sama anaknya....? " Tanyaku penuh perasaan.


"Cath..." Panggil Anne lirih.


"Emang mama tega? Buat tinggalin papa sama Ghea gitu aja? Gw bahkan di jadiin sapi perah mama.... Kalo itu dia... Enak ya, hidup dia enak dan berjalan dengan baik... " Aku meracau agak tangisku tertahan.


"Hmm.... Udah lo harus bangga sama diri Lo... Sekarang kehidupan papa dan Ghea uda jauh lebih baik.. Apalagi lo... Sekarang lo itu bukan upik abu lagi... Lo itu cantik... Lo juga punya pasangan orang baik... "


kalimat Anne seolah memberi semangat kepadaku. walau masih banyak tanya dalam pikiran dan hatiku.


"lo harus bahagia Cathrine... lo ngga boleh susah...ciptain bahagia dengan cara lo sama Jimmy.... "


*******


aku masih memikirkan perempuan yang mirip dengan mama. bahkan kami bertemu untuk kedua kali nya.


apa jalan Tuhan?


aku masih percaya tak ada segala sesuatu yang kebetulan di dunia ini. pasti ada hal yang membuat nya terjadi.


jika mama, kenapa ia bahkan melupakan ku.?


ya... mungkin ini fakta, kalau mama memang hanya menginginkan kehidupan dunia yang mewah.


benar, mama memang ga bisa hidup susah. apalagi mau menerima keadaan papa.


aku tak menyadari, mobil sudah hampir sampai ke apartement. aku terlalu banyak melamun akhir - akhir ini.


"Non nanti bapak jemput papa sama adek non di stasiun jam 3 pagi kan? Terus bapak anter ke hotel.. Ini kuncinya," Pak Teddy memberi kunci hotel kepadaku.


Aku melihat ini hotel bintang 5 di kota.


"Pak, ini dari?" Tanyaku.


"Pak Jimmy, buat mertua dan iparnya. Non juga bisa tinggal disana, selama 1 minggu kedepan. Saya tunggu di bawah saja ya.. Silakan non ambil pakaian dulu.. Saya di parkiran biasa ya... " Pak Teddy lalu meminggalkanku.


Aku naik sendiri kekamarku. Aku mengambil beberapa stel pakaian dan keperluan mandiku.


Aku melihat lagi ponselku. Masih tak ada kabar dari Jimmy.


Memang kalau kita pacaran sama orang sibuk tuh gini ya??

__ADS_1


Jimmy : kamu sudah nerima kunci? Nanti istirahat saja, tak perlu ikut jemput ke stasiun.


Wajahku sumringah membaca Chat dari Jimmy. Aku senyum - senyum sendiri dan mengetik balasan.


Me : iya, aku lagi bersiap. Makasih ya Jimmy... ❤


Jimmy : dear I miss you, see you next week.


Me : love you......


Aku membalas pesannya refleks, tanpa memikirkan apa yang akan di katakan.


Walau aku berharap ia membalas dengan kata cinta kepadaku.


"Kok ga di bales ya? Cuman di read aja sama Jimmy.. Apa bahasaku salah ya?"


Aku mulai panik, kenapa ia tak membalas pesanku?


Me : kamu ga mau bales love juga ke aku?


Jimmy : tidak.... Lebih baik tidak berkata seperti itu untuk saat ini....


#dyerr#


Seperti sambaran petir di siang hari. Apa artinya ia menolakku?


Menolak cinta dariku?


Tapi..


Kan dia bilang kami pacaran kan?


Me : tapi, kamu bilang kita anggap hubungan ini Pacaran... Lantas sebenarnya apa? Apa aku juga ga boleh bilang?


Jimmy : ngga perlu, aku ga mau kamu terlalu membawa jauh semuanya. Aku cuman membantu menata masa depan kamu.


Me : maybe im stupid! Aku ga paham maksud kamu. Tapi....Baik...... Lah.... Yang aku paham.... Kita hidup tanpa ikatan kan? Dan aku bebas bersama siapapun.. Begitu juga kamu kan?


