
"Sayang......"
Sifa melangkah mundur dengan air mata yang tak dapat terbendung, dia lebih memilih untuk pergi berlari secepat mungkin. Niat hati ingin memberi kejutan dengan membawa piala, berujung dia yang mendapat kejutan dengan Vino yang sedang berciuman.
Isak tangis mengiringi langkahnya hingga Aldi yang melihat segera mengejar Sifa dan menariknya kedalam pelukan.
"Lepas Al gue mau pergi!"
"Kamu kenapa?"
"Lepasin atau bawa gue pergi sejauh mungkin!" ucap Sifa dengan air mata yang sudah membasahi pipi.
Aldi segera menarik tangan Sifa dan membawanya masuk ke dalam mobil lalu segera meninggalkan sekolah.
Vino mendorong Nita sekeras mungkin hingga wanita itu terjerembab ke lantai. Kelakuan Nita yang nekat mencium Vino berujung kesalahpahaman. Vino begitu murka akan itu, dia tidak menyangka Sifa akan melihat semuanya.
"Auuuwwwww sakit Vin!" rintih Nita.
"Puas loe sekarang hah! dasar cewek murahan! sekarang loe pergi atau gue habisin loe!"
Melihat kemarahan Vino dengan mata yang sudah memerah membuat nyali Nita menciut, dia segera pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Vino segera berlari keluar mengejar Sifa, tetapi dirinya hampir saja terjatuh saat kakinya menyenggol piala yang sudah tergeletak di lantai.
"Sayang kamu menang, maafin aku...." ucap Vino saat melihat tulisan di piala yang kini ada di tangannya kemudian dia segera berlari keluar ruangan untuk mencari keberadaan Sifa.
Setiap ruangan yang mungkin Sifa singgahi telah di datangi olehnya tetapi tidak juga menemukan keberadaan Sifa. Kemudian Vino berlari menuju parkiran, Vino melihat masih ada motor Sifa yang sejak kemarin ia tinggal.
"Kamu dimana yang?" keluh Vino dengan nafas ngos-ngosan.
Vino merogoh kantong celananya mencari ponsel dan mencoba untuk menghubungi Sifa tetapi tidak ada jawaban, Vino mengacak rambutnya dan mengusap kasar wajahnya yang tampak jelas gelisah.
Rasa bersalah dan khawatir menjadi satu yang membuat hatinya tak menentu hingga dia memutuskan untuk balik ke apartemen berharap menemukan Sifa untuk menjelaskan.
"Kita mau kemana?" tanya Aldi yang sejak tadi bingung mau membawa Sifa kemana.
"Pengan tempat yang lebih tenang Al," jawab Sifa tanpa menoleh ke arah Aldi.
Aldi segera menambah kecepatannya menuju tempat yang Sifa inginkan, sejak tadi keduanya hanya diam tidak ada yang mengeluarkan sepatah katapun. Aldi yang mengerti jika Sifa sedang ada masalah tidak ingin banyak bertanya.
__ADS_1
Mobil Aldi terparkir rapi di parkiran tepi pantai, dia mengajak Sifa untuk turun dan melangkah menuju pinggir pantai agar lebih bisa melihat keindahannya.
Mata Sifa terpejam merasakan hembusan angin yang sejuk menerpa wajahnya, air mata yang sejak tadi sempat mereda akhirnya harus jatuh kembali saat bayang-bayang Vino kembali terlintas.
Sifa mencoba untuk tenang setenang ombak saat ini, hatinya yang terluka ia biarkan mengering tanpa perlu di obati. Rasa khawatir akan sakit hati lantas benar terjadi, kecewa akan apa yang ia lihat tadi membuat dadanya seakan teriris.
"Ada apa?"
Sifa membuka matanya saat mendengar pertanyaan dari Aldi, dia menarik nafas dalam dan menghembuskan secara perlahan.
"Aku liat dia lagi ciuman di ruangannya sama Nita!"
"Mungkin mereka masih saling mencintai, kamu tau sendiri kan hubungan mereka sebelumnya," ucap Aldi.
"Terus dia anggap aku apa Al?" Sifa kembali menitikkan air mata mengingat baru semalam Vino menyatakan cintanya.
"Aku sendiri aja nggak tau hubungan kalian sebenarnya apa."
"Lebih dari mereka!" batin Sifa.
