CARAMU MENCINTAIKU

CARAMU MENCINTAIKU
17


__ADS_3

aku masuk ke dalam kamar tidur. Ghea terlelap, wajahnya nampak lelah. aku berfikir bagaimana jika keadaannya seperti ini. Ghea pasti tertekan.


aku mengambil dompet hitamku dari dalam tas. aku membukanya, masih ada beberapa pecahan 100rb. aku menghitungnya, aku rasa cukup untuk aku pulang ke jakarta.


aku mengambil ponselku dan menekan panggilan ke Travel langgananku. lalu aku keluar dari kamar.


"hallo, Bu.. mau pesan travel untuk jumat malam.."


***********


"kamu apa sudah menemukan teman? pengganti Mira?"


"hmm.... sampai kapan pun, tak akan ada pengganti Mira. dia hanya ada 1 di hidupku."


"sebenarnya, aku hanya ingin memperkenalkan temanku Cathrine. ia wanita baik dan pintar, yang jelas dia tidak ingin banyak hal. ia hanya butuh pekerjaan. apa bisa membantunya?" Suara Anne berbicara di sambungan Telpon dengam Jimmy.


"pekerjaan? carilah saja di koran harian. banyak disana, mengapa harus datang kepadaku?!" suara jimmy menjadi tinggi.


"bukan apa, aku tak ingin wanita seperti temanku... menjadi permainan, apalagi di kota kita jarang bisa bertemu orang baik... "


"Anne..... sudahlah, berhenti mengurusi hidup teman mu. kalau dia butuh duit, aku akan hubungi dan menggunakan jasa nya saja. seperti wanita lain yang datang kepadaku untuk masalah keuangan. bye... "


panggilan pun terputus.


sepertinya Jimmy memang sangat membenci masalah pasangan hidup. sakit kehilangan Mira lebih membuatnya Gila dari apapun.


Jimmy mematikan notes pintarnya. lalu menyimpannya dalam tas. ia pergi keluar dari ruangannya.


*********


"Sudahlah Anne...Udah lah An.. Kamu engga uaah begitu. Aku rasa saudara kamu juga pasti keberatan. Aku juga engga kenal dia. Jadi biar aku berusaha ya An.." Aku berbicara di teras rumahku.


sore itu cuaca agak mendung. Memang kini sudah masuk musim penghujan. Aku dan Anne duduk menikmati sore yang sunyi.


Berbicara soal masa depan yang masih abu - abu bagi kami.


"Tapi aku sebagai temen kamu engga bisa diem. Kamu mau sampe kapan kerja di resto padang? Engga akan bikin kamu kaya dan bantu keluarga." Anne berbicara dengan suara pelan.


"Aku tahu Anne... Tapi, mau bagaimana lagi. Pendidikan ku cuman SMA. Engga banyak yang bisa aku dapet. Tapi, makasih ya Anne... Kamu emang sahabatku..."


Aku pun membuka kedua tanganku. Kami berpelukan, ya begini hubungan kami. Dekat seperti keluarga dan saling menjaga.


"Cath, aku janji akan jagain om sama tante. Juga bantu Ghea, biar dia bisa sekolah beneran. Kamu juga tahu, cuman kamu sahabat yang aku punya... "


Aku hanya mengangguk...


Aku tak mengerti apa rencanaku sepulangku dari sini.


Yang jelas hanya Yofie yang menyambutku.


Jessy, mungkin ia telah sukses sebagai artis.


Tak ada yang menungguku kembali....


Tak ada .....


******


Aku sibuk memasukkan beberapa pakaian ku. Bukan yang baru, tapi yang jarang aku pakai. Dimana warna nya seperti baru.


Baju ini bisa aku gunakan untuk aku casting. Walau aku sudah sedikit melupakan mimpiku.


Bukan jadi artis, tetapi menjadi terkenal dan sukses. Hampir semua orang mengenalku. Menjadi orang yang makan saja tak perlu aku menjual barangku.


Tetapi bukan juga menjadi wanita penghibur. Menjadi perhiasan belaka dan dicari saat pria membutuhkanku.


"Kak.... " Ghea memanggil.


