
Sejak mandi sehabis pulang sekolah tadi hingga malam hari Sifa terus saja di kamar sebelah tanpa menghiraukan perutnya yang belum diisi. Gadis itu sampai lupa menyiapkan makan malam karena terus belajar dan mengerjakan soal-soal yang ia dapat dari buku yang berjudul gudang soal. Sifa yang menyukai tantangan merasa tertantang dengan buku tersebut, dengan khusyuk mengerjakan dan melupakan Vino.
Vino yang juga sejak tadi sibuk dengan ponselnya baru tersadar jika jam sudah menunjukkan pukul 21.00.
Vino keluar kamar melirik tudung saji yang terbuka tanpa ada piring yang singgah disana, serta pintu kamar sebelah yang sejak tadi tertutup rapat. Ia melangkah menuju kamar itu dan membukanya, Vino melihat banyaknya kertas berserakan di lantai bekas coret-coretan yang Sifa pakai untuk mengerjakan gudang soal.
Tangannya terulur mengambil satu persatu kertas itu dan membuangnya di tempat sampah belakang pintu.
cup
Sifa terkejut saat satu kecupan hinggap di pipinya membuat Sifa keluar dari dunia perhitungan dan menoleh kesamping. Vino menjatuhkan dagunya diatas pundak Sifa sambil melirik buku yang penuh dengan angka .
"Istirahat dulu sayang! aku udah pesan makan, kamu nggak laper, hhmm?" suara Vino tepat di kuping Sifa yang membuat Sifa menegang, jantungnya mulai bekerja lebih aktif. Hingga semburat merah di pipi begitu terlihat.
"Masih sakit?"
"Udah mendingan, maaf ya aku sampai lupa siapin makan!"
Vino mengajak Sifa untuk keluar dari kamar dan menuju kamar utama lalu mendudukkan Sifa di pinggir ranjang. Vino beralih mengambil dompet di dalam tasnya dan membawanya mendekati Sifa.
Sifa hanya diam memperhatikan tanpa berniat untuk bertanya, gadis itu menunggu sampai Vino duduk di sampingnya. Vino membuka dompet dan mengeluarkan beberapa kartu ATM yang membuat dahi Sifa mengernyit.
"Ini buat kamu," Vino menyodorkan kartu black card kepada Sifa.
"Ini... buat?"
"Buat kebutuhan kamu!"
"Nggak usah Vin, aku bisa kerja kok aku juga mau minta ijin sama kamu, aku mau bekerja lagi paruh waktu setelah olimpiade nanti."
Sifa berpikir jika Vino memberikan kartu itu dari hasil meminta orang tuanya, jadi Sifa pikir lebih baik dia bekerja sendiri dan tidak merepotkan.
Vino mengambil tangan Sifa dan menaruh kartu tersebut di jemari lentiknya.
"Ini hasil kerja aku!"
deg
"Kerja?"
"Hmmm.....kamu pikir ini dari papah?" tanya Vino dan dianggukki oleh Sifa.
"Sikap aku memang buruk tapi seenggaknya aku menghasilkan walaupun sebelumnya aku sering berfoya-foya dari uang papah. Tapi di kartu ini hasil kerja aku selama tiga tahun ini."
Sifa tercengang mendengar ucapan Vino, dia tidak menyangka jika Vino selama ini bekerja.
"Emangnya kamu kerja apa? aku nggak pernah liat kamu kerja," tanya Sifa .
"Kamu mau tau kerja aku apa, hmm?"
"Iya lah, biar tau asal usul uang ini, halal dan haramnya biar aku tau."
"Kamu meragukan kemampuan aku?" Vino mengusap kasar wajahnya.
"Nggak gitu Vin, aku kan taunya kamu cuma main, main cewek, ke bar diskotik," jelas Sifa yang membuat Vino geleng kepala.
"Kamu tau kedai coffee yang di ujung jalan dekat sekolah?"
"Kedai coffee yang rame banget itu, yang tempatnya Instagram able itu, yang sekarang lagi Viral kan? itu aku tau lah siapa yang nggak tau, apa lagi aku pengen banget kesana belum bisa sampai sekarang gara-gara penuh terus," keluh Sifa.
"Kedai coffee itu namanya apa sich?" Vino mengelus pipi Sifa bekas tamparan Nita tadi yang masih sedikit membekas.
__ADS_1
..."Putra coffee!" Sifa menutup mulutnya dengan kedua tangannya dengan mata melotot....
"Hmm?"
"Jadi itu punya kamu?" tanya Sifa tak percaya.
"Iya dan ini hasilnya ada di dalam kartu ini dan yang ini buat kebutuhan kita, di dalam sini untuk kamu beli sayur atau kebutuhan kita yang lain, ini hasil gaji aku, jadi keuntungan dari kedai buat keperluan kamu, yang gaji aku buat beli keperluan rumah tangga kita," Sifa menitikkan air mata dia begitu terharu jika ternyata Vino bertanggung jawab.
"Aku nggak nyangka di balik sikap kamu yang buruk, kamu memiliki sisi baik. Berarti kalo dulu kamu nggak terpengaruh ucapan aku, kamu nggak akan di cap jelek, tapi makin banyak donk mantannya." Sifa mulai cemberut.
cup
"Bibirnya biasa aja, lagian hati aku kan cuma buat kamu!"
