
"Lo tau yang lebih aneh lagi? Gw di suruh ngebawa lo ke toko, ngasi lihat ke bos gw... " Inez bercerita.
Aku dan Nicky melongo, kami saling berpandangan. Melempar kode ada yang aneh.
"Terus? " Aku menjawab.
"Ya makanya gw minta ketemu sekarang. Lo mau ya besok ke toko? Jujur aja, kalo beneran Cathrine yang di maksud itu lo. Gw dapet duit komisi, lumayan buat bayar kost. Pleasee... " Inez memohon.
Aku memegang dahiku, berfikir dan mencerna hal terburuk yang mungkin akan terjadi.
aku masih ingat jelas Jimmy hampir menghajar Yofie saat ia mendekatiku.
"Nez, lo itu ngga tahu. Gimana Stacy tu kegilaan soal Yofie. Lo tahu ga sih, gw sampe di usir dari kost. Tu cewe sampe mau budir. lo juga harus tahu, gw udah janji sama cowok gw buat ga nemuin Yofie. apapun alasannya.. " Aku menjelaskan.
Wajahku panik dan marah ke Inez.
"Kalo lo emang butuh duit, gw kasih aja udah. Gw uda janji sama Jimmy, gw ga akan nemuin tu cowok Nez. Ga mungkin kan,gw ingkar janji.. " Aku menjelaskan lagi.
Wajah Inez sedih, ia merasa pertolongan hanya ada di sahabat nya saja. Tapi ia harus sadar juga, engga semuanya bisa selesai dengan jalan instan.
"Udah, lo butuh berapa duit sih. Sampe mau ngegadein temen segala.? " Nicky bertanya.
"Gw itu belom bayar kost. 2 bulan ini, gaji gw uda buat balikin pinjeman gw di tante gw." Inez menjawab lirih.
"Tante lo yang rentenir?" Tanya Nicky.
Wanita itu hanya mengangguk. Artinya iya.
"Lo kan uda gw bilang, jangan. Lo butuh duit kerja, lo ga kuat bayar kost. Tinggal di Apartemen gw sampe lo sanggup bayar sendiri... " Nicky kesal.
"Eh tunggu, kalian kok saling tahu sejauh itu? ada kah yang gw ngga tau soal kalian?" Aku penasaran.
"Kita tu sering pergi, dia banyak tahu rahasia gw Cathrine..cuman sayang kita ga saling suka.. Tipe dia kan kaya lo. muka Chiness mata belo kaya bola pingpong. bukan kuning langsat kaya gw.." Jawab Inez malu.
"apaan sih! lo bawa fisik segala! Gw tulus ngebantu lo, keluarga gw juga ga akan ngurusin siapa yang dateng ke apartemen gw. Jadi udah lah, daripada lo pontang panting cuman buat bayar bunga di wanita gila itu! " Nicky berkata dengan marah.
"Tuhh!! Udah deh jangan bikin masalah sama laki gw. Soal fisik, lo itu cantik ness...gw cuman menang putih aja. itu juga karena bokap gw blesteran.." Aku ikut bicara.
"Iya iya... Kan gw kaga tahu masalah kalian...sorry Cathrine. gw kadang iri sama lo. hidup lo kayanya selalu selesai dengan gampang aja....beda sama gw, mau makan aja kerja.." Inez membela diri.
"apa yang lo liat itu ga semuanya indah Nez!" jawabku tegas.
Kami pun melanjutkan pembicaraan ringan kami. Waktu berjalan cepat, jam ponselku menunjukan pukul 6.30 malam.
Dan aku pun baru menyadari, Jimmy tidak mencariku.
Aku mengirim pesan kepadanya.
Me : kamu dimana? Aku di mall dekat kantormu dengan sahabatku.
1 menit.... 2 menit.... 4 menit...
"Lo nunggu apa Cath?" Nicky menyadarkanku.
"Oh.. Sorry gw cuman ini chat Jimmy. Tapi kok belom di balesin.. " Jawabku.
Kami pun lanjut berbicara kesana kemari. Begitu pun dengan makan malam.
Aku masih tetap mencuri pandang ke ponselku. Berharap Jimmy akan membalasku.
Aku sebenarnya ingin ia menjemput malam ini. Menikmati waktu berdua mengelilingi kota.
