Cinta Berawal Luka

Cinta Berawal Luka
Pemberian Mamah


__ADS_3

Sifa yang memutuskan untuk pulang kerumah mertuanya sendiri tidak menyadari jika sejak tadi Vino mengikutinya hingga Sifa memasuki gerbang rumah milik mertuanya dan di ikuti Vino di belakangnya.


Vino keluar dari mobil dan menghampiri Sifa yang sedang membuka helmnya, tangannya merapikan anak rambut Sifa yang berantakan.


"Kamu kok udah sampe sini? aku nggak liat kamu pulangnya..."


"Aku di belakang kamu dari tadi, bahkan aku liat pas kamu memperhatikan Aldi tadi, kenapa? cemburu......" ucap Vino dan mendapat decakan dari Sifa.


"Nggak usah mulai!" celetuk Sifa kesal "tapi apa benar Marta itu mantan kamu?" tanya Sifa dengan mata penuh selidik.


"Iya, kamu kan tau mantan aku sekebon!" ledek Vino.


"Ikh ngeselin!" Sifa segera pergi meninggalkan Vino yang masih terkekeh di tempat.


"Assalamualaikum mah!"


"Wa'allaikumsalam kalian sudah pulang!" sambut mamah dari arah dapur.


"Mmmmm wangi banget, mamah masak apa?" tanya Sifa dengan mata yang berbinar.


"Masak rendang kesukaan Vino, kamu harus coba, pasti kamu akan suka!" mamah menarik Sifa menuju dapur sedangkan Vino segera masuk ke kamar.


Vino membersihkan dirinya kemudian duduk di pinggir ranjang sambil mengeringkan rambutnya yang masih basah. Suara ketukan dari luar membuat Vino segera membuka pintunya, tampak Sifa berdiri di luar kamarnya yang membuat Vino segera menarik tangan Sifa untuk segera masuk ke dalam.


"Ngapain pakek ketuk pintu sich sayang?"


"Kan kamar kamu!" jawab Sifa yang kemudian meletakkan tas nya di atas meja belajar Vino.


"Ini juga sekarang kan kamar kamu, kamar kita."


Sifa yang masih berdiri di dekat meja belajar Vino dibuat tercengang dengan banyaknya foto dia dan Oki saat berumur 10 tahun.


"Kamu simpan semua foto ini?" tanya Sifa kemudian Vino mendekat ke arah Sifa dan mencabut salah satu dari foto tersebut lalu menyembunyikannya.


"Ikh itu kan foto aku, kenapa kamu umpetin gitu? jangan buat aku curiga ya...." ucap Sifa dengan mata penuh selidik.


"Apa sich, bukan foto kamu, ini tuh fotonya Oki dulu," ucap Vino beralasan.


Sifa hanya diam dengan menyipitkan matanya, dalam hati mana ada foto cowok rambutnya panjang begitu. Kemudian Sifa mengambil foto Oki dan dirinya, ada rasa sedih di hati jika mengingat persahabatannya dengan Oki harus berakhir secepat itu.


Vino yang mengerti perubahan di wajah Sifa segera mendekati dan melingkarkan tangannya di pinggang Sifa.


"Jangan sedih, bagaimana kalo besok kita ke pemakaman? sekalian kerumah mamah papah," ucap Vino menenangkan Sifa.


"Beneran?" tanya Sifa dengan mata berbinar.


"Hmmmmm..... sekarang kamu mandi dulu, aku cariin baju ganti buat kamu ya," Vino yang lengah membuat kesempatan bagi Sifa merebut foto yang ia ambil tadi

__ADS_1


Sifa melihat foto tersebut dengan mata yang melebar kemudian melirik Vino dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Sejak kapan kamu jadi penguntit?"


"Penguntit apa sich yank?" tanya Vino balik dengan muka yang sudah memerah.


"Ini!" Sifa menunjukkan fotonya yang sedang di balkon kamar yang hanya menggunakan baju tidur tipis.


"Itu bukan aku yang fotoin, tapi aku nyuruh orang buat nyari kamu!"


"Terus kalo posisi aku abis mandi juga dia tetep fotoin gitu? nggak sopan!" sengit Sifa.


"Iya maaf sayang, udah donk baru juga baikan masak udah ngambek lagi, lagian sekarang juga aku udah liat walaupun belum semua!" ucap Vino santai yang langsung mendapat cubitan dari Sifa.


"Auw sakit sayang! kok nyubit sich....gantian sini aku cubit!" mendengar itu Sifa langsung berlari menghindari dan melesat ke dalam kamar mandi pasalnya Sifa mencubit Vino pas dada, yang benar saja jika dia melakukannya juga.


Vino segera mencarikan Sifa baju ganti, kerena memang belum ada pakaiannya di rumah ini.


