
Setelah bell istirahat berbunyi seperti biasa ketiga gadis yang saling bersahabat itu kini sudah berada di kantin sedang menikmati makan siangnya. Walaupun Sifa telah menikah tetapi tidak membuat Vino dan Sifa lantas lengket hingga harus kemana-mana berdua. Sehingga waktu bersama sahabat tidak berkurang.
"Eh Fa, kata tembok yang pada bicara nich ya...loe tadi pagi ribut sama Nita LG?" tanya Nisa.
"Nggak juga, dianya aja yang nyari perkara, tapi nggak ribut juga orangnya aja kabur."
"Tapi gue tadi sepintas liat ada Aldi sama Marta juga, itu si Aldi beneran sama Marta?" tanya Meri yang mulai serius menunggu jawaban dari Sifa.
"Gue nggak paham, tapi ya kalo di liat begitu," Sifa mengangkat kedua bahunya setelah berbicara.
"Parah sich omongan laki, ngejarnya bertahun-tahun, satu hari aja udah move on, masih bisa di percaya nggak tuh mulut!" sewot Nisa.
Mendengar ocehan Nisa membuat Sifa teringat akan Aldi dan Marta saat di lorong apartemen kemarin.
Sebenarnya ada apa dengan hubungan kalian, kenapa Aldi begitu cepat berubah....apa memang Aldi bukan orang baik...tapi sudah hampir tiga tahun ini gue berteman sama loe, loe termasuk orang baik, bukan seperti yang gue lihat kemarin, apa iya dalam satu hari bisa merubah orang sampai sedrastis ini, apa mungkin hanya pelarian semata loe ngelakuin ini?
Di kepala Sifa di penuhi oleh begitu banyak teka teki tentang Aldi. Karena berubahnya sikap Aldi, yang sedikit membuatnya kecewa, Sifa menyayangkan sikap Aldi kenapa harus berubah buruk.
Sepulang sekolah Vino sudah menunggu Sifa diparkiran dengan bersandar pada body mobil bersama kedua sahabatnya yang sengaja menunggu kehadiran Sifa.
"Tuh pangeran loe udah nungguin," Meri menunjuk Vino yang membuat arah pandang Sifa mengikuti.
Sifa tersenyum tipis saat melihat Vino sudah berdiri menunggunya, hingga membuat Nisa dan Meri semakin gencar meledek Sifa.
"Pake acara senyum-senyum, udah bucin ya loe!" ledek Meri.
"Apa sich loe Mer!" celetuk Sifa.
Semangat bener yang udah di tungguin syank!" celetuk Nisa.
Sifa melangkahkan kakinya pelan tapi pasti, hingga kini sudah ada di samping Vino. Vino yang melihat segera menyambutnya dengan senyum manis yang jarang ia tunjukkan kepada siapapun. Sehingga membuat para murid lain yang melihatnya auto ikut tersenyum.
"Ayo!" ajak Vino.
Sifa menganggukkan kepalanya kemudian membalikkan tubuhnya sebelum masuk ke dalam mobil untuk melihat kearah Nisa dan Meri yang kemudian keduanya mengangkat ibu jari mereka.
"Gue balik duluan!" ucap Vino pada kedua temannya.
"Iya yang udah punya pawang!" ucap Geri.
"Hati-hati neng Sifa, Abang itu suka gigit loh!" ledek Rian yang membuat Sifa menggelengkan kepala.
Kini keduanya sudah berada di jalan menuju apartemen, semenjak hubungan mereka membaik Vino pun sudah jarang meninggalkan Sifa sendiri, bahkan untuk pergi malam keluyuran sudah di bilang tidak pernah.
"Mau mampir kemana dulu nggak sayang?"
"Lagi pengen pulang ke rumah almarhum papah."
"Mau sekarang?" tanya Vino lagi.
__ADS_1
"Boleh?"
"Boleh dong sayang, aku juga ingin kesana, dua kali kesana dengan tujuan yang sama yaitu nyariin kamu, kesannya tiap dateng nggak banget!" keluh Vino.
"Ya udah, nanti minta masakin makanan sama Bi Tum, beliau kalo masak enak banget kamu pasti suka, sekalian berkeliling rumah aku ya," Sifa begitu antusias, mungkin karena sekarang yang ia ajak adalah suaminya. Karena sebelumnya Sifa tidak pernah mengajak siapa-siapa saat pulang, kedua sahabatnya pun semenjak meninggalnya mamah papah sudah jarang main kesana.
"Non Sifa!" Seru Bi Tum yang berjalan dari arah dapur menyambut kedatangan anak majikannya.
Sifa memeluk bibi erat, Bi Tum sudah seperti orangtua sendiri bagi Sifa.
"Bi Tum kangen sama non Sifa, udah lama non Sifa nggak pernah pulang."
"Iya Bi, Sifa juga kangen banget sama bibi, Sifa pulang sama suami Sifa Bi," ucap Sifa kemudian melepas pelukannya memperkenalkan Vino pada Bi Tum.
"Bi...." sapa Vino.
"Eh iya den Vino, den Vino ganteng banget baru kali ini bibi liat den Vino kesini wajahnya berseri, tenang, kemarin tiap kesini den Vino pasti mukanya lagi kusut nyariin non Sifa."
