
Ucapan salam menggema di ruangan VIP Restoran tersebut, tampak wanita paruh baya dan gadis cantik sudah berada di ambang pintu, semua orang yang berada disana menatap takjub gadis cantik yang menundukkan kepalanya itu.
" Wa'allaikumsalam" ucap mereka membalas salam.
"Masuk Rum"
"Ah iya,ayo nak" ucap nenek menoleh kearah Sifa dan menggenggam tangan cucunya.
"Bismillah" batin Sifa menguatkan hatinya dan mulai menatap dua orang asing yang ada di depannya kecuali nenek Ningrum yang telah ia temui tempo hari di cafe.Sifa dan nenek berjalan mendekati mereka semua.
"Ayo duduk sayang" ucap mamah Vino yang sangat terkesan dengan kedatangan Sifa. Kecantikan Sifa memang menyita perhatian orang tua Vino dan nenek Ningrum.
"Maaf ya kalau aku telat, tadi macet di jalan" ucap nenek Arum pada sahabatnya.
"Nggak apa-apa, kenalin ini anak dan mantuku" ucapan nenek ningrum membuat nenek Arum lansung mengulurkan tangannya pada anak dan mantu sahabatnya itu.
"Ini cucuku Sifa" ucap nenek dan ditanggapi oleh Sifa yang mengulurkan tangan kepada kedua orangtua yang ada di hadapannya dan tidak lupa pada nenek ningrum juga.
"Mana cucumu ?" Tampak nenek mencari cucu nenek Ningrum tapi tidak ada di ruangan tersebut.
"Tadi anak saya menyusul mungkin sebentar lagi sampai, belum lama dia mengabarkan katanya sudah dekat " ucap anak dari nenek Ningrum mencoba menjelaskan.
"Kamu kelas berapa nak?" Tanya wanita yang sejak tadi memperhatikan Sifa, ya mamah Vino ini sejak tadi perhatiannya tersita pada gadis cantik di hadapannya yang terus menunduk malu-malu.
"Kelas XII Tante"
"Sama dong dengan anak tante, dia juga kelas XII, kamu sekolah dimana nak?" Tanya mamah Vino lagi yang mulai ingin mengakrabkan diri ntah karena tidak memiliki anak perempuan atau gimana, dia begitu senang saat bisa akrab dengan Sifa.
"Sekolah di SMA Baratajaya Tante" jawab Sifa dengan senyum yang menghias wajahnya. Mendengar itu mamah langsung menoleh ke papah Vino yang sejak tadi menyimak percakapan keduanya.
"Kamu kenal......" Belum selesai mamah Vino bertanya suara pintu terbuka membuat atensi semua yang ada di sana teralihkan.
Tampak pemuda tampan dengan setelan kemeja yang rapi memasuki ruangan tersebut, ada kelegaan di hati kedua orangtuanya dan nenek Ningrum saat melihat kedatangannya.
"Sini duduk dekat papah Vin" ucap papah menggeser kursinya.
"Kenalin dulu ini nenek Arum dan juga cucunya" ucapan nenek Ningrum membuat Vino yang berusaha seramah mungkin mungulurkan tangannya mengucap salam dan mencium tangan nenek.
__ADS_1
"Ini cucu nenek Arum Vin, kenalan dulu donk" ucap mamah yang membuat Vino melihat kearah gadis yang masih menundukkan kepala.
"Eehhemmmm" deheman vino dan uluran tangannya membuat Sifa menyambut tangan pemuda itu dan mencoba melihat kearah laki-laki yang masih berdiri di hadapannya.
"Hhhaaaaahhhh loe" ucap Sifa terkejut dan Vino yang membolakan mata tak kalah terkejutnya.
"Jadi loe......." Langsung melepas tangan Sifa dan memijit pelipisnya.
"Nek..." Ucap vino memandang nenek meminta penjelasan.
"Iya Vino ini calon istri kamu" jawab nenek Ningrum yang membuat Sifa dan Vino tercengang.
"Aku nggak mau" seru Sifa dan vino berbarengan, dan ditanggapi dengan rasa heran para orang tua disana.
"Kalian sudah saling kenal?" Tanya mamah yang mulai paham akan wajah yang beliau tangkap dari anak dan calon mantunya.
Vino hanya berdecak menanggapi pertanyaan sang mamah, sedangkan Sifa dengan muka padamnya menyesal telah menyetujui perjodohan tersebut.
"Nek....."
Mendengar ucapan nenek membuat Vino menoleh ke arah mamahnya, dan di jawab anggukan oleh mamah dengan mata sendu.
Lemah....Vino pasrah saat melihat tatapan sang mamah, tapi berbeda dengan Sifa, sorot mata membara dari Sifa dengan mata memerah menyorot tajam mata nenek.
"Nek ...." Ucap Sifa menggelengkan kepala pada nenek.
"Nenek mohon Fa" ucap nenek menyentuh jemari Sifa.
