
aku terbangun dari tidurku...aku melihat bekas pakaian Jimmy di tumpukan baju kotor.
'rupanya Jimmy pulang semalam... tapi pagi banget dia pergi.. ini baru jam 6.30.' aku memandang ke jam dinding.
aku mandi dan membereskan apartemen, hari ini si Mbok tidak datang. aku juga berlatih jika suatu saat aku berumah tangga.
segalanya ku kerjakan cepat, tapi jam masih menunjukan pukul 8 lagi.
aku memilih berangkat kursus lebih cepat. aku masih memikirkan reaksi Jimmy kepadaku.
ada yg aneh?
ada yg salah?
Aku hanya mencoba mengekspresikan rasa atau yang ada di hatiku. lebih tepatnya aku refleks memeluk dia, seperti Jimmy biasa lakukan kepadaku.
Banyak orang bilang perempuan sulit di mengerti...
Tapi yang ada mengapa Jimmy yang sulit aku pahami...
aku hanya ingin membuat mudah semuanya...
Aku pun sampai di tempat kursus memasakku. perjalananku lebih cepat kurasa, Aku masuk dan duduk di salah satu ruangan.
Tak berselang lama, ada 2 orang menyusulku. Keduanya menatap ke arahku.
Seseorang dari mereka memiliki wajah yang mirip dengan Michael.
Hanya mirip...lupakan saja pria itu...
Aku diam dan menulis kata dan gambar yang tak jelas di notes ku.. seperti biasa yang aku lakukan saat aku SMA.
"Hallo... Gw Nicky. Salam kenal... "
Pria yang mirip dengan masalaluku mengulurkan tangan nya di sampingku.
Aku menyambut dan bersalaman dengannya. "Gw Cathrine..salam kenal juga... "
Pria itu tersenyum kepadaku, pasti pria itu tampan?
Menurutku tidak.....
Wajah pucat, pandangan mata sendu dan bibir dan tipis...
beberapa gadis dalam ruangan memandang Nicky sambil senyum sendiri. tapi aku hanya diam dan memandang nya datar.
Seleraku tentang pria pasti sudah hancur karena terlalu sering bertemu dengan Jimmy.
"Lo nulis apaan? " Nicky memulai pembicaraan. ia melihat catatan di atas notesku.
"Gw, nulis gaje (engga jelas) aja. Habis masih sepi tadi..... " Jawabku tanpa melihat kearahnya.
"Oh.. Gw pikir lo udah dapet bahan duluan.... " Nicky masih berusaha ramah kepadaku.
Aku hanya mengelengka kepalaku. Pertanda jawabanku ke Nicky.
Lalu perempuan duduk di sampingku, ia sedikit tomboy dengan kulit sawo matang.
"Hallo... Gw Inez... Salam kenal ya... " Perempuan itu menyapa kami berdua..
"Gw nicky dan ini.. "
"Gw Cathrine.... Seneng ada temen lagi yang dateng.. " Jawabku memotong Nicky.
Tak lama Chef yang akan mengajar masuk. Kelas kami pun mulai, memang semua di awali dengan teori dulu baru kami masuk ke praktek memasak.
Aku mencoba fokus dan mencatat detail apa saja alat memasak. Alat menyajikan makanan dan sedikit pengetahuan sejarah makanan.
Pukul 11.30, kelas kami pun selesai. Chef Denny pergi lebih dahulu meninggalkan kami.
"Gw duluan ya, byee.. See you besok... " Inez lebih dulu meninggalkan ku.
"Cath, lo balik sama siapa? Mau gw anterin? atau mungkin kita bisa ngobrol dulu....mau lunch dulu juga bisa..." Nicky mencoba mendekati.
"Gw jalan aja, gw tinggal di apt sebelah... By the way...Thank You Nicky mungkin lain kali aja ya.... " Jawabku.
"Uh.. Kalo besok misal gw ngajak lo mau, boleh? Lo tinggal sama siapa disana? biar gw ijin dulu gitu...siapa tau gw malah kenal banyak temen gw juga tinggal di sebelah..." Nicky berusaha mencari informasi soal diriku.
