
"gimana kamu bisa disini anak miskin?" suara wanita. aku hapal benar suara siapa ini.
aku menoleh kebelakang, rupanya benar siapa dia. Roseliana...
Aku lalu berdiri persis di hadapan dia. Kemudian Aku melipat kedua tangan di dadaku.
Aku mengehela nafas sambil memainkan kedua mataku. Seolah gesture tubuhku, aku benci dengan kedatangannya.
"Kenapa Tante? Ga nyangka bisa ketemu disini... " Aku mencoba menyapa dengan halus.
"Iya ga sangka kamu bisa masuk ke lounge khusus orang kaya. Lounge khusus punya Penerbangan dengan harga tinggi.. Ah, tanta paham. Pasti kamu sedang jual diri kan? Kemudian lelaki tempo hari itu adalah om - om yang kamu kencani... Hahaha... " Tante Rose merendahkanku.
Aku masih menahan emosiku, ingat aku bersama Jimmy. Jangan sampai ia kaget melihatku bertengkar dengan wanita ini.
"Ehem.... Tante Roseliana yang Terhormat. Saya miskin, tapi saya masih punya harga diri. Saya bekerja dan sedang tugas. Jadi, engga salah kan kalo saya disini... Tante sendiri mau kemana?" Aku mencoba menahan emosiku yang memuncak.
"Tante? Jelas jalan keluar negeri. Ngabisin uang suami tante yang kaya. Hidup bahagia dengan banyak uang. Bukan banyak utang... " Nada bicaranya pelan.
Tapi, bisa kupastikan ia sedang merendahkan diriku.
"Oh begitu, bahagia ya tante. Walau suami tante udah sakit - sakitan itu ya? Kalo aku ga salah, pernah ketemu di panti pijat di deket perumahanku deh. Jaman itu aku lagi nganterin pesenan catering si pemilik tempat itu.... "
"Ssst! Bukan begitu anak kecil! Suamiku sedang sidak kesana. Kamu jangan memfitnah....Kaya ngerti aja kamu.. Heran anak sok tahu kaya kamu... " Tante Rose mengeluarkan kipas.
Lalu ia mengipaskan ke dekat wajahnya. Antara malu dan marah, ya menurutku seperti itu.
"Oh, bisa jadi. Padahal seingatku om merangkul dengan mesra wanita cantik itu.... Mungkin benar aku sok tahu ya... " Aku sengaja memancing emosinya.
"Kamu tuu..!" Tante Rose berhenti.
Tiba - tiba pemberitahuan panggilan untuk penerbangannya.
"Awas kamu, kali ini kamu lolos dari aku..." Tante Rose pun pergi meninggalkan ku.
Aku duduk lagi dan memasang headset di telingaku.
"Dasar, menganggu dan membuat hariku buruk. Wanita gila. " Aku berguman.
Seseorang menepuk lenganku, aku kesal dan sudah bersiap memberi tinjuku.
"Lhoh.. Kok kamu?" Aku kaget melihatnya.
"Emang siapa lagi? Nih sarapan dulu..." Jimmy memberiku Sandwich dan coklat hangat.
Aku menerima dan membukanya, astaga bau harum nya langsung menusuk hidungku.
"Terima kasih Jim... Mari makan... "
Kami pun makan dengan santai. Entah tinggal bersamanya beberapa hari membuatku terbiasa. Hanya saja aku berusaha untuk tidak menyukai dirinya.
Aku percaya dan yakin. Suatu saat aku pasti akan jatuh hati ke Jimmy.
Aku pun menatapnya, jika memang hanya bertepuk sebelah tangan.
Aku merasa bahagia kok menjalani dengannya.
"Jangan ngeliatin gitu ah, aku malu... " Lalu Jimmy mengigit sandwichnya.
"Habis wajah kamu lucu, asia ga, bule juga engga. Kan aku jadi binggung.. " Jawabku.
Sumpah, aku jadi tersenyum sendiri saat bersamanya. Apa aku mulai gila sekarang?
suara pemanggilan penumpang penerbangan kami sudah terdengar. aku cepat - cepat membereskan sampah kami.
"sudah santai saja, kita masuk agak akhir saja. aku malas berdesakan di dalam." ucap Jimmy.
memang benar, aku melihat banyak penumpang berebut masuk ke dalam. meski pun tidak separah penerbangan dengan pintu sebelahnya.
aku bisa melihat status sosialnya kini. mana tiket mereka yang mahal dan tidak terlalu. "manner" pun sedikit bisa terlihat dari penumpang. walau tidak semuanya.
