
"Jimmy... Sebelumnya kamu pernah tinggal bersama wanita lain? Selain aku... " Aku bertanya.
Pertanyaan bodoh kalo menurutku. Karena apa? Ini menunjukan aku mulai posesif.
"Pernah, sekitar 5 tahun lalu...." Jawab Jimmy singkat.
"Apa dia cantik? Ehm.. Maksudku, kelanjutan hubungan kalian bagaimana.... " Aku menunjukan penasaranku dengan mendekat ke arah Jimmy.
Jimmy pun melirikku, "jangan tanggung, kalo mau deket sini saja. Kita berpelukan."
Jimmy malah membentangkan kedua tangannya. Seakan bersiap aku jatuh ke pelukan dia.
"Dih.... Aku kan cuman tanya... " Reaksiku orang bilang cemberut atau monyong.
"Kamu tu lucu kalo cemberut gitu. Gemes liatnya... " Jimmy malah makin menggodaku.
"Sudah jawab ajaaa...! " Aku memunggungi Jimmy.
"Bagaimana aku bercerita? Kalau yang aku lihat pundakmu? Ahh... Aku mengerti, ini pancinganmu pasti... Kamu mau minta aku peluk kan... " Jimmy berkata dengan suara lirih.
Aku langsung membalikkan badanku, aku melotot melihat Jimmy.
Tapi...
Tangan Jimmy meraih dagu dan menarik wajahku.
Ia menciumku dengan cepat, ia melepaskan wajahku juga.
"Jangan bahas masalalu... Tapi, jika kamu mau tau, suatu saat aku akan bercerita semua...... " Ucap Jimmy dengan hangat.
"...... " Aku langsung diam, tak berkutik dengan apa yang Jimmy lakukan.
"Saat ini, hanya ada kamu di apartemenku. Wanita masalaluku, dia tidak tinggal disini. Aku bahkan tidak pernah membawa nya ke Flat pribadiku..... " Jimmy membelai pipiku.
Rasanya senang dan aku mulai tersenyum. Tangan hangatnya menyentuh wajahku. Membuat diriku makin jatuh ke hatinya.
"Kalian juga engga akan bertemu. Dia sudah ke dunia yang berbeda. Jadi, jangan takut aku meninggalkan kamu demi wanita itu.... " Ucap Jimmy.
"Kenapa kamu bisa berfikir aku takut kehilangan kamu?" Aku bertanya lirih.
Jimmy mengecup keningku, rasanya aku bahagia. Ada manusia lain yang memperlakukanku dengan baik.
"Aku bisa merasakannya Cathrine... Jangan takut dengan penilaian orang. Yang menjalani kamu sendiri... "
Kami pun berpelukan, aku menyandarkan kepalaku di dadanya. Benar kata orang, bahwa dada pria itu bidang dan besar.
Aku bisa merasakan saat ini, hangat dan ada detak jantung. Ya, aku bisa mendengar.
Ritme nya tak beraturan, sama saat aku bersama Jimmy. Tiap bersamanya jantung ku juga berirama tak beraturan.
"Cathrine, rambutmu... Mulai tumbuh yang ikal... " Ucap Jimmy.
Aku langsung melepas pelukannya. Aku mundur menjauh, lalu aku menutupi rambutku yang mulai tumbuh.
"Rupanya rambutmu ikal ya... Selama ini ada yang lurus itu, kamu meluruskan dengan alat?" Jimmy berkata sambil menunjuk rambutku.
"Sebenarnya sih..... Tidak, aku ke salon..... Tapi, karena uangku mepet dan uang yang kamu beri sudah abis... Aku belum ke salon atau membeli catok rambut baru..... " Aku menjawab dengan malu.
"Uhm... Berapa lama kamu butuh ke salon untuk meluruskan?"
"Sekitar 3/4 jam mungkin.. Karena rambut ikalku agak lama pengerjaannya... " Aku meraba rambutku yang jadi ikal.
Pangkal rambutku sudah mulai keluar. Benar hampir 7 bulan aku blm meluruskan lagi.
Terakhir saat aku akan ke kota. Aku harus memecah celenganku agar aku bisa tampil lebih rapi.
"Kalau begitu, hari senin kamu ke salon saja... " Ucap Jimmy.
"Kenapa aku harus menunggu senin? Besok kan hari minggu... Bisa kan... Eh, tapi salon mana kan disini aku engga punya langganan salon... " Aku berkata sambil minum sparkling milikku.
"Di bawah ada kan toko dan salon. Kamu bisa mencoba. Atau kamu mau ke mall.. Disana banyak salon terkenal... Aku belum pernah mencoba, tapi setiap aku lewat selalu ramai dan banyak yang menunggu antrian...