Aku kesal lalu mematikan ponselku. Aku meletakan ke dalam tas tanganku.


Aku lanjut membereskan bajuku, segala aku masukan tas. Segala keperluanku, tanpa aku sadari.


Air mataku menetes.


Aku pun mengusap dan bersiap turun ke bawah. Aku harus menutupi rasa sakitku.


Aku memegang dadaku, rasanya sakit dan sesak. Kalimat Jimmy jelas kalimat penolakan. Sama seperti saat michael mengirimkan pesan kepadaku.


Pak Teddy sudah menungguku di depan Lobby. Ia seperti sedang berbicara dengan seseorang di ponselnya.


"Pak, ini nyonya uda keliatan.. Saya mau sambungkan?"


Aku menghampiri Pak Teddy, ia malah memberi ponselnya.


"Maaf Non, ini Pak Jimmy. Mau bicara... Ponsel non di Hubungi ga bisa.. Ini panggilan international, mahal non... Cepetan Atuh... " Pak Teddy membujuk.


Aku mengambil ponselnya, tapi aku tidak meletakan di telingaku. Aku langsung berbicara....


"Kalo panggilan ini mahal, matiin aja." Aku lalu memutus panggilan Jimmy.


"Makasih Pak.. Ayo kita pergi, saya mau makan dulu... " Aku mengembalikan ponsel dan pergi ke parkiran.


"Kenapa anak muda akhir - akhir ini gampang emosi ya... Non sama Pak Jimmy kaya nya kok gampang amat pada marah... " Pak Teddy bergumam.


**********


Pak Teddy meninggalkanku sendiri di hotel. ia melihat jam sudah menunjukan pukul 2.30 dini hari.


ia ingat tugas terakhir nya hari itu. menjemput mertua Pak Jimmy.


"Malem pak... Malem non, saya pegawai Pak Jimmy yang di minta jemput.. " Pak Teddy berkata sambil membawa papan nama.


"Malam Pak... Saya Thomson, tapi panggil pak Tommy saja ya.. Ini Ghea adik nya Cathrine.... Maaf kami merepotkan Bapak... " Ucap ayah Cathrine.


"Tidak pak.. Sudah tugas saya, mari masuk ke mobil, barang nya biar saya bantu bawakan.. " Pak Teddy mengambil dus dan tas yang Ghea bawa.


Dengan mata mengantuk dan sayu Ghea menurut saja kemana langkah pak Teddy. Mereka lalu menuju hotel tempat Cathrine sudah menunggu.


"Pak... apa tidak salah? Kami tinggal di salah satu hotel disini?"


"Tidak Pak.. Menantu anda yang memilih sendiri.. Hotel itu juga tempat langganan Pak Jimmy.. " Jawab pak Teddy.


"Bapak sudah lama kerja dengan Jimmy?" Ayah Cathrine bertanya.


"Ya... Lumayan lama pak.. Sejak pak Jimmy menolong saya yang lagi tidur di situ pak... "


Pak Teddy menunjuk salah satu trotoar di lampu merah.


"Saya dulu ngemis pak, dari desa ke kota mau kerja. Tamatan saya SMK, cukup gengsi kalo kata orang desa... Tapi nasib saya ga bagus, istri sama anak saya ikutan mulung di jalanan... "


Papa hanya diam merenung. "Jimmy memang dermawan rupanya." (Papa berkata dalam hati.


"Tapi, saya ikut dari Pak Jimmy masih kerja di salah satu kantor. Sampe uda sukses kaya sekarang pak.. Apa ya.. Banyak lah cerita saya sama dia.. Udah kaya keluarga gitu... Nuhun.. Saya malah cerita sendiri... "


"Engga pak, saya justru berterima kasih, saya ngga punya banyak waktu bicara sama menantu saya. Jadi saya kan bisa belajar mengenal seperti apa dia... " Jawab Ayah Cathrine.

__ADS_1


__ADS_2