"Ayo kita masuk... "
Aku berdiri dan baru saja mengambil tas ranselku. Tapi, tangan Jimmy meraihku. Ia menggandengku masuk ke dalam.
Kami masuk ke sebuah lorong dengan beberapa kaca di sebelah kanan dan kiri. Kami bisa melihat landasan pacu dan pesawat yang baru saja landing.
Sampai kami tiba di ujung. Pramugari menyambut kami dengan senyum ramahnya.
Jimmy menunjukan tiket kami, dan pramugari membawa kami ke kursi kami.
Ada di barisan kedua dari depan. Di tempat itu hanya ada 2 baris dengan masing - masing 2 kursi yang berdampingan.
Di belakang ada tirai yang menutup rapat. Aku sedikit mengintip rupanya penumpang yang lebih dahulu masuk.
Mereka duduk rapi disana, pramugari sedang final Checking sebelum memberi pelatihan cara penggunaan seatbelt.
Aku pun di tarik Jimmy duduk dekat jendela.
Kini pramugari sedang memberi arahan di tengah kami. Aku yang baru pertama kali memperhatikannya.
Jimmy sibuk dengan majalah fashion dihadapannya. Pesawat pun mulai berjalan perlahan. Aku bisa merasakannya bagianku berpijak mulai bergerak.
Aku melihat ke jendela, benar pesawat berjalan mundur. Ia meninggalkan area parkir nya dan berpindah ke lahan lain.
Pramugari yang sudah selesai pun duduk di kursi dekat pintu masuk tadi. Lampu dalam kabin mulai di matikan, sayup terdengar kode yang di bacakan pilot.
Apa ini artinya akan lepas landas?
"Tenanglah, pejamkan mata jika kamu takut. Tapi nanti tarik nafasmu perlahan... Jangan lupa berdoa agar kita semua selamat... " Bisik Jimmy di telingaku.
Aku menjawab dengan anggukan kepala.
Pesawat mulai mempercepat laju, aku pun membuang nafasku perlahan..
__ADS_1
Aku mengenggam tangan Jimmy dengan erat...
Saat itu pun tiba, aku merasa ada tekanan dari atas ke arah dadaku, sangat kuat.
Itu berlangsung selama 1- 2 menit saja. Lalu pesawat miring ke arah kiri, kemudian kanan.
Aku mengintip dari jendela, ada awan yang aku lewati. Terlihat dari jauh atap dari rumah sekitar bandara. Adapula area persawahan.
Tak lama pemandanganku berubah awan yang terlihat. Lampu kabin pun di nyalakan.
Pramugari yang semula duduk mendekati kami.
"Tea, coffee or orange Juice?" Tanya pramugari dengan nama Angel.
"Tea please, with croisant and danish pasty.. " Jawab Jimmy.
Pramugari lalu meninggalkan kami, ia kembali dengan cepat.
Membawakan apa yang di pesan Jimmy.
Early Grey dan pastry yang di pesan Jimmy.
Aku pun membuka meja yang ada di hadapanku.
Jimmy meletakan coffe breakku disana. Ada juga tv lcd di hadapanku, aku mencoba menyalakan nya.
Rupanya ada banyak film baru disana. Aku pun tak mau rugi, aku memilih satu film yang aku suka. Sherloc holmes.
"Kamu suka itu?" Tanya Jimmy sambil memakan croisant di tangannya.
"Sure. Aku nonton sekuel pertamanya sama Yofie." Aku menjawab polos sambil memakan cinnamon roll di hadapanku.
Wajah Jimmy kesal, lalu ia mematikan film tersebut dan menggantinya. Jimmy memilih film toys story sebagai gantinya.
"Kok di ganti sih!" Aku kesal dan mengernyitkan dahi.
"Segala yang berhubungan sama Yofie sapa itu. Harus pergi. Ga boleh ada di antara kita. Aku ga suka." Jimmy menjawab ketus.
"Ya ampun, kamu cemburu? Ini hanya film.. " Aku masih membela diri.
"Ya..." Jawab Jimmy tegas.
Ia lalu meninggalkanku dengan membaca majalah lagi. Aku masih terpana mendengar jawabannya.
Benar dia cemburu?
Aku tak mau banyak berfikir. Aku takut jika aku terlalu Geer (percaya diri), aku malah salah menafsirkan.
