Cinta Berawal Luka

Cinta Berawal Luka
Selamat Sifa


__ADS_3

Matahari yang mulai meninggi memberikan cahaya yang mampu menusuk hingga membuat kedua pasangan suami istri muda yang masih bergulung di bawah selimut sedikit terusik, gerakan Sifa membuat Vino membuka matanya. Dekapan hangat Vino mampu memberikan kenyamanan pada Sifa hingga dia tidak sadar jika jam sudah menunjukkan pukul enam lewat lima belas menit.


Sifa dengan mata sipitnya melirik ke arah jam dinding, dengan sekali gerakan Sifa sudah melesat masuk ke dalam kamar mandi membuat Vino reflek beranjak dari ranjangnya.


Sifa yang segera masuk ke kamar mandi sebelah sedangkan Vino yang masih mengumpulkan kesadarannya kini baru menyadari jika sudah mepet waktu untuk berangkat ke sekolah.


Keduanya benar-benar di sibukkan dengan diri masing-masing, Sifa yang sudah rapi dengan seragamnya segera keluar kamar begitupun dengan Vino.


"Bareng aku!"


Sifa tidak menjawab tetapi langkahnya mengikuti Vino yang sudah berjalan menuju mobil dan membukakan pintu untuknya.


Sepanjang perjalanan keduanya hanya diam tak ada yang bersuara hingga mobil yang Vino bawa melesat dengan kecepatan tinggi menyalip beberapa pengendara hingga masuk ke dalam pagar sekolah dengan aman.


Sifa segera mengalungkan tasnya dan turun dari mobil, Vino yang melirik pergerakan Sifa segera mengunci kembali pintu mobil dan menarik tangan Sifa hingga membuat Sifa berbalik dan menubruk dada Vino.


"Maaf," lirih Vino saat mata keduanya sudah terkunci. Sifa tak menanggapi dia hanya diam menunggu kata-kata selanjutnya yang akan terucap dari bibir Vino.


"Aku nggak ada niat untuk menghianati kamu, tolong percaya sama aku!"


"Hanya ucapan tak di iringi perbuatan rasanya hanya membuang-buang waktu saja, sekarang buka pintunya aku mau keluar!"


Vino segera membuka pintu mobil dan membiarkan Sifa keluar, Sifa yang melihat itu segera keluar dari dalam mobil tetapi beberapa detik kemudian tangannya langsung menyambar tangan Vino dan menciumnya.


Semarahnya dia, statusnya sebagai istri tidak bisa ia lupakan, hal itu membuat terciptanya senyuman tipis di wajah Vino.


"Telat?" tanya Nisa yang bersiap ingin menuju lapangan.


"Hmmmm kesiangan!"


"Abis berapa ronde?" pertanyaan dari Meri membuat pergerakan Sifa terhenti.


"Minta gue lakban tuh bibir!" sewot Sifa "eh pada mau kemana?" tanya Sifa yang melihat para teman di kelasnya sudah berangsur meninggalkan kelas.


"Udah ayo!"


Semua murid berkumpul di lapangan, Sifa yang masih heran semakin di kejutkan dengan kedatangan papah mertuanya yang sudah berdiri di depan bersama kepala sekolah dan para guru lainnya.


Sifa yang tidak fokus merasa enggan menyimak guru yang memberikan sambutan di depan podium hingga ia tidak sadar jika namanya berulang kali di panggil oleh kepala sekolah.


"Asifa Amelia Atmaja!" seruan dari kepala sekolah tidak membuat Sifa sadar akan dunianya. Hingga senggolan dari tangan Nisa membuyarkan lamunannya. Sifa yang sejak tadi menunduk kemudian mengangkat kepalanya, dia heran kenapa semua mata tertuju padanya.


"Sifa!"


"Pada kenapa sich liatin gue?" tanya Sifa polos.


"Asifa Amelia Atmaja silahkan maju ke depan!" seruan kepala sekolah yang entah sudah berapa kali akhirnya membuat Sifa paham dan segera melangkah ke atas podium.

__ADS_1


"Nah ini dia anaknya, kebanyakan menghitung ya kemarin sampai ngeblank!" sindir Pak kepala sekolah yang hanya di tanggapi senyuman ramah dari Sifa.


"Sifa ini salah satu murid berprestasi di sekolah kita yang kebetulan kemarin mampu mengharumkan nama sekolah SMA Baratajaya karena memenangkan olimpiade matematika tingkat provinsi. Mari kita beri tepuk tangan yang meriah atas keberhasilan teman kita!"


"Selamat ya Sifa!" ucap bapak kepsek menjabat tangan Sifa.


Suara tepuk tangan memenuhi lapangan hari ini, Sifa yang melihat semua yang ada di sana riuh memberikan selamat dan tepuk tangan di buat tersipu dan hanya menganggukkan kepalanya dengan sopan.


"Selamat Sifa!"


"Sifa I LoVe You, You are the best!"


