
Aku masih malas untuk bangun. Selimut menutupi tubuhku, tempat tidur yang nyaman dan orang yang melengkapinya Jimmy.
Ia memeluk pinggangku, tetapi ia menonton acara televisi. Acara berita dengan bahasa yang tak aku pahami.
Aku melihat ke arah jendela, hujan rupanya. Pantas saja rasanya lebih dingin.
Aku bergeser sedikit dari posisiku. Jimmy pun melonggarkan posisi pelukannya.
"Mau mencari apa?" Jimmy bertanya.
"Tidak, aku hanya ingin melihat hujan.. "
Aku lalu mengambil baju tidur terusan dan memakainya.
aku berpindah duduk di sofa samping jendela. Aku meraba ke arah kaca, gemericik pantulan air hujan.
Hal ini membawaku kepada kenangan masa kecilku. Aku selalu bermain air saat hujan. Bersama Ghea, saat menunggu orang tua kami kembali dari bekerja.
Jimmy menyusulku dan duduk di belakangku. Ia menyandarkan tubuh nya mendekatiku.
"Kamu suka hujan? Ada apa dengannya?" Tanya Jimmy sambil memelukku.
"Entahlah... Aku merasa kangen dengan Adiku. Kami selalu bersama bahkan saat itu, hujan deras dari pagi. Kami hanya berdua namun rumah kami banjir..kami begitu takut, tapi aku mencoba menenangkan Ghea..
Aku memeluknya hingga ia tertidur..
Kami menunggu cukup lama hingga orang tua kami datang....
Tanpa makanan ataupun minuman..
Hanya air yang mengepung tempat tidur kami.... " Aku bercerita.
"Bagaimana mungkin? Tak masuk akal. Kalian hanya berdua menunggu orang tua datang menolong." Jimmy tak mempercayai cerita Cathrine.
"Aku tidak meminta kamu mempercayai atau mendengar. Aku cuman memiliki kenangan yg indah dengan Adikku. Salah satunya ya saat banjir itu...
Aku ingat papa dan mama panik karena banjir itu tak sama sekali pernah terjadi...
Sejak itu Ghea selalu ketakukan jika Hujan. Bahkan ia membenci air hujan..
Itulah yang membuatku menyukai hujan..
Karena mengobati rasa kangen ku kepada Adikku...."
Jimmy diam dan nafasnya berat. Seperti ada sesuatu yang ia simpan.
"...... "
Kruuyukk.....krukk...krukk(suara perut Cathrine).
"Are You Hungry?" Nada Jimmy berubah setengah menahan tawa.
Aku diam menutup perutku. Malu rasanya, bagaimana bisa sampe keras begitu..
"Tunggu ya, aku pesankan burger dan kentang.. " Jimmy berdiri dan mengambil ponselnya.
Ia pergi menjauh dariku, aku mendengar samar - samar. Ia memesan paket untuk kami berdua.
Aku melihat nya dari jauh. Bagaimana bisa aku mengatur hatiku. Agar aku tidak kebawa dengan perasaanku padanya.
Ia saja begitu baik kepadaku. Wajahnya pun tak membosankan aku pandang.
"Sudah, 30 menit lagi estimasinya. Kamu masih bisa menahan?" Jimmy memandangku.
Aku diam dan memandang wajah Jimmy tanpa berkedip. Sebenarnya apa yang terjadi kepadaku.
"Hei?? " Jimmy berkata lagi.
Kali ini aku sadar dan mengedipkan kedua mataku. Aku terhipnotis oleh nya.
********
"Oke... Cut!" Sutradara menyudahi syuting hari itu.
Jessy sibuk mencari kipas lipatnya. Ia menemukan di tumpukan barang di ruang ganti.
"Maaf ya kak, saya tadi dapet telpon dari orang tua... " Perempuan muda memegang kipas Jessy.
Ia terlihat berlari saat Jessy mencari kipas. Keringat menetes dari dahinya, tak disadari ada yang mengenai tas tangan Jessy.
"Apa ini?! Menjijikan! Lo tau ini apa?!!" Jessy marah, kedua matanya melotot.
"Maaf.. Maaf kak, saya tidak sengaja.. Maaf..." Ia mengambil tissu dan menghapus bekas peluh yang mentes mengenai bagian depan Tas Jessy.