"errr....Gw itu....Gw sama laki gw... Gw kalo mau pergi sama lo, ya... Laki gw ngasi ijin apa engga... Udah dulu ya, kepala gw pusing.. Bye..." Aku meninggalkan Nicky sendiri di kelas.
Bukan soal perasaan atau aku jual mahal. Tapi aku harus tau diri.. Aku masih terikat dengan Jimmy.
Bagaimanapun, Papa mengetahui kalau hubunganku saat ini terikat dengan Jimmy.
Sempet aku berfikir, kenapa ya perempuan selalu mencari tempat perlindungan atau keamanan. Contohnya, jika pria dekat atau pacaran... Pasti secara alam bawah sadar menghayal kita sampai menikah...
'eh, ngapa gw bilang tinggal sama laki gw. kan gw ga punya ikatan apa - apa sama Jimmy. ah, salah gw.... harusnya gw bilang aja sama sodara... bodoh... bodoh... ' aku berbicara sendiri dan mengutuk diriku yg bicara konyol.
Memikirkan kedepan hal yang jelas belum pasti.... Khayalan? Aku ga mau hidup seperti itu...
harusnya di umurku ini, aku mengumpulkan teman pria sebanyak nya. agar suatu saat aku pergi dari hidup Jimmy.. aku engga akan sedih..
tapi aku mikir lagi, Jimmy membawaku pada kenyataan hidup. Aku harus sukses kalau mau tetap bersama dengannya.
__ADS_1
'ah.... sialan pikiran gw jadi ga jelas!'
********
"Ok, kita selesai untuk hari ini. Terima kasih atas kerja kerasnya... " Jimmy mengakhiri meeting siang itu.
Ia masih sibuk membereskan berkasnya. Jean membantu dengan merapikan kursi dan berkas lain.
"Bapak mau makan di sini atau tidak?" Jean membuka pembicaraan.
"Tidak...... " Jawab Jimmy singkat.
Jean menganggukan kepala, ketus dan singkat setiap perkataan Jimmy sudah menjadi makanan baginya.
Ia paham bagaimana Boss nya. Jean juga sekertaris yang cekatan dan pintar.
"Jean.. Saya mau nanya deh... "
"Gimana pak... " Jean mendekati Jimmy.
"Saya itu... Bukan gini deh, perempuan kalau jatuh cinta.. Aduh.. Bukan gitu maksud saya..." Jimmy sulit menjelaskan yang ia rasakan..
"Bapak ada masalah sama istri?" Jean langsung bertanya.
"Sebenernya engga, cuman saya itu kaya canggung pas istri saya mulai body touch ke saya... Gitu... Eh.. Kamu tau dari mana saya udah merit?"
Jimmy baru menyadari dari mana Jean tahu soal pernikahannya.
"Ya Heldy kan sahabat saya, ngurus berkas pernikahan bapak kan saya juga ikut...jadi saya tahu bapak uda nikah " Jean menjawab
"Oh... Saya yang lupa.. kamu sahabatan sama Heldy... " Jimmy diam dan memandang laptop nya lagi.
"Menurut saya, perempuan itu sudah secara naluri suka di 'sayang' lewat sentuhan pak.. Selain ke hati juga lewat pelukan. Dan wajar kalau istri bapak meluk bapak kan...bukan nya hubungan suami istri seharusnya seperti itu..."
"Jadi sebenernya saya ga pengen dia jauh memiliki perasaan ke saya. Karena suatu hari nanti saya juga akan meninggalkan dia. Kami akan berpisah... Saya takut melukai hati perempuan... saya ga mau dia terluka karena saya....." Jimmy mengepal tangan nya.
Ia membuat hati nya harus mati rasa ke Cathrine. Kejadian Mira jangan sampai terulang. Cukup sekali baginya kehilangan orang yang di cintai.
"Pak.. Menurut saya, jika dia memang di gariskan dengan bapak.. Sekuat apa bapak menolak, pasti tak akan bisa...
Sebenarnya saya bisa melihat pandangan mata bapak berbeda jika melihat ke layar laptop. Maaf jika saya lancang...
Ternyata saat saya mendekat, bapak melihat foto perempuan yang saya tahu sebagai istri bapak... " Jean menahan tawa melihat ekspresi Jimmy.
Jimmy hanya diam, bola matanya memandang ke keyboard di hadapannya.
