
Krek... Klek... (Suara pintu terbuka).
Aku langsung berdiri dan menuju pintu. Rupanya Jimmy yang datang.
Rasanya aku senang melihatnya datang.
"Menungguku?" Tanya Jimmy.
"Tidak.... " Lalu aku berbalik dan duduk lagi di sofa.
Aku mengganti channel tv yang ada. Sesekali aku mengamati, apa yang Jimmy lakukan. aku tidak mau Jimmy mengetahui aku memperhatikan ia.
Ia menuju kamar mandi, tak lama ia keluar lagi. Aku masih mengamati Jimmy, tapi aku tak ingin ia besar kepala.
aku pura - pura menonton tv. Tapi jimmy sepertinya mengetahui ada sepasang mata mengamatinya.
Ia lalu duduk disebelahku, lalu ia merangkul pundakku.
"Sudah.. Aku sudah disini, jangan mengamatiku dari jauh. Aku bisa membuatmu kelelahan seperti semalam... " Jimmy menggodaku.
"Apaan sih! Dasar mes*m!" Aku tidak mengakui bahwa aku menunggunya dari tadi.
"Jangan sok jual mahal... Aku tahu kok, kamu pasti kangen sama aku... " Jimmy memandangku dengan tatapan nakal.
"Jimmy... Sudahlah, kenapa kamu pulang lebih cepat? Bukannya kamu mau ikut nemenin Casting?! disana ada artis cantik dan seksi lho..." Nada bicara ku berubah menjadi tidak enak.
"Kamu cemburu? kenapa tidak jujur aja? kalo emang kamu engga mau aku kesana, ya aku tidak akan pergi...." Jimmy menjawabku.
"Tidak... Emang kenapa kalau aku cemburu? biasa aja kok..." Aku tanya balik ke Jimmy.
"Hmm... Kamu tidak bisa cemburu.. Karena kita... "
"Kita mempunyai hubungan saling membutuhkan. Bukan hubungan cinta, kamu selalu mengatakannya. Jadi sudah pergilah saja, aku tidak menahan...
Kalau kamu tanya aku cemburu? Tidak.. jadi Aku melakukan apa yang kamu bilang..pergilah saja sana, aku tidak apa - apa..." Aku menjawab .
".......... " Jimmy diam, namun tangannya mengepal.
Aku bisa merasakannya dari balik pundakku.
"Seharusnya, kamu juga bisa berlaku sama denganku. Apa itu dengan Yofie, atau pria lain... Adit misalnya.... " Aku mempertegas.
Jimmy kesal, ia menarik badanku agar lebih dekat lagi dengannya. Ia terlihat menahan emosi, aku bisa merasakan dari hembusan nafasnya.
"Cathrine.... Kamu cuman milikku... semakin kamu tidak mengakui kamu cemburu. Semakin aku yakin kamu cemburu kepadaku...sudahlah, jujur lah dengan hatimu sendiri...." Ucap Jimmy, lalu ia mencium bibirku.
Aku bagai tersihir, aku diam dan tersipu malu saat ia melepaskan bibirku.
benar yang ia katakan, ada rasa marah dan tak ingin Jimmy menemui Jessy. tapi, aku terlalu malu mengakuinya.
"Maaf..... " Ucap Jimmy. lalu ia membelai rambutku, sentuhannya halus dan membuatku merasa ketagihan.
"maaf ....Buat? " Aku berkata sambil memandang ke arah lain.
"Aku tidak mau berbagi dengan orang lain. Aku juga akan melakukan hal yang sama..... Aku tidak akan pergi. Aku disini bersama kamu ..... "lalu Jimmy memelukku.
Aku tersenyum mendengarnya, rasanya senang dalam hatiku. Aku merasa ia tak akan menemui Jessy dan memilih bersamaku saja.
"Bagaimana jika kita pergi ke toko ponsel dan membeli beberapa baju tidur untukmu?" Jimmy berdiri dan menarik tanganku.
"Baju tidur? Aku punya banyak setelan kaos yang longgar...biasa aku gunakan untuk tidur..." Aku memandang Jimmy.
"Iya, tapi aku ingin kamu memakai baju tidur terusan model satin. Tak perlu tipis atau menerawang, yang pasti aku merasa kamu akan lebih cantik dengan gaun tidur model seperti itu... "
"Baik Jimmy, aku ganti pakaian dulu... Tunggu ya ... " aku meninggalkan Jimmy.
