Cinta Berawal Luka

Cinta Berawal Luka
Ulah Vino


__ADS_3

Kegaduhan di keluarga Baratajaya pagi ini sungguh membuat sang Papah begitu murka, Vino yang pergi dengan meninggalkan pecahan gelas yang berserakan di atas lantai membuat orang tuanya begitu malu pada sang Ibu. Terlebih mamah yang merasa begitu gagal mendidik Vino yang sejak tadi hanya mampu menangisi kelakuan anaknya yang begitu berani membangkang orang tua.


" Maafkan aku Bu Pah yang belum mampu menjadi Ibu yang baik untuk Vino," ucap Mamah di sela isak tangisnya.


"Sudah Mah jangan menangis lagi, kamu itu tetap Ibu terbaik untuk Vino, ini salah Papah yang dulu terlalu memanjakannya yang berakibat buruk pada sikap dan perilaku Vino," sesal papah Vino.


"Yang penting saat ini kita harus bersikap tegas pada anak itu, Ibu tidak mau Vino jadi lebih parah dari ini, dan membuat dirinya merugi nantinya," ucap nenek menengahi.


"Kapan perjodohan itu akan kita laksanakan Bu?"


"Hari ini ibu akan bertemu dulu dengan sahabat Ibu."


"Semoga keputusan ini yang terbaik untuk hidup Vino selanjutnya, dengan menikah dia bisa belajar bertanggung jawab, dan bisa belajar menjadi imam yang baik untuk keluarganya kelak," harap sang mamah untuk putranya.


******


Kegiatan belajar mengajar yang sudah di mulai harus terhenti karena kedatangan Vino yang mengejutkan semua penghuni kelas tersebut termasuk guru yang sedang menerangkan materi di depan kelas.


BRAAAAK


Vino menendang kasar pintu kelas yang tertutup rapat.


"Vino apa yang kamu lakukan!" Seru Bu guru yang begitu terkejut dan para teman Vino yang mengelus dadanya.


Vino tampak cuek dan tidak menghiraukan ucapan gurunya, dia melangkah dan mendudukkan dirinya di kursi paling pojok belakang.


Bukan untuk menyimak pelajaran tapi Vino datang kekelas untuk memejamkan matanya, kelakuan Vino tersebut hanya di tanggapi dengan gelengan kepala oleh gurunya. Sudah sering Vino seperti ini, tapi karena embel-embel anak pemilik yayasan guru disana tidak ada yang berani bertindak lebih.


Setelah mata pelajaran pertama selesai Vino segera terjaga dari tidurnya, Dia bergegas beranjak dari kursi dan pergi begitu saja. Rian dan Geri yang mengerti Vino tidak baik-baik saja segera mengikuti langkah Vino.


Kali ini Vino berhenti di roof top dia mengeluarkan sebatang rokok dan menikmati nikotin itu dengan duduk di sofa miliknya yang biasa dia gunakan saat menikmati suasana di sana.


"Loe kenapa si Vin?" Tanya Rian yang tahu jika Vino ada masalah.


"Pusing pala gue..."


"Kenapa lagi? Cerita Vin ..." Ucap Geri.


"Gue mau di jodohin sama nenek."

__ADS_1


"Hhaaaahhhhhh!!" Seru Rian dan Geri berbarengan.


"Kok bisa?" Tanya Rian.


"Gila sich kalau kata gue mah" sahut Geri.


"Gue nggak mau di jodohin seenaknya aja, kenal juga nggak main nikahin aja," sewot Vino.


"Tapi kalo sama Nita loe mau Vin?"


"Loe tau gue.... Ga perlu gue jelasin lagi," tegas Vino kemudian menginjak puntung rokok nya.


Selama ini Vino yang terkenal dengan si tampan bad boy memang tidak pernah menggunakan perasaannya dengan semua mantan termasuk pacarnya Nita.


Dia juga tidak pernah meminta semua cewek yang pernah ia pacari untuk menjadi kekasihnya, kekayaan dan ketampanan yang membuat para kaum hawa yang menyatakan cinta terlebih dahulu. Vino yang hanya ingin menikmati masa remajanya dengan berbagai macam pengalaman yang tidak akan terulang lagi menerima nya dengan senang hati.


Pada jam istirahat Sifa dan kedua temannya yang sudah memesan makanan di kejutkan dengan kedatangan Vino yang tiba-tiba menggebrak meja paling depan dekat pintu masuk, disana jelas terlihat ada siswi dengan kacamata tebalnya tidak sengaja menumpahkan minuman tepat membasahi seragam dan sepatu Vino. Hal itu jelas membuat Vino marah.


