
"Lo beruntung punya cowok kaya Jimmy. Dia dewasa dan engga banyak nuntut ke Lo..tinggal lo aja yang mengimbangi.. " Nicky membela Jimmy.
"Lo itu emang punya bipolar ? Kayanya gw masih inget lo minggu lalu masih engga suka sama Jimmy.. Bahkan lo menghina dia.. Sekarang... " aku kesal.
"Karena akhirnya gw bisa lihat kalian kaya apa..tadinya gw pesimis apalagi dengan masa lalu Jimny.. "
"Emang apaan?" tanya Inez.
"Gitu deh... Hahaha... " Nicky tertawa sendiri.
"Nez.. After kursus lo kuliah apa mau lanjut trainee?" Aku balik tanya ke Inez.
"Entah.. Kayanya gw mau trainee terus cari kerja.. Sebenernya.... "
Inez sempat diam dan memainkan sendok ice nya. Ia malu mengatakan keadaan nya.
"Lo kenapa?" Tanya Nicky.
"Gw butuh banyak duit... Orang tua gw uda ngga ada semua.. Selama ini gw numpang sama paman gw. Kayanya tahun ini terakhir gw bisa numpang sama mereka... "
"Oh.. Makanya lo engga pake motor lagi?" Nicky memotong.
Inez hanya mengangguk. Artinya iya.
"Paman gw mau balik ke sumatra. Gw harus cari kerjaan. Atau gw ikut dia buat di nikahin sama orang disana... Makanya gw kursus biar cepet kerja.. Huft... Itu lah kenapa gw engga bawa motor lagi.... "
"Maksud lo? Motornya di jual?" Aku bertanya.
"Iya.... Gw jual buat ngelunasin kursus sama uang saku gw... Jadi... Kalo kalian ada kerjaan.. Please bantu gw ya... " Inez tersenyum manis.
Nicky yang tadinya paling suka menggoda inez hingga ia marah, malah sekarang diam tanpa kata.
(Ponsel berbunyi)
"Sebentar ya... Papa gw telpon.." Aku agak menjauh dari mereka.
"Hallo pa.. Ada kabar apa pa?"
"Endak nak.. Papa cuman kangen.. Adek kamu juga belum pulang sekolah. Papa sekarang keadaannya lebih baik... Sudah bisa jemput adek kamu naik motor sendiri.. " Suara papa dari seberang sana.
"Syukurlah pa... Cathrine jadi tenang. Ohiya, bulan depan aku mulai masuk kuliah pa... Doakan lancar saja ya.. " Aku tersenyum.
"Pasti Nak.. Jangan buat malu papa. Ohiya bagaimana kabar Jimmy. Kadang pria itu menelepon papa juga. Perhatian sekali ia sebagai pria. Kamu yang baik - baik dengan Jimmy... " Papa menasehatiku.
Aku diam mendengar nya, sepertinya naluri ayah memang kuat juga. Ia mungkin merasa aku sedang tidak baik dengan Jimmy.
"Iya pa... Aku baik - baik aja kok sama Jimmy. Dia menjaga ku dengan amat baik..." Aku berbicara menutupi keadaan ku.
"Baiklah, sambung nanti atau besok ya. Ada orang yang datang beli.. "
"Iya pa... Jaga diri sama sehat terus ya... "
Papa menyelesaikan pembicaraan siang itu. Aku tersenyum walau hanya mendengar suaranya. Suara pria yang selalu menenangkanku dari aku lahir ke dunia.
Aku lalu kembali ke temanku. Mereka masih disana, aku duduk di tempatku semula.
"Dari siapa Cath?" Tanya Inez.
"Bokap gw... " Jawabku singkat.
"Eh lo sendiri mau ngapain abis selesai kursus?" Inez balik tanya kepadaku.
"Gw kuliah... Jadi engga ikut program magang.... Lo gimana Nick?"
"Hmmm... Belum tau, se'mood nya hati aja mau ngapain... " Jawab nya santai.
"Orang kaya mah beda... " Celetuk inez.
"Lo mau kaya? Yaudah sini sama gw.. " Tantang Nicky.
"Jadi apaan? Sudi amat jadi istri lo.. " Inez jijik menjawab.
"Ih.. Awas lo kalo suka sama gw. Gw tolak.. " Nicky balik melotot ke inez.
"Udah... Udah... Jangan berantem. Kalo jodoh tahu rasa lho... " Aku tertawa.
