
Malam ini Sifa dan Vino akhirnya tidur di ranjang rumah sakit yang sama, tangan Vino terulur memeluk pinggang Sifa dari belakang membuat jantung gadis itu tak aman, Vino yang kekeh ingin tidur bersama akhirnya membuat Sifa menyerah. Sebenarnya Vino tidak ingin Sifa tidur di sofa karena panjang sofa tidak mampu menampung seluruh tubuh gadis itu yang membuat posisi tidurnya meringkuk.
"Vin loe bikin gue capek dech!"
"Tidur Sifa udah hampir pagi, loe besok harus sekolah!" tegas Vino.
"Lepasin tangan loe gue capek malah nggak bisa tidur tau nggak," lirih Sifa kesal.
"Emang gue ngapain loe sich sampe buat loe capek?"
"Loe bikin jantung gue maraton dari tadi Vino, gue capek ngaturnya!"
"Emang belum finis dari tadi?" ledek Vino.
"Ikh malah ngeledek lagi, garing tau nggak loe!"
"Ya udah kalo gitu jangan bawel kenapa sich tinggal merem doank, tidur Fa pala gue pusing, mata gue udah ngantuk!" Ucapan Vino membuat Sifa berbalik posisi, gadis itu tampak khawatir ketika Vino mengatakan kepalanya pusing.
"Ya udah tidur ya Vin, loe kan belum sembuh total, sini gue usap kepala loe biar ilang pusingnya," ucap Sifa mengulurkan tangannya mengusap rambut Vino yang membuat pemuda itu semakin nyaman dan justru menelusupkan wajahnya di leher Sifa, hal ini membuat Sifa semakin menegang dapat Sifa rasakan hembusan nafas Vino di leher jenjangnya membuat tubuhnya meremang.
"Vin..."
"Nyaman Fa, gue mau tidur," lirih Vino yang semakin mengeratkan pelukannya.
Akhirnya Sifa kembali pasrah, Vino memang tidak bisa di bantah, gadis itu menyembunyikan wajahnya di dada Vino mencari kenyamanan disana dan melupakan jantungnya yang kini telah beradu karena posisi keduanya tanpa celah.
Pagi-pagi Papah sudah di hebohkan dengan istrinya yang meminta segera berangkat ke rumah sakit karena kerinduan dengan sang putera yang di kabarkan sudah sadar dari koma. Mamah yang sudah bangun pagi sekali segera memasakkan beberapa makanan untuk mereka sarapan bersama, semangat beliau membuat papah kewalahan, karena harus segera bersiap di luar waktu yang biasanya.
"Ayo Pah!"
"Iya Mah sebentar, Papah pakai jam tangan dulu, ini juga belum pakai sepatu Mamah ini kenapa harus pagi sekali sich!" sewot Papah dengan gerakan terburu-buru karena istrinya yang sudah tidak sabar.
"Papah ini nggak tau Mamah udah kangen banget sama Putra?"
"Jangan pakai panggilan Putra di depan Vino Mah, nanti ngambek loh!" ucap Papah mengingatkan.
"Iya Mamah lupa Pah, tapi kan disini nggak ada orangnya."
__ADS_1
"Takut Mamah kelupaan nanti di sana! Ayo berangkat!" ajak Papah yang sudah rapi.
Kedua orang tua tersebut segera berangkat ke rumah sakit dan tidak lupa Mamah membawa bekal makanan yang sudah di masak tadi. Sesampainya di rumah sakit keduanya segera berjalan menuju ruangan Vino dengan semangat 45, rasa syukur keduanya dengan kondisi Vino sekarang tak luntur dari lisan. Hingga Mamah yang begitu antusias masuk ke ruangan tersebut tanpa mengetuk pintu dan salam terlebih dahulu, beliau segera menuju meja sofa untuk meletakkan makanannya dan segera melangkah menuju ranjang tetapi belum sampai di ranjang Vino langkahnya terhenti mendapati kedua anaknya yang masih tidur dengan posisi berpelukan.
"Mah.."
"Sssttt liat itu Pah," Mamah menunjuk ke arah Vino dan Sifa.
"Sepertinya kita menganggu Mah!" ucap Papah yang sudah berdiri di belakang Mamah.
"Tapi Sifa harus sekolah Pah, nanti kesiangan gimana?" bisik sang Mamah yang masih senantiasa melihat kehangatan kedua pasutri tersebut.
"Mamah aja yang bangunin, Papah tunggu sini," Papah sudah duduk di sofa menikmati kopi yang ia beli tadi.
Mamah melangkah menuju ranjang Vino, beliau ragu tetapi Sifa harus segera bangun. Panggilan dari mamah tak membuat keduanya terjaga hingga tepukan tangan Mamah di punggung Sifa akhirnya membuat Sifa keluar dari alam mimpinya. Gadis itu melenguh keluar dari pelukan Vino, matanya menyipit melihat wajah Vino yang masih terlelap hingga suara Mamah mengejutkannya.
"Sifa!" panggilan Mamah membuat Sifa segera menoleh.
"Ma...mamah," Sifa sungguh risih kedapatan sang mertua dengan posisi tangan Vino yang masih bertengger di perutnya, dengan cepat Sifa segera melepas tangan Vino tetapi justru membuat Vino semakin mengeratkan pelukannya.