Sifa tertawa mendengar ucapan Bi Tum kemudian memandang Vino yang melihatnya dengan pancaran kasih sayang.
"Bi Tum lega, sekarang non Sifa sudah ada yang menjaga, yang sayang sama non Sifa, mudah-mudahan kalian bersama terus ya, langgeng terus sampai seterusnya!"
"Aamiin Bi.....ya udah Sifa ke atas dulu ya Bi, kasian Vino capek biar istirahat dulu," ucap Sifa kemudian mengajak Vino naik ke kamar.
"Mau bibi buatkan minum apa non?"
"Beres non!"
Sifa segera menarik tangan Vino untuk naik ke atas menuju kamarnya, gadis itu membuka pintu kamar yang sudah lama tidak dia tempati. Kamar yang selalu bersih karena bi Tum yang begitu rajin.
"Pink?"
"Kenapa kan cewek!" jawab Sifa kemudian duduk di tepi kasur.
"Iya cewek banget istri aku," Vino mengedarkan pandangannya melihat setiap sudut kamar Sifa yang membuatnya ingin tertawa, dia bahkan baru sadar jika istrinya ini penyuka warna pink, semua yang ada di sana warna pink sampai pernak pernik pun dengan warna yang sama. Vino melirik Sifa yang sedang menguncir rambutnya hingga leher jenjangnya terlihat jelas membuat Vino memikirkan hal lain.
"Sayang ini semua pink sampai detail banget loh, pantes aja kamu lebih sering pakai bra pink ya sayang!"
"Vino apa sich, kamu ini kenapa malah mikir sampai situ!" ucap Sifa dengan wajah yang sudah memerah, dia tidak menyangka Vino akan mengingat hingga ke underwear nya.
Vino tersenyum simpul melihat Sifa yang sudah malu-malu kemudian duduk di sampingnya.
"Tapi aku suka sayang, apa lagi kalo kamu pakai warna hitam favorit aku, pasti lebih sexy baby," bisik Vino di telinga Sifa yang membuat tubuhnya meremang.
"Besok beli ya?" ucap Vino lagi kemudian mengecup leher yang sejak tadi menggodanya hingga meninggalkan berkas merah karena sedotan dan gigitan yang hampir saja menimbulkan ******* yang membuat Vino semakin bersemangat.
"Vino jangan gitu ikh, kamu mah jangan ninggalin jejak, besok kan sekolah!" keluh Sifa.
"Biarin, biar semua tau kamu sudah ada yang memiliki."
__ADS_1
"Ya nggak gitu juga Vin," Sifa mulai cemberut dan itu justru semakin membuat Vino gemas.
"Manggilnya Vino terus, manggil sayangnya jarang banget istri aku nich," keluh Vino.
"Aku belum terbiasa Vin!"
"Terus panggilan apa yang bisa buat kamu terbiasa dan nyaman manggil akunya, aku ini suami kamu loh masak gitu terus manggilnya sayang?"
"Mmmmmmm apa ya........" Sifa berfikir keras hingga membuat Vino gemas dan menciumi pipi Sifa berkali-kali.
"Hubby ikh!" rengek Sifa spontan yang kemudian membuat Vino menatapnya dengan dalam.
"Apa sayang? kamu tadi panggil aku apa?"
Sifa mengkerutkan dahinya, mencoba mengingat kembali kata-kata yang tadi keluar dari mulutnya.
"Apa sich by...…"
"Nah itu sayang!" ucap Vino dengan mata berbinar.
Sifa menutup bibirnya setelah mengingat panggilannya tadi pada Vino.
"Coba lagi sayang!"
"Nggak mau akh," Sifa menggelengkan kepalanya dengan pipi yang lagi-lagi sudah seperti tomat.
"Ayo lah sayang!"
"Hubby....." lirih Sifa menuruti Vino.
"Hubby, indah banget sayang kamu manggil aku gitu, berasa banget aku di sayangnya, emangnya sayang banget ya sama aku?"
Pertanyaan macam apa ini, jelas-jelas Sifa begitu nyaman hingga menimbulkan rasa sayang.
"Hey ....kok diem aja, sayang nggak sama aku?" tanya Vino lagi dan di jawab anggukan kepala dari Sifa.
"Kalo cinta udah belum?" tanya Vino lagi membuat otak Sifa berfikir keras.
"Cintanya masih otw kayaknya, lagi nyari alamat kemana harus singgah biar nggak salah tempat yang berujung fatal, jadi harap bersabar dan lebih banyak berusaha!" jawab Sifa dengan senyum mengembang dan itu justru membuat senyuman di wajah Vino menghilang.
"Berarti masih bertepuk sebelah tangan donk," ucap Vino dengan suara rendah.
"Kalo sebelah nggak bisa bertepuk by, bertepuknya nanti kalo udah ada pasangannya!" Sifa mulai cekikikan melihat tampang Vino yang di tekuk.
"Kamu mah ngeselin, kenapa harus lama nyari alamatnya jelas-jelas udah ada di depan mata, atau emang ada yang lain?" Vino berubah dengan sorot mata tajam yang membuat Sifa seketika bergidik.
"Nggak ada!"
"Bohong?"
__ADS_1