Cinta Berawal Luka

Cinta Berawal Luka
Kehadiran


__ADS_3

Seiring berjalannya waktu, perut Sifa sudah semakin membesar dan mendekati Hpl yang sudah di tentukan saat pemeriksaan terakhir. Diperkirakan dua Minggu lagi Sifa akan melahirkan.


Segala perlengkapan sudah di persiapkan oleh Vino dan Sifa, sudah beberapa bulan ini mereka tinggal di rumah hunian yang lebih nyaman untuk keluarganya kelak.


Kedua orang tua dan nenek Ningrum yang sudah berada di Jakarta tak kalah heboh dalam menantikan kehadiran cucu pertama mereka. Hingga Sifa saat ini tak boleh dulu pulang kerumah mereka karena takut jika di tinggal Vino kuliah dan bekerja, Sifa tak ada yang membantu kalo tiba-tiba akan melahirkan.


Sedangkan Sifa pun sudah mengambil cuti dari dua bulan yang lalu, Vino tak memperbolehkan Sifa untuk banyak aktivitas karena dia tidak ingin mengambil resiko dan cukup ngeri juga ketika melihat perut Sifa yang sudah semakin besar.


"Sayang, bayi kita sedang apa?" tanya Vino yang saat ini sedang merebahkan tubuhnya di samping Sifa yang sejak tadi tertidur dengan miring ke kiri sesuai saran dokter.


"Lagi bobo mungkin, coba ajak bicara by siapa tau merespon."


Vino segera bangkit dan mendekati perut Sifa.


"Assalamualaikum anak papah, lagi apa sayang? Papah kangen sama kamu loh sayang, seharian papah kuliah dan kerja sampai lupa menyapa, papah harap kamu nggak marah ya..." Vino mengusap lembut perut Sifa dan sesaat kemudian bayi itu menendang dengan sentuhan lembut membuat Sifa geli sendiri merasakannya.


"Wah sayang anak kita merespon, pintar ya anak papah...kamu kangen juga ya sama papah karena di tinggal seharian?"


"Dia tau papahnya ngajak ngobrol By, gerak terus dari tadi."


"Mungkin dia ngajak main ya by, jadi nggak sabar." Sifa tersenyum membayangkan anaknya yang sebentar lagi sudah ingin lahir ke dunia.


Keduanya kini terlelap dalam mimpi dengan tangan Vino yang memeluk Sifa memberi kehangatan. Hingga pagi menyapa dan membangunkan mereka untuk memulai aktivitas.


Sifa menyiapkan baju Vino sementara Vino sedang mandi, kemudian turun ke bawah untuk ikut membantu mamah menyiapkan sarapan pagi.


"Pagi mah," sapa Sifa yang kini sudah sampai di dapur.


"Pagi sayang...eh kenapa kesini?" mamah segera menuntun Sifa yang mulai sulit untuk bergerak bebas agar duduk di kursi meja makan.


"Mau bantu mamah buatkan sarapan mah," jawab Sifa dengan lembut.


"Kamu duduk saja sayang sebentar lagi yang lain pasti turun, biar mamah yang mengerjakan sendiri ya nak, ini juga sebentar lagi selesai. Nggak usah ikut ke dapur perutmu sudah sangat besar nanti takut terbentur sesuatu."


"Iya mah." akhirnya Sifa mengalah dan menunggu yang lain berkumpul.


Pagi itu mereka sarapan bersama, Sifa pun di larang oleh Vino untuk melayaninya mengambil makanan, perut yang besar jelas akan mengenai meja saat Sifa mengambil makanan untuk Vino.

__ADS_1


"Aku ambil sendiri aja sayang, kamu mau makan apa?"


"Nasi goreng aja by..."


"Telur dadar apa ceplok?" tanya Vino lagi.


"Dadar aja, makasih by." Sifa terharu dengan semua orang saat ini. Dia seperti ratu, memang benar kata orang jika kita jatuh pada lelaki yang baik, kita akan dijadikan seperti ratu.


Setelah sarapan Vino lanjut pamit menuju kampus begitupun dengan sang papah yang segera berangkat ke kantor. Kini semua keluarga sudah tau jika Vino telah mempunyai usaha sendiri setelah beberapa bulan lalu Vino mampu membeli rumah dan mengembalikan semua ATM serta fasilitas yang pernah papa berikan padanya.