"Ogah!!" Mereka kompak menjawab.
Nicky lalu mengambil soda di hadapannya dan meminum nya.
"Lo besok mau kemana?" Nicky bertanya kepadaku.
"Gw?" Aku diam dan mengingat. Sepertinya besok itu hari pernikahan Yofie.
"Gw mau kondangan sama Jimmy. Dulu awal gw disini kan kost. Anak nya tu nikah.. eh gw baru sadar tadi lo sempet bilang soal masa lalu Jimmy.. apa yang lo tau Nicky?" Jawabku.
"uh... lo tanya sama Jimmy aja ya.. gw engga punya hak buat ngomongin... " jawab Nicky ketus.
**********
"Thank You ya... Byee... " Aku melambaikan tangan ke arah mobil Nicky.
Aku melihat jam ponsel pukul 5 sore. Lalu aku masuk ke lobby untuk naik ke kamarku.
"Baru pulang... ?" Suara di belakang.
"Jimmy... " Aku menoleh.
Ia tersenyum, manis sekali pipi nya. Ia memang tak pernah bosan ku pandang.
Lift pun terbuka dan kami masuk ke dalam. Ia menggandeng tanganku, sudah beberapa hari kami agak sibuk dengan urusan masing - masing.
kami masuk ke dalam kamar kami. Jimmy meletakan kunci mobil dan tablet di atas meja. aku melihat tumpukan baju yang sudah di setrika rapi.
__ADS_1
pasti Bu Sumi yang melakukan.
"Apa kamu lapar?" Tanya Jimmy.
"Belum, tadi aku makan waffle sama ice cream jadi masih agak kenyang." Jawabku sambil menata baju ke dalam lemari.
"Jadi... Meat ball kemarin itu buatanmu?" Jimmy bertanya.
Aku diam dan mengangguk saja menjawabnya.
Lalu Jimmy menarikku untuk berdiri di hadapan nya.
Aku mendongkak ke atas untuk melihat wajahnya.
"Lain kali.. Kamu bilang ke aku..kalau kamu bikin sesuatu.. Biar aku bisa lebih halus memberi penilaian.. " Jimmy membelai rambutku.
Cuph.. Ia mengecup keningku. Wajahku jadi memerah karena malu.
"Maaf... " Jawabku lirih.
"Untuk? " Jimmy mengernyitkan dahi.
"Karena aku engga dewasa atas sikapmu kemarin. Karena aku malah marah ke kamu... " Lalu aku memeluk Jimmy.
Aroma tubuh nya sungguh membuatku nyaman. Kemeja putih yang ia pakai makin membuatku tergila - gila.
"Kita belajar ya buat kebaikan semuanya..." Jimmy juga memeluku.
Lalu kami membersihkan diri bersama. Ya terjadi lagi hubungan yang tak seharusnya aku lakukan.
Jelas aku menginginkan dengan suamiku. Bukan dengan pria tanpa ikatan jelas seperti ini.
Jimmy lalu memesan makan untuk kami. Ia menyiapkan semua di atas meja makan.
"Tadi aku mencoba cake dan lemon frosting yang kamu beri ke pak teddy... Rasanya enak dan cukup mendekati bakery... " Jimmy berkata sambil meletakan alat makan kami di meja.
"Iya.. Terimakasih..." Jawabku.
"Mari kita makan... " Jimmy lalu berdoa dan kami mulai makan bersama.
Hidangan simple menurutku, salad dan butter rice dengan salmon. Bagi Jimmy ini makanan sehat untuk tubuh kami.
Aku sebenarnya kurang suka. Aku lebih suka sayur asam dan ikan goreng. Apalagi buatan mama, entah saat ini dimana mama berada.
Harapanku ia dalam keadaan baik - baik saja.
"Besok kamu mau dandan ke salon?" Tanya Jimmy.
"Buat?" Aku malah balik bertanya.
"Pernikahan Yofie dan Stacy... Lupa? Aku mau kita datang.. " Jimmy berkata sambil memegang tanganku.
"....... " Aku diam tak menjawab.
"Baiklah... Aku lihat besok. Sepertinya aku tak memiliki gaun juga... Lagi pula aku harus ngasih lihat mereka. Kalau aku terlihat bahagia sama kamu... "
"Emang kamu engga betul bahagia sama aku.?" Jimmy bertanya.