Aku melanjutka saja menoton film di hadapanku. Meski bosan, aku sudah pernah menonton bersama Ghea.
Belum separu jalan cerita, pesawat sudah akan landing. Tv dan lampu di matikan kembali.
Piring dan gelas pun di ambil lagi oleh pramugari.
Lalu perlahan pesawat mulai turun. Aku tak merasakan dengan jelas, beda saat take off tadi.
Pelan mulus namun ada pantulan saat kami memijak Bumi lagi. Perasaan senang karena aku pulang, cepat sekali jarak tempuhku.
Pesawat pun berhenti, kami yang ada di baris ini di persilakan keluar lebih dahulu.
Aku mengandeng Jimmy, berjalan di belakangnya. Aku melihat jelas kini, besar nya pesawat dengan warna dominan putih ini.
Kami pun menuju dalam bandara. Jimmy sepertinya sudah sering kemari. Ia berjalan santai dan menuju pintu keluar.
Disana ada papan nama
"Mr & Mrs Jimmy Y."
Jimmy mendekatinya, "hotel Well?"
"Yes sir... My name andik." Pria lokal itu menyapa kami.
"Speak bahasa saja, saya dan istri orang indonesia kok... " Jawab Jimmy.
Lagi! Dia bilang istri? Harus kah mengaku demikian.
Aku ikut ke parkiran, mobil hitam dengan logo Hotel. Rupa nya ia petugas hotel.
Lalu kami pergi dari bandara. Aku melihat jalanan keluar bandara. Astaga rupanya seperti ini jalan dan suasana di bandara.
"Pak, untuk mobil yang di sewa nanti hitungannya dengan pihak rental ya. Sudah ada petugas yang bekerja sama dengan kami.. " Jelas Bapak Andik ke Jimmy.
"Baiklah Pak, nanti mungkin kami nitip barang dan langsung ke rumah istri dulu.. " Jawab Jimmy.
Aku melihatnya saat berkata istri. Rasanya geli dan aneh di telingaku. Pandanganku pun jadi penuh tanya, salah makan apa orang ini?
Kami pun tiba di Hotel, letak hotel ini di pusat kota. Ada mall di samping hotel dan beberapa mini market di sebrangnya.
Kami pun turun, petugas mengurus semua bagasi kami.
Jimmy langsung turun dan masuk ke dalam. Aku membuntutinya, ia ternyata ke counter reception.
Ada beberapa sofa kosong. Aku memilih duduk dan menunggu Jimmy disana.
Aku membuka ponselku, aku lupa menghidupkan mode pesawat dari tadi.
Baru saja ponsel menyala dan mencari sinyal. Ada pesan masuk dari Ghea.
Ghea : kakak, kapan pulang? Adek ga punya uang. Papa semalam jatuh, ini di Rumah Sakit Medical Center. Ghea ga bisa bayar kak.
Aku melonggo, kenapa bisa kebetulan seperti ini?
"Ada apa Cath?" Tanya Jimmy.
__ADS_1
"Kamu sudah selesai?"
"Sudah, itu city car putih yang jadi kendaraan kita. Kunci pun sudah di tanganku.. Eh, kenapa wajahmu begitu?"
Aku memberi ponselku ke Jimmy. Ia pun menerima dan membacanya.
Jimmy lalu melihat ke arahku, " Ayo kita ke rumah sakit."
Aku mengangguk, kami pun bergegas pergi. Jimmy menyalakan GPS yang ada di dalam mobil.
Ia mengetik Medical Center sebagai tujuan kami.
"Aku hapal jalannya Jimmm" Jawabku.
"Sudahlah, pikiranmu sedang kalang kabut. Diam dan tenang lah, aku akan membawa mu kesana... " Lalu Jimmy menepuk pundakku.
Aku terdiam mendengar ucapan Jimmy. Mengapa rasanya aku tenang setelah ia berkata demikian.
Jarak tidak terlalu jauh. Karena memang kota yang aku tinggali ini tidak begitu besar.
Mudah bagi Jimmy untuk menemukan letak rumah Sakit tersebut. Papan nama besar dan rumah sakit modern di kota kami.
Jimmy pun masuk ke area drop, kami keluar. Jimmy pun memberi kunci ke petugas Valet disana.
Kami pun ke counter receptionis disana. Petugas menyambut kami dengan ramah.
"Selamat siang Ibu & bapak. Bisa kami bantu?"
