Cinta Berawal Luka

Cinta Berawal Luka
Mencari Vino


__ADS_3

"Breng.sek!"


Rian berlari mengelilingi setiap sudut ruangan hingga toilet mencari keberadaan Vino. Setelah membantu Zaki mengambil beberapa gambar untuk di jadikan kenang-kenangan ulang tahunnya, Rian teringat akan Vino yang sudah dipastikan sudah terkapar di atas mejanya.


Rian kembali ke tempat terakhir dia meninggalkan sahabatnya tetapi setelah sampai di sana dia tidak menemukan sosok yang ia cari, justru meja tersebut sudah di pakai orang lain.


"Eh loe liat temen gue nggak yang tadi duduk di sini?" tanya Rian kepada salah satu dari pengunjung yang duduk di sana.


"Nggak tau gue bang, tadi pas gue sama yang lain kesini udah nggak ada yang nempatin".


SHIIITT


Rian terus mengumpat, sudah dapat di pastikan pelakunya pasti singa betina yang sejak tadi terus menempel seperti lem.


"Kalo sampe temen gue kenapa-napa gue abisin loe Nit!"


Geri yang sudah mendapatkan nomor WhatsApp cewek incarannya dengan senyum mengembang segera kembali ke meja sahabatnya untuk membantu Rian membawa Vino pulang seperti biasa yang mereka lakukan setiap kali Vino mabuk. Tetapi sesampainya di sana justru menemukan Rian yang sedang mengacak rambutnya seakan frustasi.


"Loe kenapa? eh si Vino mana?" tanya Geri celingukan mencari keberadaan Vino.


"Bag.ke! gue udah bilang tadi temen loe teler, sekarang dia nggak ada!" kesal Rian dengan tatapan mata tajam.


"Tadi loe tinggal dia sama siapa? lagian gue kan tadi udah bilang sama loe duluan aja nanti gue nyusul!"


"Gue tadi di panggil Zaki, tapi Vino masih ada sama si Nita di sini."


"Nggak salah lagi, berarti pelakunya tuh si cewek jadi-jadian bro, ayo cepet cari dia keburu si Vino abis di maki bonyoknya kalo ketauan mabok lagi," Geri menggeret Rian untuk segera keluar dari hingar bingar gemerlap malam yang penuh maksiat.


"Bukan cuma bonyok nya tapi bini nya juga, loe lupa dia udah married!"


"Wah gila, berarti kita harus gerak cepat keburu si Vino di mangsa sama singa betina itu!"

__ADS_1


Geri dan Rian segera berlari keluar menuju parkiran mobil untuk segera pergi menyusul Nita yang kemungkinan membawa Vino ntah kemana.


"Kita nyari dia kemana?" tanya Rian yang sudah duduk di kursi kemudi dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Ngebut doank nggak tau kemana nyarinya sama aja bohong!" Geri memijat pelipisnya, dia seketika pusing memikirkan keberadaan Vino sekarang.


"Lagian kebiasaan tuh anak, nggak kuat minum aja pake acara mabok segala!" sewot Geri.


Sifa yang sejak tadi sudah berusaha memejamkan matanya, benar-benar di buat gelisah karena Vino yang janjinya pulang jam 1 tetapi sudah lebih 15 menit belum juga sampai.


Sifa yang sudah terbiasa tidur dengan adanya Vino, kini di buat benar-benar terjaga, bahkan yang biasanya selalu menuruti semua keinginan Vino seperti bayi yang ingin tidur malam ini ranjangnya terasa begitu kosong dan dingin.


"Kamu kok belum pulang sich!"


Sifa memutuskan untuk turun dari ranjang menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu dan menunaikan sholat sunah berharap hatinya di beri ketenangan dan suaminya selalu di beri perlindungan.


Setelah sholat Sifa meraih tasbih dan berdzikir, sejak di awal sholat Sifa selalu saja terbayang wajah Vino, hingga tak terasa pipinya mulai basah, air matanya tanpa permisi meleleh begitu saja. Jemari lentik itu terus bergerak menelusuri biji tasbih dengan bibir bergumam melafazkan dzikir.


Nita yang sudah sampai di kediamannya segera memarkirkan mobilnya ke dalam garasi. Dia begitu bersemangat karena Vino sudah ada di genggaman. Setelah memarkirkan mobilnya Nita segera bergegas turun dan memutar badannya untuk membuka mobil dan membantu Vino untuk turun.


