
Berulang kali sifa tak sadarkan diri dan berulang kali juga Vino di buat khawatir, Sifa gadis yang kuat kini serapuh kapas. Bermula dari kabar yang menyatakan sang nenek sakit hingga mengharuskan ia untuk pulang ke desa dan berujung kematian yang harus membuatnya mengulang kembali kisah silam.
Wajah Sifa kini memucat menyaksikan proses pemakaman sang nenek, satu-satunya keluarga yang ia miliki saat ini sudah berpulang. Menyisakan kesedihan yang menyesakkan dada, harus bagaimana hidupnya ke depan, orang tua sudah tak ada nenek pun telah tiada.
Taburan bunga menghiasi tanah yang masih tampak basah, serta guyuran air membasahi batu nisan yang masih bersih. Air mata Sifa sudah mengering, tetapi mulut Sifa tak bergeming.
"Sayang ayo pulang," ajak Vino yang sejak tadi terus mendampingi Sifa.
Sifa hanya diam tak menjawab, tatapannya kosong mengarah pada batu nisan dengan bertuliskan nama sang nenek. Hingga tepukan di pundak membuatnya tersadar jika hari sudah gelap bahkan air hujan sudah mulai turun satu persatu.
Vino membantu Sifa untuk berdiri dan menuntunnya menuju mobil, di dalam dekapan Vino Sifa terlelap rasanya sungguh lelah, lelah hati dan lelah fisik.
Hingga mobil mereka kembali ke rumah almarhum nenek dengan mulus tak lantas membuat Sifa terbangun. Sopir pribadi keluarga membukakan pintu mobil untuk memudahkan Vino keluar dengan membawa Sifa dalam dekapan. Vino berjalan menuju kamar Sifa sesuai arahan dari para pelayan, tak ingin mengganggu tidurnya dia berjalan pelan hingga mampu merebahkan istrinya di peraduan.
"Istirahat ya sayang," Vino mengecup kening Sifa kemudian turun dari ranjang. Ada sedikit lega di hati Vino melihat Sifa akhirnya tertidur juga, mengingat dari pagi istrinya terus terjaga.
Diluar masih banyak para tetangga yang membantu proses pengajian yang akan di selenggarakan bada isya, disana juga sudah ada orangtuanya yang baru saja datang disusul oleh nenek Ningrum yang juga ikut hadir dengan air mata yang sejak tadi mengiringi.
"Mah Pah Nek....."
"Sifa mana Vin?" tanya mamah dengan tatapan sendu.
"Sedang tidur di kamar mah, Sifa sangat terpuruk sejak mendapat kabar jika nenek Arum sakit keras, di tambah lagi sesampainya disini ternyata nenek sudah tiada. Dia bahkan beberapa kali pingsan dan diam tanpa mau berbicara apapun. Vino sedih mah melihat Sifa yang seperti ini," ucap Vino dengan wajah tertunduk.
Mamah yang tak tega melihat anaknya yang begitu mengkhawatirkan istrinya segera memeluknya dengan erat. Mamah mengusap punggung Vino dengan sayang untuk memberi ketenangan.
__ADS_1
"Disini peran kamu yang sangat di butuhkan nak, bersabarlah dan tetap kuat mendampingi nya, hati istrimu sedang dalam keadaan yang sangat sedih. Dia butuh support kita sebagai keluarga karena saat ini dia sedang merasa sendiri mengingat hanya tinggal nenek yang ia punya tetapi sekarang sudah berpulang."
"Iya mah, makasih sudah menguatkan Vino mah!"
Sang papah dan nenek Ningrum tak menyangka setelah menikah Vino bisa menjadi anak yang bertanggung jawab seperti sekarang ini. Mereka hanya bisa memandang haru dan mendengar jelas keluhan yang Vino ucapkan.
Pengajian di mulai dengan dipimpin oleh seorang ustadz setempat, begitu ramai orang yang menghadiri pengajian tersebut, para pegawai serta teman-teman almarhum nenek semua ikut menghadiri.