Aku bergegas mencari celana panjang dan baju model tanktop berwarna peach. Aku menutupi lengan ku yang agak berisi dengan cardigan hitam.
Jimmy menangguk dan memberi tanda jempol saat aku siap. Ia senang dengan pakaian yang aku gunakan.
Jelas semua ini dia yang membeli.
Kami pun berjalan keluar dari apartement. Kini aku membiasakan diri berjalan di samping Jimmy.
Ia pun menggandeng tanganku, apa ini pacaran?
Aku bahkan tak pernah melakukannya saat bersama Michael.
*******
Kami pergi ke pusat perbelanjaan di dekat apartemen Jimmy. Ia membeli sebuah ponsel pintar kepadaku.
"Hp ini kamu gunakan buat komunikasi sama aku. Jaringan nya sudah aku setting dengan provider terbagus. Ini juga ada aplikasi chatting khusus. Kamu bisa memakainya untuk mengirim pesan ke aku.
Tidak mengurangi pulsa kamu, tapi dengan jaringan interner. Tiap bulan tagihannya akan ikut bersamaku...."
"Jimmy, ini engga berlebihan? Ponsel ini mahal, kalau aku bawa ketika pulang besok. Orang tuaku akan bertanya pasti. Aku tidak bisa menerima nya...." Aku meletakan lagi ponsel tersebut.
Ponsel dengan keybord qwerty, serta di lengkapi touch screen. Ponsel terbaru di kelasnya yang di luncurkan pada hari itu.
Aku sebenarnya mengangumi ponsel itu. Secara desain modern dan warna hitam dengan list emas.
Aku memandang nya dan bertanya, pantas aku pakai ini?
__ADS_1
"Terimalah saja Cahtrine... Aku ingin mudah menghubungi dirimu. Dan aku ingin kamu tidak merasa minder saat aku ajak bertemu teman2ku.... " Ucap Jimmy sambil mengambil ponsel tersebut dan memasukkan ke dalam paper bag warna putih.
"Minder? Pasti Jim, aku malah berfikir tak perlu mengenal banyak temanmu... " Aku menjawab.
"Ooo... Tidak bisa... Selama kamu bersama aku, artinya kamu ikut aku kemana pun acaraku... Dan kamu perlu memantaskan diri juga.... " Jimmy lalu mengandengku.
Kami pun keluar dari toko ponsel tersebut. Kami berjalan melihat toko lain, aku disini tapi pikiranku di tempat lain.
Bagaimana aku bersama Jimmy. Menjawab ajakan hidup bersama saja belum bisa aku lakukan.
"Jimmy!!! " Seseorang dengan suara pria memanggil.
Aku refleks menoleh bersama Jimmy. Rupa nya ia pria yang aku temui di lounge. Jika aku tidak salah namanya Louise.
Wajahnya seperti orang barat. Tinggi, berkulit pucat, hidung mancung dan rambut ikal pendek.
Ia bersama perempuan di sampingnya. Aku bertanya apakah itu pacar atau teman hidup dari pria ini.
"Lou..... Hallo... Tumben kamu disini...yanna.... Darimana kalian?" Jimmy menyapa.
"Kami dari rumah, pas mau jalan. Kebetulan ada kalian.. Berjodoh kita bertemu lagi ya.." Yana menjawab sambil melihat ke arahku.
"Hei Cahtrine.. Masih ingat kami?" Louise malah menyapa diriku.
"Ingat.. Kita pernah bertemu di lounge tempo hari... " Aku menjawab sambil tersenyum.
"Iya, kalian mau makan bersama? Sudah jam makan siang... " Louise melihat ke jam di tangannya.
Jimmy tak melepas tanganku. Ia justru makin eras menggandeng tanganku.
Jujur rasanya aku percaya diri. Aku merasa keberadaan diriku di akui oleh Jimmy.
"Boleh.. Aku setuju.. Bagaimana sayang?" Jimmy melihatku.
Aku kaget mendengar ia memanggil sayang. Aku tak menjawab malah memandang Jimmy.
"Sepertinya, kalian baru jadian ya.? Cathrine masih malu gitu. Ayolah, santai lah sedikit Non.. Dia pria baik kok, kami juga tidak memaksa kalian ikut makan... " Ucap Yana.