"Tapi jangan dia nek, Sifa mohon.....jangan dia" lirih Sifa tapi masih dapat di dengar oleh yang lain, air mata yang sejak tadi menggenang bercampur kemarahan, dan sorot mata yang memerah akhirnya menetes.
"Mengerti nak, nenek mohon anggap ini semua permintaan terakhir nenek, menikahlah dengannya, setelah ini nenek tidak akan menuntut apa-apa lagi dengan Sifa" ucapan permohonan nenek yang membuat hati Sifa semakin pilu, permohonan terakhir kata nenek, hati cucu mana yang akan kuat mendengar itu bagaikan nenek yang akan meninggalkannya. Kata itu juga yang sangat Sifa benci saat ini, yang mampu membuat Sifa tak mampu bertahan dengan keegoisan menolak keinginan neneknya.
Sifa terisak dalam diam mencoba menguatkan hatinya lagi, mencerna semua ucapan nenek, dan mencoba memahami keadaan. Sifa menarik nafas dalam berulang kali untuk mengendalikan emosi yang sempat berkuasa di dirinya, dan tarikan nafas panjangnya yang terakhir membuatnya berusaha menatap neneknya kembali, membalas genggaman sang nenek lalu menganggukan kepalanya.
"Alhamdulillah"
Satu kata itu keluar dari semua orang yang ada disana kecuali Vino. Nenek Arum pun tersenyum penuh kelegaan, tangannya terulur menghapus air mata sang cucu.
__ADS_1
"Makasih sayang" kemudian nenek mencium pipi Sifa, dan itu semua tak luput dari pandangan Vino.
Rencana perjodohan itu pun segera mereka bicarakan dan saling mengutarakan keinginan satu sama lain. Tapi tidak dengan Vino dan Sifa yang sedang sibuk dengan pemikirannya masing-masing. Hingga keputusan telah di sepakati kedua pihak keluarga tersebut.
"Pernikahan akan kita gelar satu Minggu lagi, tepat pekan depan di Vila milik keluarga kita di puncak" ujar papah Vino yang mampu mengejutkan Vino dan Sifa, tetapi keduanya tetap bungkam.
"Untuk semua persiapan pernikahan sebagian sudah nenek persiapkan dengan nenek Arum" ucap nenek Ningrum menimpali.
"Dan untuk kalian berdua mulai Jumat depan kalian sudah mengajukan ijin ke pihak sekolah" tegas sang Papah.
"Om....." Ucap Sifa lirih.
"Mau bertanya apa nak?" Tanya papah Vino yang mengerti keinginan Sifa.
"Bagaimana dengan sekolah Sifa om?" Tanya Sifa dan di tanggapi dengan senyum hangat papah dan mamah Vino.
"Tenang Sifa, kamu masih bisa bersekolah disana sekalipun nanti kamu sedang mengandung cucu papah" ucapan itu langsung membuat Vino membolakan matanya.
"Apa kamu lupa Vino ini siapa? Dan saya siapa? Mungkin kita baru bertemu, tapi kamu tidak akan lupa siapa Vino karena kesombongannya yang selalu membanggakan diri sebagai anak pemilik yayasan bukan?" Lanjut papah sambil melirik anaknya yang mulai jengah dengan situasi yang ada.
"Iya om"
Usai acara tersebut saat ini vino dan Sifa sedang duduk di dalam mobil yang sama, Vino yang di minta oleh neneknya untuk mengantar Sifa mau tak mau menuruti.
Keduanya tampak bungkam, Vino yang fokus menyetir dengan tatapan mata kearah jalan dan Sifa yang membuang muka mengarah ke jendela.
Hening , satu kata itu yang mewakili kondisi di mobil Vino saat ini, hanya deru mesin mobil yang menghiasi keheningan tersebut.
Sampai lampu merah membuat Vino menghentikan laju mobilnya, dia menatap ke arah Sifa yang setia mengarahkan wajahnya kesamping melihat jalanan.
"Jangan pernah loe bongkar masalah ini ke orang lain, termasuk kedua teman Loe sekalipun" ucapan itu membuyarkan lamunan Sifa, tak ada niatan untuknya menjawab semua kata-kata Vino.
Sampai di depan pagar rumah Sifa, Vino baru menyadari jika Sifa terlahir dari orang berada, ternyata yang ada di pikirannya tentang Sifa yang menjual diri itu tidaklah benar. "Lalu kenapa dia masih bekerja menjadi pelayan cafe" pikir Vino.
"Ingat pesan gue!" Tegas Vino mengingatkan sebelum Sifa keluar dari mobilnya, dan lagi-lagi tidak mendapat jawaban apa-apa dari Sifa.
Sifa keluar begitu saja tanpa ada sepatah katapun yang terucap membuat Vino semakin geram. Melihat Sifa yang telah berlari memasuki pagar tinggi yang ada di depannya Vino segera melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1