"Bukan gitu.... Aku bahagia kok.. Bahagia.. Malah aku berharap bisa selamanya sama kamu..." Jawabku refleks.
Jimmy agak kaget dengan jawabanku. Wajahnya berubah agak tegang. Sepertinya ada yang salah dalam perkataanku.
"Apa ada yang salah?" Tanyaku.
"Tidak... Tidak ada semua baik...huft... "
Lalu Jimmy membereskan piring kami. Aku memilih mencuci piring makan kami.
Sesekali aku melihat Jimmy sibuk dengan laptop nya di beranda. Ia memilih mencari udara segar.
selesai mencuci piring aku menonton televisi dan melihat berita online di ponsel. Aku melihat jam pukul 10 malam.
Aku meletakan ponselku, lalumenyusul Jimmy ke beranda. Ia melirik saat aku membuka pintu kaca.
"Ini hari jumat. Kamu masih kerja?" Aku bertanya.
"Iya, besok pagi aku ada meeting online dengan kolega. Aku harus menyiapkan semuanya.. " Jawab Jimmy.
"Jadi mau aku temani? Atau coklat panas?" Aku menawarkan.
"Beri aku coklat panas saja."
Aku lalu masuk ke dalam dan menyiapkan coklat panas untuknya. Jimmy lebih suka coklat pahit untuk minum saat bekerja.
Aku membawakan keluar gelas putih kesukaan Jimmy. Ia melihat dan tersenyum saat aku datang.
"Thank You... Uh.. Kalau kamu mau tidur.. Aku akan menyusul nanti. Jadi duluan saja ya... " Jimmy halus berkata kepadaku.
"Baiklah.. Jangan terlalu malam ya... Kamu bisa sakit... " Aku menjawab.
Lalu aku mengecup kening nya dan meninggalkan masuk ke dalam. Ia kembali melihat ke arah laptop dengan serius.
Aku merebahkan tubuhku di tempat tidur. Aku melihat jam sudah hampir jam 11 malam. Jarang Jimmy bekerja selarut ini.
Aku mencoba memejamkan mataku, sebenarnya aku akan menunggu nya menyusulku. Semoga aku tidak terlelap duluan.
Dalam malamku aku bermimpi soal mama. Disana ia terlihat menderita, tangis dan suara meminta tolong yang aku dengar.
Suasana kamar Jimmy menjadi panas juga. Aku merasa sesak dengan keadaan ini.
"Hhahh!! " Aku terbangun.
Aku langsung duduk dan mengatur nafasku. Rupanya aku bermimpi, rasanya nyata sekali.
__ADS_1
Aku melihat jam di dinding pukul 7 pagi. Pantas matahari sudah masuk ke celah jendela.
Aku melihat ke samping, tidak ada Jimmy. Apa dia sudah pergi? Kemana weekend sepagi ini..?
Aku mengambil ponsel di samping mejaku. Ada notes kecil disana, aku pun mengambil dan membaca.
'Aku ada online meeting pagi. Aku sudah pesankan salon dan pakaian untuk nanti malam. Datang saja jam 1 ke bawah. Salon itu ada di ujung dekat lampu merah di luar apartemen.'
Benar, dia sudah pergi dulu. Aku hanya mengangguk dan mulai membersihkan diriku. setidaknya aku bisa makan dan bersiap dulu pagi ini.
Jam dinding menunjukan pukul 12 siang. Aku juga sudah cukup mengisi perutku.
Aku pun pergi ke salon yang Jimmy maksud. Sebenarnya tidak begitu jauh, udara pun cukup mendung. Ini baik bagiku, jadi aku tidak terlalu berkeringat.
"Permisi... Selamat siang... " Aku menyapa saat masuk ke dalam salon tersebut.
"Selamat datang, pasti dari Bapak Jimmy ya.. Mari silakan disini.." Capster ramah dengan wajah cantik menyambutku hangat.
*******
Mobil suv putih menunggu di depan salon. Disana ada pria denga setelan kemeja batik yang rapi.
Tak lama ada perempuan muda dengan rok setinggi lutut muncul. Rambut yang di biarkan lurus sebatas bahu dengan make up simple nya.
Perempuan itu menuju ke mobil tersebut.
"Ya... Seperti ini yang aku mau... " Ucap Jimmy.
"Thank you.. Aku juga suka.. Oh iya, rupanya baju ini kamu beli?"
