
Pagi ini Sifa tampak cekatan dengan pisau dan sayur di tangannya, Sifa memotong beberapa sayuran yang akan ia masak untuk sarapan.
Tumis capcay adalah menu pilihannya pagi ini agar simpel tapi tetap kaya akan vitamin. Gadis itu memasukkan semua sayuran yang sudah ia cuci kedalam wajan yang berisikan bumbu. Kemudian wajan sebelahnya sudah terisi minyak panas untuk menggoreng ayam.
Tiga puluh menit Sifa berkutat di dapur, setelah semua siap dia segera masuk kamar untuk membersihkan diri.
Tampilan yang sudah rapi serta wajah yang ia rias tipis menambah kecantikan Sifa Amelia Atmaja. Gadis itu segera meraih tas dan keluar dari kamar bersamaan dengan penghuni kamar sebelah.
Kejadian semalam membuat Sifa agak canggung, tapi dia berusaha keras untuk bersikap biasa. Vino melirik Sifa yang melangkahkan kakinya menuju dapur. Pemuda itu juga sempat melihat meja makan yang sudah tersedia sayur dan ayam goreng.
"Ayo sarapan Vin!" ajak Sifa saat melihat Vino yang masih diam di tempat.
Pemuda itu melangkahkan kakinya menuju meja makan dan duduk di kursi depan Sifa. Sifa segera menyiapkan piring untuk Vino dan mengisinya dengan nasi, sayur dan lauk kemudian memberikan piring tersebut pada Vino.
Dalam hati Vino mengakui ke kepiawaiannya Sifa dalam mengurus rumah dan dapur. Makanan yang Sifa masak pun enak, tapi tidak tau akan hatinya yang sebenarnya ikhlas menerima atau tidak.
Sifa dan Vino terlihat lahap menikmati sarapan mereka, hingga ponsel Vino yang berada di atas meja berdering. Sifa sempat melirik siapa gerangan pagi-pagi sudah menghubungi. Vino yang sadar akan pandangan Sifa yang melihat nama si penelepon segera meraih ponselnya, dilayar ponselnya terlihat jelas nama Nita tertera di sana.
Vino memutuskan untuk mengangkat telpon tersebut.
"Hallo Nit."
"..…..."
"Ok tunggu disana, jangan kemana-mana!"
"........"
Vino segera minum dan pergi dari sana dengan tergesa-gesa. Sifa yang sejak tadi duduk di depannya hanya diam memperhatikan sampai pemuda itu tak terlihat.
"Segitu pentingnya..."
"Terus yang semalam apa?" Sifa menatap nanar pintu yang tertutup.
Gadis itu meninggalkan makanannya yang masih tersisa setengah dan segera berangkat ke sekolah dengan motor yang semalam di antar oleh Pak Dayat.
Vino datang bersama dengan Nita yang ia jemput di pinggir jalan karena mobilnya yang mogok, mobil Vino memasuki parkiran berbarengan dengan Rian dan Geri. Mereka segera turun bersamaan Sifa yang baru saja menghentikan motornya. Gadis itu sempat melirik kearah Vino dan kedua sahabatnya, tidak ketinggalan dengan Nita yang sudah menggenggam tangan Vino.
Sifa membuka helm menampakkan wajah cantik berserinya yang membuat para fans yang melihat dia auto berhenti memperhatikan.
"Widih Fa makin jadi aja."
"Cantik ya bidadari surga."
"Sifa jadi pacar gue aja yuk!" Dan masih banyak lagi celotehan para siswa yang melewatinya.
__ADS_1
"Emang sich makinan aja si Sifa," gumam Gery yang masih di dengar oleh temannya.
"Iya bener banget Ger, makin keluar inner beauty nya."
"Gue bisa kali ya daftar jadi cowoknya, secara Aldi masih di gantung sama dia," ucap Geri dengan mata yang terus mengarah ke Sifa yang sedang merapikan penampilannya.
"Bisa banget bro, belum ada yang punya dia," kata Rian dengan mata yang melirik Vino.
"Ayo Vin ke kelas, ngapain jadi liatin Sifa sich, dia kan musuh kamu sayang."
"hhmmm..."
"Gue dukung loe sama Sifa Ger, dari pada piara biawak padahal kelinci mungil ada di depannya," seru Rian yang membuat Vino geram dan sengaja menginjak kaki Rian saat melewatinya.
"Aaaassss........."
"Sakit Bangs**," teriak Rian pada Vino yang sedang menjauh.
Vino berjalan bergandengan tangan dengan Nita berbarengan dengan Sifa yang juga ingin menuju kelas. Sifa yang sadar adanya Vino di sampingnya kemudian memelankan langkahnya, membiarkan Vino dan Nita berjalan duluan.
"Fa..." Panggilan dari Aldi membuat Sifa terkejut.
"Eh Al bikin kaget aja dech loe," sewot Sifa yang melihat kedatangan Aldi. Aldi mengalungkan tangannya di pundak Sifa, dan berjalan bersama. Hal itu tidak luput dari pandangan Vino yang seketika melepas genggaman tangan Nita.
"kamu baik-baik aja kan?" tanya Aldi.