"Sifa kalo mau bagi-bagi otak, kabarin ya biar gue ngantri paling depan!"


"Sifa bunganya besok ya hari ini Abang nggak bawa!"


"Otaknya nggak kaleng-kaleng!"


"Cantik aja nggak cukup, tapi loe plus-plus Sifa top banget!"


"OTW daftar jadi calon imam Sifa!"


Suara riuh dari para murid semakin memenuhi lapangan hingga membuat pemuda yang berdiri paling belakang di barisan kelasnya sempat mengeraskan rahangnya saat mendengar seruan para murid lainnya yang menyerukan nama istrinya dengan kata-kata yang membuat telinganya panas.


"Stop....stop.....cukup ya, nanti lagi kalo mau mengucapkan selamat sama Sifa karena ada pemilik dari yayasan yang akan memberikan Selamat dan piagam serta amplop yang berisikan sejumlah uang hasil dari acara olimpiade kemarin. Kepada Bapak Doni Baratajaya saya persilahkan."


"Selamat ya nak, papah bangga sama kamu!" ucapan papah Doni yang tidak sengaja mengenai microphone yang menyala membuat sebagian dari murid mendelik mendengarnya. Hingga Sifa yang menyadari itu segera melirik ke arah papah dan berusaha memberi kode agar bisa menjelaskan.


Sifa menundukkan kepalanya, pipinya sudah memerah menahan malu karena ucapan sang papah.


Setelah memberikan piagam dan amplop yang berisi sejumlah uang, kemudian acara segera di tutup dan semua murid dibubarkan untuk melanjutkan kembali proses belajar mengajar hari ini.


Sifa yang masih berdiri di sana segera diajak papah untuk ikut ke ruangannya. Disana sudah ada mamah yang sejak tadi menunggu kedatangan Sifa.


"Mamah!" seru Sifa kemudian berlari memeluk mamah mertuanya.


"Selamat ya sayang!"


"Makasih mah!"


"Mamah kangen banget sama kamu, ternyata anak mamah cerdas ya, nggak nyangka mamah akan punya putri secantik dan sepintar kamu nak!"


"Mamah bisa aja!" sifa tersipu mendengar pujian sang mamah.


"Vino mana Pah? nggak di ajak kesini sekalian?"


ceklek

__ADS_1


Vino masuk keruangan papahnya kemudian mencium tangan dan kening mamah.


"Mamah sehat?"


"Alhamdulillah mamah sehat, mamah kangen sama kalian, nanti pulang kerumah mamah ya!"


"Iya mah!" jawab Vino kemudian melirik Sifa, sejak kedatangan Vino Sifa hanya diam.


"Pah, nanti anak-anak ke rumah, pulang dari sini kita ke supermarket sebentar ya, mamah mau masakin buat mereka."


"Iya mah!"


Mamah begitu senang setelah tau kedua anaknya ingin pulang kerumah, tetapi seketika senyumnya luntur saat Sifa yang sejak tadi hanya diam menunduk.


"Sayang kamu kenapa nak?"


"Eh ...nggak apa-apa kok mah!" jawab Sifa dengan senyum di wajahnya, mamah melirik Vino kemudian mengingat jika kemarin Vino sempat kelabakan mencari Sifa.


"Vin!"


"Nggak ada apa-apa kok mah, iya kan sayang?" Vino merangkul pundak Sifa.


"Sayang!" lirih Vino lagi.


"Iya nggak ada apa-apa mah, kita baik-baik aja," ucap Sifa yang sudah melingkarkan tangannya di pinggang Vino.


"Semalam Sifa ke rumah temannya mah dan aku lupa kalo dia udah minta ijin sebelumnya, maaf buat mamah ikut panik."


"Mamah panik karena kamu datang-datang dengan penampilan berantakan dan seperti kelabakan mencari Sifa, mamah baru liat kamu segitu takutnya Vino!"


Mendengar ucapan mamah membuat Sifa mendongakkan kepalanya melihat Vino kemudian di balas senyuman oleh Vino.


Sifa segera melepaskan tangannya yang masih melingkar di pinggang Vino, kemudian pamit untuk ke kelas.


"Mah Pah Sifa ke kelas dulu ya, pelajaran udah mau di mulai." Sifa segera mencium tangan kedua orangtuanya.


"Mamah Papah pulangnya hati-hati ya!"


"Iya nak, jangan lupa nanti malam kita makan bersama ya!"


"Siap mah!"


Sifa segera keluar dari ruangan papah di iikuti oleh Vino yang sudah berjalan di sampingnya.


"Nanti istirahat aku tunggu di ruanganku ya!"


"Hhmmm...."

__ADS_1


"Selamat belajar sayang," Vino mengusap pucuk kepala Sifa yang membuat Sifa kembali menunduk dan segera berlari menuju kelasnya .


"Gemes banget sich istri gue! marah-marah tapi masih mau di sayang!" gumam Vino kemudian segera pergi menuju kelasnya.


__ADS_2