
Suara dokter menyambut pagi Sifa, dia terbangun karena dokter yang datang untuk memeriksa keadaan Sifa. Disana sudah ramai, formasi lengkap seperti sebelumnya. Ada mamah , papah, kedua nenek dan satu lagi Vino yang sudah rapi dengan seragam sekolahnya.
" Kapan dia balik kesini" pikir Sifa.
Dokter yang memeriksa Sifa sudah memperbolehkan gadis itu untuk pulang, kelegaan setelah mendengar penjelasan dokter tampak jelas pada raut wajah para orang tua. Dan ucapan syukur mereka mengiringi setiap kalimat baik yang terlontar dari dokter tersebut.
Saat ini Sifa sudah bersiap untuk pulang tetapi karena acara pernikahannya yang akan di laksanakan lusa membuat Sifa harus menyempatkan diri pergi ke butik.
" Sifa pulang bareng Vino saja ya, Vino kalian kan sudah mau menikah sebaiknya kamu ambil ijin dulu, besok sore kita sudah harus berangkat dan lusa hari pernikahan kalian" ucap Papah Vino.
"Nek......."
"Pulanglah bareng Vino, kamu juga harus mampir ke butik bersama Vino Fa" ucap nenek mengingatkan.
Akhirnya Sifa pulang diantar oleh Vino dengan mobil keluarga Baratajaya yang mengikuti mereka dibelakangnya karena ingin menuju butik. Nenek Arum yang mendapat laporan pekerjaan dari desa segera memutuskan untuk pulang agar cepat bisa memeriksanya.
Didalam mobil Vino dan juga Sifa sama sekali tidak ada yang membuka omongan. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. Tak ada senyum di kedua bibir calon pengantin ini..
Sampai mobil telah terparkir rapi Sifa dan Vino segera turun dan di ikuti oleh keluarganya. Di dalam butik sudah terpajang banyak model baju pengantin Sifa menyusuri gaun pengantin yang sudah terdisplay dengan cantik, matanya berbinar menyibak satu persatu model gaun pengantin tersebut.Sampai tangan Sifa berhenti pada kebaya modern berwarna gading dengan model dada yang rendah dan bagian bawah yang menjuntai dengan payet Swarovski. Sifa melempar senyum saat memandang gaun tersebut, apa lagi dengan setelan kain yang anggun sungguh perpaduan yang cantik menurut Sifa.
"Sifa coba yang ini nak" ucap mamah membawakan satu set kebaya berwarna putih yang tak kalah cantik. Dalam acara pernikahan memang Sifa lebih di utamakan menggunakan kebaya karena hanya ada acara akad.
"Iya mah.....Sifa coba dulu ya mah" Sifa melangkah menuju ruang ganti dengan di bantu oleh karyawan butik.
Vino sejak tadi hanya bersandar di pilar dengan tangan yang terlipat.
Mengamati setiap interaksi keluarganya dan calon istrinya.
Ceklek
Sifa keluar dari ruang ganti dengan kebaya yang membalut tubuhnya, semua mata memandang ke arah Sifa, kebaya pilihan mamah memang cantik dan anggun tapi ada rasa kurang nyaman di hati Sifa. Untuk menghargai mamah Sifa tetap mencoba melempar senyum.
"Kamu cantik sekali nak" puji mamah mendekati Sifa.
"Iya sayang tambah cantik lho" ucap nenek tidak kalah memuji.
" Eheemmm .....Gimana Vin?" tanya papah melirik Vino yang tampak cuek.
"Hhhmmmm"
"Jangan di ambil hati ya sayang " ucap mamah lirih dan di jawab dengan senyuman oleh Sifa.
" Sudah ya mah Sifa ganti dulu"
" Iya nak"
Saat Sifa berbalik Vino sudah ada di hadapan Sifa dengan kebaya yang ada di tangannya, Sifa melihat kebaya itu dengan teliti dan menoleh ke tempat asal kebaya yang tadi dia liat, sudah tak terdisplay di sana.Vino memberikan kebaya itu pada Sifa dengan senyum tipis Sifa menerima.
"Coba!" perintah Vino, yang di jawab anggukan oleh Sifa.
Nenek, mamah dan papah di buat tercengang melihat sikap Vino.
"Kalau nggak cocok ngomong Vin, pake pura-pura cuek tapi perhatian" ledek papah membuat nenek dan mamah tersenyum.
Vino dengan cuek melenggang menjauh menuju sofa tempat para tamu menunggu.
Lima menit, sepuluh menit, lima belas menit
Ceklek
" Loh nak......"
" Ayo pulang mah....tapi Sifa mau yang ini boleh?" tanya Sifa mengulurkan kebaya yang Vino berikan tadi kepada mamahnya.
"Nggak di coba?" tanya mamah lagi.
