CARAMU MENCINTAIKU

CARAMU MENCINTAIKU
51


__ADS_3

Jimmy melihat Papan Nama Pasien. Disana ada nama Thomson. Ini artinya ruangan dari Ayah mertuanya.


Ia mengetuk lalu masuk ke dalam. Disana ada 6 tempat tidur pasien. Terlihat jelas kelas dari klasifikasi pasien di rumah sakit ini.


Jimmy mendekati satu - satunya pasien disana. Langkah dan nafasnya menjadi berat. Keringat tiba - tiba mengucur di dahinya.


Jelas! Ini pertama kali ia bertemu dengan orang tua Cathrine.


"Permisi, selamat Pagi Om.." Jimmy menyapa pria dengan uban yang mulai menutupi seluruh kepalanya.


"Pagi, apa anda dokter? Atau bagian administrasi?" Jawab Pak Thomson.


"Bukan.. Bukan... Perkenalkan, nama saya Jimmy... Dan saya kemari soal anak bapak... " Jimmy berkata sambil menghapus keringat di dahi nya.


"Maaf, bisa bantu saya menegakkan posisi saya?"


"Tentu... " Jimmy memutar pedal yang ada di ujung tempat tidur.


Kini posisi mertua Jimmy setengah duduk. Ia bisa lebih jelas berbicara dan melihat jelas.


Memang wajah Cathrine lebih dominan ayahnya. Terlihat jelas aura mereka sama.


"Baik.. Begini lebih enak.. Terima kasih ya nak... " Ucap mertua Jimmy.


"Sama - sama Pak.... " Jimmy lalu mengambil kursi dan duduk di sebelahnya.


"Ada yang bisa saya bantu? Anda tadi bicara soal anak saya... Apakah dia terlibat hutang?" Wajah Thomson penuh tanya.


Jimmy binggung bagaimana memulai semua ini. Pada intinya ia hanya butuh tanda tangan lelaki di hadapannya.


"Saya butuh tanda tangan om... Saya sebenarnya salah satu pemegang saham industri hiburan disini... "


"Baik, ceritakanlah dulu kenapa harus tanda tangan saya...sebelumya,senang bertemu dengan anda. Saya yakin ada orang yang sibuk... Apa putri ku menguyulitkan mu?" Thomson masih berkata penuh tanya.


"Baik om.... Sebelumnya nama saya Jimmy Yons... Saya pertama kali bertemu putri Bapak dengan tidak sengaja. Saya bukan warga asli negeri ini, tapi saya sudah lama disini....


Saya mohon maaf sebelumnya... Saya... "


"Lanjutkan saja nak... " Ucap Thomson dengan suara ramah.


"Saya butuh menikah dengan wanita dari negara ini. Tadinya saya mencoba melakukan suap dan nego. Tapi, pemimpin tidak berani memberikan.


Solusi saya hanya menikah, sedang saya sendiri tidak bisa asal menikah...


Namun, saat pertama saya bertemu Cathrine. Saya merasa dia butuh bantuan saya. Itu yang ada di pikiran saya.... "


Thomson tersenyum mendengar perkataan Jimmy. Wajahnya ramah dan tulus, terlihat orang yang bijak melalui pandangan kedua matanya.


"Tanpa kami sadari kami juga makin dekat. Beberapa kali Cathrine mengalami hal yang tidak adil. Setiap itu juga saya merasa tidak terima. Puncaknya saat saya mengetahui dari sepupu saya Anne..


Bahwa salah satu sahabatnya membutuhkan pekerjaan, saya sebenarnya tidak suka praktek titip menitip.. Tapi, begitu mendengar nama Cathrine.


Saya kaya kesihir... Oke saya mau menemui dulu siapa dia... "


Pak Thomson tersenyum mendengar nama Putrinya di sebut. ia pun bisa melihat betapa tulusnya pria di hadapannya bercerita.


"Saat saya bertemu wanita itu Cathrine yang saya kenal.. Saya kesal, kenapa perempuan ini mencari pekerjaan dengan bertemu pria yang dia ga kenal. Bukan di kantor dengan formal dan dia mau..... Saya mikir ni perempuan polos atau sengaja.... " Jimmy tak bisa menahan emosinya.


Memang Jimmy kesal pada saat itu. Bagaimana jika yang di temuinya pria hidung belang. Akan menjadi seperti apa nasib Cathrine.