"Heh gadis cupu, jangan kacamata loe doank yang loe tebelin tapi mata loe nggak loe gunain, loe nggak liat gue segede gini main loe tabrak aja!"


"Maaf Vin" ucap gadis itu menundukkan kepalanya.


"Aku keringkan Vin seragamnya...." Pinta gadis itu dengan wajah yang sudah ketakutan.


"Terus sepatu gue?" Tanya Vino dengan sikap dinginnya.


"Aku Lap ya Vin," pinta gadis itu lagi.


" Ok, tapi pake seragam loe?" Ucap vino dengan senyum liciknya.


Semua penghuni kantin yang ada disana hanya mampu menyaksikan pertunjukan yang di perankan oleh si ganteng Vino dan juga si cewek cupu. Gadis berkacamata tebal itu masih diam, dia bingung jika menggunakan seragamnya lalu dia akan membuka seragam yang dia pakai disana atau dia harus menundukkan badannya dan menggesekan seragamnya ke sepatu Vino.


" Ayo cepet bersihin pake seragam loe!"


"Tapi Vin......masak iya gue harus buka seragam gue disini?" Ucapnya lirih.


"Kalo loe nggak mau buka baju loe, loe bisa langsung pake tubuh loe" semua yang disana tercengang dengan apa yang vino katakan tidak terkecuali dengan Sifa yang sudah mengepalkan tangannya.


"Ayo cepat!" Bentak vino dengan mendorong gadis itu hingga terjatuh.

__ADS_1


"Stop....!!!!!"


Prok prok prok


Sifa menghentikan aksi Vino dan berjalan mendekati dengan menepuk tangannya.


"Sudah cukup pertunjukannya hari ini tuan Vino yang terhormat," kemudian Sifa menoleh kearah gadis itu yang tersungkur di kaki Vino. "ayo sekarang loe bangun! Loe udah minta maaf kan, nggak usah loe berlebihan dengan ngelakuin apa yang dia mau."


"Loe nggak usah ikut campur urusan gue!" Bentak Vino yang tidak suka pada Sifa.


"Sayangnya gue punya hati yang nggak bisa liat orang di tindas gitu aja."


"Ok, kalo gitu loe gantiin dia," ucap Vino sambil menunjuk ke arah gadis berkacamata.


"Loe nyuruh gue?" Suara Sifa seakan mengejek yang membuat Vino semakin geram, sedangkan kedua sahabat Sifa sudah ketar-ketir melihat kemarahan Vino.


"Denger ya Vino Putra Baratajaya yang terhormat saya bukan kacung anda yang sesuka hati anda perintah!" tegas Sifa.


Semua yang disana salut akan keberanian Sifa tapi ada juga yang khawatir dengan kenekatan Sifa tersebut.


" Oh ok....kalo dengan ucapan nggak buat loe mau lakuin yang gue perintah gue bisa dengan cara kasar, loe pikir gue takut berhadapan dengan perempuan macem loe," ucap vino kemudian menarik badan Sisil hingga terjatuh tepat di kaki Vino, dan dengan sekali dorongan wajah Sifa sudah mengenai sepatu Vino.


"SIFA!!!" teriak kedua teman Sifa yang segera berlari menuju Sifa.


"Diam kalian! Sekali lagi kalian melangkah gue nggak segan-segan membuat kalian bernasib sama dengan teman kalian ini".


Meri dan Nisa terpaksa menghentikan langkahnya saat Vino mengancam mereka.


"Vin......." Tegur Rian yang tidak tega kepada Sifa.


"Loe mau belain dia juga?" tanya Vino dengan tatapan tajamnya. Membuat Rian melenggang berlalu begitu saja, malas menanggapi kelakuan gila sahabatnya.


"Dan buat loe semua, berani loe sama gue, kalian akan bernasib sama dengan perempuan sok jadi pahlawan ini, ngerti kalian!" Tegas Vino membuat semua yang ada di sana bergidik ngeri.


"Cepat bersihin sepatu gue!" Bentak vino lagi pada Sifa dengan menggerakkan kakinya yang justru membuat Sifa semakin mencium sepatu Vino.


Dengan mata terpejam, hidung dan bibir yang sudah menyentuh sepatu Vino Sifa mencoba untuk tetap tenang. Bukan Sifa jika otaknya tidak ikut bekerja, tanpa Vino sadari dengan pergerakan halus dari Sifa, kini tangan Sifa sudah berada di kaki Vino dan dengan sekali tarikan.


BRUGH

__ADS_1


__ADS_2