Kalau besok jangan dong. Aku kan libur, kita bisa jalan dulu...waktu itu berharga Cathrine..." Jimmy kesal.
Aku berfikir sesaat, perawatan rambut perempuan itu mahal. Kenapa ia dengan sukarela aku melakukannya.
"Aku lebih baik mencoba di bawah saja dulu. Kalau di mall mahal dan tidak ada jaminan dengan hasilnya... Baik lah senin aku akan mencoba.... "
Jimmy mengeser duduknya mendekatiku.
"Aku senin akan berangkat lebih pagi dari biasanya. Karena macet pasti keluar dari sini.. " Ucap Jimmy.
"Emang jam berapa si?"
"Jam 6 pagi mungkin, jika kamu tidak membuatku lelah di malam sebelumnya... " Jimmy menggoda.
"Hmmm..... " Aku memutar kedua bola mataku.
Kesal karena ia selalu meminta aku melayaninya. Tapi, aku juga senang karena aku bersama dia..
Dia memberi rasa nyaman untukku. Sepertinya, aku mulai memikirkan untuk pindah dan tinggal bersamanya.
"Jimmy, kamu bilang aku boleh pulang. Tepatnya kapan? Aku butuh memesan tiket kereta atau travel sebelumnya." Aku mengganti topik pembicaraan.
"Uhm, sebentar.... " Ia membuka tablet yang ada di atas meja.
Entah, hanya kalender dengan bahasa yang tak aku mengerti. Bentuknya antara bahasa cina, korea atau jepang.
Jika itu berbahasa inggris aku masih bisa melihat.
"Rabu, kamu boleh pulang rabu sampai jumat minggu depan.... " Jimmy menjawab.
"Eh, sebentar kenapa kamu ngatur kapan aku harus pulang kesini lagi." Aku menjawab kesal.
"Kamu engga butuh uang?" Nada bicara Jimmy datar.
__ADS_1
"........" Aku diam dan cemberut lagi. Benar juga, warung jika sudah buka aku bisa kerja lagi.
Aku mengambil ponselku, lalu aku melihat berapa saldo di rekeningku.
Masih ada sekitar 5 juta. Aku sedikit menghitung dengan tiket pulang pergiku.
Aku rasa cukup, untuk membeli adik dan mama papa keperluan selama disana aku rasa cukup.
"Tenanglah, tiketmu akan aku belikan. Weekend ini pun aku akan membayarmu jadi kamu punya uang untuk membeli obat papa... " Ucap Jimmy.
"Bagaimana bisa kamu membayarku ? Kamu bilang aku bukan perempuan bayaran... "
"Aku sadar kamu belum bekerja, dan aku sudah pernah janji kan. Kalau kamu datang dan menemani.. Aku akan membayarmu, meski kamu tidak melayaniku di atas tempat tidur..."
Aku memandang Jimmy dengan tatapan kosong. Aku masih tidak mengerti apa maksud dirinya.
"Aku masih engga ngerti Jim...." Aku mengelengkan kepalaku.
"Aku cuman merasa berterima kasih, kamu menemaniku. Bukan soal apa yang kamu lakukan. Tapi, lebih ke masalah rasa nyaman yang kamu beri Cathrine..... "
Aku tak menyangka kedua air mataku keluar. Dikota seperti ini, masih ada orang baik seperti Jimmy.
"Maka dari itu, jika kamu mau tinggal disini sama aku.. Kamu bisa melanjutkan sekolah dan belajar banyak hal. Ambil kursus sebanyak kamu mau.... Agar suatu saat kalau aku harus kembali ke negaraku...
Kamu sudah bisa settle dengan dirimu sendiri.... "
Jimmy lalu memeluk diriku. Ia mencium kepalaku, ia memberikan pelukan hangat untuk ku.
Aku pun hanyut dalam pelukan nya. Menikmati sentuhannya padaku, malam itu..
Kami di atas Sofa, entah aku tak bisa lagi membedakan. Apa ini dosa atau tidak.
Yang aku rasakan, bagaimana diperlakukan dengan baik oleh Jimmy. Menjadi wanita yang pada saat itu bersama dia.
Ia pun mengendongku dan membawaku pindah. Ia meletakkan tubuhku di tempat tidur.
Kami menutupi badan kami dengan selimut. Banyak pertanyaan dalam benakku. Tapi aku juga tak mau membuang atau merusak suasana malam ini.
Kringg... (Ponsel Jimmy berbunyi).
