
Hari ini Sifa benar-benar disibukkan untuk persiapan olimpiade besok, sehingga membuat dirinya lupa makan dan beristirahat. Hal itu membuat Vino sejak tadi mengedarkan pandangannya mencari sosok Sifa yang tak kunjung terlihat. Di kantin hanya ada kedua sahabat sifa dan juga Aldi yang tak lama berdiri dari tempat duduknya.
"Eh Al cepet banget makannya?" tanya Meri yang duduk satu meja dengan Aldi dan temannya.
"Mau beliin makanan buat Sifa, kasian dia lagi sibuk banget sampe nggak sempet ke kantin!"
"Tadi gue kirim pesan nggak di bales sama dia, makanya kita tinggal ke kantin duluan aja, gue pikir dia bakal nyusulin!" sahut Nisa.
"Ya udah gue mau beli makan dulu buat dia!"
"Sekalian minumnya Al ntar seret!" seru Meri.
" Ya kali makanannya doank minumnya nggak!" celetuk Nisa.
Vino yang sejak tadi mendengar pembicaraan mereka segera beranjak dari sana.
"Mau kemana Vin?" tanya Geri.
"Ngasih hukuman buat bini nakal!" ucap Vino dingin.
"Jangan kebanyakan perang Vin!" ucap Rian mengingatkan.
"Loe pesenin gue makan, dua porsi sama minumnya jangan lupa terus bawa ke basecamp!"
"Ok!" ucap Rian dan Geri.
Vino berjalan menuju perpustakaan untuk mencari keberadaan Sifa disana, tetapi belum sempat dia memasuki perpustakaan, Sifa berjalan keluar dari ruang guru dengan membawa beberapa buku di dekapannya.
Sifa yang tidak sadar lantas langsung memberontak saat tiba-tiba merasakan tangannya di tarik oleh seseorang.
"Lepas!"
"Diam!
"Vino!" Sifa segera menurut saat tau yang menariknya adalah suaminya sendiri, tapi kok serem gitu mukanya. Vino membawa Sifa ke basecamp dan menghempaskan tubuh Sifa ke atas sofa.
"Kenapa sich Vin?" tanya Sifa ragu saat melihat Vino yang menahan marah.
Vino berjalan mendekati Sifa dan mengunci pergerakan gadis itu dengan menundukkan badannya dan kedua tangan di bahu Sifa.
"Belum cukup dari pagi buat aku gerah?"
"Kamu yang mulai!" celetuk Sifa.
"Aku yang mulai? kamu nggak sadar dari parkiran tadi udah jalan beriringan sama dia?"
deg
"A...aku, maaf aku lupa! kamu juga ngapain mau aja dipeluk-peluk sama Nita? nggak cukup semalam melukin aku sampai pagi?"
Mendengar rengekan Sifa justru meredakan amarahnya, Sifa yang cemberut membuat Vino menjadi gemas.
"Kamu juga ngapain malah ikut-ikutan meluk Aldi, hhmmmm?"
__ADS_1
"Aku.....aku kesel aja sama kamu!"
"Kamu cemburu?" tanya Vino dengan tampang meledek.
"Nggak, ngapain aku cemburu sama kamu!"
"Oh ok, aku panggil Nita biar kesini dan balikan lagi sama aku!" Vino segera beranjak menuju pintu, melihat itu Sifa segera berlari dan menghadang langkah Vino dengan merentangkan kedua tangannya.
Vino menaikan satu alisnya melihat Sifa yang sudah berdiri di hadapannya, dalam hati Vino ingin tertawa karena dia tau Sifa cemburu tetapi gengsi untuk jujur.
"Awas aku mau keluar!" Sifa menggeleng dan terus diam menatap Vino.
"Awas aku mau nemuin Nita, katanya nggak cemburu!"
"Nggak boleh!" tegas Sifa.
" Aku nggak minta ijin sama kamu!" Vino menyingkirkan tangan Sifa dan meraih handle pintu tetapi seketika langkahnya terhenti mendengar rengekan Sifa yang membuat tawanya ingin pecah.
"Satu langkah aja kamu keluar berarti kamu nggak sayang sama aku! kamu bohong sama aku! kamu mau jahat lagi sama aku! aku sebel sama kamu!" rengek Sifa dengan menghentakkan sepatunya kelantai.
Vino langsung berbalik dan memeluk tubuh Sifa, dengan tawa yang sudah tidak bisa ia tahan lagi.
"Kamu tuh gengsi di gede-gedein!"
"Kamu nggak peka!" rengek Sifa dengan air mata yang sejak tadi sudah tak dapat terbendung.
"Iya sayang! maaf ya," ucap Vino lembut membuat wajah Sifa memerah dan semakin masuk kedalam dekapan Vino.
"Woooowwww sorry bos!" ucap Rian yang lupa jika Vino tidak sendiri.
