
Bintang yang bertebaran menghiasi langit menambah indahnya suasana malam ini, begitupun bulan yang sempurna menghangatkan hati siapapun penikmatnya.
Namun tidak dengan gadis yang sedang meringkuk di pojok balkon kamar dengan menyembunyikan wajahnya di sela-sela lutut berbantal lengan.
Isak tangis membuyarkan keheningan malamnya, kehangatan yang bulan suguhkan tidak mampu menghangatkan hatinya, dan cahaya bintang yang memperindah suasana pun tidak mampu menghiasi wajah pucat dengan mata yang memerah.
Kenyataan yang dia terima melemahkan jiwa dan raganya, sejak kepulangannya tadi dia segera mengunci pintu dan merenungi nasib hidup yang ntah mampu atau tidak dia jalani, apa lagi setelah dia tau dengan siapa dia harus mengarungi kehidupannya kelak.
Pertikaian demi pertikaian yang dia alami bersama lelaki yang pernah menggores sedikit luka di hatinya berputar kembali di dalam ingatannya.
Kelakuannya yang kemudian membangun kebencian di hati dan kini akan menjadi imam dalam hidupnya sampai mati.
Sampai mentari menyapa gadis itu setia terjaga di tempat yang sama tanpa mengindahkan tubuhnya yang mulai lemah dan letih, hingga alarm pada jam beker membuyarkan renungan nya.
Tubuh yang lemas dan mata yang membengkak dengan warna hitam melingkari setiap sudut matanya tak menyurutkan langkah Sifa untuk bersiap. Hari ini dia harus tetap beraktivitas, akal sehatnya mulai kembali sejak suara jam membangunkan jiwanya.
Senin ini kegiatan yang padat sudah menanti, dari mulai upacara bendera hingga ulangan dan persiapan untuk mengikuti olimpiade semua harus dia lewati belum lagi sepulang sekolah nanti gadis itu harus bekerja.
Menatap pantulan dirinya di kaca dengan kondisi wajah jauh dari kata baik-baik saja, membuat dia berdecak kesal.Tangan Sifa meraih bermacam alat make up untuk menyamari wajah pucat dan mata bengkak efek menangis semalam lalu jangan lupa dengan lingkaran hitam seperti mata panda ini.
Di meja makan pun Sifa tidak banyak bicara hanya sesekali terdengar suaranya saat sang nenek bertanya. Keterpurukannya dimulai setelah mengetahui siapa orang yang akan di jodohkan.
"Aku berangkat nek" ucap Sifa lalu mencium tangan nenek.
"Hati-hati nak, kamu malam ini pulang kesini atau kost?"
"Aku pulang ke kostan nek"
" Tepi kamu harus hati-hati ya Fa, hari pernikahanmu sudah semakin dekat" ucap nenek mengingatkan.
"Iya nek" jawab Sifa kemudian meraih tangan nenek dan menciumnya lalu segera berangkat.
Upacara hari Senin segera di mulai Sifa bersama kedua sahabatnya telah berbaris rapi sesuai kelas masing-masing. Begitupun para murid lainnya yang mengikuti upacara tersebut.
Para guru serta petugas upacara dan anggota OSIS telah berkumpul sesuai tugas dan barisannya masing-masing. Cuaca pagi ini cukup terik, ketua OSIS sebagai pemimpin jalannya upacara sudah memasuki lapangan dan siap memulai upacara bendera hari ini.
__ADS_1
"Guys panas banget ya Allah muka gue sampe merah" ucap Meri mengibaskan tangannya di depan muka.
"Iya ya parah banget sich, untung gue tadi sarapan lontong sayur sebungkus plus gorengan dua" bisik Nisa yang membuat kedua temannya bergidik ngeri.
"Itu perut apa karung" tanya Meri meledek.
"Gue sich realistis, dengan gini gue kuat nggak sempoyongan kayak sebelah gue nich" ucap Nisa lirih sambil melirik Sifa.
Benar saja muka yang pucat dan lingkar hitam di matanya sudah tampak terlihat karena keringat yang cukup banyak membanjiri wajahnya.
"Fa Lo baik-baik aja?" Tanya Nisa.
"Astaghfirullah Sifa loe udah kayak zombie girl....." celetuk Meri yang terkejut melihat penampilan Sifa. Tetapi Sifa hanya memutar bola matanya tanpa niat untuk menjawab kedua temannya.