Melihat gemerlap lampu di gedung dan jalanan.
Menikmati saat yang aku tak tahu apakah akan selamanya ada. Akan selamanya sama.
"Lo gw drop pertama ya Cathrine. Ni bocah minta di temenin nyari barang dan rute nya jauh dari tempat lo.. " Nicky berbicara dari kursi kemudi.
"Iya gapapa.. Lo turunin gw di depan sana aja. Gw jalan ga masalah kok, sekalian mau beli roti tawar soalnya.. " Jawabku.
Nicky pun berhenti di dekat pintu masuk area apartemenkku. Aku pun turun, dan Inez membuka kaca mobil depan.
"Thank ya... Gw duluan ya... Take care ya... " Aku berkata ke mereka.
"Iya, maaf soal tadi ya cath.. Gw ngga maksud apa - apa... " Inez masih merasa bersalah.
"Udah gapapa, gw paham kok. Lo juga kan memang ngga tau apa - apa.. dah, cepetan balik.. Lo besok masih kerja... " Jawabku..
"Gw duluan ya... Bye... " Nicky berkata.
Lalu mereka pun pergi. Aku memandang mobil yang perlahan menghilang.
Aku pun melanjutkan perjalanan ku pulang. Banyak tenant pedangang yang masih buka malam itu.
aku hanya berhenti pada toko roti di dekat pintuku masuk. Toko roti rumahan yang menurutku lumayan.
Pemuda yang beli juga malam itu sering aku lihat. Kami beberapa kali bertemu, namun kami hanya saling melempar senyum saja.
ia lebih dahulu melempar senyum kepadaku. entah apa aku yang terlalu percaya diri. namun, hanya ada kami dan penjaga toko.
__ADS_1
aku yang sempat celingukan membalas senyum kepadanya. lalu pria itu pergi lebih dahulu.
Aku memang tipe orang yang sulit untuk berkenalan dengan orang baru. Apalagi yang aku temui secara tak sengaja.
********
Jimmy masih sibuk dengan banyak pekerjaannya. Bahkan ia tak menyadari jam menunjukan pukul 8 malam.
Ponsel ia letakan jauh dari pandangannya. Ia fokus pada target pembukaan perusahaan di negara tetangga.
Jimmy berdiri dari kursi lalu meraih ponsel yang ada di meja dekat pintu ruangannya.
Ia melihat ada beberapa pesan dari Cathrine. Jimmy lalu melihat jam di tangannya.
"Goshh.. Sudah jam 10.30!" Ia mengumpat.
Ia pun bergegas mengambil tas dan kunci mobil. Ia keluar dari ruangan, melewati lorong yang agak gelap.
Biasanya orang merinding jika menjadi Jimmy. Tapi baginya hal biasa, karena di lantai ini tak pernah sepi.
Selalu ada shift malam yang datang untuk mengedit segala bentuk iklan dan berita. Hanya memang aktifitasnya tak seperti siang hari.
Ia bergegas masuk ke mobil dan memacu kendaraannya. Ia terlalu sibuk dengan project nya.
Hal yang sebenarnya cukup berhasil membuatnya lupa sesaat soal Mira.
Ia memacu kendaraan dengan kecepatan di atas rata - rata malam itu. Untung pula jalanan kota cukup lengang.
Ia tiba lebih cepat dari biasanya, memarkir mobil. Berjalan perlahan dan masuk ke dalam lift, ia lalu perlahan membuka pintu apartemennya.
Ia masuk dan melihat televisi masih menyala. Namun setelah ia menengok, Cathrine sudah tertidur.
Rupanya Televisi yang menonton wanita ini tidur.
Ia mematikan televisi, lalu bergegas membersihkan dirinya. Ia ingin cepat bertemu dan beristirahat di dekat wanita yang kini mengisi hidupnya.
Jimmy masih belum sepenuhnya yakin ia mencintai Cathrine. Yang Jimmy rasakan, ia ingin terus ada bersama Cathrine.
Setiap wanita itu ada di dekatnya. Ia merasa segala sesuatunya akan baik, dunianya pun menjadi baik.
Apalagi saat ia beristirahat malam. Ia berada di dekat wanita ini, ada getaran di hati dan rasa senang yang selalu ia sembunyikan.
