CARAMU MENCINTAIKU

CARAMU MENCINTAIKU
30


__ADS_3

Kami tertawa bersama, ya untuk pertama kali aku melihatnya tertawa. Jujur betapa tampan pria di sampingku.


tak kusangka, orang yang aku kenal selalu diam dan datar dalam menanggapi apapun.... bisa tertawa dengan ku.


"Jadi kamu menyesal membelinya?" Nada bicara Jimmy berubah serius.


"Tentu saja, bagiku itu bisa aku gunakan untuk berobat dan sekolah adikku.... Tapi, kenapa kamu engga muncul membantuku? Padahal tadi ada wanita gil* yang sedang merendahkanku...


Bukan nya setiap film melo drama selalu ada pria yang datang menolong? aku bukan membelaku di toko. malah datang saat aku sedang berdua bersamanya.."


"Hmmm.... " Jimmy menghela nafas.


Aku masih memandangnya tanpa berkedip. Ia bilang aku bersama nya, tapi ia tidak muncul saat aku dengan Tante Rose cekcok.


bukan Pria yang melindungi si Wanita. seperti yang ada di cerita dongeng.


"Itu adalah urusan keluarga kalian, bukan ranah aku untuk ikut. Lagipula ini dunia nyata Cath.. Please. Rasional.. Jika aku datang apa tidak membuat keadaan makin buruk?


dari awal aku sudah melihatnya. kamu pun mencoba menguping kan? apa yang tante kamu lakuin...


tapi apa kamu cukup senang? tak aku sangka kamu berani menamparnya. bukannya adat timur itu menghormati yang lebih tua?" Jawab Jimmy dengan diplomatis.


Aku kaget mendengar perkataannya. Sejujurnya benar yang di katakan. Jika ia datang, hanya akan memperkeruh suasana.


Yang lebih menyakitkan buatku, kenapa ternyata ia dibalik kehancuran papa. Aku baru tau, saat semuanya sudah lama terjadi.


persetan dengan adat apapun, aku tak bisa diam dengan apa yang sudah ia lakukan. apa salahku? anggaplah aku keponakan kurang ajar. tapi, aku melakukan untuk meluapkan rasa amarah dan demi papa.


Bagaimana ia menghancurkan segala yang papa rintis mulai dari 0. Pantas saja, papa tidak memiliki semangat lagi untuk bangkit.


keluarga sendiri yang membuatnya terpuruk sampai saat ini.


Aku bersumpah demi langit, aku tidak akan memaafkan perempuan itu. Aku harus bisa bahagia daripada dia.


bagaimanapun, aku yakin semesta tak selamanya berpihak kepadanya!


"Honey.... Are you ok?" Tanya Jimmy.


suaranya pelan dan begitu hangat.


"Hah? Apa? Kamu gimana? Aku gapapa... " Aku tersadar dari lamunanku.


"....... " Jimmy diam namun wajahnya menjadi merah.


"Kamu panggil aku hani? Aku engga fokus... Maaf... " Aku mencoba menenangkan keadaan.


"No.... I call you Cath... Salah dengar mungkin.. " Ucap Jimmy.


Aku seperti mendengar kata honey? Hani? Joney?


Akh.. Benar aku salah mendengar, pantas saja nilai listening saat aku SMA cuman C....


tapi, aku yakin ia memanggilku dengan honey. kenapa pria ini tak mau mengulangi lagi.


ah benar... aku yang terlalu percaya diri!


"ini kita mau kemana? " aku bertanya. sudah lupakan soal panggilan itu.


"makan... ini udah jam 12 kan. oh iya apa perutmu masih sakit.?"


"sudah lebih baik... nanti aku akan minum obat itu lagi... sebenarnya obat apa itu?" aku mengambil pil berwarna putih dari saku tas ku.


"sebenarnya itu hanya penahan rasa sakit. yang pagi kamu minum ada penambah darah juga.... lebih baik habis makan kita pulang ke apartemen dan istirahat... " Jimmy mempercepat laju mobil kami.


******


Kami memilih sebuah restoran asia. Disana kami duduk di bagian sayap kiri dari restaurant.


Siang itu Jimmy memesan makanan untuk kami. Sebenarnya, aku tak paham dengan nama menu disana. Makanya lebih baik Jimmy yang memilih untukku saja.


