
Kami kembali ke hotel, sampai malam tiba papa belum sadar. Beruntung salah satu adik papa datang.
Ghea pun memilih bersama papa. Aku kini harus bersama dia, Jimmy.
"Menurutmu papa akan baik - baik aja?"
"Jelas.. Papa sudah mendapat perawatan dari dokter terbaik... Tenanglah... "
Jimmy menyusulku berbaring di atas tempat tidur.
Ting....(Suara pesan ponsel Cathrine).
Aku bangun dan mengambilnya. Jessy? Mengirim pesan kepadaku?
Jessy : lo dimana? Gw pengen hangout.
Me : gw di kampung, nemeni papa OP. Next weeks aja ya Jess...
Jessy : oh, baik. Gw jemput ya, kabarin pas udah balik...
Me : sure...
Lalu aku meletakkan ponselku di meja samping tempat tidur.
"Siapa?" Tanya Jimmy penasaran.
"Jessy... Dia ngajakin ketemu sama ngobrol... Tapi, aku bilang lagi disini... "
"Hm... Pasti ada yang ia mau... " Jimmy langsung curiga.
"Jangan gitu, aku ga boleh mikir jelek sama orang lain... Lagipula Tuhan menjagaku kok.. Pasti di jauhkan dari orang jahat.... " Jawabku polos.
"Berarti.... Aku orang baik ya.. Kan kita selalu bersama..semakin dekat.... " Jimmy mendekat ke arahku.
"Udah deh, aku lagi period... Kamu jauh sana... Hus.... Aku bad mood... "
Aku memiringkan tubuhku dan menatap ke jendela. Jimmy lalu mendekapku dan memijat lembut pinggangku.
"Apa sakit?"
"Engga Jimmy, aku mungkin banyak gerak akhir - akhir ini.. Jadi tidak terlalu sakit.. " Jawabku.
Sebenarnya sakit perutku, tapi tidak separah dulu. Aku masih ingat sampai membuatku pingsan rasa sakit itu.
"Tidur yuk... Semoga besok sudah lebih baik... " Jimmy berbisik..
".... " Aku hanya mengangguk.
**********
Jam menunjukan pukul 4 sore. Aku bersama Jimmy sudah bersiap di airport.
Aku ikut mengantarnya pergi.
Dalam hatiku ada rasa sedih, apalagi aku akan kesulitan menghubungi dirinya.
"Apa kamu sedih? Dari tadi kamu diam saja.... " Jimmy memeluk pundakku.
"Sebenarnya iya, aku tak bisa bertemu sesaat. Tapi engga papa, secepatnya kan kita bertemu... " Aku masih gengsi mengakui.
"Hmm... Baiklah, kamu masih memiliki pegangan uang? Jika ada apa - apa hubungi Pak Teddy. Setidaknya respon dia cepat... "
Aku hanya mengangguk, aku lebih ingin memandang wajahnya. Bagaimana terbayang aku bisa dekat seperti dengan pria seperti Jimmy.
Rupanya panggilan untuk penerbangan Jimmy sudah terdengar. Ini saat nya kami berpisah.
Aku melangkah bersamanya sampai ke batas pintu pemeriksaan. Berat langkah Jimmy, sesekali ia menoleh ke arahku.
Hingga ia sampai pada pemeriksaan terakhir.... Jimmy melambaikan tangannya, yang berarti kami berpisah.
Aku pun kembali ke area parkir. Supir sewaan kami sudah menunggu.
Kini aku pun melanjutkan perjalanan ke Rumah Sakit. Aku harus menjemput adikku.
********
"Jadi besok kalau tidak ada masalah bisa pulang. Saya permisi dulu .. " Dokter lalu pergi meninggalkan ruangan.
Aku melihat papa, ia tampak masi sedikit kesakitan. Ghea menemani dan membantu Papa untuk minum air putih dari sedotan.
"Pa... Sudah mendingan? Papa terhitung cepat sadar dan recovery, aku seneng lihat papa sehat... "
"Jelas.... Sua.. Maksud papa, Jimmy... Ia membawa dokter ahli jantung yang pintar. Bahkan dokter ahli di rumah sakit ini saja belum tentu bisa menolong papa.... "
Aku lalu menepuk dan sedikit memijat tangan papa. Aku tak berani keras memijat, aku khawatir akan berimbas pada operasinya.
