
"Fa kantin yuk!" ajak Nisa yang sudah bersiap untuk ke kantin, bahkan membantu Sifa membereskan bukunya agar lebih cepat.
"Laper banget apa loe?"
"Banget......"
"Gue juga belum sarapan tadi gara-gara kesiangan, tapi nggak lebay juga kayak loe!"
"Ikh perut dia kan beda Fa, mie ayam aja pake nasi kalo dia mah," celetuk Meri.
"Enak aja loe kata perut gue karung!"
"Mungkin!" Meri mengangkat kedua bahunya.
Dalam perjalanan menuju kantin Sifa bertemu dengan Aldi, Sifa yang masih bingung kenapa bisa dia semalam di jemput oleh Vino mencoba untuk mengajak Aldi untuk berbicara.
"Al, bisa bicara sebentar!"
"Hmmm..."Aldi melempar senyum.
"Kalian duluan aja ya, gue mau ngobrol sebentar sama Aldi."
"Oke dech, tapi hati-hati Fa, jangan bikin masalah!" Nisa mencoba mengingatkan.
Saat ini Aldi dan Sifa tengah duduk di taman belakang sekolah, keduanya masih diam dengan pikiran masing-masing.
"Al...." lirih Sifa ragu.
"Mau ngomong apa Fa? kenapa ragu gitu?" tanya Aldi yang mengerti akan sikap Sifa.
"Apa kamu udah tau semuanya?" Sifa mencoba melihat ke arah Aldi membuat keduanya kini saling berhadapan.
Aldi tersenyum menanggapi pertanyaan dari Sifa, Aldi mengulurkan tangannya ingin menyentuh tangan Sifa tapi ia urungkan saat kembali mengingat akan status Sifa.
"Iya, selamat ya!" lirih Aldi.
Sifa melebarkan matanya, ini jelas menyakiti Aldi tapi dia melihat Aldi cukup tegar menghadapinya.
"Nggak usah kaget gitu, aku nggak apa-apa yang penting kamu bahagia! dan kamu tenang aja, aku nggak akan menjauh dari kamu tapi aku tau batasan, aku masih pantau kamu sampai kamu benar bahagia."
"Kamu nggak marah Al? maaf aku belum bisa jujur!"
"Marah, kecewa, sedih jadi satu. Tapi melihat orang yang aku sayang bisa bahagia walaupun bukan sama aku, itu lebih penting! karna aku cinta bukan hanya terobsesi sama kamu!"
"Makasih ya Al, kamu sahabat yang baik!" ucap Sifa dengan melempar senyum pada Aldi.
Aldi mengusap lembut pucuk kepala Sifa dan mengajaknya ke kantin.
"Ayo!"
Saat keduanya membalikkan badan tampak Vino sudah berdiri dengan bersedekap dada membuat Sifa dan Aldi begitu terkejut.
__ADS_1
"Vin...."
"Jangan marah sama Sifa, dia cuma mau tahu apa gue udah tau hubungan antara kalian nggak lebih!" Aldi mencoba untuk menjelaskan dia yang mengetahui sikap kasar Vino, merasa takut jika Vino akan berbuat lebih pada Sifa.
"Ikut aku!" Vino menarik tangan Sifa dengan tidak santai dan itu dapat di tangkap oleh mata Aldi yang membuat hatinya tidak tenang.
Aldi mengejar keduanya dan menarik tangan Vino agar berhenti.
"Loe nggak bisa kasar kayak gini Vin! gue kan udah jelasin semuanya!"
"Loe diam aja, ini urusan rumah tangga gue!" Vino kembali membawa Sifa menuju ruangannya meninggalkan Aldi yang diam mematung disana, setelah mendengar jawaban dari Vino.
Sifa hanya pasrah, dia hanya ingin tau apa yang akan Vino lakukan padanya, semua mata yang melihat keduanya tampak heran apa lagi dengan gadis yang di ujung koridor tampak sudah mengepalkan tangannya.
"Masuk!"
Sifa segera masuk dan Vino mengunci ruangannya. Sebenarnya jantung Sifa sudah berpacu cepat sejak tadi, tetapi dia berusaha untuk tetap tenang.
Vino berjalan mendekati Sifa dan menarik tangan Sifa hingga membuat gadis itu kembali jatuh di pelukan Vino. Mendekap dengan erat tubuh Sifa meredakan segala emosi yang sempat membuncah saat melihat tangan Aldi mengusap lembut pucuk kepala istrinya.
Pelukan yang begitu erat membuat dada Sifa sesak, gadis itu mengusap lembut punggung Vino agar mampu mengontrol dirinya, Sifa sadar Vino sedang di kuasai amarah tetapi tidak ingin berujung kasar.
"Udah marahnya!" lirih Vino tepat di telinga Sifa.
Tangan Sifa terulur tepat di belakang kepala Vino, gadis itu mengusap lembut rambut suaminya. Ada rasa tak tega jika harus terus mendiamkan Vino tetapi jika mengingat ciuman itu sungguh membuat hatinya terasa kelu.
Vino merenggangkan pelukannya dan menatap manik mata Sifa, ada kekecewaan di sana. Tangan Vino menarik pinggul Sifa dan menarik tengkuk gadis itu tetapi saat bibirnya ingin ia satukan tangan Sifa menahan pergerakannya. Sifa menggelengkan kepalanya yang membuat Vino lemas dan melangkah duduk di sofa.