Suara Ghea menyadarkan lamunanku. Aku menatapnya dan tersenyum.


"Iya dek.... " Aku mengusap pipi Ghea.


"Kakak harus ya? Secepat ini pergi? Ghea masih kangen sama kakak. Kita belum ngeMall... Belum jalan sama beliin Ghea tas sekolah baru... " Ghea memandang tas nya yang sudah memudar warnanya.


Aku pun memandang tas Ghea. Itu adalah tas yang dulu aku pakai. Memang warnanya sudah memudar, bagian bawah pun sudah menipis.


"Dek, kakak ada kerjaan ... Jadi kakak harus cepat kembali... Kakak janji bakal kirim tas buat kamu, secepatnya Dek.. Kakak janji ya.... Adek harus belajar yang benar, biar tetep dapet beasiswa... "


Ghea hanya mengigit bibir dan mengangguk. Ia pun menunduk kan kepalanya.


"Kak.... Aku belum bayar uang sekolah... Bulan depan aku ujian semester. Kalo engga bayar... Ghea ga bisa ikut ujian.... "


Aku kaget dan langsung mengambil dompetku. Aku menghitung uang sisa yang ada. Aku mengambil semua dan hanya menyisakan 1 lembar 100rb untukku.

__ADS_1


Aku memberikan kepada Ghea. Ghea menatapku dengan wajah binggung.


"Ini uang terakhir kakak, sepertinya bisa buat kamu bayar uang sekolah. Sisanya bisa kamu buat jajan. Kakak belum bisa ngasih banyak. Tapi kakak janji... Kamu bakalan kuliah dek... "


Aku meraih tangan kanan Ghea. Lalu aku memberi uang tersebut.


Ya aku memaksa ia menerimanya. Harus ia terima...!


Aku melanjutkan beberes pakaianku. Aku hanya membawa kembali ranselku.


Besok malam aku sudah meninggalkan kampung ku. Aku kembali berjuang dengan segudang drama di kota.


Aku pun berbaring di samping Ghea. Ia bisa tidur dengan nyenyak. Aku memandang wajah adikku. Sungguh anak yang baik dan pintar.


Aku harus bisa membahagiakan Ghea. Bagaimana pun, apa yang terjadi saat ini tak adil buat nya.


Aku mencoba terus memejamkan kedua mataku. Tapi seakan hati ini berat menutup mata. Bahkan menerima aku harus kembali ke kota esok hari.


Nyaman dan aman.


Iya benar, itu yang aku rasakan di rumahku sendiri. Namun, aku juga tak bisa diam. Bagaimana kami makan tanpa ada pemasukan sama sekali.


Aku mencoba terus memejamkan kedua mataku. Hingga pikiranku terbang melayang tinggi....


Jauh....


Aku melihat Jimmy di hadapanku. Ia menggunakan pakaian tidur nya. Kami berada dalam suatu ruangan yang sepi.


Ia pun mendekatiku, amat dekat hingga aku bisa mendengar hembusan nafasnya. Tapi, kami tak mungkin seperti ini.


Aku hanya mengenalnya beberapa kali. Tak banyak hal yang telah kami bagi sebagai cerita. Hanya mengenal nya sebagai penolong dan boss di saat itu. Saat aku masih menjadi artis kacangan.


Aku pun membuka kedua mataku. Sinar matahati masuk dari celah jendela kamarku. Aku merenggangkan kedua tanganku, rasanya nyaman sekali.


Rupanya aku hanya bermimpi bertemu dengan Jimmy. Si pria dingin yang juga menyenangkan.


Aku kemudian tersenyum, mengingat bagaimana ia membawaku sebagai teman nya di acara jamuan malam. Kami berlagak sebagai pasangan kekasih. Namun kami pun tak saling kenal.


Aku bangkit dan memejamkan lagi mataku sesaat. Aku berdoa dan bersyukur, aku masih bisa membuka kedua mataku. Aku masih bernafas pagi itu.


Aku pun bangun dan keluar dari kamarku. Jam dinding menunjukkan pukul 7 pagi. Ah... Aku rasa Ghea sudah pergi lebih dahulu.