"Sebenarnya papa sudah ga pengen hidup... Tetapi, Ghea menangis setiap malam membuat papa tidak bisa diam... Maafkan Papa... " Papa mengelus kepala Ghea dengan penuh kasih.
"Pa... Sudah ya... Papa harus sehat... Papa harus lihat Ghea sukses... Papa kan masih punya Adek sama kakak... " Ghea berkata sambil meneteskan air mata.
"Sudah Pa... Soal mama... Biar mama pergi semau dia... Kita harus bisa bertahan Pa.... Papa itu orang tua yang hebat walau tanpa mama.... "
Jujur aku menjadi makin membenci mama. Ia begitu kejam pergi dari kami tanpa pesan.
"pa... Ghea keluar dulu ya... " ghea pun meninggalkan kami.
Papa hanya mengangguk, lalu papa melihat ke arahku.
"Jadi?" Papa bertanya.
"Apa pa?" Aku menjawab dengan mengernyitkan dahi.
"Bagaimana perasaan kamu ke pria itu?"
"....... "
Aku hanya diam dan memalingkan pandangan ke arah jendela. Terlalu dini menceritakan segalanya.
__ADS_1
"Papa ga perlu jawaban sekarang. Tapi, papa percaya kepadanya... Kamu harus bisa bersikap baik, sebagaimana perempuan keturunan keluarga kita.... Kamu juga anak pertama dari keluarga ini.... Papa mengantungkan banyak harapan kepadamu... "
banyak hal aku lewati dengan keluarga kecilku ini. tapi, aku harus kembali kepada realita. kini aku bersama Jimmy tanpa ikatan.
melewati hari, bulan dan tahun bersama. yang aku takutkan lebih kepada jika nanti.. aku malah menyukai Jimmy.
pasti berat saat aku harus melepaskan dia..
**********
Perkataan papa membuatku takut. Terkadang orang berpesan berat seperti ucapan perpisahan.
Begitu kata orang - orang...
Semoga papa diberi kesehatan dan umur panjang. Setidaknya aku ingin meminta restu saat pernikahan ku nanti.
Bagaimana ia membawaku dan memasrahkan diriku pada jodohku. Berfoto bersama dengan pakaian serba putih...
saat itu aku tak begitu berharap dengan Jimmy. aku harus bersiap dengan adanya perpisahan hubungan kami. jarak yang jauh antara kami bagai jurang besar.
"Bu ngelamun.... Apa ada yang di pikirin?" Pak Teddy membuka suara.
"Ah engga Pak... Cuman masih kangen orang rumah aja.... " Aku menjawab singkat.
2 hari di kampung selalu kurang untukku. Jelas! Aku amat menikmati saat dan suasana disana.
Waktu rasanya berhenti, dunia rasanya hanya sebesar tempat itu. Hingga alarm Jimmy yang menyadarku untuk kembali ke kota.
Pak Teddy melaju dengan lancar di jalan bebas hambatan. Cuaca sedikit hujan malam itu.
"Pak... Emang Jimmy sudah kembali?"
"Sudah Bu, penerbangannya di majukan. Beliau menunggu Ibu di Apartement." Jawab Pak Teddy dengan sungkan.
"Pak.... Saya mau tanya deh...Emang wanita tipikal Jimmy itu seperti apa? Apa bapak pernah mengenal Mira?"
Pak Teddy langsung berubah serius. Kedua matanya mencoba menyembunyikan sesuatu.
"Pak....?" Tanyaku lagi.
"Saya engga berani jawab.... Saya yang jelas ikut bapak dari lama..." Pak Jimmy terbata menjawabku.
Aku menghela nafas....sepertinya misterius sekali Mira itu.
"Bu... Biar Bapak saja ya, yang bercerita siapa Mira.. Saya engga berani cerita.... Kalo soal perempuan.... Bapak tipikalnya pemilih Bu.... "
"Pemilih? Seperti apa Pak?" Aku penasaran macam apa perempuan itu.
"Mungkin seperti Ibu... " Jawab pak Teddy.
Wajahku berubah kesal, jelas ia malah menggoda. Jelas, dia sedang bersamaku makanya aku yang jadi tipikalnya.
