
Saat ini Sifa dan Vino tengah duduk di sofa depan televisi, keduanya terdiam dan sibuk dengan pemikirannya masing-masing.
Hingga ponsel Sifa berdering memecahkan keheningan diantara keduanya, Sifa melirik siapa gerangan si penelpon. Tertera nama Nisa pada layar ponsel tersebut, Sifa segera menekan tombol hijau untuk mengangkatnya.
"Halo!"
"........"
"Iya Nis, gue kesana sekarang, tunggu ya jangan pulang dulu, nggak enak gue kalo datang sendiri doang," ucap Sifa dengan suara rendah yang masih mampu di dengar oleh Vino.
"........."
"ok, 20 menit ya."
Kemudian Sifa menutup ponselnya dan melirik Vino yang sedang menatap layar televisi.
"Gue pergi dulu Vin," ucap Sifa ragu.
"Kemana?"
"Mau ke rumah sakit jenguk Aldi."
Tak ada jawaban dari Vino membuat Sifa bimbang tetapi janjinya pada Nisa mengharuskan gadis itu memberanikan diri untuk pergi.
"Vin..."
Masih belum ada jawaban dari Vino, kemudian Sifa meraih tas selempang nya dan beranjak dari sana.
Brugh
Tarikan tangan Vino membuat Sifa jatuh terduduk di pangkuan pemuda itu, hingga dua pasang mata saling mengunci.
"Kalo gue nggak ngasih ijin gimana?" tanya Vino dengan nada rendah tapi justru membuat Sifa merinding ngeri.
"Vin, gue udah ijin loh!" ucap Sifa segera beranjak dari pangkuan Vino tetapi di tahan oleh pemuda itu.
__ADS_1
"Lepas Vino!" bentak Sifa yang terus memberontak.
"Lepas! temen gue udah pada nungguin, loe jangan egois donk Vin!" bentak Sifa lagi.
"Dimana letak egois gue?" tanya Vino dengan nada tinggi, pemuda itu seperti sudah kehilangan kesabaran.
"Loe pergi kemana, sama siapa, mau ngapain nggak pernah gue larang! tapi giliran gue sekedar mau njenguk orang sakit aja loe udah nggak ngijinin kayak gini, gue pergi bukan mau main atau seneng-seneng kayak loe! gue pergi ada tujuan dan itu jelas!" tegas Sifa.
"Apa tujuan loe?" tanya Vino berusaha untuk kembali tenang.
"Udah gue bilang, gue mau nengokin Aldi di rumah sakit!" kesal Sifa.
"Itu yang buat gue nggak ngijinin loe! gue nggak suka loe dekat sama dia!"
"Dia teman gue Vino! dan loe nggak berhak buat ngatur hidup gue! sekarang loe lepasin gue!" Sifa berusaha untuk berontak tapi Vino justru memeluknya erat.
"Lepas Vino!" Sifa masih berusaha untuk terus memberontak.
"Loe itu istri gue dan gue nggak mau loe dekat cowok lain Sifa, gue tau Aldi suka sama loe dan gue nggak suka itu," ucap Vino.
deg
"Loe selalu ngingetin atas status gue sebagai istri loe! tapi apa loe udah jadi suami yang benar?" ucap Sifa lirih " bahkan loe masih menjalin hubungan dengan wanita lain, loe masih kasar sama gue, bahkan loe nggak segan-segan nyakitin perasaan gue, apa itu adil buat gue Vin?"
"Semenjak gue nikah sama loe gue berusaha buat nerima loe, gue berusaha menjalankan peran gue sebagai istri walaupun belum sepenuhnya, gue berusaha buat menghargai loe Vino, tapi apa balasan loe? Lo terus nyakitin gue, loe nggak pernah menghargai pernikahan ini." lirih Sifa dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
"Dan sekarang loe mulai membatasi ruang gerak gue, loe bersikap seperti suami sesungguhnya, loe nuntut gue buat terus sadar akan status gue, dan sekarang loe nggak terima dengan kedekatan gue sama Aldi, apa loe sadar ucapan loe tadi seakan loe cemburu sama dia?"