"Iya, istri Fukuda yang menawariku. Ia membawa beberapa contoh baju. Hanya itu yang aku rasa cocok denganmu." Jawabnya sambil menjalankan mobil.
Perjalanan yang cukup lancar. Rupanya mendung seharian ini tak pertanda hujan.
Kami pergi ke sebuah hotel berbintang di pusat bisnis. Menurutku hotel yang cukup mewah. Valet service menyambut saat Jimmy berhenti di lobby, mereka membantu kami parkir.
Lalu aku dan Jimmy masuk ke area lobby Hotel. Ada papan penunjuk arah kalau kami harus naik ke lantai 5 untuk masuk ke Hall.
Kami mengikuti petunjuk arah saja. Jimmy memberi siku tangannya untuk ku gandeng. Aku tersenyum malu dengan tingkahnya.
"Aku lupa.. Apa kamu sudah menyiapkan sumbangannya?" Aku berbisik.
"Tenang. Dengan Tulisan Mr & Mrs. Jimmy... " Jimmy menepuk telapak tanganku agar aku tenang.
Aku lupa sama sekali soal sumbangan. Memang sejujurnya aku tak mengingat jika ia membutuhkan kotak sumbangan.
Apalagi Stacy adalah anak pengusaha sukses. Ia sering memamerkan kekayaan di saat aku masih kost.
Kami pun masuk dengan menunjukan undangan. Disana rupanya sudah ada tanda dimana kami duduk.
Aku membeli kode salam ke Om Rudi di dekat panggung. Aku cukup kaget, mengapa kami di beri tempat duduk dekat dengan area keluarga.
"Hallo sayang, apa kabar...?" Tante Non menyapaku.
"Tante.. Selamat ya... Kabarku baik.. Tante gimana? Cantik sekali malam ini.. " Jawabku dengan senyum manis.
"Baik.. Kamu makin cantik saja.. Ini apa pacar kamu?" Tanya tante Noni.
"Iya, dia pacarku tante... Jimmy... Kenalkan sayang, ibu dari Yofie. Mama Kostku.. " Aku menarik tangan Jimmy.
"Jimmy, senang bertemu dengan anda.. " Jimmy memberi salaman dengan kaku.
"Hallo... Noni... Oh mari duduk.. Sebentar lagi mulai.. " Tante Noni mempersilakan kami duduk.
" Pesta yang cukup mewah... " Jimmy berbisik.
"Sepertinya begitu... " aku menjawab.
Tak lama acara pun mulai. Sepasang anak kecil masuk dari pintu utama dengan menaburkan bunga sebagai tanda pengantin masuk.
Setelah anak itu agak maju, pengantin itu datang. Aku meliha Stacy sangat cantik, yofie... Ya... Dia memang gagah.
Memang tidak setinggi Jimmy dan kulit nya tak sepucat Jimmy. Namun dia lelaki pertama yang aku lihat. Mataku tak berkedip melihat mereka hingga naik ke panggung.
Apa perasaanku saja ya?
Yofie melihatku terus saat berada di panggung.
"Rupanya Pria itu masih penasaran denganmu.. " Bisik Jimmy kepadaku.
Aku hanya diam dan memilih memakan hidangan di hadapanku. Jimmy pun ku ambilkan hidangan tersebut.
"Benar kan, pria itu melihatmu terus... " Jimmy berbisik lagi.
Aku mulai kesal dan memandang Jimmy beberapa saat. Lalu aku berbisik.
"Memang aku peduli? Mari makan lalu pulang."
"Kamu engga mau menyalami mereka?" Tanya Jimmy.
"Tidak.. Mereka sudah tahu aku datang kan cukup... " Jawabku.
Namun MC acara memanggil nama kami.
"Baik foto berikutnya adalah keluarga Bapak Jimmy Yons beserta istri di mohon naik.. "
Jimmy lalu menarik tanganku, ia pun berdiri. Aku menghapus sisa makanan di bibirku, lalu aku berdiri dan berjalan di belakang Jimmy.
Kami naik ke panggung. Suasana cukup canggung buat Yofie. Jika aku, aku tetap stay cool. Aku bersama Jimmy.
Setelah beberapa kali kami berfoto. Aku mengucapkan selamat kepada mereka. Begitu pula dengan Jimmy.
Ya, aku tak ingat jelas bagaimana tanggapan Yofie dan Stacy. Bagiku aku ingin cepat menghabiskan makananku dan dessertku.
__ADS_1