"Beneran Bu.... Saya engga pernah lihat Bapak memandang wanita lain, seperti memandang Ibu.... " Pak Teddy berusaha membuatku jangan marah
"Baiklah Pak.... Sudah.... Saya engga marah... Oh iya, panggil saya Cathrine saja Pak.. Terlalu resmi jika memanggil Bu... "
"Okey.... " Jawabku singkat dan aku menyandarkan tubuhku di kursi.
'sepertinya ada mandaroty yang harus aku rubah disini..... ' aku berbicara dalam hati.
aku tapi ingin bertemu dengannya dulu. ada rasa dalam hatiku yang hilang beberapa hari ini..
Pak Teddy berhenti di lobby apartemen. Aku pun turun dan berucap, "terima kasih Pak Teddy.. "
Aku berjalan dengan membawa beberapa tas berisi buah tangan dari papa. Petugas keamanan menatapku dengan harap.
Aku membawa 1 tas ke arah petugas itu. "Ini pak.. Buat bapak sama temen - temen nya... "
"Wah Bu.. Terima kasih ya... " Jawab pria dengan nama Karyo di dada nya.
Lift pun terbuka, aku langsung begegas masuk. Aku menekan angka 10, hanya ada aku di dalam.
Sebenarnya lelah dan aku mengantuk. Kau harap Jimmy menyambutku dengan sumringah.
Tepat di depan pintu aku menempelkan kunci. Dan pintu terbuka. Aku masuk ke dalam.
"Jimmy....?" Aku otomatis mencarinya.
"Aku disini..... " Ia menjawab agak jauh.
Aku melangkah masuk, rupanya ia ada di meja dekat pintu beranda. Aku pun mendekatinya, aku meletakkan bawaanku di atas meja makan.
Aku memeluk nya dari belakang. Hal itu refleks aku lakukan. Badanku secara otomatis melakukannya.
"Rindu padaku?"
"Sangat.... " Jawabku dengan singkat.
Pelukanku makin erat kepadanya. Aroma parfume dan hangat nafasnya membuatku tak dapat tidur nyenyak.
"kamu udah makan?" Jimmy memegang tanganku.
"belum Jimmy, aku lebih ingin bertemu kamu... aku keracunan kamu...." jawabku.
bisa segila ini aku, aku bahkan merasa tak dapat jauh darinya. sihir? atau perasaan lain?
"mari, kita makan... aku sudah menyiapkan cream soup dan roti garlic kesukaanmu... " Jimmy melepaskan tanganku.
lalu ia berdiri di hadapanku. aku tersenyum memandangnya, aku menganggukan kepala.
Jimmy membawaku ke meja makan kami. ia lalu meletakkan mangkuk di hadapan kami. bau harum dari herb, ayam dan butter.
aku langsung mengambil sendok dan memasukkan ke dalam mulutku. astaga... enak sekali.. berbeda dengan restorant cepat saji itali yang biasa aku makan.
"apa enak? aku bikin seperti ibuku sering buat.. " Jimmy bertanya.
"sangat... aku seneng banget.. rasanya beda sama masih hangat... "
__ADS_1
"iya, jelas... Pak Teddy memberi kabar ketika ia sudah dekat. jadi aku mempersiapkan segalanya... "
ish... aku pikir ia sengaja dan memang semesta mengatur.. ternyata tidak.
"bagaimana Papa?"
"baik... semua berjalan baik.. terima kasih Jimmy.. kamu selalu menolongku... aku amat berhutang budi, papa juga menitipkan salam buat kamu... " aku tersenyum melihatnya.
Jimmy membelai pipiku, ia suka saat aku tersenyum.
"kamu lebih cantik saat tersenyum Cathrine... aku rasa aku mulai ketagihan melihat senyummu... "
wajahku langsung berubah merah... rayuan gombal..
********
aku membuka kedua mataku, rasanya tenang sekali. dimana Pria itu?
"Jimmy??" aku memanggilnya.
"as.. sial.. dia sudah pergi rupanya.. aku tidur terlalu nyenyak..."
aku mengambil ponsel dan mengetik pesan untuknya.
me : kamu dimana? aku hari ini mau ke kampus untuk mengurus administasi. bisa antar aku?
Jimmy : aku meeting pagi. gunakan bis Trans saja atau taxi. uang nya aku kirim ke rekeningmu. jangan lupa jam 2 kita bertemu di Rumah Sakit.
aku kesal mengapa ia tak mau mengantarku. dia bilang aku harus kuliah agar bisa bekerja setara dengan dia. tapi menemani saja tidak mau...
aku diam sesaat dan mencoba menenangkan diriku. aku tak boleh terbawa emosi, aku harus sabar menghadapi Jimmy.