"Mba, ayah saya atas nama Thomson.. Dimana?" Aku berkata dengan panik.
Susunan kata ku pun berantakan.
"Maaf bu, pasien dengan Nama Bapak Thomson Jons apa ada? Dimana ruangan beliau?" Jimmy membenarkan maksudku.
"Oh baik Mohon tunggu, kami cek dulu ya... " Petugas mencari dari komputer di hadapannya.
Jimmy menenangkan ku dengan merangkul pundakku. Tapi aku melepaskan pelukan Jimmy.
Menurutku bukan saat tepat.
"Bapak, ini di ruang mawar 2 no 1. Naik lift nanti belok sebelah kiri sudah sampai. Mohon maaf Pak, nanti di infokan juga ke keluarga bantu deposit dan pembayaran tindakan atas nama pasien ya Pak.
Terima kasih." Kata reception tersebut.
"Oh, saya ketemu mertua saja belum sudah minta uang? Kalian luar biasa!" Ucap Jimmy dengan tatapan sinis.
Jimmy menarikku menjauh dari meja tersebut. Petugas tertunduk malu dan tidak berani melihat kami.
Aku mengikuti Jimmy, ia membawaku ke ruangan Papa. Saat kami berjalan, aku melihat sosok yang mirip Ghea.
"Adek!!" Aku memanggil.
"Kakak... " Ghea menghampiriku.
Kami pun berpelukan, aku bisa merasa beban berat yang Ghea harus pikul. Aku pun tak kuasa menahan air mata.
Lalu aku melepaskan pelukan kami. Aku menghapus air mata Ghea, aku berusaha tersenyum dan menahan air mataku sendiri.
"Yuk Dek, duduk disana sama ngobrol... " Aku pun membawa Ghea duduk di kursi samping kami.
Jimmy mengikuti dan duduk di belakangku. Canggung juga bagi Jimmy, pertama kali bertemu dengan keluarga Cathrine.
"Dek, gimana papa? Mama mana?" Aku bertanya.
"...... " Ghea hanya diam.
"Dek.... Cerita ya ke kakak... " Aku membujuk.
"Mama pergi dari rumah. Sudah seminggu kak, papa sama adek nyari kemana - mana mama engga ketemu.. Sampe akhirnya papa sakit, terus semalam papa jatuh pas mau masuk ke kamar... " Jelas Ghea dengan air mata mengalir.
Pantas saja, mama meminta uang kepadaku tempo hari. Untung aku tidak memberi semua kepadanya. Ternyata, mama memang tega kepada kami!
"Dek, udah... Ada kakak disini.. Jangan sedih lagi ya... " Aku memeluk Ghea.
Ia anak yang amat lembut perasaannya. Aku sangat memahami bagaimana binggungnya Ghea.
"Kak.... Dia siapa? " Ghea menunjuk Jimmy.
"Kenalin, kakak ipar... Jimmy... " Jimmy menjabat tangan Ghea.
"Ngawur!" Aku berbicara dengan nada keras.
"Kak, apa dia kaya? Bisa membantu kita?" Tanya Ghea dengan polos.
"Sangat dek, dia itu boss kakak. Pas ada tugas kesini. Jadi kakak ngajakin dia,kok mau yaudah dek... "
"Bohong... Beneran aku itu ipar kamu... " Jimmy tidak terima dengan perkataan Cathrine.
"Kak, kalau kakak kaya.. Aku mohon kak, bantu papa. Aku bersedia kerja apapun di tempat kakak. Asal papa bisa ketolong... " Ghea malah bersimpuh di bawah Jimmy.
"Sudah, ga perlu begitu... Udah tanggung jawabku kok... Sudah berdiri, cepat ... " Jimmy malu dengan apa yang Ghea lakukan.
"Baik kak.. Terima kasih dan maaf... " Ucap Ghea.
"Sudah, kamu disini sama Cathrine. Kalian makan lah, pasti kamu belum makan. Saya ke dalam dulu ngurus administrasi." Ucap Jimmy.
Jimmy pun meninggalkan kami.
Aku memegang pergelangan tangan Ghea. Aku rasa ia lebih kurus daripada saat aku pulang terakhir.
"Dek, yuk ke kantin. Kita makan ya, kakak udah gajian kok dek.. Kakak bayarin.. "
Kami pun berjalan ke arah kantin. Ruang tersebut ada di lantai 1 gedung perawatan papa.
__ADS_1