"Siapa aja yang tau usaha kamu?"
"Rian dan Geri, dan sekarang karena kamu istri aku jadi kamu berhak tau. Dan nggak ada ijin buat kerja segala, aku masih mampu menghidupi kamu!" tegas Vino.
"Makasih ya suami aku!"
Vino terdiam, otaknya mendadak korslet kata-kata Sifa tadi mampu membuat tubuhnya kaku.
"Tadi bilang apa?"
"Makasih!"
"Makasih apa?" tanya Vino lagi.
"Makasih suami aku!"
"Udah mulai akuin aku suami kamu?" ledek Vino menutupi hatinya yang sangat bahagia.
"Ikh kan emang kamu suami aku, kamu yang kemarin-kemarin belum ngakuin aku itu istri kamu," protes Sifa.
"Tau akh...!" Sifa segera berjalan keluar dengan dua kartu ATM di tangannya.
"Eh ini berarti kamu nafkahin aku?" sifa menghentikan langkahnya.
"Ya iya donk sayang!"
"Oh ...... ok!" Sifa kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar sebelah.
Vino menyiapkan makanan yang ia pesan tadi, sejak tadi Sifa hanya memperhatikan tanpa boleh membantu.
"Ayo makan!"
Mereka makan dengan lahap, karena sudah telat waktu makan malam karena kesibukan masing-masing.
"Aku dengar kamu sering mabuk-mabukan sebelumnya, kenapa?" tanya Sifa sambil menikmati makannya.
"Kangen kamu!"
"Sampe segitunya?"
"Hmmm...."
"Udah kayak orang cinta banget terus di tinggal kabur kamu tuh..." ledek Sifa.
Setelah membersihkan piring dan bungkus makanan Vino mengajak sifa masuk kamar untuk beristirahat.
"Eh kok kesitu, sini!" Vino mendorong Sifa untuk masuk ke kamarnya.
__ADS_1
"Ayo sikat gigi dulu!"
Sifa dan Vino sikat gigi bersama kemudian lanjut membersihkan muka, tangan dan kaki dilanjut merebahkan tubuh mereka di ranjang dan selimut yang sama.
"Sayang!"
"Hmmm...."
"Aku cinta kamu!"
"Hhaaaahhhh!" Sifa terkejut mendengar ucapan Vino, lebih tepatnya pernyataan dari Vino.
"I love you," Vino mengecup kening Sifa tanpa merespon apapun.
"Vin, serius?"
"Nggak percaya? butuh bukti apa, hmm?"
"Secepat itu?" lirih Sifa.
"Bahkan waktu 9 tahun belum cukup buat kamu percaya, terus aku harus gimana?"
"Kamu yakin?"
"Hmm.... mungkin kamu yang belum cinta sama aku, tapi nggak apa-apa aku tunggu sampai kamu mau buka hati kamu buat aku,"
"Kamu sok tau!" sahut Sifa.
"Ya emang gitu kan kenyataannya?"
"Bagaimana kalo aku udah cinta?" tanya Sifa membuat Vino menaikkan alisnya.
"Nggak percaya aku, setau aku kamu selama ini deket sama si ketos it......."
cup
Sifa menempelkan bibirnya di bibir Vino, membuatnya sedikit terkejut "aku cinta sama kamu!" lirih Sifa.
Mendengar itu Vino kembali menyatukan bibir mereka dan tidak membiarkan momen ini berlalu begitu saja, Vino menindih tubuh Sifa saat pergerakan lidah mereka saling beradu hingga semakin dalam membelit dan mengecap manis yang Sifa suguhkan. Nafas keduanya saling memburu memberikan kehangatan, hingga ciuman itu turun ke leher jenjang Sifa meninggalkan jejak cinta disana.
Sifa mulai merasakan gelora yang berbeda dari biasanya, bahkan suara lenguhan mulai keluar dari bibir mungilnya, hingga membuat gairah Vino semakin memuncak, tangan yang sejak tadi menahan bobot badannya mulai aktif bergerak mencari kehangatan yang terselubung di balik piyama Sifa. Tangannya dengan lihai melepas kancing piyama Sifa hingga nampak keindahan di depan matanya.
Sifa yang merasa tidak aman langsung memberontak hingga ciuman Vino terlepas. Sorot mata mendamba dengan kabut gairah yang menggelora membuat Sifa semakin takut kebablasan.
"Sayang!" suara Vino yang berat menambah sexy dengan tampilannya yang mulai acak-acakan.
"Jangan lebih Vin!"
Vino membuang nafas kasar dan melirik bagian atas Sifa yang sudah terlihat.
”Nyobain susu coklatnya boleh ya!" bujuk Vino yang rasanya sudah ingin menerkam tetapi tak ingin memaksa.
"Susu coklat?" tanya Sifa dan di angguki oleh Vino.
"Sebentar aku buatin dulu ya!" Sifa segera ingin beranjak tatapi di tahan oleh Vino.
"Mau kemana?"
"Mau ke dapur, katanya susu coklat!" ucap Sifa dengan muka polosnya
"Bukan itu tapi ini!" Vino meraih benda kenyal yang sejak tadi menantangnya.
__ADS_1
"Akkhh..."