"Setelah kejadian itu saya makin ga tau om, rasa nya saya kaya kesihir. Kaya gimana ya? Saya tu kebayang Cathrine terus dimana saya berada. Meeting, apartemen dan makan pun saya kebayang dia, om... "


"Ha ha... Sihir... Saya rasa kamu jatuh cinta pada perempuan yang kamu anggap bodoh itu Nak... " Thomson menjawab dengan tertawa.


"Tidak bukan begitu om, maksud ku.. Aduh... Gini aja om, pada intinya saya mau menikahi Cathrine secara negara dimana sah di mata hukum. Sebagai kompensasi, saya akan membantu kuliah dan biaya kehidupan Cathrine. sampai dia bisa kerja dan mandiri secara financial....."


"Dan kalian tinggal bersama dalam satu atap? Apa kamu merahasiaan ini darinya?" Wajah Thomson menjadi panik.


Ia marah putrinya hanya di jadikan tameng untuk pria di hadapannya.


Demi kepentingan pribadinya saja, tanpa memikirkan status anaknya setelah pernikahan itu berakhir.


"Kalian menikah, tapi anak saya. Anak saya yang saya jaga dari kecil, kamu ambil kebebasan dia... Lalu kamu bisa meninggalkan dia?!" Thomson naik darah mendengar maksud Jimmy.


"Bukan begitu Om... Saya tidak akan menceraikan dia... Saya bersumpah. Om bisa pegang perkataan saya... "


"Sampai kapan kamu menutupinya?! Menunggu saya mati? Akhirnya kamu menceraikan dia.? Kamu hanya memanfaatkan anak saya... "


Suasana yang semula hangat berubah jadi penuh emosi. Thomson tak menyangka putri nya akan menjadi bahan permainan pria.


"Saya tidak berniat seperti itu om. Saya berjanji akan masa depan Cathrine."

__ADS_1


Thomson diam sesaat dia berfikir. Benar saja jika keadaan seperti ini, mereka tak mungkin mendapat uang untuk pendidikan Cathrine dan Ghea.


Tapi, apa akan sama dengan menjual kedua putrinya.


"Saya minta kamu tanggung pendidikan Ghea juga. Soal biaya hidup kami disini, saya masih bisa berjualan kecil - kecilan..berjanjilah, kamu tidak akan menelantarkan anak saya, Cathrine... " Thomson membuat pilihan berat.


Istrinya yang paling ia cintai pergi. Bisnisnya sudah bangkrut. Hanya warung kecil di halaman rumah yang menjadi pegangannya.


Bagaimana masa depan kedua putrinya?


Dia pun tak ikhlas jika putrinya jatuh ke dalam lembah pel***an.


"Baik Om.. Saya berjanji, Ghea juga akan mendapat pendidikan yang layak.. " Jimmy menjawab dengan yakin.


"Saya minta rahasiakan pernikahan kalian dulu. Saya tidak mau Cathrine menjadi santai dan tidak fokus akan pendidikannya....


Saya tidak mau orang sampai tahu, anak saya mendapat orang kaya...


Mereka akan berfikir saya menjual anak saya. Meskipun, kenyataan memang..."


Jimmy lega sudah mendapat ijin dari mertuanya. Kini tinggal surat rekomendasi itu dan Jimmy bebas tinggal di negara ini.


"Tapi, kamu belum selesai memperkenalkan diri ke saya. Biar bagaimana pun, saya ayah mertuamu!"


"Ah... Iya, asal saya dari negeri timur perbatasan Asia dan timur tengah. Negara kami memang keras, orang tua saya mengatur perekonomian disana.. Disana masih semi kerajaan, saya pergi karena bertengkar dengan orang tua saya. Mereka ingin saya melanjutkan sebagai pengganti...


Namun, saya merasa kebebasan saya tidak ada..... Saya tidak pernah berani pergi... "


Pikiran Jimmy jauh ke masa kecilnya. Bersama Vincent, adik perempuan yang ia sayangi.


"Sejak lahir, segala nya sudah saya dapatkan. Saya terlalu takut untuk keluar dari rumah... Hidup dengan segala yang sudah tersedia, juga dengan keterbatasan akses..


Sampai adik saya, lebih dulu kabur karena mengejar cintanya... Pergi demi hidup bebas ..."


"Apa kamu menyayangi Adikmu?" Tanya Thomson.