"Jadi, kamu bisa tinggal bersamaku? Selama beberapa hari mungkin.."


"Aku sebenarnya mau, karena sama kamu makan ku terjaga. Warung pun masih tutup, Uni dan Uda belum sembuh dari sakit nya..... Tapi apa aku dapat bayaran lagi? Dan harus melayani seperti kemarin?? "


Aku serius dalam hal itu. Ini awam bagiku dan aku tak pernah bersama pria dalam waktu yang sama. Apalagi tinggal bersama tanpa ikatan.


"No.... Aku tidak mewajibkan... Aku hanya butuh teman untuk ...... "


Jimmy seperti diam dan memikirkan sesuatu....


Aku memandangnya, seperti sesuatu yang berat yang iya pikir.


"Sudahlah. Aku tak memaksamu tinggal bersamaku. Tapi saat kamu butuh uang. Datang kepadaku saja,... "


"Hei!" Aku menepuk lengan Jimmy.


Jimmy kaget melihat reaksiku.


"Ada apa? Kenapa memukulku?" Jimmy kaget melihatku.


"Kezel lah.. Udah nunggu mau ngomong apa.. Gatau nya cuman gitu, nyari kamu kalo butuh duit? Terus kamu ngasih apa? Duit? Ya enak banget hidupku....

__ADS_1


tadi di mobil, sekarang di sini. kamu itu misterius dan ....ah...sudahlah...aku malah lapar." Aku berkata dengan semangat.


Meski dalam hatiku, aku sadar. Aku tetap melayaninya seperti kemarin. aku yakin, aku mulai sedikit terbawa perasaan.


"permisi... nasi Campur Bali... " ucal pelayan yang mendekati kami.


"disini... " ucap Jimmy.


lalu pelayan meletakkan makan siangku. ada nasi dengan ayam bakar berwarna merah dan coklat dingin.


aku merasa liurku ingin menetes melihat makanan di hadapanku. bau saja begitu harum, aku sudah bisa membayangkan wanginya.


"makanlah.... " Jimmy mengawali makan siang kami.


aku langsung berubah sumringah dan mengambil piring dan sendok. lalu aku mulai suapan pertamaku..


"gila enak banget, ada rasa jahe ya di nasinya. kuah bening ini juga enak... " aku menunjuk mangkok putih kecil di hadapanku.


"tentu... habiskanlah... "


**********


"mas... kapan aku di ajak makan lagi sama si Bos? aku kan pengen kenalan lebih sama Boss Jimmy.. " ucap Jessy.


"honey..... sudahlah, mas saja yang menghubungi. kamu jangan capek lah.. sudah sama mas saja.... " ucap Budiawan. Pria paruhbaya yang kini menjadi pacar nya.


"mas.... aku butuh pemasukan lagi, aku pengen jalan ke German. pengen keluar negeri, ga cuman disini saja.... katanya mau membantuku, kamu kan artis senior mas!" Jessy kesal dan melepaskan pelukan kekasihnya.


"ha hhaa... kamu merajuk hanya karena anak kemarin sore?" Budiawan berdiri dan menuju lemari dapurnya.


ia membuka lemari dapur bagian atas. lalu ia mengeluarkan sebuah kotak dan membukanya.


Jessy mengintip dari jauh, apa yang pria tua itu ambil.


Budiawan mengembalikan kembali kotak ke dalam tempatnya. ia berjalan ke arah Jessy.


"ni, uang jajan kamu. jangan manyun lah, mas ga suka.... "


Jessy mengambil kertas di hadapannya.


Sebuah cek dengan angka 10 juta. senyum langsung terlihat dari wajah Jessy.


"makasih ya sayaang.... " ucap Jessy manja.


"sama - sama... asal kamu bahagia, bilang aja. mas bisa beri semuanya, anak kemarin sore itu. bukan tandinganku.... " ucap Budiawan sesumbar.


Jessy kemudian memeluk kekasihnya itu. ia menyandarkan badannya dan berlagak manja bak anak kecil.


"mas... mas apa kenal dengan Boss Jimmy. kalo mas bilang bukan tandingan. berarti paham dong dia seperti apa?" ucap Jessy.


"dia itu kabur dari negaranya. kesini itu gelandangan, kerja di cafe jadi pelayan. tapi mendadak dia jadi boss. sehabis ketemu sama petinggi negara ini... "


"mas ga cari info? kenapa dia bisa sukses gitu aja.?" Jessy penasaran.