"Maaf! Maaf! Kamu pikir maaf mu itu bisa ganti tas gw yang kotor? Lo sadar diri! Kalo emang ya...
Ni badan lo keringetnya malu maluin! Mikir gimana biar ga ngucur terus. Jijik Gw!" Jessy masih melotot melihat gadis tersebut.
"Baik kak, maaf kan saya sekali lagi. Saya engga punya maksud apa pun. Jujur maaf... " Gadis itu bahkan mencoba duduk bersimpuh di hadapan Jessy.
"Lo pikir dengan nyembah gw gini, bisa gitu balikin rasa jijik gw sama lo! Pokoknya gw mau lo ganti tas gw! Enak aja lo maaf doang."
Pintu tak terkunci, seseorang masuk ke dalam. Jessy melihat siapa yang datang. Wajah Jessy langsung berubah.
Ia menyeret gadis tersebut agar berdiri. Jessy merapikan rambut dan memberi kode ke gadis tersebut.
__ADS_1
"Adam... Mas Adam.. Lama engga ketemu... Mas kok tahu aku disini... " Jessy menyapa orang tersebut.
Adam justru melihat ke arah gadis muda di samping Jessy. Ia terlihat habis menangis dan wajahnya pucat.
"Mas... Mas ada perlu apa?" Jessy berkata lagi.
"Dia siapa?" Tanya Adam.
"Oh dia... Biar aja, dia cuman assistant ku. Pengganti Cathrine, wanita tidak tahu terima kasih itu. Dia pantas aku buang... " Jessy menutupi fakta di hadapan Adam.
Tapi Adam Abdul mengetahui fakta yang sebenarnya. Ia pun tahu jika Cathrine kini menjadi wanita Jimmy.
"Lalu.. Kabar teman yang kamu jadikan Assistant bagaimana? Apa dia sudah bekerja?" Tanya Adam.
"Oh.. Aku tidam peduli. Ia aku dengar jadi pelayan sama tukang cuci piring di warung. Memalukan... Lebih baik menjadi assistant ku daripada pelayan warung kecil.. " Jessy menyombongkan diri.
"Bisa tinggalkan kami? ada hal yang penting yang kami harus bahas." Adam berkata ke assistant Jessy.
Ia pun paham dan menganggukan kepala. Ia meninggalkan Jessy dan Adam berdua.
ia menutup pintu dan berjalan ke arah team lain.
Adam memilih duduk di kursi yang ada di hadapan Jessy. Ia tersenyum melihat Jessy.
"Kamu banyak berubah Jess.. Atau memang kamu seperti itu.?" Adam membuka suara.
"Aku? Aku selalu seperti ini, bersinar dan cantik... " Jawab Jessy.
"Bukan. Tapi sombong dan angkuh."
Jessy melotot melihat Adam.
"Aku masih ingat bagaimana kamu pertama kali datang. Saat kamu memaksaku mengajari soal akting dan dunia entertain. Rupa nya aku salah..."
"Sudah jangan buang waktu! Mau apa kamu kesini?" Jessy berkata dengan ketus.
"Aku juga mengerti. Kamu kan pacar dari salah satu aktor yang berpengaruh di industri ini. Pantas jalan yang kamu lewat mudah.... " Adam berkata.
"Sudah diam! Apa mau kamu... " Jessy kesal mendengar Adam yang berbicara.
"Aku? Aku cuman mau menyapa temanku. Tapi aku rasa dia tidak disini... " Jawab Adam.
"Siapa? Cathrine! Udah mati dia... "
"Kenapa kamu selalu membenci dia? Kalo aku tidak salah, kamu tidak pernah sekali pun menjawab dengan baik soal wanita itu... " Adam mencoba memancing.
"Aku? Buat apa? Dia bukan tandinganku. Aku itu bintang yang bersi ar sendiri. Bukan meteor yang hanya mengganggu tata surya yang indah... " Jawab Jessy sombong.
"Jangan begitu bangga Jes... Kamu engga tahu, kenapa Jimmy lebih melihat dia daripada kamu..."
Adam melihat apa yang Jessy lakukan. Ia pun tersenyum simpul.
"Hm... Mari kita ganti topik saja. Aku kesini cuman mencari talent. Ada acara baru yang aku akan ..... "
"Kamu masih aja jadi assistant sutradara. Mencari talent kesana sini. Kapan kamu naik? Kamu itu harusnya deket sama pacarku. Biar apa? Biar kamu itu bisa dapet job lain.....
