
Setelah pembicaraannya dengan Dokter Arman tadi yang menyisakan banyak tanda tanya, Sifa kini kembali melangkahkan kakinya keruangan Vino. Dokter Arman yang tadi segera pergi karena mendapatkan panggilan dari perawat membuat Sifa tak bisa kembali bertanya tentang sosok putra yang katanya dekat dengan dia sekarang.
Sifa terus melangkah hingga langkahnya terhenti saat ingin membuka pintu kamar Vino, Sifa mendengar suara seseorang yang beberapa hari ini tidak ia dengar, Sifa membuka perlahan matanya melihat jelas Vino yang sudah sadar dengan Nita yang berada di sampingnya menggenggam tangan Vino.
"Jadi bukan gue yang loe liat saat loe sadar Vin tapi Nita, secinta itu loe sama dia sampai pengaruhnya besar banget buat loe?" batin Sifa dengan tangan menyentuh dadanya yang terasa ngilu.
Vino yang sedang mendengarkan kedua sahabatnya berbicara tanpa sengaja pandangannya jatuh pada gadis cantik yang berdiri di depan pintu dengan pandangan mata sendu penuh kecewa. Sifa yang melihat pandangan mata Vino ke arahnya segera mundur dan pergi dari sana, langkahnya membawa Sifa kembali lagi ke kursi taman dengan wajah penuh kekecewaan.
Vino yang melihat Sifa malah pergi kemudian memberi kode pada Rian agar menyusulnya dan meminta Geri untuk mengantar Nita pulang.
"Kamu beneran nggak apa-apa aku tinggal?" tanya Nita yang keberatan untuk meninggalkan Vino, dia berniat untuk menginap karena dia tau jika tadi saat dia datang ada Sifa yang menunggu Vino, apa lagi jelas tas Sifa yang tergeletak di atas meja sofa dengan segala buku-buku pelajarannya yang membuat Nita meradang dan bertanya-tanya sedekat apa Sifa dan Vino saat ini.
"Ada orang yang lebih berhak di sini jadi mending loe pulang!" ucap Vino ketus karena pikirannya yang sejak tadi memikirkan Sifa yang pergi begitu saja.
"Tapi Vin,"
"Udah ayo Nit biarin Vino istirahat lagian dia juga baru sadar, loe jangan malah nambah beban pikiran dia!" ucap Geri yang sudah menarik tangan Nita.
"Diem Ger gue bisa jalan sendiri!" bentak Nita yang sudah sangat kesal.
"Ya udah aku pulang ya sayang!"
cup
Nita pamit dengan mencium kening Vino yang membuat Vino merasa jengah, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa dengan kondisinya yang masih lemah.
Rian menghampiri Sifa yang terdiam melamun melihat lampu taman yang begitu indah menerangi malamnya yang rumit.
"Kenapa nggak masuk tadi, loe nggak pengan lihat Vino yang udah sadar?" tanya Rian yang sudah berdiri di belakang Sifa.
"Ada yang lebih berarti yang membuat dia sadar dan mungkin buat dia lebih nyaman!"
"Nita?" tanya Rian lagi.
"Ya." Sifa menjawab singkat.
"Vino dari tadi nyariin loe Fa," ucap Rian yang sudah beralih duduk di samping kursi taman yang Sifa tempati.
"Loe nggak usah berusaha buat gue tenang Ian," ucap Sifa dengan senyum yang ia paksakan.
"Emang begitu kenyataannya Fa, loe belum mengenal lebih tantang Vino!"
" Kalau gitu kenalin gue tentang Vino!" tantang Sifa yang sudah menoleh ke arah Rian.
__ADS_1
"Gue nggak berhak ngejelasin banyak tentang dia karena yang lebih berhak menjelaskan semuanya itu Vino, tapi yang harus loe tau Vino nggak seperti yang loe pikir selama ini."
"Memang apa yang gue pikir selama ini?"
"Loe kesel kan sama Vino, dari awal malah mungkin loe benci sama dia, tapi Vino nggak sejahat yang loe pikirin!" ucap Rian mencoba menjelaskan kepada Sifa.
"Loe orang yang selama ini dicari sama Vino, dan pengaruh loe besar di hidup dia sampai sekarang dia menjadi bad boy!"
"Apa maksud loe? sebelum gue sering ribut sama dia dan berujung jadi istrinya, kelakuan dia emang udah nggak bener!" ucap Sifa tidak terima.
"Itu semua karena masa lalunya dan ada campur tangan loe di dalamnya."
"Maksud loe?" tanya Sifa yang semakin tidak mengerti dengan apa yang di katakan Rian.
"Sekarang mending loe masuk, Vino udah nunggu loe nggak baik juga malem-malem diluar, nanti loe sakit malah buat Vino makin sedih liatnya, gue balik dulu kemungkinan Nita dan Geri juga udah balik. Gue harap loe bisa buat Vino balik lagi kayak dulu!"