*******
"Jadi apa rencanamu hari ini?" Jimmy menuang teh ke gelas Cathrine.
"Uh.. Sudah mulai sibuk rupanya. Sebenarnya aku mau mengajakmu, pekan depan. Ke negara tetangga kita, serumpu kita. Aku ada semacam... Uhm.. Pembukaan kantor cabang dari usahaku yang lain. " Jimmy berkata sambil memakan roti panggang.
"Oh.. Grand opening? Sabtu pekan depan?" Aku tanya balik.
"Rencanaku, cuman kalau kamu sibuk dengan perkuliahanmu. Lebih baik aku datang sendiri saja. " Jawab Jimmy.
Aku kesal, sebenarnya aku mau ikut. Kapan lagi aku melihat negara lain. Aku bahkan belum pernah naik pesawat jarak jauh.
"Emang aku ngga boleh ikut?" Aku bertanya dengan nada manja.
"Kamu ini lucu, seperti anak kecil. Tentu boleh, asal tidak menganggu ya. Nanti malam kita dinner di luar ya. Pak Teddy akan jemput kamu pukul 5 sore."
"Hah? Jam 5?! Engga ke cepetan buat makan malam?" Aku panik.
" Hei.. Jarak sini ke kantorku macet sayang. Better kamu bersiap lebih cepat kan?" Jimmy menjawab.
Lalu ia berdiri, mencium bibirku dan pipiku.
Aku hanya diam mematung tak membalasnya.
"Aku berangkat dulu ya. Take care... " Jimmy berbisik lalu pergi meninggalkanku.
Aku masih binggung ada apa dengannya. Ia jarang berpamitan seperti ini. Semoga tak ada apa - apa.
Tak lama Bu Sumi datang. Ia langsung cepat bekerja membersihkan dan membawakan baju kotor yang kemarin ia bersihkan dan cuci.
Aku agak merasa canggung jika ada dia disini. Aku biasanya pergi kursus di jam ia datang.
Bu Sumi sendiri buka tipe orang ramah. Ia hanya datang bersih - bersih lalu pergi begitu saja.
"Bu... Saya boleh saya tanya?" Aku memulai pembicaraan.
"Boleh non, apa ya?" Ia menjawab cepat.
"Jadi apa ibu tahu soal Mira? Mantannya Jimmy... " Aku penasaran.
"Saya cuman ketemu beberapa kali. Ngga gitu kenal kok." Jawab nya cepat dan singkat.
"Uhm... Apa cantik bu? Lalu ramah?" Aku malah makin penasaran.
"Iya, cantik dan ramah. Non, saya sudah selesai. Ini pakaian kotor saya bawa ya. Saya pulang dulu.. " Jawab nya cepat.
Ia cepat - cepat pergi meninggalkanku. Padahal masih ada beberapa hal yang mau aku tanyakan soal Mira.
__ADS_1
Aku penasaran wajahnya, aku sedikit merasa takut jika benar ia cantik.
Sifat dasar perempuan adalah persaingan.
Aku menghabiskan waktu dengan membuka sosial media dan bermain game. Entah karena aku tidak ada tujuan waktu berjalan lama.
Aku bahkan sudah berjalan ke area bawah untuk mencari makan siang. Tapi tetap saja, waktu berputar dengan lama.
Berkali - kali aku melihat jam. Detiknya berjalan lambat sekali, terlintas di benakku untuk mencari sambilan kerja saja.
"Ngapain gw nyari kerja sekarang. Minggu depan aja gw uda kuliah, jadwal aja gw belom tahu... Waktu.. Ayolah!! Cepat bergerak!! " aku berbicara pada jam dinding.
Aku bahkan mencoba tidur siang. Hasilnya? Kepalaku malah pusing.
Akhirnya jam menunjukan pukul 3 sore. Aku langsung bersiap dan mandi. Aku membersihkan tanganku dengan lulur wangi.
Entah berapa lama aku menggosok tangan dan kakiku. Yang jelas aku mau bersih dan wangi.
Lalu aku membersihkan rambutku, memakai shampo dan masker rambut. Rencanaku bagaimana pun aku harus tetap terlihat cantik.