Sifa belum siap untuk menceritakan semuanya sama Aldi, yang ia butuhkan sekarang hanyalah ketenangan, otaknya serasa mau pecah. Setelah bergelut dengan soal ditambah lagi Vino yang membuat ulah.
Baru di kasih manis sedikit tapi udah bikin nangis!
"Aku yang berusaha menjadi orang baik nggak kamu lirik sedangkan dia....."
"Jika hati yang memilih terus aku bisa apa Al....." lirih Sifa.
Aldi tersenyum kecut mendengar jawaban dari Sifa dan ucapan Sifa memang benar adanya.
"Tapi kamu masih inget ucapan aku tempo hari kan?"
"Iya, tapi nggak akan semudah itu!" Sifa tersenyum menatap wajah Aldi, "makasih ya selalu ada untuk aku! kamu sahabat yang baik."
"Aku nggak akan lepasin kamu sampai kamu menemukan kebahagiaan kamu Fa!"
"Makan dulu yuk, di sana ada tempat makan lesehan sekalian kita pesan kelapa muda di sana," ajak Aldi.
"Aku males makan, kamu makan aja duluan!"
__ADS_1
"Jangan gitu lah Fa....dari pagi belum makan kan? nanti kalo sakit repot! kamu tunggu sini aku pesanan ya!" bujuk Aldi.
"Terserah kamu aja!" Sifa mencoba untuk tersenyum. Aldi segera pergi untuk membeli makanan.
Sifa terduduk sendiri menikmati langit senja dengan angin yang semakin sejuk. Wajah sembab mewakili hatinya, ada sedikit rasa lega setelah jiwa bersatu dengan alam.
"Dari awal udah sakit dan sekarang loe buat luka lagi Vin, rasanya begitu perih, apa gue yang bodoh dengan mudah percaya ucapan loe....dasar buaya!"
"Terus ucapan loe semalam itu apa, semudah itu loe lupain semuanya, kalo emang masih suka kenapa harus bilang cinta sama gue? kenapa Vin?"
"Setau gue buaya itu punya hati, tapi kenapa loe nggak?" Sifa kembali meneteskan air matanya, sekuat apapun terlihat pada kenyataannya dia hanya tegar sesaat menutupi segala kecewa dengan senyum yang tak pudar di wajahnya.
"Kenapa harus sesakit ini Vin, apa ini resiko mencintai kamu suamiku."
"Makan dulu Fa, walaupun sakit hati tapi perut harus tetap terisi!"
deg
Sifa segera menoleh, ada rasa khawatir jika Aldi mendengar semua ucapannya tadi.
"Eh Al, kok nggak liat datangnya?"
"Gimana mau liat kalo kamu aja ngelamun dari tadi!" Sifa mencoba untuk tersenyum menanggapi ucapan Aldi.
"Ayo makan Fa, aku pesen makanan enak loh coba dech, dan ini es kelapanya!"
"Jangan terlalu baik Al, nanti aku bingung cara membalasnya," ucap Sifa merasa tidak enak hati dengan Aldi.
"Cukup liat kamu bahagia aja udah buat aku senang!"
Mereka makan di bawah langit senja dengan deru ombak yang membuat hati damai. Sifa terus mengembangkan senyumannya membuat hati Aldi semakin meringis tak tertahan, dia tau jika senyum itu palsu.
Hingga malam hari Sifa masih anteng duduk di atas pasir putih dengan di temani Aldi di sampingnya.
"Pundak aku masih mampu menahan tubuh kamu yang lelah!" Aldi menepuk salah satu pundaknya berharap Sifa mau bersandar di sana.
Mendengar itu membuat Sifa kembali tersenyum, "tapi aku nggak mau singgah di sana hanya untuk menambah beban!"
"Bebas singgah atau menetap tanpa di pungut pajak! sekalipun meninggalkan beban aku masih mampu untuk bertahan!"
__ADS_1
"Maaf jika akhirnya aku harus mengecewakan!" lirih Sifa.
Akhirnya mereka menghabiskan malam di tepi pantai dengan Sifa yang bersandar pada pundak Aldi, keduanya hanya diam dengan pikiran masing-masing. Aldi tidak menyangka akan berakhir seperti ini, ada rasa sakit tetapi tidak ingin egois. Hingga terdengar dengkuran halus dari Sifa yang sudah terlelap masuk ke alam mimpi.