"Fa serius sekarang, loe mau gue anter aja ke UKS?" Tanya Nisa lagi.
"Iya Fa ayo loe sakit kan?"
" Nggak apa-apa gue udah ga usah hiraukan muka gue, cuma kurang istirahat aja kali makanya kayak gini" jawab Sifa ngasal padahal tubuhnya sudah mulai lemas, dan kepalanya terasa pening tapi setelah melihat jam di tangannya dan pembacaan doa di mulai tanda upacara akan berakhir dia berpikir tanggung dan akan sia-sia saja jika dia meninggalkan lapangan sekarang.
"Ayo fa cepet haus banget gue" ajak Meri yang sudah tidak tahan lagi.
"Fa....."
Brugghhhhh
"Sifa.." teriak kedua temannya.
Sifa terjatuh tepat di depan Vino yang ingin menuju kelasnya, kepanikan Meri dan Nisa yang meminta pertolongan menyita perhatian yang lain termasuk Aldi yang sedang berbicara dengan anggota OSIS.
Melihat Sifa yang tergeletak di pinggir lapangan membuat Aldi segera berlari menghampiri. Tapi seketika langkahnya terhenti, dia dikejutkan dengan tindakan Vino yang menggendong Sifa ala bridal style, tidak hanya Aldi tapi semua teman mereka yang ada di sana di buat menganga melihat pemandangan yang langka ini.
Vino tidak pernah sepeduli ini, apa lagi yang ia tolong adalah perempuan yang telah berani mempermalukannya.Begitupun dengan Geri, dia di buat benar-benar tidak percaya, tapi berbeda dengan Rian dia justru menyunggingkan senyum tipisnya.
Karena bel sudah berbunyi Meri dan Nisa yang ingin menyusul Sifa ke UKS segera mengurungkan niatnya, begitupun dengan Aldi, mereka hanya menatap punggung Vino yang menjauh dengan Sifa di pelukannya.
__ADS_1
Sesampainya di UKS Vino segera membaringkan Sifa di ranjang kemudian menarik selimut sampai batas perut Sifa. Petugas UKS segera memeriksa keadaan Sifa, dengan Vino yang masih berdiri tidak jauh dari ranjang Sifa.
"Kamu pacarnya?" Tanya petugas UKS kepada Vino yang sejak tadi berdiri memperhatikan. Dia tau jelas siapa Vino, tapi baru kali ini pria itu tampak menolong seorang gadis yang terkulai lemas.
"Gimana keadaannya?" Tanya Vino tanpa menjawab pertanyaan petugas UKS tersebut.
"Dia kurang istirahat, sangat terlihat lingkar mata yang menghitam, kemudian mata yang membengkak mungkin ada masalah yang dia hadapi" jelas petugas UKS tanpa berkata kemungkinan dari mata yang membengkak faktor karena banyak menangis.
"Biarkan dia istirahat agar badannya pulih kembali, kalau begitu saya permisi"
" Hhhmmm"
Setelah petugas meninggalkan mereka Vino melangkah mendekati Sifa yang sedang terlelap. Vino memperhatikan wajah pucat Sifa dengan mata panda yang sudah membengkak.
"Benar kata petugas tadi, apa loe nggak tidur karna rencana semalem? Sesedih itu loe setelah tau gue calon suami loe sampe mata bengkak begini, cih......" Gumam Vino menatap Sifa.
Ceklek
Nampak Nita masuk mendekati Vino yang sedang memandang Sifa dengan mata yang sulit di artikan.
"Vin, ayo kekelas ngapain sich kamu malah nungguin dia disini" ucap Nita manja dengan bergelayut mesra di lengan Vino.
"Hhmmm" Vino memutuskan meninggalkan Sifa sendiri dan melangkah pergi dari sana.
Ceklek
Ketika mereka ingin keluar dari sana tiba-tiba pintu terbuka dari luar dengan sosok Aldi yang berniat ingin masuk, Vino dengan mata elangnya menatap Aldi yang juga sedang mengunci pandangan.
Seakan ada api permusuhan yang membara diantara keduanya hingga suara Nita mengalihkan pandangan Vino dan Aldi.
"Sayang ayo......" rengek Nita lagi mencoba menarik lengan Vino.
Aldi tak menghiraukan keduanya dia segera berlari menghampiri Sifa dan membelai pipi Sifa yang pucat.
Cup
__ADS_1