Cinta Berawal Luka

Cinta Berawal Luka
Makasih


__ADS_3

Sifa memasuki kelasnya yang tak juga kalah heboh seperti di luar sana, sampai Sifa menggelengkan kepala saat namanya pun ikut terseret. Karena memang yang mereka tau sejak awal Aldi begitu mengincar Sifa hingga terus berusaha mendapatkan cintanya walaupun tak kunjung di terima. Tetapi ketika Vino mulai mendekati Sifa justru Aldi dengan cepat menempel dengan Marta.


"Kok baru masuk Fa, kayaknya loe udah dari tadi dech datangnya, gue nyampe aja mobil Vino udah ada di parkiran."


"Iya Nis, abis nengokin trending topik hari ini, mastiin aja sich tepatnya," jawab sifa santai.


"Eh iya, kabar itu bener apa? ngga nyangka sich gue kalo sampe bener adanya mah, kapan tuh mereka bikinnya ya!" celetuk Meri.


"Iya juga ya kok cepet banget! padahal temen gue aja belum mlendung-mlendung yang jelas lakinya ada!" ucap Nisa seraya melirik Sifa, tetapi justru mendapat pukulan dari Sifa.


"Loe ngomong apa sich, gue masih belum buka segel ya!"


"Wow malah belum buka segel lagi, kuat bener dah akh.....kalo gue udah ngesot-ngesot minta di buru-buru!" sahut Meri yang mendapat gelak tawa dari Nisa. Tetapi justru mendapat tatapan tajam dari Sifa.


"Eh tapi mereka kan hubungan baru ya, palingan ya baru mau sebulan, tapi kok cepet banget tuh jadinya..." timpal Nisa yang merasa heran.


"Iya bener banget! bibit unggul kali ya, sekali meluncur langsung bom....jadi dech," jawab Meri.


"Kalian nich otaknya, udah jangan mikirin kayak gitu ntar pada pengen repot loe pada!"


"Ceileh......yang udah punya laki, kalo pengen tinggal minta Mer, aduh gue jadi nggak bisa bayangin pesona Vino di ranjang kayak gimana ya Fa? apa lagi kalo lagi nepsong mukanya tambah ganteng nggak Fa?"


Sifa memijit pelipisnya, nggak akan ada habisnya kalo berbicara dengan topik seperti ini, mereka memang tak pernah melakukan pergaulan bebas apa lagi terbilang ketiganya itu jomblo abadi walaupun sekarang Sifa yang lebih dulu mendapatkan jodoh, tapi tidak membuat pemikiran mereka polos, justru dengan mereka tau masalah seperti ini bisa untuk mereka menjaga diri.


"Kalian mau tau?"


"Banget lah Fa!" sahut Meri yang sangat antusias.


"Ntar malem kalian datang aja ke apartemen gue, loe pantengin dech gue pas lagi berduaan sama Vino di kamar, kalo perlu nanti gue bikin loe berdua pengen!"


"Ogah gue!" tolak Nisa.


"Loe kata live streaming!" celetuk Meri, " tinggal bilang ganteng nggak aja susah banget sich Fa, masak iya kita di suruh nyaksiin kalian lagi enak-enak, nggak kasian benget loe sama jomblo!"


"Iya nggak punya keprijombloan!" timpal Nisa dan hanya di balas kekehan dari Sifa.

__ADS_1


Di jam istirahat sebelum ketiganya beranjak ke kantin, Sifa di buat heran dengan Aldi yang sudah berada di hadapannya. Hingga ke dua sahabat Sifa juga tampak bingung.


"Gue mau ngomong sama loe Fa." ucap Aldi yang saat ini sudah berada di depan Sifa.


Meri dan Nisa menatap Sifa dengan tatapan penuh arti, kemudian dengan mental Sifa menganggukkan kepalanya. Kini kedua sahabat Sifa sudah pergi menuju kantin meninggalkan Sifa dan Aldi di dalam kelas dan memberi kesempatan untuk mereka berbicara.


Sejak tadi Aldi masih diam menatap Sifa dengan tatapan begitu dalam, tangannya terulur ingin menyentuh Sifa tetapi ketika tangan keduanya mulai dekat dengan cepat Sifa dan Aldi menjauhkan tangan mereka.


"Maaf dan terimakasih buat semuanya, gue minta maaf kalo ngecewain loe, gue sama Marta memang nggak ada rasa, semua berawal karena khilaf sesaat. Setelah tau kalo kalian sudah menikah gue sempet frustasi, gue masih nggak bisa terima takdir kita yang ternyata nggak bisa bersama, malah loe udah nikah dengan yang lain."