Sifa yang sudah selesai mandi seketika panik mencari handuk yang tidak ada di dalam sana.


"Aduuuhhh ini nyari mati namanya! kalo nggak ada handuk terus gue pake apa donk, minta Vino nggak ya, keluar jangan keluar jangan," gumam Sifa mondar mandir sejak tadi.


Vino yang sedang duduk di tepi ranjang dengan mengecek beberapa pekerjaannya melalui email yang masuk di buat heran dengan panggilan dari Sifa.


"Kenapa sayang?" Vino mendekat melihat Sifa yang hanya membuka sedikit pintu kamar mandinya.


"Handuk aku Vin!"


"Ini sayang," Vino menyodorkan handuk untuk Sifa dan segera diambil olehnya tetapi ketika ingin menarik handuk tersebut Vino dengan iseng menahannya hingga membuat Sifa kesal.


Kepala Sifa mencoba keluar melihat wajah tengil Vino, dengan wajah cemberut Sifa menarik handuk tersebut tetapi tidak juga dilepaskan.


"Vino lepasin ikh, kesel dech iseng banget kamu tuh!"


"Aku lepasin tapi ada syaratnya!" ucap Vino dengan senyum yang membuat Sifa bergidik.


"Kamu tuh sama istri perhitungan banget ikh, pake syarat segala, aku udah kedinginan Vino, cepetan sebutin syarat nya apa?" kesel Sifa.


"Kasih aku susu coklat!"


"Itu doank aja pake ribet dech kamu, nanti aku bikinin udah sini mana handuknya sama baju ganti aku!"


"Eitsss...... bukan yang itu, aku mau yang ada Choco chips nya, kangen yang," rengek Vino, seakan sirna wajah tengil yang sejak tadi ia tunjukkan.


"Dasar mesum!"


"Iya dulu, ya ya ya........sayang!" bujuk Vino.

__ADS_1


"Iya, udah cepetan sini mana handuk sama baju ganti aku!" terpaksa Sifa mengiyakan walaupun dia juga suka tetapi Vino yang akan betah berlama-lama berujung pedas seperti di hisap anak lima.


Setelah selesai berganti pakaian dengan kaos Vino yang tampak kebesaran dan celana traning panjang Sifa segera keluar dari kamar. Sifa yang melihat Vino sedang sibuk dengan ponselnya kemudian memilih untuk keluar kamar menemani sang mamah.


"Mah!"


"Eh sayang, udah mandi?"


"Udah mah, mamah lagi ngapain? tanya Sifa yang melihat mamahnya sedang sibuk membuka sebuah kotak yang entah apa isinya.


"Sini duduk sebelah mamah sayang!"


Sifa segera duduk di sebelah mamah dan memperhatikan apa yang sedang mamah lakukan.


"Ini untuk kamu sayang!"


"Apa ini mah?" mamah memberikan sebuah kotak kayu dengan ukiran bunga di atasnya macam kotak jaman dulu.


"Buka sayang!"


Sifa segera membukanya dan seketika melebarkan matanya dengan tatapan berbinar.


"Mah!"


"Iya sayang, ini untuk kamu!"


Dikotak ini ada beberapa perhiasan, kalung , cincin, anting dan gelang. Sifa tidak menyangka mamah mertuanya begitu baik memberikan semua itu.


"Ini punya mamah peninggalan dari orang tua mamah dulu, setelah menikah mereka memberikannya pada mamah, karena anak mamah laki-laki jadi mamah memberikannya pada menantu mamah, semoga kelak rumah tangga kalian awet, langgeng terus dan bersama terus selamanya." Sifa terharu dan langsung memeluk sang Mamah.


"Aamiin..."


"Kelak kalo kamu sudah memiliki anak, ini bisa kamu berikan ke anak dan cucu kamu!"


"Iya mah, doain Sifa dan Vino terus ya mah!"


"Iya sayang, pasti nak. Oh iya dan ini untuk kamu lagi, mamah beli belum lama tapi mamah mau kasih nunggu waktunya pas." Mamah menyodorkan satu buah paperbag pada Sifa.


"Buka sayang!"


"Iya mah," Sifa segera membuka isi dari paperbag tersebut dan berbarengan dengan Vino yang turun dari tangga.


Sifa mengangkat sebuah kain ntah apa dia tidak mengerti dan mencoba untuk membukanya lebih lebar.


"Wow.....!" suara itu bukan dari Sifa melainkan dari Vino yang sudah berjalan mendekati keduanya.


"Mamah emang paling pengertian!"

__ADS_1


Wajah sifa sudah memerah menahan malu saat mengetahui isi paperbag tersebut apa lagi ocehan Vino yang membuatnya ingin menenggelamkan wajahnya di rawa.


"Mamah tunggu kabar baik dari kalian ya!"


__ADS_2