Engga ngurusin talent terus.... " Ucap Jessy dengan tinggi.
"Iya aku memang ngurusin talent dari dulu. Itulah kenapa acara yang mau aku mulai join ini... Aku ngga mau sampe ada yang kurang... " Adam menutupi bahwa ia bukan assistant sutradara lagi.
Jimmy mengangkat nya langsung menjadi direktor acara baru. Melompat jauh dari posisi sebelum nya.
"Oh begitu... Acaranya apa? Kalau soal gosip dan sinedrama aku bisa pikirin...
Eh sebelumnya, kamu harus paham. Harganya aku sudah jauh puluhan kali dari pada jaman dulu...
Tapi ya namanya temen, ehm... Aku bantu bisa lah... "
Adam melihat Jessy tak berubah sama sekali. Ia terbiasa dengan sanjungan, dan dia juga lupa. Ini bomerang buat diri nya sendiri.
"Oh iya kamu benar, aku lupa menghitung budgetku. Dan juga ini acara semi talkshow kok. Aku rasa kamu engga berminat kan?"
Jessy diam, ia berfikir singkat. Asalkan ini di bawah management Jimmy. Bisa jadi salah satu peluang buat dia mendekati Jimmy.
"Ini grup mana yang bikin?" Jessy bertanya.
"J&J corp. Baru kok dan ini juga pecahan NGrup. Yang pacarmu dan Jimmy pernah kelola bersama.. " Adam sedikit memberi hawa panas ke Jessy.
" Jimmy? Apa ini punya Jimmy?" Jessy mengeryitkan dahi.
"Iya, dia salah satu pemiliknya. Kamu kalau berminat, bisa datang lusa ke Cafe di daerah selatan. Tempat kita dulu pernah makan... " Jawab Adam.
"Baik, jam berapa itu?" Jessy antusias mendengarnya.
"Pukul 2 siang sampai selesai. Datang saja, ohiya, jangan lupa. Bawa berkasmu ya... " Adam tersenyum.
"Kenapa perlu membawa berkas? Aku kenal denganmu dan Jimmy. Buat apa?"
"Mohon maaf 'artis besar' kita mewajibkan dan tertib dalam soal pemberkasan. Jadi, harap ikuti aturan kami ya.....
Kalau begitu sampai jumpa ya...
Maaf menganggu waktumu.. "
Adam berdiri dan berjalan menjauhi Jessy. Ia kemudian berhenti di depan pintu keluar.
__ADS_1
"Aku lupa bilang... Tolong perlakukan assistant mu dengan baik. Siapa pun dia, kamu harus menghormatinya juga... "
Jessy hanya diam dan menatap tajam Adam. Ia benci mengkoreksi dirinya, apa lagi atas hal yang ia anggap sepele.
Adam duduk di atas motornya, ia parkir menjauhi Jessy. Ia mengamati bagaimana kemajuan Jessy. Atau hanya karena Budiawan ia bisa terkenal.
Adam sebenarnya masih mencintai Jessy. Tapi ia memilih membiarkan Jessy meraih apa yang ia kejar.
Apapun asal Jessy bahagia.
Adam sadar siapa dirinya, dari keluarga apa dan bagaimana kendaraannya. Jika tetap bersama Jessy pasti juga akan meninggalkan.
Lebih baik Adam mencintai dan mengawasi dari jauh. Melihat Jessy dan mendoakannya saja sudah membuat hidup Adam bahagia.
Ia tersenyum melihat Jessy dari jauh. Adam pun ingat bagaimana Jessy bertemu dengannya.
Wajah lugu dan kulit yang tidak secerah saat ini. Namun itu bagian paling indah dalam hidup Adam.
Bertemu wanita yang ia cintai dan kini mencintainya dari jauh.
*******
Aku duduk di kursi pantry apartemen Jimmy. Lalu Jimmy datang membawa bungkusan khusus burger.
Ia menaruh dan membuka kabel pengikat nya. Saat Jimmy membuka plastik, semerbak wangi daging dan roti tercium.
Jimmy mengeluarkan isi plastik tersebut. Ada burger, kentang dan float!
"Kenapa kamu beli float? " Tanya Cathrine.
"Aku pengen, aku pikir kamu juga mau... "
Cathrine mengigit bibir bagian bawah mulut nya. Ia begitu ingin makan float tetapi bagaimana jika ia bertambah gemuk.
