
Sesampainya di kamar Vino langsung menarik Sifa untuk duduk di ranjang, Sifa dengan wajah yang memerah sejak tadi menahan malu karena baju pemberian dari mamah yang justru membuat mata Vino berbinar.
"Kamu nggak mau pake baju pemberian Mamah yang?"
"Kamu aja yang pakek!" sewot Sifa kemudian masuk ke dalam kamar mandi meninggalkan Vino yang tertawa terbahak karena berhasil menggoda Sifa.
Sifa belajar dengan tenang sedangkan Vino yang sejak tadi kembali dalam mode serius dengan menatap layar ponselnya. Setelah di rasa cukup, Vino melirik Sifa yang terus saja berkutat dengan buku lalu menghampirinya.
"Sayang!"
"Udah belajarnya, besok kan libur istirahat dulu ya!" Vino segera membereskan semua buku Sifa dan membawa Sifa untuk beristirahat di ranjangnya.
" Besok jadi kan ke pemakaman?" Sifa merebahkan badannya di atas kasur empuk milik Vino.
"Jadi sayang, sepulangnya kita dari sana mampir kedai ya?"
"Serius sayang? eh tapi aku bisa masuk nggak ya besok?" tanya Sifa dengan muka cemberut, dia sudah membayangkan ramainya kedai coffie yang Viral itu.
"Bisalah kan sama yang punya datengnya, besok aku kenalin kamu sama karyawan disana biar kapanpun kamu mau kesana langsung aja masuk ruangan aku!"
"Oke! baik banget laki gue......"
"Dasar giliran ada maunya aja muji-muji," ucap Vino mencubit hidung Sifa.
"Sakit ikh sayang," rengek Sifa.
"Ya udah bobo yuk!" Vino sudah memposisikan tidurnya menghadap ke Sifa lalu siap membuka kaos yang Sifa pakai.
"Eh kamu mau ngapain?"
"Mau ne.ne.n," ucap Vino dengan wajah polosnya.
"Nggak akh kamu mah kalo udah gitu betah." Sifa segera menutupi dadanya dengan kedua tangan.
"Mau minum susu coklat nggak boleh, ya udah kalo gitu," Vino segera membalikkan badannya tanda protes, Sifa yang mengerti jika Vino ngambek justru membiarkan tanpa ingin merayu.
Sifa memejamkan matanya, tetapi berkali-kali posisinya ia rubah, tetap saja tak membuat dia tertidur hingga pandangannya beralih ke arah Vino yang sejak tadi memunggunginya.
Sifa berfikir keras bagaimana bisa tidur dengan nyenyak, tetapi tidak juga menemukan ide malah matanya seakan semakin melebar. Hingga Sifa teringat dengan permintaan Vino.
"Apa gue dosa kali ya nggak nurutin suami, kenapa jadi gue yang nggak bisa tidur malah gelisah, hhuuuuhhff ....ribet banget loe Sifa."
Akhirnya Sifa mengalah dengan egonya, gadis itu segera beranjak dari tidurnya dan duduk di hadapan Vino kemudian membuka kaos yang ia pakai dan membusungkan dada mengarahkan choco chips miliknya kearah bibir Vino yang sedang tidur, layaknya ibu yang sedang menyusui bayinya.
"Sayang mau nggak?" lirih Sifa dengan wajah yang sudah memerah dan perasaan yang sangat malu. Jantungnya mulai berdebar, ini nekat menurut Sifa.
Vino masih tidak bergeming, bahkan membuka mulutnya saja tidak, hingga sifa merapatkan jaraknya sampai benar-benar menempel di bibir Vino.
"Ikh nich orang, mau nggak sich sebenarnya! gue masukin lagi aja lah," gumam Sifa yang sudah kembali ingin membungkus susu coklat kesukaan Vino tetapi dengan cepat mulut Vino menyambar dan meny.ed.ot dengan kuat membuat Sifa melenguh kencang.
__ADS_1
"Aaaakkkhhhhh pelan-pelan donk Vin, tadi nggak mau sekarang nyosor aja dah kayak soang!" Vino tidak menggubris ucapan Sifa dia terus memainkan mainan kesayangannya sambil tangannya mere.ma.s milik Sifa yang sebelah.
Tangan Sifa mengusap lembut rambut Vino dengan sayang, ada rasa geli dan gejolak yang tertahan tapi sebisa mungkin tidak Sifa hiraukan walaupun kadang suara yang tidak ingin terdengar harus keluar hingga membuat Vino semakin bersemangat.
"Udah ya Vin! pedes tau lama-lama..." bujuk Sifa.
Vino melepasnya dan memandang wajah cantik Sifa yang sejak tadi memerah.
"Kamu tuh emang di luar dugaan ya sayang, tapi kamu luar biasa."