Usai mengatakan itu Rian segera pergi dari sana, Sifa semakin di buat bingung dengan ucapan dan pesan Rian tadi. Malam ini sungguh banyak sekali teka teki yang harus Sifa pecahkan, bahkan sosok Putra yang sudah lama dia tidak jumpa pun menjadi tanda tanya besar setelah Dokter Arman mengatakan jika Putra ada di dekatnya.
Sifa kembali menuju ruangan Vino, ada rasa ragu di hatinya tetapi kembali lagi Sifa mengingat akan statusnya yang mengharuskan dia kembali lagi kesana.
Sifa membuka pintu ruangan VIP tersebut dengan pelan dan melangkah menuju sofa untuk membereskan buku-buku yang masih berantakan di atas meja.
"Dari mana?" suara itu membuat Sifa menghentikan aktivitasnya, kemudian menoleh ke arah pemuda yang beberapa hari ini mampu mengobrak-abrik hatinya.
"Butuh kamu!"
deg
Sifa menghentikan langkahnya saat mendengar ucapan Vino, detak jantungnya mulai tak terkondisikan.
"Kenapa malah diam? sini!" ucap Vino membuat Sifa kembali melanjutkan langkahnya, kini Sifa berdiri di samping ranjang Vino, melihat wajah Vino yang sudah mulai berwarna tidak seperti sebelumnya begitu pucat.
" Tolong ambil tisu basah dan bersihin kening gue!" mendengar perintah Vino Sifa segera beranjak mengambil beberapa lembar tisu basah kemudian membersihkan kening yang sebagian masih tertutup perban.
"Memang kenapa sama kening loe?"
"Bekas bibir Nita," ucap Vino yang membuat pergerakan tangan Sifa kembali terhenti dan itu membuat Vino mendongakkan wajahnya menatap Sifa.
"Kenapa berhenti?"
" Oh nggak, ini udah kan?" tanya Sifa mencoba bersikap tenang walaupun sebenarnya ntah kenapa hatinya merasa kesal.
"Langsung buang tisunya!" Sifa menuruti Vino dan langsung membuang tisu tersebut ke tempat sampah.
__ADS_1
" Ada lagi Vin? kalo nggak ada lebih baik loe istirahat ini udah malem!" ucap Sifa yang ingin kembali menuju sofa tetapi tangannya di cekal oleh Vino.
"Loe nggak kangen sama gue?"
"Pertanyaan macam apa ini, bahkan loe udah bikin hati gue acak-acakan Vino!" batin Sifa.
Sifa kembali menoleh ke arah Vino, kemudian melepas genggaman tangan Vino dari tangannya.
"Percuma kangen sama orang yang merindukan orang lain!"
"Loe cemburu?" tanya Vino kembali menggenggam jemari Sifa.
"Hak gue apa buat cemburu? posisi gue sendiri aja udah jelas kalah sama dia yang mampu buat loe sadar dari koma!" Sifa berusaha untuk tenang dan memaksakan senyumannya.
"Jadi ini masalahnya, bahkan saat gue buka mata orang yang pertama gue cari itu istri gue!"
"Terkadang posisi istri kalah dengan kekasih, apa lagi kalo nggak ada cinta yang mendasari." ucap Sifa kemudian melepas kembali genggaman tangan Vino.
"Bagaimana kalo gue udah cinta?" tanya Vino lagi.
"Cinta sama Nita? nggak perlu loe pamerin juga Vino!" ucap Sifa dengan nada meledek kemudian Sifa beranjak menuju sofa dan kembali membereskan buku-buku pelajarannya. Hingga dering ponsel menyita atensinya, setelah melihat siapa penelponnya Sifa segera mengangkat panggilan tersebut.
"Halo Mah"
"............"
"Alhamdulillah udah sadar mah," ucap Sifa melirik Vino yang sejak tadi memperhatikanya.
"Iya Mah, ya udah Mamah istirahat aja, besok pagi baru kesini ya mah, biar Vino sama Sifa,"
".........."
"Iya mah"
"Dari Mamah katanya kangen sama loe, besok pagi Mamah sama Papah kesini," ucap Sifa menoleh ke arah Vino yang sejak tadi hanya diam memperhatikan. Melihat wajah sendu Vino Sifa kembali beranjak menuju ranjang Vino dan duduk disampingnya.
"Loe mau gue telponin Mamah kenapa sedih gitu mukanya?" tanya Sifa khawatir tetapi Vino hanya diam melihat Sifa.
"Vin!" panggil Sifa yang semakin khawatir.
"Gue telponin bentar ya," ucap Sifa segera mencari kontak Mamah.
"Gue sedih karna nggak di rindukan sama istri sendiri!"
__ADS_1