"Vino awas gue mau turun!" lirih Sifa dengan pipi yang sudah memerah.
"Vino loe bikin gue mati gaya di depan nyokap loe! cepet lepasin kalo nggak gue gigit nich!" kesal Sifa, setelah mendengar ucapan Sifa pemuda itu langsung membuka mata dan di sambut oleh senyuman hangat sang Mamah.
"Mamah!" Vino terkejut dengan keberadaan sang Mamah dan segera melepaskan pelukannya.
Setelah Vino menarik tangannya, Sifa segera turun dari ranjang dan melangkah menuju sofa untuk mengambil seragamnya tetapi lagi-lagi dirinya terkejut dengan adanya sang Papah yang sudah anteng duduk di sofa dengan memamerkan senyumannya. Papah melirik Vino dengan tatapan meledek.
"Enak ya Vin udah punya istri, tidurnya nyenyak kan, kemarin aja nolak sekarang keenakan!" ledek Papah yang membuat Sifa semakin risih. Gadis itu segera mengambil seragam dan segala perlengkapannya dan berlari menuju kamar mandi.
"Papah ini, jangan buat anak gadis Mamah malu!" teguran dari sang Mamah malah justru membuat Papah tertawa dan beranjak mendekati Vino.
"Gimana anak Papah nich, masih ada yang sakit?" tanya Papah yang sudah berdiri di samping Vino.
"Udah enakkan Pah, Vino mau pulang aja Pah, kasian Sifa capek nungguin Vino."
"Tetapi kondisi kamu kan baru pulih, sabar dulu ya! oh ...iya Mamah bawa makanan kesukaan kamu, nanti kita makan bareng ya Vin tunggu Sifa selesai mandi dulu ya."
__ADS_1
"Iya Mah," jawab Vino yang kini sudah terduduk dengan bersandar bantal.
"Mamah bersyukur kamu sudah sadar, kasian Sifa nak dia yang paling terpukul dengan kecelakaan ini, Sifa menyalahkan dirinya sendiri, bahkan Sifa menangisi kamu sampai nggak nafsu makan Vin." Cerita Mamah membuat hati Vino tersentuh, pemuda itu merasa berarti di hidup sifa.
"Sifa setia menunggu kamu sadar sampai Mamah di haruskan memberi kabar jika dia sedang berada di sekolah, sepulang dari sekolah dia segera datang dan malamnya dia yang menjaga kamu di sini sendiri, Sifa selalu membujuk Mamah dan Papah untuk beristirahat di rumah."
"Pantas aja loe marah saat gue sadar bertepatan dengan adanya Nita ternyata emang loe benar-benar mengharapkan gue terbangun di depan loe Fa," batin Vino.
ceklek
Sifa keluar dari kamar mandi dengan seragam sekolahnya dan wajah yang sudah fresh serta polesan tipis make up yang semakin menambah kecantikannya.
"Nggak usah di liatin terus Vin, nggak bakal kabur!" ledek Papah yang melihat anaknya yang terus menatap Sifa hingga tak berkedip.
"Apa sich Pah," sengit Vino.
"Udah ayo sarapan dulu, Sifa ayo sarapan nak keburu siang," ucap mamah mengajak Sifa menuju sofa dan membuka bekal makanan dengan Sifa menyiapkan alat makan yang sudah tersedia sebelumnya.
Sifa mengisi piring ditangannya dengan nasi, ayam kecap serta capcay yang mamah bawa.
"Rendangnya nggak Fa?" tanya Mamah memperhatikan isi piring di tangan Sifa.
"Pedes nggak mah? ini aku siapin buat Vino mah!"
" Nggak terlalu pedas kok nak, sini buat Vino mamah yang siapin jadi kamu nggak telat berangkatnya."
"Biar Sifa aja Mah, waktunya masih cukup buat Sifa siapin Vino dulu," jawab Sifa dengan mata yang melirik jam. Kemudian gadis itu segera mendekati Vino dan duduk di kursi samping ranjang.
"Minum dulu ya!" Sifa menyodorkan gelas yang berisi air ke arah Vino, setelah meminumnya gadis itu segera meletakkan kembali ke nakas.
"Makan dulu gue suapin! buka mulutnya!" Vino menerima suapan dari Sifa, matanya tak lepas dari gadis cantik berseragam SMA di depannya.
"Jangan liatin gue terus! cepat makannya di abisin!" rengek Sifa yang merasa risih dengan tatapan Vino.
Vino yang gemas mengusap rambut Sifa dan itu justru membuat pipi Sifa kembali memerah. Setelah Vino menghabiskan makannya Sifa bergabung bersama mamah dan papah untuk sarapan.
"Mah Pah Sifa udah selesai, sekarang Sifa berangkat dulu ya takut telat," ucap Sifa segera menggendong tas punggungnya dan berpamitan dengan kedua orang tua Vino. Sifa beranjak menuju ranjang Vino kemudian mengulurkan tangannya, Vino diam tak mengerti maksud Sifa justru dia berpikir jika Sifa meminta uang padanya.
__ADS_1
"Ambil di dompet gue Fa!"
Mendengar itu Sifa segera meraih tangan Vino dan menciumnya.