"Bukan begitu, aku mau aja join. Kita makan sushi? Aku belum pernah mencobanya selama aku di jakarta... " Aku menjawab.
"Hufff... Oke.. Aku akan memesan bento saja. Lets go.. Go... Go.. " Jawab Louise.
Kami berjalan menyusul di belakang mereka. Aku sesekali melihat Jimmy dan tersenyum.
Begitu pula sebaliknya, ia tak pernah melepaskan aku dari pandangannya.
Kami berhenti di kedai Tei. Kedai yang menyediakan sushi, ada meja putar yang berjalan. Di area tempat duduk.
Kami memilih di salah satu spot yang tidak terlalu ramai. Aku duduk berhadapan dengan Yana.
"Kenapa lihatin aku sampe gitu?" Yana bertanya kepadaku.
"Tidak... aku cuman suka melihat kedua mata kakak. Sorotnya tajam dan tegas .. " Aku berusaha menjawab sebisaku.
"Jangan takut, wajahku memang galak, tapi kamu akan melihat aku dari sisi lain kok... " Yana tersenyum.
Aku rasa, aku harus berhenti menilai orang dari penampilan saja.
"Baiklah, ayo kita makan saja, pesan yang kalian mau.. Kita pokoknya harus kenyang... " Ucap Jimmy.
*******
Jessy mulai gelisah, ia melihat jam di tangan nya. Ini sudah pukul 2 siang, sebentar lagi acara Casting akan segera mulai.
Ia masih terjebak dalam apartemen Budiawan. Bagaimana cara Jessy untuk kabur dari sana..
Jessy takut, jika Budiawan tahu kemana ia pergi pasti akan ada perang.
"Sayang, kamu kenapa sih kok kaya orang binggung.... " Budiawan mendekati Jessy.
Ia memeluk Jessy dari belakang. Ia pun mencium pundak Jessy.
"Tidak sayang, aku cuman binggung. Aku mau jujur, tapi aku ga pengen kamu marah.." Jessy menjawab sambil bersandar ke dada pria paruh baya tersebut.
"Hmm... Kamu cukup bilang saja, biar aku yang menilainya nanti.... " Ucap Budiawan.
"Ehm.... Tapi janji jangan marah sama aku.... " Jessy menunjukan jari kelingkingnya.
Budiawan pun berjanji dengan mengaitkan jari kelingking mereka.
"Jadi, kemarin aku di tawarin assistant sutradaraku yang lama. Buat Casting acar baru di J&J. Acara talkshow katanya... " Jessy bercerita.
"Kamu di tawari tapi suruh casting?"
"Iyaa... " Jawab Jessy.
"Bodohnya dirimu.... Kalau ditawarin buat apa Casting lagi? Konyol.. Eh tunggu dulu.... Engga ada salahnya kamu berangkat..
Jika kamu terpilih dan bisa masuk kesana, kamu bisa cari informasi... Ya.. Benar... " Budiawan merencanakan sesuatu.
"Hayo... Kamu pasti kasih tugas berat ke aku... " Jawab Jessy sambil memajukan bibirnya.
"Haduh... Jangan merajuk sayang.. Aku cuman penasaran sama cara Jimmy menjalankan bisnisnya kini.."
__ADS_1
Lebih dari itu, Budiawan merencanakan sesuatu yang jahat. Bisa di lihat dari bagaimana ia sudah berfikir merebut saham penuh milik Jimmy.
Langsung hal tersebut terlintas dalam pikirannya.
"jadi? apa aku boleh?" Jessy mencoba merayu.
"sure... aku akan mengantar dan menunggu..." jawab Budiawan.
dalam hati Jessy ia kesal. kenapa pria tua ini harus ikut campur. tujuan awal ia datang tak lain, ingin menggoda Jimmy.
"Baiklah sayang, aku akan bersiap dulu. Tunggu ya... " Jessy meninggalkan pria tersebut.
Ia berganti pakaian dan menata ulang make up di wajahnya. Bahkan ia menggunakan softlens untuk menambah cantik kedua matanya.
"kenapa dandan dengan total? kamu bilang ini hanya casting... atau kamu mau menggoda sutradara seperti dulu... " ucap Budiawan.
Jessy melotot mendengarnya, sebenarnya Jessy selalu di rendahkan oleh kekasihnya. apalagi memang Jessy menggoda sutradara agar ia cepat mendapat pekerjaan.