"Ngomong apa sich!" Sifa yang ingin membungkus miliknya tetapi langsung di hadang oleh tangan Vino.
"Nggak usah yang, kamu tidur-tidur aja aku mau sebelahnya juga!"
"Aku ngantuk Vin mau tidur," rengek Sifa.
"Ya udah tidur, tapi nggak usah di bungkus, aku mau yang satunya juga," rengek Vino tak kalah manja.
"Preman sekolah begini modelannya, ternyata manjanya nggak ketulungan, berasa punya bayi gede ini mah gue "
Sifa memutuskan langsung tidur dan tak menghiraukan Vino, dia membiarkan Vino sesuka hatinya.
Tok
tok
tok
Hingga suara ketukan pintu terus mengusik telinga Sifa yang membuat Sifa segera terjaga, badannya seakan remuk karena Vino semalaman terus menindih dadanya.
"Auwwhhh sakit banget rasanya badan gue." Sifa berusaha mengangkat kepala Vino tetapi tak semudah yang ia pikir.
"Vin!
"Vino!
"Sayang!"
"Nggak bangun juga sich, aduuhhhh sakit banget rasanya."
"Vin...." rengek sifa yang akhirnya membuat Vino terjaga.
"Iya sayang, kenapa hhmm?" tanya Vino dengan suara serak khas bangun tidur.
"Awas Vin! Itu di panggil mamah, kamu mah betah banget sich!" Sifa mulai merajuk.
Vino duduk dan membenarkan lagi baju Sifa, kemudian membantu Sifa untuk duduk.
"Mana ada coba bocah ne.n.e.n rapiin sendiri!"
__ADS_1
"Ada itu kamu!"
"Makasih ya sayang, bobo aku nyenyak sekarang semenjak ada kamu." Vino membelai lembut rambut Sifa dengan tatapan hangat.
"Kapan bisa buatin mamah cucu?"
"Ikh kita kan masih sekolah Vin, masa aku hamil nanti apa kata yang lain, aku bisa di cap cewek nggak bener karena di kira hamil di luar nikah!"
"Tapi kan kita udah nikah sayang!"
" Tapi kan yang lain nggak tau, cuma sahabat kita aja yang tau, nanti ya kalo udah lulus, minimal habis ngerjain soal ujian." Sifa mengerti keinginan Vino, dia sadar Vino menahan keinginan biologisnya setiap malam.
"Nyicil boleh nggak sayang?"
"Maksudnya?"
"Perkenalan dulu, janji nggak akan melewati batas, seenggaknya kamu tau punya aku jadi bisa bantu di saat aku butuh!" Vino meraih tangan Sifa dan meletakkannya di atas milik Vino yang sudah menegang.
Jantung Sifa berdebar berkali-kali lipat, mukanya memerah menahan malu, sungguh ia ingin mendorong Vino dan kabur untuk bersembunyi. Tetapi saat ingin menarik tangannya, justru Vino menahan gerak Sifa.
"Kenalan sebentar yang nggak gigit kok, dia masih jinak karena belum menemukan rumahnya, tapi kalo sudah masuk rumahnya aku nggak tau sikapnya akan gimana. Rileks yang....kalo pagi gini dia bangun, berasa nggak?"
Itu apa keras banget, bangun gimana maksud Vino, OMG gue nggak ngerti harus gimana
"Egghhhhh....." Vino men.d.esah saat dengan reflek Sifa meremas miliknya.
"Kamu kenapa Vin?" tanya Sifa dengan wajah polosnya.
"Kamu nakal sayang, baru kenalan udah berani buat aku panas dingin!" jawab Vino dengan suara yang tertahan.
"Haaaahhh!"
"Kok muka kamu merah gitu Vin? sakit ya? maaf aku nggak sengaja....aku usap-usap ya."
Dengan tanpa dosa Sifa justru mengusap-usap milik Vino yang sudah memberontak di balik celana boxernya.
"Vin? kenapa? kok malah tambah tegang mukanya? aku salah ngusapnya? apa posisi tangan aku salah?"
Vino nggak menyangka Sifa akan sepolos ini memperlakukan miliknya, dia pikir akan tidur dengan dia elus-elus seperti itu.
"Sayang kamu mau bantu aku?" tanya Vino dengan mata yang sudah berkabut.
"Bantuin apa Vin?"
"Bantuin nidurin ini," jawab Vino dengan menyentuh tangan Sifa yang masih betah disana.
"Kan ini udah aku coba buat tidurin Vin, apa mau susu coklat juga kayak kamu?"
"Oh SSHHIIIT kamu lagi nawarin aku apa lagi coba goda aku sayang?" muka Vino semakin memerah menahan gejolak.
__ADS_1
"Mau bantu tidurin, kayak kamu kalo malem bakal anteng tidurnya kalo di kasih susu coklat kan?"
"Ok....kita coba!"