Melihat itu Sifa berniat ingin keluar tetapi langkahnya terhenti saat suara Vino membuat Sifa segera berlari menghampirinya.
Sifa berhambur memeluk Vino yang sedang bersandar di sofa dengan tangan yang ia lingkarkan di leher Vino dan kaki yang tanpa sadar ia lebarkan untuk duduk di pangkuan Vino, kemudian menyatukan bibirnya. Vino yang mendapat serangan secara tiba-tiba tidak menyangka jika Sifa seberani ini, dia membalas kecupan itu dengan mulai aktif bermain di sana, tangannya mulai meraih tubuh Sifa dan menekan tengkuk gadis itu untuk memperdalam ciumannya. Tangan Sifa mulai merayap naik ke rambut Vino dan menjambak lembut saat belitan lidah Vino semakin kuat, decapan-decapan lembut mengiringi pergerakan keduanya, hingga suara tertahan dari Sifa keluar mendayu di telinga Vino saat sapuan lidah turun ke leher jenjang Sifa.
"Cukup Vin!" Tak ada sahutan dari Vino bahkan semakin aktif menyusuri lahan putih yang membuat ga..i..r..ah memuncak.
"Sayang stop!" Sifa menjambak rambut Vino hingga kepala Vino menengadah melihat wajah Sifa yang sudah memerah.
"Sorry..." lirih Sifa segera melepas rambut Vino dengan wajah meringis.
"Belajar nakal dari mana, hhmm?"
"Haahh!"
"Istri aku mulai nakal, belajar dari mana?" pertanyaan Vino membuat semburat merah di wajah Sifa semakin terlihat.
"Apa sich Vin!"
Sifa segera turun dari pangkuan Vino, dia merapihkan tampilannya dan membenarkan seragamnya yang sempat berantakan.
Ketukan pintu membuat Vino segera membukanya, Rian dan Geri masuk dengan banyak makanan di kedua tangan mereka.
"Woooowwww apakah habis terjadi angin ****** beliung disini?" celetuk Rian saat melihat penampilan Vino yang sedikit berantakan dan rambut yang mulai acak-acakan.
__ADS_1
"Mungkin angin topan atau angin lesus?" sahut Geri yang sengaja meledek.
Sifa yang mendengar ledekan kedua sahabat Vino segera menoleh ke arah Vino yang sudah terduduk kembali di sofa. Sifa menggigit bawah bibirnya saat melihat penampilan Vino yang acak-acakan karena dirinya.
"Sayang sini!" ucap Vino membuat Sifa segera mendekat.
"Tanggung jawab rapiin rambut aku!" bisik Vino yang membuat muka Sifa rasanya semakin memanas.
Sifa merapikan rambut Vino dengan jemarinya membuat Rian dan Geri yang sedang membuka bungkusan makanan yang mereka bawa saling melirik.
"Berasa jadi Baygon gue disini!" Celetuk Rian.
"Gue berasa jadi autan!" sahut Geri.
"Vin! udah ya....aku balik ke kelas aja dech, udah rapi nich!" Sifa hendak beranjak.
"Makan dulu sayang, kamu dari pagi belum makan loh....! mau aku suapin?" Vino menahan Sifa agar kembali duduk di sampingnya.
Aku bisa makan sendiri!"
Setelah makan mereka kembali ke kelasnya dan melanjutkan kembali pelajaran mereka.
"Fa!"
"Hmmm......."
"Emang Aldi udah tau Fa?" tanya Nisa.
"Udah...."
"Hah! yang bener? gue tadi liat Aldi di deketin sama si Marta!"
"Marta sekertaris OSIS?" tanya Sifa memastikan.
"Iya, gue liat dia makan bareng, setau gue kan Aldi jaga jarak banget sama cewek semenjak deket sama loe, makanya gue heran aja dia bisa open sama si Marta dan loe tau nggak si Marta dengan pedenya pegang tangan si Aldi pas balik ke kelas." Meri ikut nimbrung.
"Makanya gue nanya sama loe, emang dia udah tau gitu, makanya nyari pengganti loe!" celetuk Nisa.
"Biarin aja lah, lagian itu kan hak dia nggak ada urusannya juga sama gue!"
"Tapi ya Fa, gue denger-denger si Marta itu mantannya si Vino, dia ngeri juga bisa ngelakuin apa aja buat dapetin cowok yang dia mau!" lirih Nisa.
"Iya bener banget!" sahut Meri.
"Ayo buru balik! ngapa jadi pada ngerumpi sich!" tegur Sifa kemudian beranjak dari tempat duduknya.
Ketiga gadis itu segera menuju parkiran, Sifa yang ingin membawa pulang motornya sengaja pulang sendiri.
"Loe nggak balik sama Vino Fa?"
"Gue mau bawa balik motor gue Nis! kasian dah berapa hari di tinggal disini terus sampe kesepian!" jawab Sifa dengan ekor matanya melirik Aldi yang sedang berjalan bersama Marta menuju mobilnya.
__ADS_1
"Al, mainan baru?" celetuk Meri yang aga tidak terima dengan sikap Aldi.
Aldi menatap Sifa yang juga masih melihatnya dengan tatapan yang sulit di artikan, kemudian pergi begitu saja dengan menarik tangan Marta untuk segera masuk ke dalam mobil.