
Suasana kantin yang sempat hening kembali gaduh dengan jatuhnya Vino, semua yang ada di sana membahas tentang aksi nekat dan keberanian seorang Sifa.
Vino telah di bawa kedua temannya ke gudang yang disulap menjadi basecamp untuk tempat mereka berkumpul.
Sedangkan Sifa kembali ke kelas bersama kedua sahabatnya, semakin banyak fans Sifa tapi semakin banyak pula yang membenci Sifa khususnya para cewek-cewek yang tergila-gila pada Vino.
"Fa, gue ngeri dech Vino makin gencar ngerjain loe lagi nanti," ucap Meri khawatir.
"Iya Fa, loe ngapain sich tadi pake bantuin si cupu itu, nyari masalah tau nggak," lanjut Nisa yang juga mengkhawatirkan sahabatnya.
"Udah dech....kalian berdoa aja biar gue selalu aman," jawab Sifa santai.
"Tapi si Aldi tadi kemana ya, gue kira dia bakal jadi pahlawan buat loe, tapi sampai kelar dia nggak nongol batang hidungnya," timpal Meri .
"Iya juga sich hari ini gue belum liat si Aldi, apa dia nggak masuk ya?"
"Ciye...... khawatir loe sama dia," ledek Nisa yang mendapat timpukan pulpen oleh Sifa.
"Nggak usah mulai dah Nis...."
"Tinggal bilang iya aja susah banget loe Fa, nggak ada yang marah juga kalo loe ada perasaan ma Aldi, orang si ketos aja setia menjomblo buat loe," oceh Meri.
"Tapi semalem gue ketemu sama dia, dia baik-baik aja........"
"Waahhhhh kayaknya ada yang kita lewati nih Nis," sindir Meri sambil melirik Nisa.
"Bodo amat dah sama isi kepala kalian, yang jelas gue masih temenan sama Aldi, dia orang baik gue ngeri aja bakal ngecewain."
" Ya loe terima dia biar nggak ngecewain," ucap Nisa yang di benarkan oleh Meri.
"Justru itu, kalo gue jadian sama dia terus ujungnya berantem putus, itu yang bakal ngecewain dia, apa lagi setelah gue jadi pacarnya ternyata gue nggak seperti yang dia harapkan, gue nggak mau begitu, ujungnya putus terus musuhan. Kecuali kalo emang dia jodoh gue, makanya gue jalanin aja kayak gini, kalo jodoh nggak kemana."
"Bener juga sich..."
"Hhhmmmm.."
Di basecamp tampak Vino sedang rebahan di sofa panjang, pinggang dan punggungnya akibat terjatuh tadi masih menyisakan rasa ngilu tapi tidak seberapa di bandingkan dengan rasa malunya, selama ini belum ada yang berani melawan dirinya, tapi hari ini dia harus di permalukan dengan seorang gadis di depan seluruh siswa siswi satu sekolah.Hal itu membuat Vino semakin membenci Sifa.
"Bro....masih sakit nggak?" Tanya Rian.
"loe mau ngeledek gue?"
"Gue kan udah ngingetin loe tadi...tu cewek dah cakep otaknya cerdas, gokil si tu cewek jadi pacarnya juga gue mau."
"Berkhayal loe sono, si ketos aja dah bertahun-tahun di gantung sama dia, gimana loe yang jelas di bawah rata-rata akhlaknya," ucap Geri yang membuat Rian kesal.
"Loe punya mulut kebangetan jujur .... Jodoh nggak ada yang tau kali, siapa tau dia jodoh gue nantinya."
"Dan gue bakal tikung loe di sepertiga malam."
" Kayak bener aja loe....." Sindir Rian tidak terima.
__ADS_1
"Berisik loe pada....udah kayak stok perempuan di dunia ini dah abis," ucap Vino menutup matanya dengan lengan dan tertidur.
Sepulang sekolah Sifa segera melajukan motornya menuju cafe tempatnya bekerja, hari ini sudah pasti ramai karena hari di penghujung pekan.
Sesampainya di sana Sifa segera merapikan diri, mengganti seragamnya dengan seragam cafe, mengikat appron di tubuhnya, dan rambut yang sudah terikat rapi menambah kesan imut di wajah Sifa.
Setelah rapi gadis itu segera absen, absensi yang tepat waktu selama sebulan penuh akan mendapatkan uang kerajinan dan itu membuat Sifa semakin bersemangat.
Berjaga di depan pintu masuk melakukan greeting dengan ramah kepada setiap customer yang masuk, senyum manis Sifa tidak luntur dari wajahnya membuat banyak customer suka akan pelayanan yang Sifa berikan.
Tepat pukul 7.30 Sifa mulai melayani setiap pelanggan, bagian greeting sudah di gantikan dengan kak Dewi. Sifa mendekati customer yang baru saja datang, seorang wanita tua yang masih terlihat anggun sedang duduk sendiri di sana.
"Selamat malam ibu, ini buku menu nya silahkan."
"Oh iya saya mau hot cappucino satu ya."
"Baik saya catat ya Bu, hot cappucino 1 dengan makanannya apa ibu?" Tanya Sifa ramah.
"Itu dulu saja, saya masih menunggu teman saya datang."
