Cinta Beda Negara Bicara Soal Kasta

Cinta Beda Negara Bicara Soal Kasta
Perubahan


__ADS_3

Alvian sangat terpukul melihat perubahan sikap Lily yang sangat dinginnterhadap nya.


Terhitung dari Pertama kali dya pulang membawa Kikan sampai saat ini Lily pulang dari rumah sakit setelah di rawat intensif selama 5 hari perubahan Lily semakin jelas di mata Alvian.


Tidak ada lagi senyum indah itu.


Tidak ada lagi pelukan hangat.


tidak ada lagi sikap manja itu yang selalu merengek kepada nya.


Yang paling di rindukan nya adalah tidak ada lagi yang bergelayut di gendongan nya saat meminta sesuatu.


Alvian benar benar kehilangan semua itu.


" Sini Schatzi, aku bantu " Alvian hendak membantu Lily keluar tapi Tangan nya kembali di tepis kasar oleh nya.


Kikan yang melihat itu semua semakin merasa bersalah.


" Aku bantu ya " Kikan mencoba mendekat.


Lily berhenti sejenak dan melihat ke arah Kikan yang terlihat lusuh pakaian nya.


" Bersih kan diri mu Fellio akan mengajak mu berbelanja. Aku tidak ingin di cap sebagai Istri pertama yang kejam. Aku malu memiliki madu yang Pakaian nya tidak layak pakai. Minta uang kepada suami mu agar memberi mu uang jajan. Kalau perlu minta mobil " Setelah mengatakan itu Lily meninggalkan Kikan di sana yang menatap ke arah Alvian


" Kak, Maaf kan aku "


" Sudah lah. Pakai ini " Alvian memberikan kartu Platinum nya ke Kikan.


Bukan dya tidak tau cara menggunakan nya. Hanya saja dya merasa tidak pantas.


Setelah Kikan pergi bersama Fellio Lily saat ini sedang berada di balkon kamar nya.


Tiba tiba saj dya melihat phon mangga yang sedang berbuah dan buah nya sangat besar besar.


" Kalian menginginkan nya kah ? Oke kita akan kesana. Tapi, Mami ingin Papi kalian yang memanjat nya " Lirih Lily menatap sendu ke arah cincin pernikahan nya.


Keluar dari kamar nya menggunakan Lift Lily langsung menuju halaman samping dimana pohon mangga yang berbuah itu.


Lily berpapasan dengan Alvian yang baru saja mengunjungi makan kedua orang tua nya.


Namun Lily bersikap dingin membuat hati Alvian kembali sakit dan semakin sakit.


" Tidak bisa kah kita bicara " Ucapan Alvian menghentikan Lily. Namun sejurus kemudia Lily kembali berjalan meninggalkan nya.


" Maaf kan aku " Lirih Alvian lagi.


Lily masih mendengar namun tetap berjalan meninggalkan nya.


Alvian memutuskan untuk mengikuti sang istri sampai dya melihat istri nya terus terusan melihat ke arah pohon mangga yang buah nya sangat lembat.


Alvian memgikuti arah pandangan istri nya dan ternyata Mangga Pikir nya.

__ADS_1


" Baby mau mangga ? Biar papi ambilkan ya ?" Dengan santai Alvian berjalan ke arah pohon dan meminta Fellio mengambil kan nya tanga untuk memanjat.


" Schatzi, saymg mau yang mana ?" Tanya Alvian saat sudah di atas pohon.


" Ini ? " Tunjuk Alvian


Lily menggeleng, Alvian kembali menunjuk mana yang di ingin kan istri nya.


" Kata kan ingin yang mana sayang ? Aku akan mengambil kan nya. Apa yang itu ? Yang muda ? atau yang besar ini ? Aku rasa ini paling besar. Lihat warna nya sudah mulai menguning "


Lily mengangguk membenar kan.


" Aku ambil tiga mau ? Sudah ? Atau mau lagi ? " Lily menggeleng dan Alvian segera turun kembali menggunakan tangga.


Terlihat keringat mengalir dari dahi nya ke samping pipi nya dengan pakaian nya sedikit berantakan dan rambut mya acak acakan terkena dedaunan.


" Ayo " Alvian menggandeng tangan Lily menuju Gazebo dekat kolam renang yang dulu pernah Lily di gangggu oleh Alvian dan tercebur.


" Tunggu sebentar ya Baby, Kita tunggu Uncle Fell membawa pisau dan piring. Bicara pada Mommy jika menginginkan sesuatu, Papi akan memcoba memenuhi nya apa pun itu. " Alvian mengehela nafas nya karna Lily tetap diam tanpa merspon suami nya.


" Asal jangan meminta Papi untuk meninggalkan kalian. Katakan pada Mami untuk terus bersama Papi. Percaya dengan cinta Papi "


Fellio datang membawa Pisau dan piring dengan semankuk besar air bersih.


Alvian mengupas mangga yang di petik nya langsung dari pohon tadi untuk istri nya.