Aku mencari kedua orang tuaku. Papa duduk di teras rumah sambil memandang burung warna kuning dan biru di hadapannya.


Mama..... Aku tak melihatnya. Apakah ia sudah pergi ke pasar?


"Pa.... Mama kemana?" Aku berbicara dengan papa di ambang pintu depan.


Papa menatapku sesaat, aku melihat wajahnya amat pucat. Apa yang terjadi?


"Pa... Papa sakit? Kok papa pucet banget." Aku khawatir dengan keadaan papa.


"Tidak papa kak... Papa cuman sedikit lapar.. "


"Apa? Yaudah papa tunggu sini. Kakak ke sebelah dulu. Kakak beliin papa nasi campur dulu..."


Aku bergegas mengambil alas kaki. Aku membawa uang dalam saku celanaku.


Aku berjalan setengah lari ke tetanggaku. Ia menjual beberapa sarapan pagi. Biasanya ia menjadi langgananku untuk mengisi perut.


"Bu... Saya mau beli nasi sm lauk telur dua bungkus saja.. " Aku berkata kepada Ibu Penjual tersebut.


Wanita paruh baya berkacamata tersebut melihatku dengan sinis. Ia memandangku dengan tajam. Seperti sesuatu ingin ia katakan.


"Nih, 20rb. Saya engga mau di utang. Udah 100rb nih utangnya orang tua kamu. Ga tau malu!" Ucap penjual tersebut.


Ia meletakkan nasi tersebut dengan membanting di hadapanku. Aku merasa malu, ada beberapa orang yang juga makan disana.


Apa aku mengemis atau minta? Aku membelinya, aku bahkan membawa uang.


Aku mengambil uang dari saku celanaku. Beberapa lembar uang yang aku lipat. Rencananya uang sisa ini akan aku beri kepada mama.


Tapi hinaan pagi ini tidak bisa kutahan.


"Jadi total utang orang tua saya berapa?!" Aku balik berbicara ketus kepada penjaga warung.


Ia membuka buku tulis berisi angka dan nama. Aku rasa itu adalah buku hutang yang ia catat.


"Nih semuanya sama yang kamu beli 115rb. Mau bayar kapan?!!" Penjual tersebut melotot kepadaku.


Aku mengambil uang 120rb, lalu aku lempar ke arah meja.


"Ambil aja tu kembalian. Lunas hutang orang tua saya.!"

__ADS_1


Aku meninggalkan warung tersebut. Sungguh kesal dan marah dalam hatiku. Orang yang pernah di bantu ayahku saat ia tak memiliki apapun.


Bisa - bisanya membuatku malu hanya karena nasi bungkus ini.


Aku meremas plastik nasiku. Aku mengepal dan menahan amarahku. Aku bergegas pulang ke rumah.


Aku lihat mama sudah datang. tapi kenapa wajah mama terlihat sedih?


"Ma... Darimana?" Aku bertanya kepada mama..


"Engga papa kak.... Kamu sudah makan? Mama belum masak apapun.. " Mama menatapku.


Aku melihat mama menahan air matanya.


"Mama kenapa? Aku pikir mama ke pasar... "


Mama hanya menggelengkan kepalanya. Aku merasa ada yang tidak beres. Tetapi mereka selalu menutupi semuanya.


"Ini aku beli nasi buat mama sama papa. Dimakan sama minum obat ya. Mama - papa harus sehat, aku mau mandi dulu.. "


Aku masuk ke dalam rumah. Aku mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi.


Aku baru ingat aku pergi tanpa menggosok gigi. Pantas saja rasanya ada yang kurang.


Aku membersihkan badanku dan mengguyur kepalaku. Sungguh air mengalir ini bisa memberikan


Ketenangan dalam pikiranku.


Kepalaku rasanya pusing sekali. Sungguh aku harus bisa membawa keluargaku pergi. sepertinya warga sekitarku tak menyukai keluargaku.


Apa salahnya dengan kebangkrutan? Apa ini menjadi alasan mereka memperlakukan orang tuaku seperti pengemis?


Aku masih bisa menahan air mataku. Aku tak sudi menangisi keadaanku.


Aku bergegas mengeringkan badanku. Aku pun memakai kimono handuk dan keluar dari kamar mandi.