"Gue nggak terima loe nikah sama Vino, sedangkan sebelumnya gue tau kalo kalian nggak akur, bahkan Vino bersikap jauh dari kata baik. Malam itu gue pergi ke klub dan minum di sana, gue mabuk sampai akhirnya gue nggak kuat pulang sendiri."


Sifa mengangkat kepalanya dia terkejut dengan apa yang Aldi lakukan, apa semua ini karena perasaannya yang begitu dalam terhadap dirinya.


" Gue ketemu Marta di sana, dia mau bawa gue pulang, tapi karena nggak tau alamat rumah gue, akhirnya dia bawa gue apartemennya. Dan disana gue ngelakuin itu semua untuk pertama kalinya."


"Gue terlalu cinta sama loe Fa, tapi gue bodoh gue nggak bisa ngontrol emosi gue Fa!"


"Tapi gue sekarang lega, gue udah ikhlas loe sama Vino, ternyata dia begitu cinta sama loe, gue harap kalian bahagia. Dan makasih buat semuanya, makasih udah buat Vino mau bantu gue dalam masalah ini."


"Maaf juga jika buat loe berujung sakit hati dan menjadi seperti ini, tapi gue harap ini bisa di jadikan pelajaran dan mudah-mudahan kedepannya hidup kalian bisa bahagia."


"Makasih ya Fa, loe perempuan baik, beruntung Vino dapetin loe!"


"Ehemmm......."


Sifa dan Aldi menengok ke asal suara saat mendengar deheman seseorang di sana. Sifa terkejut melihat Vino yang sudah berdiri diambang pintu dengan kedua tangannya yang ia masukan ke dalam kentong celana.


"Gue cuma mau ngucapin terimakasih sama Sifa."


Melihat Vino yang hanya diam sudah di pastikan jika dia pasti cemburu. Dengan cepat Sifa segera mendekatinya dan memeluk lengan Vino untuk mengurangi rasa paniknya akan kemarahan Vino nanti.


"Udah selesai?"


"Udah, makasih ya Fa atas waktunya dan gue juga mau ngucapin makasih sekali lagi sama loe Vin. Mudah-mudahan kalian bahagia...."

__ADS_1


Setelah mengucapkan itu Aldi segera pergi meninggalkan keduanya, kemudian Vino tanpa kata pun pergi meninggalkan Sifa, bahkan pelukan di lengan Vino terlepas begitu saja.


"Panjang dech nich urusannya kalo nggak buru di kejar..."


Sifa segera mengejar Vino dan mengikuti langkahnya, hingga keduanya masuk ke dalam basecamp Vino.


Sesampainya di sana Vino segera duduk di sofa dengan merebahkan kepalanya, dia akui rasa cemburunya masih begitu tinggi pada Aldi. Tapi apa salah jika dia cemburu, toh ini bentuk protesnya karena terlalu mencintai.


"By....maaf, kan nggak macam-macam, cuma bicara sebentar aja. Jangan marah by..." Sifa duduk di samping Vino kemudian memeluk Vino dan menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.


"By, jangan diem aja....." rengek Sifa.


"By......"


Masih belum ada respon dari Vino membuat Sifa gemas, Sifa mengubah posisinya, dia duduk di pangkuan Vino dengan kaki yang ia buka hingga bagian dalam roknya tampak jelas terlihat.


"Bodo amat dech, malu-malu dech gue, yang penting laki gue nggak ngambek lagi!"


"Sayang mau ngapain?"


"Mau buat kamu nggak marah lagi!"


"Jangan menggodaku sayang, ini di sekolah!" ucap Vino yang sempat melirik kebawah, melihat posisi Sifa yang membuatnya menahan sesuatu.


"Kenapa memangnya kalo di sekolah? aku nggak mau kalo sampai pulang nanti kamu masih memendam rasa marah sama aku!"


Sifa mengalungkan tangannya di leher Vino membuat dada Sifa semakin menantang hingga tangan Vino yang tadi hanya diam akhirnya mulai merengkuh pinggang Sifa.


"Aku nggak marah, hanya cemburu! dan itu wajar.


"Wajar, tapi bagi aku hanya buang-buang waktu, dan aku nggak mau di cuekin kayak tadi!" ucap Sifa dengan wajah cemberut yang membuat Vino semakin gemas apa lagi melihat posisi Sifa saat ini.


"Oke, tapi ada syaratnya!"


"Apa?"

__ADS_1


"Kamu tidurin dulu milik aku yang udah kamu bangunin!"


__ADS_2