" Sini Papi suap kan mau ?" Tanya Alvian


Dengan kasar dya menghempas kan Tangan Alvian yang masih memegang mangga yang sudah di kupas nya.


Duk...


Mangga yang di tangan Alvian jatuh menggelinding membuat nya harus sabar meneeima semua perlakuan Lily terhadap nya.


Alvian sadar terlalu dalam menoreh kan luka di hati sang istri yang paling di cintai nya.


" Tidak papa...Jangan menangis...Aku yang salah. Maaf kan aku " Alvian bangkit meninggalkan sang istri yang mata nya mulai berkaca kaca.


" Aku mencintai mu " Alvian mengatakan itu tanpa melakukan kontak fisik dengan Lily.


Karna dya sadar Lily masih membenci nya dan terluka karna diri nya.



" Aku membenci mu " Lirihan hati Lily keluar begitu saja dari bibir nya sukses membuat Alvian semakin di hujami rasa bersalah nya.


" Ya benci lah aku Schatzi, Maki aku bahkan pukul aku sepuas mu. Bahkan jika kau menginginkan nyawa ku, Ku persilah kan kamu mengambil nya dan mengakhiri hidup ku. Tapi tolong setelah nya maaf kan aku. Maaf kan aku "


" Per...gi...A...aku membenci mu..." Bahu Lily bergetar menahan tangis nya.


Alvian tidak sanggup melihat keterterpurukan Istri nya lantas langsung memeluk nya.

__ADS_1


" Maaf kan aku Schatzi...maaf kan aku...aku bersalah...hukum lah aku.Tapi jangan pernah pergi dari ku...Kau boleh memukul ku pukul aku sepuas mu " Alvian semakin erat memeluk sang istri yang terus memukuli punggung nya.


" A...aku membenci mu...aku membenci mu...Akuuuuu...mem...ben...ci...mu " Lama lama tangis Lily hilang berganti dengandengkuran halus di dada nya.


Lily tertidur dengan sesekali masih merasa senggugukan danntubuh nya bergetar.


Dengan segera Alvian membawa Istri nya dang berada di gendongan Ala Koala kesukaan Lily menuju kamar mereka yang sejak kepulangan nya bersama Kikan tidak pernah di tempati nya lagi.


Merebah kan Lily dengan perlahan Alvian menyelimuti istri nya sebatas dada.


Di lihat nya wajah sendu penuh kesedihan itu dengan tatapan yang menyirat kan penyesalan.



Alvian melihat ada Parfume mahal milik nya di tempat tidur mereka dan dya tau selama ini Lily bisa tidur dengan mencium Parfume itu bahkan menyemprot kan nya ke bantal dan guling nya.


Hati Alvian semakin sakit melihat ini semua.


Perlahan dya memberani kan diri mengusap perut sang istri yang di sana ada kedua bayi mereka sedang berbagi hidup dengan sang Mami.


" Maaf kan Papi Baby, Maaf kan Papi. Maaf telah membuat Mami kalian merasakan sakit. Maaf kan Papi membuat kalian juga ikut merasakan sakit. Bantu Papi menjaga Mami kalian. Jangan nakal di sana ya. Kasihan Mami. Biar Papi yang merasakan semua nya. Biar Papi yang merasakan Mual nya Mami, Agar Mami kalian bisa tetap makan dengan benar. Ayo bantu Papi berjuang untuk Mami. Papi menyayangi kalian Baby. Ich Liebe Dich Meine Kinder " Alvian mengucap kan kata Cinta untuk anak anak nya dengan bahasa Jerman tempat kelahiran nya.


Setelah Nya Alvian mencium kening sang istri.


" Maaf kan aku "


Di Cium nya kembali kedua mata indah itu.


" Kembali kan Mata indah itu "


Kembali di cium nya kedua pipi sang istri.


" Kembali kan Rona bahagia itu "


Terakhir di kecup nya dalam bibir Mungil itu.


" Kembali kan senyum indah itu "


Berakhir dengan Mengelus perut sang istri dimana disana ada kedua bayi nya.


" Sehat sehat sayang. Papi mencintai kalian Baby. Katakan pada Mami. Papi minta maaf " Setelah nya Alvian keluar dari kamar dan ternyata disana sudah ada Kikan yang ingin mengembalikan kartu milik nya.


" Maaf kak. Aku hanya ingin mengembalikan kartu ini " Kikan menyerahkan kartu itu.


" Pakailah. Itu milik mu sekarang " Alvian berjalan meninggalkan Kikan disana.


Sementara di dalam kamar ternyata Lily terbangun dan dya kembali menangis setelah mersakan kembali keintiman nya dengan sang suami yang sangat di rindukan nya.


" Hiks...hiks...hiks...aku mencintai mu...A.


.aku membenci mu...Aku mencintai mu...Aku...juga membenci mu " Lily meringkuk di tempat tidur sambil terus menangis pilu.

__ADS_1


__ADS_2