Ia bangkit dan mengambil dari meja. Ia mengangkat dan berjalan keluar.
aku amati Jimmy lebih senang berbicara di beranda. Aku rasa ini hal yang aku tak butuh untuk tahu.
Aku merebahkan badanku dan mengganti channel tv.
Memburu sepi sambil menunggu Jimmy.
Aku pun mengambil ponselku yang lama. Ada 1 pesan masuk, aku membuka.
Yofie : cathrine apa kamu di rumah. Mari makan bersama stacy tidak disini.
Me : aku tidak pulang. Aku menginap dengan Jimmy.
Yofie : bagaimana bisa? Kamu itu anak perempuan, kok nginep di rumah cowo lain. Pulang atau kakak jemput.
"Rese banget sih ni orang... " Aku mengumpat Yofie.
*********
"Gimana bang? Bisa ngulur waktu saya disini?" Jimmy berbicara dengan seseorang di sana.
"Bukan Heldy kalau engga bisa, besok saya antar ke kantor berkasnya. Kamu cuman butuh tanda tangan dan copy id dari perempuan itu. Nanti lebihnya saya urus... "
"Tapi, saya mau semua nya legal. Apalagi di mata hukum, karena jika sampai kelolosan dan kami punya anak. Aku tidak mau anakku sudah pergi ke negaraku... " Jawab Jimmy.
"Ha haha.... Anak.? Kamu jauh sekali berfikirnya. Tapi, ini baik kamu berfikir soal wanita itu juga.... Aman sudah saya jamin atas nama hukum disini. Kamu dan dia akan menikan secara negara dengan sah..."
"Baik, atur aja. Senin kita bertemu, happy weekend sobat... " Ucap Jimmy.
Ia pun memutus panggilan. Ia melihat langit dan tersenyum. Sebenarnya ia tak ingin membohongi Cathrine.
Tapi, bagaimana lagi. Ia butuh surat pernikahan agar bisa tinggal disini. Maka dari itu, Jimmy harus bisa memaksa Cathrine tinggal bersama dirinya.
Ia pun melihat Cathrine dari jendela luar. Terlihat wanita itu sedang berbalas pesan. Dengan siapa?
Jimmy pun masuk ke dalam, ia perlahan mendekati Cathrine. Lalu ia mengintip dari belakang.
Ponsel Cathrine terlihat nama Yofie.! Jimmy naik pitam, ia merebut ponsel Cathrine.
"Hape Gw!!" Cathrine refleks berteriak.
"...... " Wajah Jimmy berubah merah. Ia marah karena Yofie masih berani mendekati Cathrine.
Ia pun membaca balasan pesan mereka.
Me : kak, jangan konyol. Kakak apa kabar sama Stacy? Selamat malam, aku mau tidur..
Yofie : beda Adek.. Kamu kakak jemput aja, kasi alamatnya.. Kakak ajak kamu pulang.
Jimmy menyipitkan matanya, lalu ia melirik Cathrine.
Wanita itu tampak diam dan tak berkata apapun.
Jimmy lalu mengetik balasan ke Yofie.
Me : berani kamu datang, saya panggil polisi. Pria ini adalah suami saya.
Jimmy mengirim lalu mengembalikan ke Cathrine.
Aku pun membaca dan melotot.
"Kamu bales gini?" Aku bertanya.
"Emang salah? Pria itu punya maksud lain sama kamu. Setelah dia bisa dapetin kamu, sampai tidur sama kamu... Pasti kamu di tinggalin... " Jawab Jimmy.
__ADS_1
"Bedanya dengan kamu apa?" Aku balik bertanya.
"Jangan amnesia Cathrine... Kamu datang kepadaku, meminta pekerjaan. Apapun kamu kerjakan, kita melakukan sama mau.. Bahkan aku memberi kamu imbalan tanpa kamu minta.. Paham?"
Rasanya hatiku sakit. Tapi memang benar, aku seperti menjual diriku kepada Jimmy.
Bahkan aku tak pernah menolak saat ia melakukan hal itu.
Aku rela dan menikmati saja dengan apa yang terjadi.
"Apa? Ada yang salah dari perkataanku?" Tanya Jimmy.
"Tidak... Kamu benar, aku yang meminta. Aku yang menyerahkan diriku... "
Rasanya hatiku sakit, aku bahkan tak berharga di hadapan Yofie. Masih berani aku menerima ajakan dan pesannya.
Memalukan..
********
Aku membuka kedua mataku, bau khas butter menusuk hidungku. Membangunkan syaraf lapar di perutku.
Aku mengintip, Jimmy sedang di dapur. Ia sedang memasak sesuatu untukku?