"cih! buat apa..? mas sudah punya banyak uang. apalagi sekarang mas punya kamu. wanita cantik dan muda. semua mas udah punya..... " Budiawan membanggakan dirinya.


"mas ga takut? aku tiba - tiba sama Jimmy... " Jessy menggoda Kekasihnya dengan wajah centil.


"Jimmy engga akan suka sama wanita. apa kamu tidak paham....?" tangan Budiawan bergerilya di tubuh Jessy.


Jessy sedikit kaget dengan perkataan Budiawan. tapi, jelas tak nampak Jimmy penyuka sesama.


"mas jangan ngaco... dia itu malah aku liat deket sama temen se kost aku. tapi.... dia cantik aja engga.... "


"siapa? mas hanya ingat pembantu mu itu saja... "Budiawan mencoba mengingat wajah Cathrine.


"iya siapa lagi, mas... dia itu waktu makan keliatan banget perhatian ke Cathrine. gila aja, aku aja di cuekin.... " Jessy kesal.


ia merasa harga dirinya hancur saat makan malam. bagaimana bisa Jessy yang biasa menjadi tamu utama tersingkir begitu saja.


"hahahhaaa..... sudah biar saja, kamu itu tetap tercantik sayang.... " ucap Budiawan.


********


Aku kembali ke apartemen bersama Jimmy. Ia meletakkan ponsel dan kunci mobil di dekat meja kecil.


Aku meletakkan tas di sofa kecil samping tempat tidur.


Aku merasa ada tangan yang menyusup pinggangku. Deg!!


"Diamlah sebentar... Dan duduklah.." Jimmy berbisik di telingaku.


Aku hanya menurut apa yang Jimmy katakan. Aku duduk di sudut sofa, dengan posisi Jimmy memelukku.


Erat ia memelukku, wajah ya berada di pundakku. Ia beberapa kali menarik dan membuang nafas.


Aku tak mengerti harus bagaimana, tapi dari film yang aku pernah lihat. Aku seharusnya menepuk tangan Jimmy.


Lalu aku menepuk tangan Jimmy. Menepuknya dengan perlahan, mencoba meresapi seperti sedang bersama adikku.


jantungku rasanya berdetak kencang. apa ini yang terjadi. apa aku kebawa perasaan ya?

__ADS_1


"Sejujurnya aku ingin melakukan lebih dari ini. Tapi aku tahu, luka di tubuhmu belum sembuh. Aku tak mungkin melakukannya.... " Ucap Jimmy.


"Hah? Hmm... Iya.... Terimakasih... " Jawabku.


Kemudian Jimmy melonggarkan pelukannya. Aku pun membalik badanku, kami saling memandang.


"Hmm... Akhirnya aku bisa melihat kamu dari dekat.... " Ucap Jimmy.


Kata - katanya membuatku malu. Pasti wajahku menjadi merah. Pertama kali pria berkata demikian.


"Wajah kamu merah... Tapi pipi ini lucu.... " Jimmy berkata dan mengusap kedua pipi ku.


"Aku... Aku malu..... " Aku berkata.


Ia jantungku berdegup kencang. Apalagi saat ia memegang area wajahku.


'Cump'. (Sebuah pertemuan sesaat kedua bibir)


"Wajahmu merah, jangan malu Cath.. Saat ini hanya ada kita saja... Aku tak akan rela melepas kamu ke pria lain. Aku tak ingin kehilangan lagi....


Tinggal saja bersamaku, kamu kuliah yang benar... Agar nanti kamu bisa mendapat pekerjaan lebih baik... " Ucap Jimmy.


Tapi, bagaimana aku harus menjawab? Aku hanya anak berusia 18 tahun. Pikiranku belum sampai di posisi ini.


Apa yang telah terjadi saja aku yakin bukan hal sengaja. Memang aku butuh semuanya, tapi bukan dengan hal gila macam ini.


"kamu masih takut bersamaku? tak masalah Cathrine... kita masih mengenal, tapi biarkan aku menjaga kamu... " jimmy lalu memegang tanganku.


"aku binggung harus menjawab apa.? aku bahkan sudah melupakan keinginanku untuk kuliah lagi. apalagi dengan semua yang terjadi di hidupku. aku seperti menikmati saat aku mendapat uang dari pekerjaan rendahku.... pelayan... " aku memandang Jimmy.