"cathrine... gw harus sabar... lo sama cowo yang sukses nya engga instan... lo harus mandiri juga... lo bisaaa...!!! " aku memotivasi diriku sendiri.
lalu aku bangun dan mandi. aku bergegas bersiap untuk menuju kampus baru ku.
Aku menunggu di halte dekat apartement Jimmy. Jujur aku binggung dengan peta yang ada disana.
Seorang petugas menhampiriku, "bisa di bantu kak?"
"Pak, saya mau ke kampung merah. Naik yang arah mana ya?" Tanyaku sambil membaca peta.
"Oh, naik yg no 34 nanti terus halte 30 turun.. Pindah nunggu yang dateng naik aja, bilang kampus merah. Nanti uda paham kok petugasnya... "
"Oh baik pak... Terima kasih... "
Bis berwarna abu - abu datang, aku mengarah ke pintu masuk.
Untung jam ini cukup lengang. Aku bisa duduk di dekat pintu keluar. Perjalanan pun aku mulai.
Segala berjalan baik, cukup aku nikmati kesendirian ini. Banyak orang aku jumpai, mereka terkesan terburu - buru.
Aku turun di halte kampus Merah. Aku menghela nafas, aku berjalan menuju pintu keluar halte.
Aku berjalan terus hingga masuk ke pintu gerbang kampus tersebut. Aku pandang cukup jauh masuk ke arah dalam.
Aku mantab masuk ke dalam, berjalan sendiri dengan santai. Menuju gedung bertuliskan Adm.
Seorang lelaki menatapku penuh tanya. Aku tebak umurnya tak jauh dariku.
Lelaki itu mendekatiku, ia meninggalkan motor sportnya.
"Bisa di bantu?" Ucap nya dengan ramah.
"Ini sabtu kan? Apa orang administasi ada?" Tanyaku dengan cepat.
"Oh, ada tapi mungkin engga komplit.. Mau gw antar?"
Aku hanya mengangguk, lalu ia memberi tangannya di hadapanku.
"..... " Aku hanya melihat tangan nya.
"Namaku Jose.. . Salam kenal, gw juga anggota Bem disini...lo kalo ada apa - apa bilang Jose aja.."
aku rasa ini salah satu buaya yang salah habitat. kini buaya ga cuman di rawa. udah masuk ke habitat kampus.
biar aku tebak, pasti setelah ini dia minta nomer. kemudian isi kontak nya itu asrama putri. perempuan semya isinya..
begitulah aku memandang Pria, bukan lelaki muda di hadapanku. wajah yang biasa menurutku, dengan pakaian yang aku yakin itu mahal. motor mahal.. semua rasanya sponsor dari orang tua.
"Salam kenal Gw Cathrine... " Jawabku.
Lalu aku terus berjalan meninggalkan nya. Ia malah menyusulku. aku malas meladeni orang seperti itu.
bukan karena jual mahal, aku tak terbiasa percaya dengan orang yang baru aku temui.
"Tunggu... Gw anter ya.... " Ucap nya.
"Terserahh.... " Jawabku singkat.
Namun aku berjalan agak cepat. Aku ada janji dengan Jimmy setelah ini.
aku berhenti di depan ruang Administrasi. orang itu benar mengejarku hingga aku berhenti.
"oke, ayo masuk ke dalam... " ucap nya.
"thanks gw bisa sendiri. ada Hal yang menurut gw confidential dan lo ga perlu tahu. sorry.. permisi gw mau masuk... " aku meninggalkannya ke dalam.
di dalam aku melihat ada 2 orang yang bekerja. aku mendekati seorang wanita paruh baya yang ada.
"bu.. saya mau transfer kampus.. ini berkas saya... " aku memberi Map biru yang aku bawa dari dalam tasku.
"oh baik, saya cek dulu ya.. silakan duduk... "
aku duduk di hadapan Ibu tersebut. ia memeriksa semuanya dan aku harap sudah selesai semua yang aku bawa.
"baik, ini perkiraan biayanya. karena transfer ada beberapa yang kamu harus lengkapi... "
__ADS_1
aku melihat kisaran biayanya agak besar. mungkin wajar jika di kota. buatku yang dari kampung jelas ini mahal.