Aku bangun dan merapikan selimut kami. Lalu aku masuk ke dalam kamar mandi.
Jimmy hanya melihatku tanpa berkata apapun.
Aku pun menutup pintu kamar mandi dan membersihkan wajahku.
Aku membersihkan tubuhku, rasanya segar dan hatiku pun rasanya sudah lebih baik.
Aku memang harus menyadari bagaimana kami.
Aku pun keluar dari kamar mandi. Menutupi tubuhku dengan kimono putih.
Aku berjalan ke arah tumpukan barang - Barangku.
Aku memilih celana pendek kain dan kaus berwarna pink semu putih. Aku merapikan diriku, saat itu gantian Jimmy yang membersihkan diri.
Setelah selesai, aku duduk di Pantry. Tempat kami biasa makan. Di hadapanku ada 2 piring dengan pancake. Serta ada teh panas di sampingnya.
Aku menemukan kertas kecil di samping piringku. Aku mengambil dan membukanya.
Maaf, perkataanku semalam pasti melukai hatimu. Mari kita benahi apa yang salah. - Jimmy -
Tak berselang lama Jimmy keluar. Ia melihatku tengah membaca surat kecilnya.
Ia pun mendekati dan duduk di sampingku. Ia dia menatapku, tatapan yang penuh tanya.
"Baiklah, mari kita makan.. " Aku melipat surat tersebut dan meletakkan di sampingku.
"Apa kamu masih marah?" Tanya Jimmy.
"Buat apa? Hidup sudah sulit, aku tidak mau menambah hal tidak penting yang harus aku pikir. Lagi pun, yang kamu bilang benar... Mari kita makan dan melupakan semalam... "
Aku mencoba melupakan dan memaafkan. Karena apa yang dikatakan benar.
Aku yang datang padanya, bukan ia yang meminta.
Aku harus menahan ego dan sifat manjaku. Aku masih butuh Jimmy, banyak hal yang aku masih harus dapatkan.
Setidaknya aku bisa kuliah jika aku bersama Jimmy. Aku harus mencari alasan kepada keluargaku.
Bagaimana pun, mereka tidak boleh tau soal Jimmy.
"Kamu mau aku pesankan pesawat? Untuk besok rabu?" Jimmy berkata.
"Aku naik kereta saja, biar nanti aku bisa naik ojek dari stasiun... " Aku menjawab sambil menikmati sarapanku.
Pancake vanila dengan maple sirup. Teh bunga krisant, wanginya manis membuat ku merasa relax.
"Baik, e ticket nya akan masuk di email ponselmu yang baru. Bawa ponsel itu, agar aku bisa mengirim pesan.. "
"Bukannya pakai pesan seperti biasa bisa. Kenapa pake aplikasi messaging di ponsel itu?" Aku penasaran apa bedanya.
"Aku akan menemui ibuku. Ia sedang berobat di Sing. Jadi aku butuh sambungan internet untuk komunikasi. Ponsel kamu yang lama belum tersambung. Jadi kumohon, bawa ponselmu yang baru.... "
"Jimm.... " Aku meletakkan garpu di pinggir piringku.
"Iya?" Jimmy memandangku.
Aku mengigit bibir, tapi aku langsung menghentikannya.
"Aku mau tanya, jika berobat ke Sing. Apa biayanya mahal? Dan apakah bisa papa di bawa kesana?"
Aku sebenarnya malu meminta Jimmy membayar semuanya. Tetapi aku begitu ingin papa untuk sembuh.
"Hmm... Aku belum tahu seberat apa penyakit papamu. Kalau mau aku konsultasikan dengan dokter keluarga kami, aku juga butuh ketemu dengan papa kamu juga. Soal persiapan dan keadaan mereka....
Namun... Apa kamu mau memperkenalkan aku? " Jimmy balik bertanya.
"Aku... Aku bisa memperkenalkan kamu sebagai boss ku.. Aku... Sebagai personal Assistant atau sekretaris gitu... " Aku menjawab dengan percaya diri.
"Buahahaha...... Yakin mereka percaya?" Jimmy malah tertawa.
"memangnya ga masuk akal?"
"jelas! bilang saja aku malaikat yang menolong.. pasti lebih ngga masuk akal. tapi baiklah, akan aku pikirkan.. sepertinya alasan sebagai pekerjaan bisa juga. walau aku yakin mereka tidak akan percaya."
"baiklah Jimmy.... terima kasih sebelumnya... "
aku berdiri dan memeluk Jimmy.
rasanya aku ingin memeluknya, senang dan rasanya lega. papa akan bisa operasi dengan dokter yang lebih baik...
__ADS_1