"ya aku paham... tapi dengan pendidikan, kamu bisa mendapat sedikit kesempatan di kantorku. kamu bisa menjadi bagian keuangan, pemasaran atau apapun... agar kamu bisa mengangkat derajat keluargamu. dengan jalan yang sedikit lebih benar... "


sesaat aku berfikir, ada benarnya perkataan Jimmy. dengan menjadi pelayan mau sampai kapan.


jika aku mau kuliah lagi. setidaknya aku bisa bekerja di kantor dan mendapat gaji yang pasti. juga bisa membanggakan mama - papa.


"hmm.... ijin kan aku pulang dan berfikir dulu. jika aku ingin menerima tawaranmu. apa yang harus aku lakukan?" aku menatap tajam ke Jimmy.


"tinggal disini bersamaku, kita hidup bersama. kamu bisa kemana saja bersamaku selama aku bisa. kita bisa melakukan segalanya.. kamu bisa menganggap sebagai kakak.. sahabat... atau teman hidup.... "


"apa? tanpa ikatan? tanpa rasa?" aku melepaskan tangan Jimmy.


"ya... ada masalah?" jimmy tak mengerti apa mau Cathrine.


"........ aku..... "


ia mencoba menata hati dan kata. jangan sampai ada salah ucap atau salah penangkapan kepada Jimmy.


"aku tak pernah tinggal bersama lawan Jenis. aku juga tak pernah merasakan di perhatikan. aku takut, jika tinggal bersama apa aku bisa menahan diri. untuk tidak memiliki perasaan sedikitpun..... "


"ah... itu hal mudah. kamu hanya butuh untuk fokus pada tujuanmu. aku bukan tujuanmu. aku bukan kekasih atau suami. jadi fokus saja pada dirimu... " jawab Jimmy sambil melipat tangannya.


"kamu pernah tinggal bersama perempuan lain?" aku sebenarnya penasaran bagaimana jawaban Jimmy.


"ya... jelas pernah. kamu bukan yang pertama. kalau tidak salah ingat.... hmm.... kamu yang ke 3 tinggal bersamaku."


"...... " aku diam, ya bodoh aku bertanya. ia pasti pria yang ahli mendapatkan gadis lain.


"ah... jangan bilang kamu baru pertama kali berciuman juga?" jimmy kembali bertanya.


"eh... enak aja! aku... aku pernah pacaran kok... " aku menjawab Jimmy.


"aku bukan tanya pacaran. aku tanya apa kamu pernah di perlakukan seperti ini... " Jimmy melingkarkan tangannya di pinggangku.


lalu wajahnya mendekatiku, rasanya panas dan nafasku menjadi berat. ia berusaha menggodaku, kurang ajar. ini membuatku tak bisa melawan.


tapi aku mendorong Jimmy dan mundur dari posisi duduk ku. nafasku jadi sedikit lebih cepat.


Jimmy malah tertawa melihatku.


"ya! aku memang ga pernah. aku ga pernah ciuman, bergandeng dan melakukan hal seperti kemarin..... aku memang kampungan... " aku kesal dengan Jimmy.


"thats why.. aku engga rela kamu jatuh ke pria lain. apalagi aku bisa lah tau, mana dia yang serius dan main - main aja ke perempuan..... sudah aku beri kamu waktu... "


Jimmy berdiri dari sofa, ia berjalan mengambil dompetnya. lalu ia membuka dan mengambil kunci kamar yang berupa kartu.


Jimmy meletak kan lagi dompet nya. lalu ia berjalan ke arahku dan duduk lagi di sampingku.


"nih ambil... kapan pun kamu rasa harus pergi... datanglah kesini.... " ia menyodorkan kunci kepadaku.


aku lalu mengambil dan melihat kartu tersebut.


"tenang, hanya kamu yang pernah tidur dan tinggal disini. ini flat (apartement) pribadiku, aku tak pernah membawa perempuan lain masuk ke dalam sini.... kamu yang pertama." ucap Jimmy.


mendengarnya rasanya membuat hatiku senang. aku merasa di perlakukan spesial oleh Jimmy.


aku pun tersenyum dan meliriknya.


ia juga tersenyum kepadaku.


"makasih Jimmy.... aku merasa senang... " jawabku.

__ADS_1


__ADS_2