"Terimalah dan bahagia lah pak... Bapak juga harus bahagia, bapak engga bisa melihat hal yang lalu terus... Maaf jika saya menyinggung, bapak harus bahagia... Saya permisi dulu pak... " Jean meninggalkan Jimmy sendiri.
Ia mencoba menjaga jarak dan perasaan ke Cathrine.
Semakin ia berusaha, semakin bayangan Cathrine muncul..
Senyum dengan lesung pipi kecil membuat nya terlihat manis. kepolosan dan kesucian hati Cathrine, bagai magnet besar apa yang membuat Jimmy terbuai dengan Cathrine...
Jimmy kembali fokus pada pekerjaannya. Ia juga harus bisa menjaga profesional. Jangan sampai urusan pernikahan diam - diam ini membuatnya lupa fokus pada pekerjaannya.
"Jimmy, lupakan.. Contract...After all go away and forget it!! Fokus!" Jimmy berbicara sendiri.
Jimmy lalu pergi keluar. Ia masih memiliki banyak jadwal meeting dan acara sosialita di jam malam.
Ia membenamkan diri dan pikirannya pada rutinitasnya.
Pesta malam itu di gelar di rooftop salah satu gedung pencakar langit. gedung yang terkenal tempat pesta kalangan atas.
Wanita cantik dengan pakaian seksi banyak betebaran disana. mereka menari dan merayu pria yang hadir disana.
sepertinya memang tempat hiburan bagi pria hidung belang. aneh saja Jimmy mau hadir ke pesta disana.
Jimmy hanya memandang keindangan itu dari sudut meja bar. bosan dan Jijik baginya, namun ini ulang tahun kolega nya. mana mungkin ia menolak datang jika ia tak ingin bisnis ini selesai.
Ia merasa bosan namun keharusan bagi nya datang malam itu. Seorang wanita seksi dengan lipstik merah mendekati Jimmy.
"Aku lihat kamu sendirian...Mau aku temani?" Ucap nya dengan nada genit.
"..... " Jimmy hanya membuang muka. Pura - pura Jimmy tidak mendengar.
"Jangan dingin begitu, aku bisa membuatmu hangat dengan waktu lama.... " Wanita itu mulai berani mendekati tangan Jimmy.
"Tinggalkan saya...membosankan! " Ucap Jimmy ketus dan meninggalkan wanita tersebut.
wanita itu sepertinya sengaja mendekati Jimmy. siapa pula yang mengirim nya, namun ia tak menyerah untuk merayu Jimmy.
*********
Aku duduk di sofa sambil menonton tv. sesekali aku melihat jam di ponselku. pukul 11 malam, cuaca cerah namun tak ada kabar..
Aku menunggu Jimmy pulang, tak ada kabar dari nya seharian ini.
Bahkan hari sudah menuju tengah malam. Udara di luar mulai dingin.
"Kok belum pulang ya... " Aku berbicara sendiri.
Aku lalu menekan panggilan ke nomer Jimmy.
__ADS_1
Nada panggilan yang aku harap berubah menjadi suara hallo dari nya.
"Yah... Engga di jawab... Dia kemana ya..." aku mengenggam ponselku berharap ada panggilan darinya.
Aku mulai duduk di atas tempat tidurku. Aku meletakan ponsel disamping tempat tidurku.
Tv aku biarkan menyala dengan volume yang kecil.
Aku membaringkan tubuhku dan berusaha memejamkan mata. aku menunggunya sampai pukul 2 pagi. Jimmy tak juga kembali, kabar pun tak ada yang sampai ke ponselku.
Tak lama aku mendengar suara pintu terbuka. disusul Bayangan hitam masuk ke dalam.
Aku melihat jalan nya agak terguyun. Apa itu jimmy? Dia mabuk?
Aku bergegas bangun dan menyambut ke arah pintu...
Benar itu Jimmy, bau nya menyengat alkohol. Tak pernah aku menjumpai nya dengan bau seperti ini. sejujurnya perasanaku tidak enak saat itu..
Wajahnya merah dan pandangannya tajam kepadaku. Aku hanya membalas dengan tersenyum berharap ia tak akan memarahiku..
"Kamu sudah pulang... " Aku menyapa..