"Sangat.... Kami dari kecil selalu bersama, sejak ia pergi.. Hidup saya terasa sepi...... Sampai saya merasa ada yang datang dalam hidup saya... "Jawab Jimmy.


"Om tebak, jangan bilang kamu merahasiakan pernikahanmu?" Thomson menembak pertanyaan.


"Iya...... Saya akan membawa Cathrine pulang, saat dia sudah menyelesaikan pendidikannya... " Jawab Jimmy dengan yakin.


"Om paham, pasti standart keluarga kamu tinggi. Itulah alasan kamu meminta Cathrine berkuliah kan? Ya, saya tidak mau Cathrine di anggap rendah..... Dia anak yang kuat dan keras.... Om jadi ingat, saat di sekolah Dasar.... Dia berani menantang teman lawan jenisnya yang membully nya... "


"Dia bahkan menantang duel, sampai teman Cathrine mengadu ke orang tua nya. Anak perempuan yang tidak punya rasa takut... Kini bantu om, jaga dia disana ya....oh iya, mana surat yang om harus tanda tangani?"


Jimmy mengeluarkan dari dalam jaketnya. Ia lalu memberikan ke Thomson.


Thomson membaca dengan teliti, bahasa, tata letak tanda baca. Ia memahami, ini adalah surat pernyataan karena Cathrine belum genap 21 tahun.


Lalu Thomson menandatanganinya, ia sempat menahan sebentar pena nya. Namun, ia melanjutkan dan mengembalikan lagi ke Jimmy.


"Ingat, kamu menikahi nya. Gadis yang berusia 19 tahun. Jangan menuntut dia menjadi dewasa sebelum waktunya... " Ucap Thomson.


Jelas Jimmy merasa tertembak dengan perkataan ayah mertuanya. Mereka telah jauh melakukan hal yang terlarang.


Meskipun dalam hati Jimmy sakit dan tidak nyaman setiap mereka melakukan. Seperti ada rasa bersalah ke Cathrine.


"Jadi kalian akan tinggal bersama mulai saat ini? Dimana kalian tinggal?"


"Kami tinggal di apartement. Saya memilih yang dekat kantor. Cuman jika Cathrine nantinya terlalu jauh dengan kampus.. Ya kami akan pindah... " Jawab Jimmy sesumbar.


"Om pesan, jaga Cathrine ya. Kamu adalah pengganti om mulai saat ini... Meski pun pernikahan ini rahasia... "


**********


"Makan yang banyak Dek.. Kakak bawa uang kok... " Ucap Cathrine.


Ghea memesan nasi goreng dan ayam fillet. Ia pun memesan float, meja mereka penuh dengan makanan.


"Kak, cowo tadi itu pacar kakak?" Ghea bertanya sambil memakan nasi gorengnya.


"Tidak... Dia itu boss kakak.... " Jawabku datar.


"Tapi, kalo boss ga mungkin kak... Dia sampe mau ikut kakak kesini. Pasti punya perasaan lebih kak... " Ghea berkata.


"Tidak.... Udah, kamu kebanyakan nonton drama... Kakak sama Jimmy itu... Tidak ada hubungan cinta... "


Benar, bukan cinta... Hanya kontrak sampai saat aku harus pergi dari apartemen nya.


Saat aku sudah bisa mandiri segala hal. Saat ia sudah merasa saatku untuk pergi. Memikirkannya saja membuat dadaku sesak.

__ADS_1


Sedih mungkin itu kata yang tepat. Meskipun tak seharusnya kami memiliki rasa satu sama lain.


"Kak! Kakak kok ngelamun?" Ghea menyadarkanku.


"Engga dek, kakak cuman capek.. Oh iya dek, mama pergi kemana?"


Ghea malah meletakkan sendok dan garpu. Ia diam dengan wajah tidak suka.


"Mama pergi gitu aja, setelah mobil tante Rose datang. Entah siapa yang menjemput mama, mama engga bilang apa - apa.... "


"Memang kalian kemana? Mama pergi gitu aja? Engga coba telpon tante rose?"


Apa pula yang di rencanakan wanita yang licik itu. Wanita yang lebih mirip nenek sihir pasti merencanakan sesuatu.


"Udah kak... Tapi engga ada jawaban dari Tante Rose. Malah kayanya nomer ku diblokir kak... Waktu mama pergi, adek sama papa lagi ke apotik...