"Berperan sebagai apa loe sekarang Vin?"
Vino terpaku mendengar semua ucapan Sifa, pelukannya mengendur seiring Sifa yang sudah turun dari pangkuannya dan pergi meninggalkan Vino sendiri.
Sifa keluar dari unit apartemennya dengan air mata yang terus saja menetes. Gadis itu melajukan motornya menuju rumah almarhum orangtuanya, Sifa mengurungkan niat untuk menjenguk Aldi karena kedua temannya yang sudah meninggalkan rumah sakit.
Petir dan air hujan menemani perjalanannya, langit malam menyelimuti tubuh Sifa yang mulai menggigil. Hingga hantaman kendaraan yang beradu memekakkan telinga bagi siapa saja yang mendengarnya.
__ADS_1
Tin Tin Tin
Suara klakson kendaraan menambah kebisingan jalan beraspal yang sudah di lumuri darah dan hiruk pikuk kota yang sunyi akibat guyuran hujan seketika ramai dengan kerumunan manusia yang sudah turun ke jalan. Di susul suara sirine ambulan dan polisi yang beradu mulai mendekat, korban tergeletak dengan helm yang sudah terlepas hingga darah segar menutupi sebagian wajahnya. Polisi yang datang mengevakuasi korban dan membantu petugas rumah sakit untuk memasukkan korban ke dalam ambulans.
Rumah sakit yang tenang kala itu seketika riuh dengan kedatangan korban kecelakaan yang sangat membutuhkan banyak darah, suara roda brangkar rumah sakit serta langkah sepatu petugas yang mendorongnya beradu di lantai.
"Dok, pasien membutuhkan penanganan yang cepat, bagian kepalanya terkena benturan membuat dia mengeluarkan banyak darah," ucap salah satu perawat yang membawa pasien ke ruang UGD.
Dokter yang bertugas hari itu sempat syok saat melihat siapa korban kecelakaan tersebut tetapi kondisi yang darurat membuat beliau dengan cepat memeriksa keadaan pasien tersebut
"Pasien mengalami pendarahan di kepalanya yang bisa mengakibatkan pembengkakan pembuluh darah di otak, cepat hubungi keluarga pasien agar menandatangani surat pelaksanaan operasi!" perintah dokter kepada perawat yang mendampinginya.
" Baik dok akan segera saya hubungi."
Perawat segera menghubungi keluarga pasien sesuai perintah dokter, sudah tiga kali panggilan belum juga ada yang menjawab hingga panggilan ke empat berdering membangunkan pemiliknya.
Seorang wanita paruh baya yang masih terlihat begitu cantik mengangkat telepon rumah yang sejak tadi berdering.
"Halo"
"Halo, Kami dari pihak rumah sakit ingin memberitahukan jika salah satu keluarga anda mengalami kecelakaan dan kini sedang dirawat di rumah sakit dan diminta kehadirannya dari pihak keluarga untuk menandatangani surat tindakan operasi," ucap perawatan tersebut.
"Siapa yang kecelakaan dok?"
"Dengan......"
Tanpa menjawab beliau segera berlari menuju mobil untuk menuju rumah sakit, dirinya yang sedang terlelap dalam mimpi seakan benar-benar mendapat mimpi buruk yang membuat dunianya seakan berhenti.
Lelaki paruh baya yang melihat sang istri tiba-tiba pergi keluar kamar tanpa memperdulikan panggilannya segera berlari menyusul menuju mobil.
" Kamu mau kemana? kenapa pergi gitu aja, ada apa?" tanya lelaki itu yang melihat wajah istrinya begitu pucat.
"Kita harus kerumah sakit sekarang Pah!"
"Siapa yang sakit mah? ayo masuk dulu, bahkan mamah belum mengganti piyama mamah, ayo berganti baju dulu mah!"
__ADS_1
"Pah kita harus segera pergi kerumah sakit, keadaannya kritis Pah!" ucap mamah dengan air mata yang sudah membanjiri pipinya.
"Siapa yang kritis mah?"