Jelas semua keluarga bangga pada Vino, dia pun sekarang sudah mulai belajar menjalankan usaha sang istri. Dia tak ingin Sifa kelelahan memikirkan dan menjalankan usahanya sendiri.Vino hanya ingin Sifa fokus dengan kuliah dan bayi yang ada di dalam kandungannya.


"Sayang aku berangkat dulu ya, jangan capek-capek, jaga anak kita sayang." Vino mencium kening Sifa kemudian turun ke perut Sifa menciumnya dengan sayang.


"Papah berangkat dulu ya, baik-baik sama mamah di rumah."


"Mah, Vino nitip Sifa ya mah kalo ada apa-apa lekas hubungi Vino."


"Iya Vin kamu tenang saja, istri dan anak kamu aman sama mamah. Yang penting ponsel selalu aktif ya, biar nanti mamah gampang hubungi kamu!"


"Siap mah, ya udah Vino berangkat..."


Ponselnya berdering di tengah perjalanan, Vino sempat heran setelah melihat nama si penelepon. Tetapi kemudian segera ia angkat karena takut ada hal penting yang terjadi.


"Iya mah."


"Putar balik Vino!"


"Ada apa mah?"


"Sifa ingin melahirkan, cepat kamu pulang dan ayo bawa Sifa ke rumah sakit!"


Mendengar itu Vino pun panik dan segera putar balik, dengan kecepatan tinggi dia menyalip beberapa kendaraan dan sempat merusuh di jalan. Beruntung tak ada polisi yang berjaga, tapi ntah jika nanti tiba-tiba ada surat tilang datang. Dia tak perduli, yang penting saat ini adalah dia bisa segera sampai di rumah.


"Sayang!" seru Vino saat sudah sampai di rumah dan melihat sang istri yang sudah begitu kesakitan dengan keringat yang bercucuran.


"Sakit banget by..."

__ADS_1


"Mah, tolong bukakan pintu mobil, Vino angkat Sifa mah!"


"Iya Vin..."


"Nenek ikut Vin!"


Kini semua tampak panik dan segera meluncur ke rumah sakit bersalin yang sudah mamah telpon sebelumnya.


Mamah dan nenek sudah menunggu di depan pintu ruang bersalin. Vino terus menemani dengan menggenggam tangan Sifa dan menguatkan agar Sifa mampu melewati semua kesakitan yang ia rasakan.


Vino melihat jelas prosesnya, dia begitu bangga dengan pengorbanan Sifa dan membuatnya ingin segera memeluk sang mamah setelah tau begitu sulit perjuangan seorang ibu.


"Sakit by....."


"Kuat sayang, ayo sekali lagi...." bisik Vino saat dokter meminta Sifa untuk mengejan sekali lagi.


Tangis bayi pecah saat Sifa mampu melahirkan bayinya dengan selamat. Vino menciumi wajah Sifa dengan air mata yang sejak tadi sudah membasahi mata.


"Makasih sayang....anak kita sudah lahir dengan selamat, kamu hebat!" lirih Vino.


Sifa hanya bisa tersenyum dengan wajah sendu dan hati penuh rasa syukur. Dia tak menyangka bisa melewati semua dengan lancar.


Kini semua keluarga tengah berbahagia menyambut bayi yang sangat di tunggu-tunggu kehadirannya.


"Mau di beri nama siapa Vin?" tanya sang papah yang sedang menimang bayi tampan yang persis sekali dengan Vino saat kecil.


"Muhammad Rayhan Putra Baratajaya."


"Nama yang bagus, mudah-mudahan kelak bisa menjadi anak yang Sholeh.... Aamiin."


"Aamiin......" semua mengaminkan doa yang baik untuk Rayhan yang kini menjadi rebutan antara mamah, papah dan nenek.


Sifa dan Vino saling menatap, mereka bahagia. Dan Vino sudah berjanji dengan dirinya sendiri tidak akan menyakiti Sifa dan akan terus menjaganya hingga maut memisahkan.


Tak perlu di ungkapkan hanya butuh pembuktian, istri yang di idamkan sudah ada di pelukan, walaupun berawal dari luka yang menyakiti keduanya, tapi kini mereka bahagia dan bersyukur dengan apa yang ada.


"Aku mencintaimu...."

__ADS_1


"Aku pun mencintaimu hubby..."


-tamat-


__ADS_2