Aku mengeringkan tubuh dan rambutku, mengeluarkan hair drayer dan catok rambut dari dalam lemari.
Berdandan dengan menggunakan bedak dan pelembab bibir saja. Lalu mengatur rambut dengan Blow ke dalam agar terlihat lebih cantik dari biasanya.
Aku tersenyum ke pantulan cermin. Tak ku sangka, aku bisa juga menata rambutku dengan rapi. Aku senyum - senyum sendiri membayangkan makan malam bersama Jimmy.
Tepat pukul 5 kurang aku turun ke bawah. Biasanya Pak Teddy datang lebih cepat dari jam yang di jadwalkan.
Tebakanku benar, ia sudah menungguku. Ia tersenyum melihatku, "nah gini kan manis di lihat non.." Ucap nya.
Aku tersipu malu, "apaan sih pak. Orang cuman di catok rambutnya." Jawabku.
Aku pun memilih duduk di samping Pak Teddy. Aku tak terbiasa duduk sendiri di belakang, canggung bagiku.
Perjalanan pun kami mulai, benar ucapan Jimmy. Jalanan macet, sudah 15 menit kami tertahan di lampu merah. Pantas saja ia menyuruhku sore hari.
Aku sesekali melihat ke pinggir jalan. Banyak penjaja jajanan dan koran. Aku sebenarnya sedikit lapar. Tapi aku tidak mau bedakku luntur karena aku makan.
Perjalanan cukup lama aku lewati. Dan aku pun sampai di kantor Jimmy pukul 06.15.
Aku pindah ke kursi belakang, menemani Jimmy. Ia agak mengernyitkan dahi melihat dandananku.
"Kamu mau kemana?" Ia menggodaku.
"Katanya mau makan. Aku gapapa kan? Dandan dikit, nyobain alat catok rambut... " Jawabku dengan santai.
"Oh .. Baiklah... " Jimmy menganggukan kepala.
Sebenarnya agak gambling juga, aku dandan tapi kalo dia mengajakku makan di warung pinggir jalan?
Aku hanya mengenakan celana Jeans dan atasan berwarna pink semu putih. Setidaknya, tidak akan terlalu aneh kalau kami makan di pinggir jalan.
"Jadi.. Kita makan dimana?" Aku membuka.
"Pecel ayam... " Jawab Jimmy singkat. Ia malah sibuk membaca email di tabletnya.
"Oh... Oke.. " Jawabku.
Sebenarnya aku sedikit down ya. Sudah bersiap rupanya makan di warungan. Untung aku tidak berdandan atau memakai dress.
"Tenang, kamu ngga akan malu kok dengan pakaian mu.. "
"Eh, kenapa malu? Aku seneng kok makan di pinggir jalan. Yang penting enak sama bersih. Udah kok gapapa.. " Aku buru - buru menjawab Jimmy.
"Kita sudah sampai, ayo turun. " Jimmy menarik tanganku.
rupanya kami berhenti di restaurant jepang. Aku hanya sering melihat, baru kali ini aku masuk ke dalam.
"Disini, kamu makan nya masak sendiri pake panggangan. Saranku, ambil secukupnya saja. Kalau tidak habis, kamu bayar chargenya!" Jimmy menakutiku.
"Ih.. Kamu apa sih!" Aku kesal dan menyikut lengan Jimmy.
"Iya, ini all you can eat... Kamu makan semau kamu asal abis... " Jimmy malah makin menggodaku.
Kami pun masuk ke dalam, namun Jimmy langsung menghentikan langkahnya. Aku pun menoleh, ada apa disana.
"Jess... " Ucapku refleks.
"Hai... Hallo Jimmy, long time no see..." Pacar Jessy, Budiawan menyapa kami.
"Hallo.. Nice meet you... " Jimmy membalas.
"Mari, mau duduk bersama?" Pria paruh baya itu menawarkan.
"Tentu boleh, kawan lama ingin reuni juga.. " Jimmy menjawab.
Ia membawa kami duduk bersama dan saling berhadapan. Aku bisa merasakan aura yang kurang enak disini.
Jimmy menepuk punggung tanganku, artinya semua nya baik - baik saja. agar aku pun tenang, meski aku menyadari tatapan Jessy penuh rasa benci kepadaku.
__ADS_1