"Baik, pesanan akan segera saya antar bisa ditunggu sebentar, apabila membutuhkan sesuatu saya berdiri disebelah sana, permisi," ucap Sifa dengan senyumannya dan badan yang sedikit membungkuk.
"Iya.. "
"Ramah sekali anak itu, tapi sepertinya masih anak sekolah, kenapa sudah bekerja," batinnya.
"Assalamualaikum Arum."
"Ayo duduk!" ucap nek Arum mempersilahkan duduk dan memanggil pelayan memesan minuman untuk Ningrum.
"Iya ibu ada yang bisa saya bantu?" Ucap Sifa mendekati dan suara Sifa mampu membuat nek Ningrum langsung menoleh.
"Sifa!"
"Nenek!"
"Kamu kerja di cafe ini nak?"
"Kalian saling kenal?"tanya nek Arum menoleh ke Sifa dan nek Ningrum bergantian.
"Ini cucuku yang ku ceritakan tempo hari," ucap nek Ningrum membuat nek Arum segera menatap Sifa intens.
"Jadi kamu cucunya Ningrum nak?"
"Iya nek."
" Ayo duduk sini bergabung dengan kita nak," ucap nek Arum menarik tangan Sifa untuk duduk.
"Tapi nek Sifa disini sedang bekerja, akan tidak sopan jika Sifa ikut duduk bersama nenek, dan Sifa tidak enak dengan manajer dan karyawan yang lain," ucap Sifa menolak ajakan nenek Arum.
"Ya sudah tidak apa, kamu lanjutkan kerjanya dulu saja nak, nanti pulang bareng nenek ya, nenek tunggu kamu sampai selesai, besok liburkan jadi kamu menginap di rumah" ucap nenek Ningrum.
__ADS_1
"Iya nek, kalau gitu Sifa ambilkan minuman dan makanan untuk nenek dulu dan Sifa lanjut kerja lagi ya nek."
"Iya sayang."
Setelah kepergian Sifa nenek Arum langsung memandang nenek Ningrum meminta penjelasan.
"Aku belum cerita jika cucuku bekerja paruh waktu pada mu, ini juga yang membuatku khawatir, tapi setelah melihat semangatnya bekerja membuatku sadar akan kegigihan cucuku dan semangatnya, dia yang tidak mau terus terpuruk akan kesedihan mengingat kematian orangtuanya memilih menyibukkan diri dengan bekerja dan belajar. Cucuku anak yang mandiri Rum, kalau masalah urusan rumah atau memasak cucuku bisa, aku hanya ingin Sifa ada yang menjaga, sedangkan aku jauh di desa yang tidak setiap saat ada untuknya," ucap nenek Arum menjelaskan.
"Itu cocok untuk cucuku yang boros dan suka keluyuran, aku butuh sosok seperti cucumu sebagai pendamping Vino, orangtuanya sudah kewalahan menghadapi anak itu, dia memang terlihat nakal, tapi sebenarnya dia anak yang sayang keluarga, apa kamu setuju untuk menjodohkan cucumu untuk Vino setelah aku menjelaskan tentang cucuku padamu?" Tanya nenek Ningrum sedikit khawatir.
"Nanti jika sudah waktunya cucumu akan berubah, aku tidak akan membatalkan rencana kita."
"Kapan kita mempertemukan keduanya rum?" Tanya nenek Ningrum begitu semangat.
"Lebih cepat lebih baik, karena aku juga harus segera kembali ke desa, kasian para pegawai ku di sana"
"Apa besok malam? Cucu-cucu kita besok libur sekolah"
" Boleh....nanti kita segera membicarakan tentang acara pernikahan untuk keduanya."
"Tentu...."
Saat ini Sifa dan nenek sedang berada di dalam mobil dalam perjalanan pulang, motor Sifa terpaksa di ambil oleh pak Dayat karena nenek ingin satu mobil dan katanya ada yang ingin nenek bicarakan.
"Sifa..."
"Iya nek."
"besok nenek akan mempertemukan kamu dengan cucu sahabat nenek"
"Terus?"
"Nenek akan tetap menjodohkan kamu dengannya nak, nenek tidak ingin kamu terus sendirian, dengan kamu menikah maka ada yang menemani dan melindungimu."
"Nek..."
"Ini sudah menjadi keputusan nenek dengan nenek Arum tadi Sifa, besok kita adakan pertemuan dan membicarakan pernikahan kalian."
"Aku masih mau sekolah, aku masih mau ngejar cita-cita aku nek, untuk apa aku belajar giat kalau ujung-ujungnya akan di nikahkan secepat ini," ucap Sifa menolak rencana pernikahan tersebut.
"Keputusan nenek sudah bulat, ini semua demi kebaikan kamu nak, dan untuk sekolah kamu masih bisa bersekolah, bisa kuliah untuk masalah itu kamu nggak usah khawatir."
"Tapi aku nggak mau nek..."
" Kamu ingin nenek nanti di desa kepikiran terus dengan keadaan kamu disini? Hidup sendiri dan bekerja pulang malam?"
"Aku bisa sendiri nek."
"Jangan egois Sifa!" Bentak nenek .
"Nenek jahat!"
__ADS_1