Pengajian di laksanakan dengan sangat khusuk, Sifa yang juga ikut di tengah-tengah mereka hanya diam mendengarkan. Tatapannya tertuju pada lantai yang di balut karpet permadani yang sedang ia duduki. Vino sejak tadi terus mendampingi dan menggenggam tangannya dengan mata yang berpusat pada buku Yasin yang saat ini sedang ramai-ramai di baca.
Sang mamah mertua pun ikut mendampingi di sisi kiri Sifa dengan sesekali mengusap lembut lengan menantunya. Mamah pernah ada di titik ini, jadi dia paham betul apa yang Sifa rasakan saat ini.
Semua mengaminkan doa yang di kumandangkan, banyak para tamu yang terlihat begitu sendu karena ikut merasa kehilangan, nenek Arum yang terkenal sangat baik dan memiliki sifat dermawan kepada siapa saja, bahkan setiap panen datang sebagian hasilnya ia bagi-bagi ke tetangga setempat dan tak jarang juga ia bagikan ke panti asuhan dan para janda yang ada di sana.
Sifa melangkah kembali ke kamar, kepalanya terasa pusing dan ingin kembali rebahan. Vino yang mengerti segera mengantarnya masuk, dengan perlahan Sifa memposisikan dirinya di ranjang dengan bantal yang sudah Vino tumpuk agar membuat Sifa nyaman.
"Sayang aku ambil makan dulu ya, kamu dari pagi hanya makan burger saja itupun hanya separo, tunggu sini biar aku suapi nanti!"
Sebelum Vino melangkah sifa menahan lengan Vino hingga kembali terduduk di pinggir ranjang.
"Ada apa sayang? kamu mau nitip apa?" tanya Vino lembut.
"Makasih by..." Sifa memeluk Vino dengan air mata yang kembali menetes, dia tak tau lagi bagaimana dirinya jika tak ada Vino saat ini. Nenek seperti sudah mempersiapkan semua, memberikan kehangatan keluarga baru sebelum dirinya tiada. Sifa memeluk tubuh Vino dengan erat dan di sambut oleh Vino yang sesekali mencium pucuk kepala Sifa.
"Kamu nggak sendiri sayang, ada aku ada mamah papah dan nenek Ningrum. Kami semua sayang sama kamu, kamu harus kuat menghadapi semua ini ya."
__ADS_1
Melihat Vino dan Sifa yang sedang berpelukan dengan suasana haru, mamah yang tadi berniat membawakan makan untuk keduanya akhirnya memilih mundur memberikan mereka waktu dan membiarkan Vino melakukan perannya sebagi suami untuk selalu ada di setiap keluhan yang istrinya ungkapan.
Setelah di rasa cukup tenang, Vino merenggangkan pelukannya dan meminta Sifa untuk diam menunggu dirinya yang akan mengambil makanan.
"Vin...." panggil sang mamah saat melihat Vino keluar dari kamar.
"Iya mah, kamu mau kemana nak?"
"Vino mau ambil makan mah, selagi Sifa mau karna dari pagi dia sulit di bujuk buat makan mah."
Mamah tersenyum mendengar ucapan anaknya, " ini sudah mamah siapkan, buat Sifa dan kamu juga jadi bisa langsung kamu bawa masuk," ucap mamah dengan senyum yang menghiasi.
"Makasih ya mah, mamah memang paling mengerti!"
cup
"Vino sayang mamah!" kemudian Vino segera masuk lagi ke kamar meninggalkan mamah yang masih diam mematung setelah mendengar ucapan Vino tadi.
Anaknya yang dulu sangat dekat bahkan tak malu menunjukkan kasih sayangnya, kini telah kembali. Kedua sudut bibirnya terangkat dengan hati yang menghangat.
"Mamah juga sangat menyayangi kamu Vin!"
Vino menyuapi Sifa dengan telaten, tak cukup waktu sebentar untuk kembali membujuknya makan, bahkan Vino sampai hampir habis kesabaran.
"Pinter istri aku, ayo dua suap lagi terus minum teh hangatnya ya!"
__ADS_1