Kami ambil uang kiriman kakak... Terus beli obat papa.... Pas pulang mama engga ada, ga ada pesan juga yang di tinggal mama.... Tetangga bilang.... Sedan merah menjemput mama... "


"Sedan merah??" Aku jelas paham itu mobil Tante Rose. Namun untuk apa ia menjemput mama?


"Iya kak.... " Jawab Ghea.


"Terus... Reaksi papa gimana?"


"Papa minta aku jangan nangisin mama. Kata papa, mama pasti pulang. Kita masak ga boleh benci sama mama? Papa tu gimana coba kak... Jelas mama ninggalin kita, sampe papa sakit gini... " Ghea kesal.


Ia memang masih memiliki sifat seperti anak kecil. Anak yang paling kecil yang biasanya lebih dekat dengan orang tua.


"Dek... Kakak engga bisa banyak bantu adek apalagi soal uang...Tapi, kakak mohon banget... Adek jagain papa ya, kalo keadaan kakak udah settle di kota.. Kita pindah dan hidup bareng ya dek... Soal mama... Biar lah, mungkin mama lebih suka hidup bersama adik nya itu... " Aku memegang tangan Ghea.


Aku memandang kedua matanya, andai aku bisa membawa mereka bersamaku. Saat ini posisiku sulit, aku terikat dengan pria Asing itu.


"Iya kak... Ghea bakal jagain papa... Kakak yang semangat ya cari uangnya..biar bisa dapet banyak uang..jadi papa bisa berobat terus kak... "


Aku mengangguk dan tersenyum. Ungkapan hati dari adik yang paling ia sayangi.


"Kalian disini rupanya, kenapa telponku ga di angkat?" Suara yang tidak asing.


Suara pria yang akhir - akhir ini hampir tiap hari aku dengar. Suara yang membuatku marah dan bahagia di saat bersamaan. Jimmy.


Pria itu berdiri diantara kami. Aku melirik sinis kepadanya, menggangu sekali dengan kehadiran nya.


"Kak, mau makan bersama?" Ghea menawarkan.


"Engga dek... Engga usah, boss kakak anti makan disini... " Aku langsung menjawab.


"Siapa bilang?" Jimmy langsung menarik kursi.


Ia duduk di antara kami, lalu Jimmy mengambil piring di hadapanku. Begitu juga dengan sendok dan garpu.


"Sepertinya enak... " Ucap Jimmy.


Aku terdiam dan melongo melihat apa yang pria itu lakukan. Apa yang dia mau?


"Ini makanan saya, kalo bapak mau bisa saya pesankan... " Aku mencoba ramah dan menjaga tutur kataku di hadapan Ghea.


"Sudah sayang, jangan terlalu formal. Aku sepiring berdua pun suka kok, sayangku... " Jimmy membalas.


Wajah Cathrine menjadi merah seperti kepiting rebus. Ia tak pernah di panggil sayang di hadapan umum.


"Wajah kakak kok merah. Kakak malu ya? Ternyata bener, pria keren ini pacar kakak kan... "


Aku melotot ke Ghea, lalu aku menginjak kaki Jimmy.


"Aduh sakit sayang, jangan injak kaki ku... Aku lapar, biar aku makan dulu. Kamu engga sabaran banget sih... " Jimmy malah makin menggodaku.


Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku. Sudahlah Jimmy, lakukan semau dirimu.


Lagi pula Ghea tidak akan sesumbar atau menganggap serius Jimmy.


"Maklumin Dek, bos kakak suka bercanda kok... "


Jimmy balik melotot ke arahku. Aku balas balik meliriknya tajam.


aku berkata dalam hatiku, 'jaga ucapanmu, dia akan mengira ini sungguhan. kumohon Jimmy bilang kamu bercanda.'


"ah iya, Ghea.. kakak lupa memperkenalkan diri. Dia malu mengakui statusnya sebagai calon istriku. nama ku Jimmy... bisa panggil kakak mulai sekarang. oke?" Jimmy malah melihat ke arah Ghea.


Jimmy tak memperdulikanku yang mencoba membungkan mulut nya. kedua tanganku menepuk lengan Jimmy agar ia berhenti.


"oh begitu, sudah aku duga kalian pasti pacaran.. aku pikir kalian datang meminta restu papa - mama... " jawan Ghea sambil menyandarkan tubuhnya.

__ADS_1


"tidak!" Cathrine. "iyah..!" Jimmy.


mereka menjawab bersamaan.


__ADS_2