" Sudah mah" jawab Sifa tersenyum tapi mata mamah seakan bertanya kebenarannya.
__ADS_1
" Lusa mamah akan lihat"
" Ok.....ayo kita pulang" ajak papah yang mengerti maksud Sifa, kemudian mengajak keluarganya untuk segera pulang.
Vino dan Sifa kini sudah berada di dalam mobil keheningan pun kembali menyelimuti, tangan Sifa terulur menyalakan musik untuk memecah keheningan.
Rasa cinta ini
Aku tak pernah bisa mengganti dirimu
Dengan cinta yang lain
Sungguh hanya hatimu hati yang kucari
Yang paling ku sayangi
Takkan berhenti
Tulus pengorbananku
Tuk selalu bahagiakan dirimu
Rasa cinta ini takkan berakhir
Takkan terhapus waktu
Rasa cinta ini hanya untukmu
Hanya dirimu satu
Cinta dalam hidupku
Oh
Sungguh hanya hatimu (hanya hatimu)
Yang paling aku sayangi
Takkan berhenti
Tulus pengorbananku
Tuk selalu bahagiakan dirimu (bahagiakan dirimu)
Rasa cinta ini takkan berakhir
Takkan terhapus waktu
Rasa cinta ini hanya untukmu
Hanya dirimu satu oh
Cinta dalam hidupku ho
Ho
Hu
Rasa cinta ini takkan berakhir
Tak akan terhapuskan waktu ho
Rasa cinta ini hanya untukmu
Dan hanya dirimu satu
Cinta dalam hidup oh
__ADS_1
Cinta dalam hidup
Sifa ikut bersenandung lirih tidak peduli Vino yang berada di sebelahnya, dia lebih memilih untuk mendengarkan lagu dari pada ikut membeku seperti Vino.
Vino menghentikan mobilnya di depan pagar, Sifa terkejut akan dua mobil yang sudah terparkir di dalam halaman yang tidak asing untuknya.
"Aldi"gumam Sifa yang mampu di dengar oleh Vino.
Sifa berusaha untuk tenang, dengan tiga kali tarikan nafas Sifa kemudian keluar dari mobil dengan paperbag di tangannya.
"Makasih" ucap Sifa sebelum keluar dari mobil.
Setelah Sifa masuk Vino sempat melirik kedalam pagar, dia juga tau siapa yang telah menunggu Sifa, dan bisa jelas terlihat Sifa yang baru datang lagsung di sambut oleh Aldi yang memegang kedua bahu Sifa. Setelah melihat itu Vino segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
" Kamu dari mana?" tanya Aldi yang sudah menyambut Sifa di teras.
"Aku dari rumah sakit"
"Di antar siapa?" tanya Aldi lagi, Aldi seperti mengenal mobil yang baru saja melewati pagar Sifa tapi karena sangat kencang hingga Aldi tidak terlalu jelas melihatnya.
"Sama temen nenek, ayo masuk"
"Itu ada Meri sama Nisa juga?"
"Iya mereka yang menemani aku kesini"
" Fa....." seru Nisa dan Meri berbarengan saat melihat Sifa muncul dari balik pintu.
" Udah lama?"
" Lumayan, kok pulang nggak bareng nenek?" tanya Meri.
"Iya tadi di antar sama nenek Ningrum" ucap Sifa yang duduk di sofa bersama Aldi.
"Kok kalian kesini nggak bilang-bilang dulu sich, tau gitu kan gue buru- buru balik tadi"
"Tuh orangnya yang mau ngasih surprise buat loe katanya" tunjuk Meri kepada Aldi dengan dagunya.
" Iya aku kemarin kan nggak bisa jenguk kamu pas di rumah sakit, ya udah pulang sekolah aku langsung cabut aja ngajak kedua sahabat kamu" jelas Aldi.
"Ciyeeeeeee aku kamu" ledek Meri.
" Iya mer, apa ada yang kita lewati ya mer" ucap Nisa sambil melirik Sifa dan Aldi.
"Apa sich kalian, jangan Ngadi-ngadi dech....gue colok ntar otak loe pake lidi" sewot Sifa.
"Nggak bisa bege pake lidi....." celetuk Meri.
" Bodo lah"
"Sabar-sabar ya dekat mereka, tapi di jamin bahagia kok" ucap Sifa tersenyum pada Aldi.
" Iya apa lagi dekat kamu, bahagia banget" ucap Aldi dengan tangan mencubit hidung Sifa.
"Kita mah jadi obat nyamuk mer"
" Yang bakar apa yang listrik Nis?"
" Yang semprot mer" seru Nisa lalu menarik pipi Meri gemas.
" Eh sil ini paperbag kamu kan?" tanya Aldi pada Sifa.
"Iya itu punya aku"
" Kok isinya kebaya pengantin?"
"Hhaaaahh!!"
__ADS_1