Vino merenggangkan pelukannya menoleh kearah Rian dan Geri yang sudah meringis dengan dua jari diangkat ke atas.
"Ketok dulu kalo mau masuk, bikin istri gue malu aja dah loe pada!" sewot Vino.
Rian dan Geri meletakkan makanan dan minuman mereka di atas meja dan melirik kearah Sifa yang masih berada di dalam dekapan Vino.
"Di peluk sama istri bikin lupa pelukan sang mantan ya Vin!" celetuk Geri yang membuat Vino melebarkan matanya.
"Iya Ger, apa lagi kalo udah dapet ciuman yang baru, rasa yang kemarin ilang seketika," sahut Rian menimpali ucapan Geri.
Sifa yang mendengar itu mencubit perut Vino dan menatapnya garang.
"Awwwhhh sakit sayang!" keluh Vino.
"Sayang? Vino manggil loe sayang Fa?" tanya Rian dan dianggukki oleh Sifa.
"Widih patut dapet rekor muri loe Fa, dari sekebon mantannya dia loe orang pertama yang di panggil sayang!"
"Sekebon? banyak banget!" ucap Sifa dengan muka polosnya.
"Keluar loe pada, mau bikin gue ribut lagi?" sewot Vino menatap tajam kedua temannya.
"Iya....iya kita keluar! awas Fa jangan mau di modusin!" seru Geri.
__ADS_1
"Berisik!"
Aldi yang sejak tadi mencari keberadaan Sifa, menghampiri Geri dan Rian yang baru saja keluar dari basecamp mereka. Melihat pintu ruangan itu tertutup membuat Aldi semakin penasaran.
"Kenapa?" tanya Rian.
"Gue nyari Sifa! dimana dia?"
"Mana gue tau ketos!" jawab Geri berbohong karena dia tidak ingin Aldi mengganggu Sifa dan Vino.
"Sekarang gue tanya, kemana Vino?"
"Ada urusan apa loe sama Vino?" sahut Rian.
"Kalian nggak usah nutup-nutupin dech, sebenarnya Sifa lagi sama Vino kan?" Aldi mulai tak sabar ingin melihat Sifa, dia khawatir dengan Sifa jika benar Vino yang membawanya.
"Terserah loe, yang jelas mereka nggak ada didalam dan jangan loe coba-coba masuk karena ruangan ini bukan daerah kekuasaan loe, ingat itu!" tegas Rian kemudian mengajak Geri untuk pergi dari sana.
Memang sejak awal basecamp itu tidak boleh ada yang masuk selain Vino and the gang, sekalipun ketos yang beralasan ingin sidak atau apapun, bahkan guru pun di larang masuk dan sudah mendapat persetujuan dari orang tua Vino.
Aldi yang sadar batasan dia segera meninggalkan tempat itu dan kembali ke kelasnya dengan tangan yang masih menggenggam kantong kresek berisikan makanan dan minuman untuk Sifa.
Sifa dan Vino dengan lahap menghabiskan makanan yang di bawakan Rian dan Geri tadi, keduanya kini tengah diam merasakan perutnya yang kenyang.
"Alhamdulillah kenyang! makasih ya.." ucap Sifa dan mendapat senyuman dari Vino.
"Kenapa nggak bilang aku kalo kamu sibuk?"
"Iya kan besok aku ikut olimpiade, jadi benar-benar harus di persiapkan! aku pikir kamu udah tau tentang olimpiade itu"
"Siapa aja yang ikut besok?" tanya Vino mengusap lembut surai hitam panjang yang sedikit berantakan.
"Pak Budi dan Aldi!"
"Kenapa harus ada dia sich?" kesal Vino.
"Nggak boleh gitu donk, dia itu sahabat aku loh!" jawab Sifa serius.
"Tapi dia suka sama kamu bahkan aku tau kalo sudah lama dia nunggu kamu!"
"Terus kamu cemburu?"
"Masih harus aku jelasin?" tanya Vino yang sudah menatap dalam manik mata teduh milik Sifa.
Sifa tersenyum mendengar jawaban Vino, tetapi sesaat senyumnya luntur ketika teringat kata-kata Rian tadi.
"Tapi mantan kamu banyak banget kan tadi kata Rian. Bilangnya suka sama aku dari dulu, tapi mantan sekebon!"
"Cuma buat pelarian aja biar nggak terlalu mikirin yang nggak ada, lagian kan aku nggak tau kalo ternyata itu kamu!" Vino menggenggam tangan Sifa. "lagian nggak serius kok, buat main-main aja, mereka yang nembak aku duluan."
"Main-main tapi kamu nikmatin! dasar buaya!" Sifa segera mengambil bukunya dan berjalan keluar dari ruangan tersebut.
"Salah lagi aja!"
__ADS_1