"Bisa kah kamu tidak mengigit itu.. " Jimmy menunjuk bibir cathrine.
"Aih maaf... Aku refleks melakukannya... "
"Jika kamu lakukan lagi, aku mungkin bisa ikut memakannya.... " Jimmy berkata sambil menusuk sedotan ke arah float mereka.
"Terima kasih... " Aku menjawab Jimmy saat ia memberiku float dan makanan kami.
"Kamu engga penasaran? Kenapa aku pengen makan bibirmu?" Jimmy menggodaku.
"Tidak... Aku rasa kamu bukan kanibal... " Aku menjawab santai makan kentang goreng.
Jimmy menarik kentang yang tersisa di mulutku. Lalu ia memakannya.
"Bagiku, biasa melihat wanita lain melakukan itu di hadapanku. Tapi entah setiap kamu melakukannya, seakan - akan kamu membangkitkan gaira* ku yang aku tak pernah rasakan... " Ucap Jimmy dengan tatapan sayu.
Aku malah mengambil kentang dan memakan lagi. Memang keadaannya aku lapar, dan aku tak bisa berfikir jika lapar.
"Hei... Kamu paham kan yang aku bilang..?" Jimmy mulai kesal.
"Tidak... Aku engga paham maksud kamu... Aku juga lapar, aku tidak bisa berfikir... " Wajahku memelas.
"Astaga.... Bagaimana bisa aku tertarik dengan wanita ini... " Jimmy menggerutu sambil menggaruk kepala.
"Apa? Kamu bilang apa tadi?" Aku tidak fokus dengan apa yang jimmy katakan.
"Tidakk! Begini, kamu jangan sembarangan mengigit bibir kalo sama aku. Kalau aku kehilangan kendali, aku bisa memintamu melayaniku saat itu juga... Intinya itu. Okei... Kamu paham kan?" Jimmy menjelaskan inti masalah.
"Ah.... Iya, tapi bagaimana bisa? Seperti ini?" Aku malah mengigit bibir lagi.
Jimmy kesal ia meminum float dan menahan di mulutnya. Lalu Jimmy menarik kepalaku.
Ia mengarah ke bibirku, ia mendekatkan. Aku langsung menutup mataku, entah sejak bersamanya aku selalu menutup kedua mataku saat bibir kami bertemu.
Ia memindahkan float dari mulut nya. Sensasi dingin dan nafas nya menghembus dengan lembut. Ia membiarkan beberapa saat dalam posisi ini.
"Paham ya.... Jangan membangunkan aku di sembarang tempat.." Ucap Jimmy.
Aku mengangguk dan wajahku menjadi merah. Jimmy memeluk dan membelai rambutku.
"tapi tolong, aku terkadang masih malu dengan dirimu. jangan menggodaku dengan kalimat yang sulit aku pahami.... " aku menjawab Jimmy.
"malu? tak perlu, kita sudah bersama, tidur pun kita sudah biasa. hanya memang kita belum tinggal bersama. aku juga tidak akan memaksamu Cathrine..... " suara Jimmy halus berbisik.
Rasanya nyaman dan tubuh Jimmy hangat. Aku jadi merasa kecanduan dengan dekapan hangat Jimmy.
tak ingin aku berbagi atau meninggalkan Jimmy. apa aku salah? berharap dalam pelukannya selamanya....
'Tidak tahu malu' aku mengutuk diriku.
Beraninya mengharap pelukan Jimmy selamanya. Ini hanya berlaku sampai batas waktu tertentu!
aku melepaskan dekapan Jimmy. dan ia pun memandangku dengan wajah sendu nya.
"mari kita makan lagi, aku lapar.." aku berkata. lalu aku mengambil burgerku, aku membuka dan mulai memakannya.
"baiklah, jangan sampai perut kamu bunyi lagi. aku malu jika itu terjadi di hadapan banyak orang..." Jimmy berkata sambil meraih tangan kananku.
kami pun berpandangan seperti sepasang kekasih. ya... hanya sesaat.... lalu tangan kami terlepas.
kami melanjutkan makan malam yang sempat terhenti. aku sesekali mencuri pandang ke arah Jimmy.
__ADS_1
aku juga menangkap nya memandangku. kami pun tersenyum bersama. hal yang pertama kali aku alami dalam hidupku.