"Sifa....kamu Sifa sayang?"


Nita di buat kesal, bahkan posisi mabuk saja Vino masih terus memanggil nama Sifa padahal dia yang bersusah payah membawa Vino sampai di rumah.


"Segitu cintanya apa loe sama si Sifa?" sewot Nita.


Nita berusaha keras mengangkat tubuh Vino untuk ia ajak masuk, Vino terus meracu dan menganggap Nita adalah Sifa. Langkahnya pelan masuk kerumah Nita.


"Istirahat dulu di sofa ya Vin, nanti kita naik ke kamar oke!" Nafas Nita ngos-ngosan setelah membawa tubuh Vino masuk ke rumahnya. Dia menduduki Vino di sofa kemudian mengambil air minum ke dapur.


"Pegel semua badan gue, kalo nggak cinta gue ogah bawa orang mabok pulang kerumah," gumam Nita kemudian menghabiskan minumnya.

__ADS_1


Nita kembali ke ruang tamu untuk menghampiri Vino yang tadi ia tinggal di sana, wanita itu menggelengkan kepala saat melihat Vino yang tertidur nyenyak hingga terdengar dengkuran halus dari nafasnya.


"Kenapa malah tidur sich Vin, gue ngajak loe ke kamarnya kan susah Vin!" rengek Nita.


Nita kembali memapah Vino menuju kamar tamu yang ada di dekat ruang tengah, dia tidak kehabisan akal untuk meneruskan rencananya agar samua berjalan lancar dan mendapatkan Vino seutuhnya.


Brugh


Nita menjatuhkan Vino ke ranjang saat sudah sampai di dalam kamar, dadanya naik turun dengan keringat yang menetes.


"Gue yakin setiap usaha pasti ada hasil, begitupun usaha gue buat bawa loe sampe sini Vin, setelah ini loe akan jadi milik gue dan gue bakal buat Sifa menangis bahkan membuat kalian kembali bermusuhan." Nita tersenyum licik, dia mengatur kembali nafasnya dan mencoba membenarkan posisi Vino agar lebih nyaman.


Dengan gerakan lambat tapi pasti Nita naik ke ranjang membuka kancing demi kancing kemeja yang Vino gunakan.


Nita mengerjabkan matanya saat dengan jelas melihat dada bidang Vino yang membuat semburat merah di pipi Nita.


"Gila, nggak salah gue suka sama loe Vin, loe gagah banget bikin gue nggak tahan buat bersenang-senang sama loe!" gumam Nita lirih agar Vino tak segera bangun.


Jemarinya dengan pelan menanggalkan kemeja Vino dan melemparkannya ke lantai.


Nita turun menuju meja rias untuk mengacak rambutnya dan membersihkan make up agar lebih terlihat polos kemudian melepas dress yang ia gunakan.


"Gue nggak akan sia-siakan semua kesempatan ini Vin"


Nita melangkah kembali ke ranjang dengan hanya menggunakan bra dan celana dal.am yang masih melekat di tubuh se.xynya.


Tangan Nita terulur mengacak sedikit rambut Vino dan mulai membuka resleting celananya.


"Vin gue makin panas ngeliat loe kayak gini."


Nita mulai meraba dada bidang Vino dan mencium pipi pemuda itu dengan gelora hasratnya yang mulai memuncak. Dia yang sudah pernah bercinta sejak SMP jelas berhasrat ketika tubuhnya yang sudah lama tidak di jamah oleh pria, apa lagi semenjak pacaran dengan Vino, pemuda itu selalu menolak jika Nita mulai menggoda meminta Vino menyentuh tubuhnya.

__ADS_1


Nita melanjutkan lagi aksinya, dia menurunkan celana yang Vino pakai secara perlahan agar tidak mengusik tidur Vino, tetapi belum sampai selesai bahkan baru terlihat celana dal.am Vino saja Nita kembali di buat semakin panas, wanita itu malu-malu dengan mengulum senyum kemudian dibuat terperangah saat jemari lentiknya yang masih singgah di atas cacing jumbo Vino seperti ada yang mencekal dan di duga itu tangan Vino.


"Aaaakkkkhhhhhhhh......"


__ADS_2