Jimmy malah mendekatiku, aku merasa mual dengan bau yang keluar dari mulut Jimmy.
Sesekali aku terbatuk karena bau itu.
"Wanita murah*n.... Kamu pikir, kamu pantas jadi istriku? Kamu pikir wanita j*la** sepertimu pantas di atas tempat tidurku?" Pandangan Jimmy penuh amarah kepadaku.
Ya, pandangan nya sama seperti saat pertama ia menyentuhku. Pandangan jijik dan marah yang menakutkan bagiku.
"Jim... Kamu... Kamu kenapa... Kamu ngingo...jangan gini Jimmy...." Aku mundur hingga aku terduduk di atas sudut tempat tidur.
Jimmy mendekat dan melepaskan sabuk serta membuka kemejanya. Ia lalu meremas kedua pipi ku dengan tangan kanannya.
"Kamu seneng aku mempersilakan naik ke tempat tidurku?! Murah*n... Cih.."
Aku mulai meneteskan air mata. Perkataan Jimmy terdengar sangat menyayat hatiku. Dia tak pernah memperlakukan ku seperti ini.
Bahkan berkata kasar pun tak pernah aku dengar.
Plak..!
Rasanya panas di pipi kiriku. Begitu keras sampai aku terjatuh ke atas tempat tidur.
Pandangan mata ku pun kabur. Begitu keras dan sakit rasanya wajahku.
Aku tak mengerti apa lagi yang terjadi. aku hanya memejamkan kedua mataku. Membiarkan dia melakukannya sesuka hati.
Ya, mungkin ini yang harus aku bayar atas biaya pendidikan dan kehidupan yang layak untuk keluargaku. Akhirnya aku tahu isi hati nya..
Bahwa aku memang wanita penghibur dan wanita seperti ini....
ini bukan cinta dan jelas ia tidak mencintaiku...
Aku terbangun, badanku sakit semua. Aku mencari gaun tidurku.. Rupanya ada di sudut tempat tidur..aku mengambilnya...astaga...ia merobek semua nya.
aku melempar lagi gaun tidurku. jelas tak dapat aku gunakan lagi.
Aku melihat Jimmy tertidur pulas tanpa selembar pakaian pun. Aku memandang nya, entah mengapa sakit saat ia menyebutku perempuan seperti itu...
Aku berdiri dan menuju kamar mandi. Aku memilih pergi lebih pagi hari itu..mencoba melupakan perkataan dan tindakan Jimmy.
Air membasi kepala dan tubuhku perlahan, aku membiarkan nya mengalir dengan alami...
Aku membersihkan seluruh tubuhku dari apa yang terjadi. Namun bekas merah di pipi kiriku tak bisa kuhapus.
Seumur hidupku, ayahku sendiri saja tak pernah menamparku seperti itu..
Hatiku sakit dan rasanya sesak dalam dadaku.....boleh dia tak mencintaiku, tapi jangan katakan hal menyakitkan itu..
"Wanita ja*a**! Murah*n" Kata - kata itu seperti bergema di telingaku.
Aku mendengar seseorang sepertinya menyalakan Tv. Aku tahu itu Jimmy, aku harus menemuinya.
Aku lalu keluar dari kamar mandi. Aku menoleh ke arah tempat tidur kami.
Jimmy sedang mengambil gaun malam ku yang rusak oleh nya.
Bukan gaun malam seksi, hanya daster tidur tanpa lengan. Bahkan tidak menerawang sama sekali jika aku pakai.
Jimmy memandangku kaget, sepertinya ia tak sadar apa yang terjadi semalam. Pandangan berpindah ke wajah sebelah kiriku. tanda merah ini memang terlihat jelas di hadapannya.
Aku berjalan melewatnya, mengambil pakaian gantiku untuk kursus..
aku ingin berbicara namun, lidahku menjadi kaku dan aku tak bisa membuka kedua mulutku.
aku berganti pakaian dan berbalik melihat ke Jimmy. ia masih duduk di atas tempat tidur kami.
aku berjalan melewatnya dan mengambil tas. aku tak berkata apapun, aku membuka pintu dan keluar.
tapi jimmy menarikku dan menutup pintu.
"mari bicara sebentar.... "
__ADS_1