"Udah nggak usah dipikir, yang penting kamu baik-baik aja," ucap Aldi.
"Ayo aku anter kekelas!"
"Boleh, kayaknya pak ketos lagi gabut ini," ledek Sifa.
"Buat kamu free..." jawab Aldi kemudian mereka tertawa bersama.
Vino yang sejak tadi memperhatikan sudah mengepalkan tangannya, Nita sudah ia suruh pergi sejak tadi. Pemuda itu terus saja memperhatikan Sifa dan Aldi yang sudah menjauh, sampai tepukan di bahu menyadarkan dirinya.
"Loe bakal bener-bener kehilangan kalo sikap loe masih sama," bisik Rian kemudian melangkah melewati Vino menuju kelas.
Sesampainya Sifa di kelas teriakan kedua sahabatnya menyambut bak petir disiang bolong.
"SIFA.."
"Ikh apa-apaan sich kalian, berisik banget tau nggak!" sewot Sifa.
" Adudududuh yang di anter sampai kelas, kawal terus pak bos jangan kasih kendor," ledek Meri.
__ADS_1
"Kita yang bagian kawal sampai jadian dech," ucap Nisa yang ikut meledek keduanya.
"Ya udah gue balik ya Fa," pamit Aldi "Mer ,Nis jagain jantung hati gue ya."
"Widih...berasa udah halal ya Al?" ledek Nisa.
Aldi hanya menanggapi gurauan temannya dengan senyuman dan pergi menuju kelas.
"Fa, apa kabar hati loe?" tanya Nisa.
"Baik," jawabnya dengan senyum.
"Kapan mau cerita?" tanya Nisa lagi.
"Belum saatnya, nanti kalo gue udah siap pasti gue cerita ke kalian," ucap Sifa memberi pengertian kepada kedua sahabatnya.
"Yang penting sekarang loe baik-baik aja," ucap Meri berusaha mengerti.
"Inget Fa loe nggak sendiri, ada kita yang selalu ada buat loe," ucap Nisa yang langsung mendapat pelukan dari Sifa, mereka bertiga saling berpelukan. Karena pada dasarnya sahabat yang baik akan ada di saat suka maupun duka.
Pelajaran kedua di kelas Sifa adalah olahraga, kini seluruh murid kelas XII IPA 1 ini sudah turun ke lapangan untuk mengawali kegiatannya dengan pemanasan. Materi kali ini adalah basket dan guru memerintahkan para muridnya untuk berlatih, dibawah terik matahari tubuh putih Sifa yang berbalut kostum olahraga semakin mempesona dengan keringat yang membasahi dahi. Hingga pada saat bel istirahat berbunyi, banyak siswa yang memilih berhenti di pinggir lapangan melihat Sifa yang lincah berlari dan memasukkan bola ke ring dari pada mengisi perutnya. Ditambah lagi dengan tubuh sintal Sifa dengan baju olahraga yang sedikit basah membuat siapa yang melihatnya pasti akan tergoda. Semua itu jelas menarik perhatian Vino dan ke dua sahabatnya. Mereka mencoba menerobos kumpulan siswa yang memuji seseorang hingga mata ke tiga pria itu mendelik melihat Sifa yang aktif mendribble bola dengan baju yang semakin basah.
Rahang Vino mengeras saat tau alasan para siswa berkumpul, apa lagi tampak jelas di mata Vino dada Sifa yang tercetak akibat baju depannya yang basah akibat keringat.
"Wow...." ucap Gery dengan mata yang sudah membola menatap keindahan di depannya.
"Gila Vin nggak bisa di diemin," ucap Rian tanpa menoleh ke arah Vino.
"Jaga mata kalian kalo nggak mau gue colok!" ucapan itu membuat Rian dan Geri seketika memejamkan mata.
Sifa yang tidak sadar akan keadaan sekitar terus saja beraksi di tengah lapangan, hingga tangannya di cekal oleh seseorang dan di tarik kedalam pelukannya.
Sifa sungguh terkejut akan hal itu, dirinya masih bingung dengan situasi yang ada dan siapa yang berani memeluknya secara tiba-tiba. Hingga suara yang beberapa hari ini selalu dia dengar membuatnya tau siapa pemilik dada bidang itu.
"Jalan!"
Sifa menurut untuk berjalan mengikuti langkahnya dengan tubuh yang masih berada dalam dekapannya. Semua orang disana terkejut dengan keduanya, orang yang mereka tau saling membenci justru bisa sedekat itu. Begitupun dengan Meri dan Nisa yang di buat tercengang tak percaya dengan apa yang ia lihat.
Saat ini Sifa sudah berada di dalam basecamp Vino, gadis itu tampak bingung dengan ruangan tersebut.
"Ngapain loe bawa gue kesini Vin? pake peluk gue di depan orang banyak, jangan gila Vin loe bahkan lupa kalo loe punya cewek, gimana kalo dia lihat?"
"Ganti baju loe, loe mau pamer biar semua ngeliat badan loe!" perintah Vino dengan muka yang memerah.
"Gue lagi olahraga Vino, ya gue pake baju ini."
__ADS_1
"Liat dada loe!"