"kan aku cuman berdandan seperti biasa. biar kamu tidak malu bersama denganku.... " jawab Jessy.
**********
"Jadi apa kalian sudah tinggal bersama?" Louise membuka pembicaraan.
"Belum, nona manis di sampingku belum memutuskan. Aku tidak mau memaksa dia juga... " Jimmy menjawab.
Louise mengambil tempura udang di hadapanku. Ia memberikan ke Yana, dia juga mengambil untuk dirinya sendiri.
"Apa kalian tinggal bersama? Dan apa kalian sepasang kekasih?" aku bertanya.
Mereka berdua saling berpandangan dan melempar senyum. kedua nya memang cocok jika dilihat.
"Kami tinggal bersama. Tapi, kami tidak mau terikat pernikahan sampai kami benar siap. Banyak hal yang harus kami persiapkan... " Jawab Louise.
"Aku pernah di posisi kamu. Menjadi wanita dengan tuntutan soal status dan pernikahan. Ujungnya juga soal materi kan? Tapi, semakin kita kenal dan bersama... Kita akan hati - hati dalam memutuskan menikah...
Bisa di bilang daripada pernikahan terus perceraian dalam hitungan bulan? karena apa? setiap pernikahan pasti perempuan yang akan rugi...
jadi sebelum kita siap, baiknya ya begini saja..." Jawab Yana.
"Hehe... Sebegitu kompleksnya ya? aku belum berfikir sampa kesitu. Pacaran saja aku belum pernah...." Aku menjawab.
"Jelas... Apalagi kamu bersama mereka yang bukan orang biasa. Tuntutan mereka juga besar ke kami, para wanita... Pendidikan, pekerjaan dan life style juga...
jangan sampai kita bikin mereka malu.." Jawab Yana.
Aku merasa jauh dari mereka. Jauh di bawah mereka, aku orang biasa yang tidak tinggi pendidikannya.
Malu? memang aku suka merasa rendah jika bersama Jimmy.
Jimmy sepertinya mengetahui aku merasa tidak nyaman. Ia lalu memegang tanganku. Aku pun memandangnya.
"Sudah, aku tidak memaksa dia untuk bersama denganku sekarang... " Jimmy menyudahi pembicaraan ini.
Setelah makan kami berjalan - jalan. Aku lebih memilih agak diam. Aku merasa moodku langsung menjadi buruk..
Sebenarnya yang di katakan Yana memang benar. Aku pernah mendengar pepatah, kita itu adalah cermin jodoh kita nanti.
Kalau aku mau mendapat pria baik dan mapan. Ya aku harus mapan juga.
kami pun berpisah, aku bersama Jimmy memilih pulang ke apartemen.
di dalam mobil aku masih merasa sedih, seperti sesuatu menyakiti hatiku amat dalam.
"kamu masih marah?" tanya Jimmy.
"Aku engga tahu Jimmy... Aku merasa sedih dan merasa sesuatu menyakiti hatiku... Padahal apa yang di katakan benar.... "
"Cathrine, kamu engga perlu berfikir seperti itu.... " Jawab Jimmy.
"Gw rendah ya Jimmy... Jadi emang kita ga bisa bareng ya.... " Aku menahan air mataku. Suaraku pun menjadi parau.
"Ya memang, maka dari itu.. Aku menawarkan kuliah dan kursus lain. Bukan tanpa alasan... Aku ingin kamu lebih maju dan bisa berada di dekatku.... "
"....... " Aku bodoh, kenapa tidak pernah berfikir seperti itu.
"Tapi balik lagi, semua ada di tangan kamu. Kamu mau bagaimana ya itu keputusan kamu senditi Cathrine... " Ucap Jimmy.
kring... (ponselku berbunyi).
aku mengambil dan melihat dari Papa ternyata.
"hallo pa...?"
"kak... apa kabar? papa kangen sama kakak... kapan kakak pulang.... "
"......" aku diam, ini pertanyaan sulit.
"papa pengen masak mie panjang umur buat kakak. kakak kan bentar lagi ultah.. "
"iya pa.... mungkin minggu depan ya pa.... " jawabku.
"yasudah kak, papa istirahat ya. kamu jaga diri disana. jangan mudah percaya pada pria... "
__ADS_1
"iya pa... selamat istirahat ya pa.... kakak sayang papa... "
panggilan pun berakhir..