"Mama?" Aku kaget saat melihat mama di depan pintu kamar mandi.


"Kak... Mama mau ngomong.... "


Aku sepertinya akan mengetahui sedikit yang mereka tutupi. Maka kami pun masuk ke dalam kamarku. Aku menutup pintu rapat dan perlahan. Jangan sampai papa tahu apa yang akan di bicarakan mama.


Mama duduk di pinggir tempat tidur. Aku duduk berhadapan dengan mama.


"Kalau mama cerita, pasti papa tidak akan suka dan pasti akan marah kak.. Tapi mama tidak bisa menyimpan sendiri .."


Aku hanya menatap mama dan tersenyum.


"Kak... Sebenarnya mama sudah kehabisan barang di pasar. Uang pun sudah mama gunakan untuk berobat papa dan menyicil bunga hutang di om kamu. Tapi modal mama pun habis. Mama tadi mencoba mencari pinjaman di bank.....


Tapi mama sudah tidak bisa lagi. Hutang modal usaha dari bank pun belum mama lunasi...


Apalagi obat papa kamu semua mahal... Mama.... Maafkan mama dan papa. ... " Mama mulai menangis..


"Sudah ma... Sudah.. Mama jangan nangis... " Aku pindah duduk di samping mama. Aku memeluk mama dan menepuk pundak nya, aku harap sedikit bisa membuatnya tenang.


"Mama sudah terlalu banyak berhutang kak... Mama sudah engga bisa bawain kamu bekal uang buat balik ke kota... Maaf kak.... Maafkan mamaa..."


"Sudah ma... Sudah..... Mama tenang aja, aku masih bisa kok pulang ke kota. Masih ada sedikit uang sisa.. Aku... Aku tidak bisa banyak membantu mama.. Tapi aku minta restu dan doa mama.... Walau aku dari kecil juga engga pernah di asuh mama langsung... Tapi, aku sayang sama mama, papa dan Ghea.... "


"Maafkan mama nak... Mama bukan ibu yang baik buat kamu... Mama cuman mikirin buat menuhin kebutuhan uang kalian... Mama... Mama merasa gagal... " Mama memelukku sambil menangis sesengukan.


"Sudah ma.. Sudah.... Aku sayang mama kok... sudah tidak ada yang terlambat ma.... Semua tidak terlambat ma... "


"mama gagal membuat kita tidak dalam kondisi begini. mama gagal bantu jaga bisnis papaa.... mama juga terlalu sibuk mencari uang kak... mama baru sadar sekarang, bagaimana waktu mama terbuang demi memburu uang yang akhirnya akan habis begini kak.... "


"sudah ma... kita harus fokus ke depan ma.. berlalu ya udah jadi masalalu. sekarang gimana cara papa harus sehat, mama juga sehat dan bagaimana masa depan Ghea.... aku belum bisa menjadi tulang punggung sepenuhnya ma... tapi, bantulah aku..


doakan lah aku agar aku bisa mencari rejeki halal untuk kita. aku percaya restu dan doa mama, pasti Tuhan mendengar ma.... "


"iya kak... mama akan selalu mendoakan kamu. mama sayang sama kamu... mama juga sayang Ghea... mama harus kuat .. ." jawab mama dengan air mata yang mulai kering.


"nah gitu ma... kalo mama kuat, aku yakin.. papa bakalan sehat.. Ghea juga bakalan fokus belajarnya. dan tenang ma... anak mama tidak akan terjerumus dalam pergaulan ma... aku bisa jaga diri ma.... " aku menjawab mama dan memeluknya.


kepala mama bersandar kepadaku. aku membiarkan hal tersebut, aku hanya percaya.. ini bisa sedikit membuat mama tenang.


bagaimana pun aku saat kecil diperlakukan olehnya. tanpa dirinya bertaruh nyawa, aku tak mungkin ada....


aku selalu menganggap, waktunya habis untuk masa depan kami.


meskipun, nasib dan roda kehidupan kita tak dapat menebaknya....


aku cuman mau menjadi anak yang berbakti kepada orangtuaku...

__ADS_1


__ADS_2