Cinta Berawal Luka

Cinta Berawal Luka
Pemersatu Bangsa


__ADS_3

Jam weker yang berbunyi sejak lima menit yang lalu mulai mengusik sepasang suami istri yang kini masih berpelukan di bawah selimut hangat dengan tubuh yang masih polos.


Setelah pergulatan yang kemudian menyemburkan bisa mini anaconda yang memenuhi mulut mungil Sifa, di lanjut menyelami mimpi bersama.


Kini secara bersama juga keduanya mulai terjaga, Sifa begitu malu saat bola matanya bersirobok dengan bola mata Vino.


cup


"Pagi sayang!" ucap Vino menyapa Sifa dengan senyum manis dan suara serak khas bangun tidur menambah ketampanan yang memiliki kadar di atas 90% apa lagi dengan rambut Vino yang acak-acakan, muka baby face nya sungguh membuat gemas.


Sama halnya dengan Sifa, Vino memberikan ciuman bertubi-tubi saat menyadari bidadari cantik yang mulai bersembunyi kembali di balik selimut.


"Stop Vino, jangan ciumin aku terus, ayo bersiap ke sekolah! nanti kesiangan loh!" rengek Sifa yang masih berada di balik selimut dengan mata tertutup, tetapi saat dia membuka mata begitu terkejutnya dia melihat tubuh suaminya yang masih polos dengan cacing jumbo yang sudah kembali bangun dan merubah bentuk.


"Kamu mah mesum banget sich Vin!" ucap Sifa seraya memukul lengan Vino.


"Apa sich yank? aku nyayang kok kamu balas pukulan?"


"Kamu mesum banget, masih pagi udah bangun aja!" ketus Sifa.


"Ya kan emang mau sekolah yang, makanya bangun."


"Bukan itu, tapi itu kamu juga bangun!" Sifa menunjuk ke arah bawah tubuh Vino yang tampak menyembul di balik selimut.


Vino mengikuti arah pandang Sifa kemudian tersenyum tipis dan menarik spontan tangan Sifa untuk ia letakkan di bawah sana.


"Vino!" seru Sifa.


"Mau nidurin nggak?" ledek Vino.


"Nggak mau, aku pegel Vin!"


"Hehehehehe becanda sayang, dia memang begitukan kalo pagi bangun, mungkin minta di sayang di manjain," ucap Vino dengan senyum usilnya.


"Manjain aja sendiri, aku nggak mau! awas aku mau turun!" Sifa menggeser tubuh Vino yang sejak tadi masih saja menempel seperti gula merah yang mencair.


"Mandi bareng yuk sayang!"


"Nggak mau!" ketus Sifa yang menarik selimutnya karena tubuh atas yang polos, tetapi justru membuat pemandangan indah yang Vino sajikan.


"Ikh kamu mah, kenapa nggak pakai baju sich semalam?" seru Sifa dengan menutup matanya dengan kedua tangan.


"Sayang tapi kan begini buat kamu nyaman!"

__ADS_1


Memang benar kata Vino, bahkan Sifa semalam sama sekali tidak terusik tidurnya.


"Tapi ya jangan gitu juga Vino, aku malu ikh kamu mah buat otak aku mulai berdebu!"


Vino turun dari ranjang dan melangkah santai mengambil bajunya yang tergeletak di lantai


"Nggak usah malu sayang, kan semalam udah lebih dari kenal, begini-begini ini senjata alat pemersatu bangsa, ketika punya kamu nanti sudah boleh aku serang."


"Ngomong apa sich Vin, cepetan masuk kamar mandi, segala pemersatu bangsa apa lagi!"


Sifa sejak tadi masih di posisi yang sama berdiri dengan menutup mata menunggu Vino masuk kedalam kamar mandi baru dia akan keluar kamar untuk ke kamar sebelah.


"Iya lah bangsa hewan bertemu dengan bangsa buah-buahan. Mini anaconda aku nantinya kan bakal masuk ke durian Montong yang terlihat tajam dari luar tetapi lembut dan menggigit di dalam."


OMG laki gue kalo ngomong suka bener, kalo ngehalu suka over, kalo ngajak ribut nggak liat timer.


Sifa dengan kesal berjalan keluar dari kamar menuju kamar sebelah tanpa memperdulikan Vino yang masih iseng meledeknya dan nggak akan ada ujungnya jika terus saja di ladenin.


BRAK


"Ugh, kelinci kecil kalo udah marah serem juga," gumam Vino dengan menggaruk tengkuknya.


Setelah perbincangan pagi yang tak berfaedah di lanjut dengan sarapan yang mengundang bawang karena tangan Vino yang terkena pecahan gelas saat membersihkan gelas yang pecah di lantai gegara Sifa yang tidak sengaja menyenggolnya.


"Ssssttt udah jangan menangis, aku nggak pa-pa, luka sekecil ini nggak akan buat aku kesakitan sayang."


Vino terus menenangkan sifa yang sejak tadi air matanya tak kunjung terhenti, Sifa terus saja memegang tangan Vino yang terluka dengan meniup-niupkan untuk mengurangi sakitnya yang membuat Vino tersenyum simpul melihat sikap Sifa yang begitu perhatian.


"Sayang udah ya aku mau nyetir, tangan aku udah nggak sakit, kan udah di obatin tadi sama dokter cantik!" ucap Vino dengan mengedipkan sebelah matanya yang membuat Sifa berdecak.


"Mana kunci mobilnya, aku aja yang nyetir!" Sifa menengadah tangan meminta kunci mobil yang sejak tadi ada di genggaman Vino.


"Emang bisa?"


Tanpa menjawab Sifa meraih kunci mobil itu dan masuk ke kursi kemudi. Vino hanya diam dan menuruti Sifa tanpa ingin membantah, dia ingin tau apa lagi kemampuan istrinya karena yang Vino tau, Sifa tidak pernah membawa mobil ke sekolah. Apa lagi mobil Vino ini adalah mobil keluaran baru yang hanya ada 2 di dunia dan tidak sembarangan bisa mengendarainya.


Tetapi lagi-lagi Vino tercengang dengan keahlian Sifa yang bisa dengan lihai menguasai jalanan dengan mobil sport Vino.


Bener-bener bini gue, nggak kaleng-kaleng.


Sifa memarkirkan mobil Vino dengan sempurna di tempat khusus yang biasa Vino gunakan.


"Istri aku hmm," Vino mengacungkan kedua ibu jarinya sambil menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Kenapa?" Sifa mengernyitkan dahinya.


"Aku pikir kamu nggak bisa bawa mobil, karena aku taunya kamu kemana-mana bawa motor. Dan mobil ini nggak gampang loh bawanya kalo masih baru nyoba."


"Aku cuma nggak mau ribet kalo pakek motor kan bisa nyelip-nyelip kalo lagi macet, irit waktu juga, ayo turun!" Sifa meraih tangan Vino dan seperti biasa menciumnya dengan takjim kemudian melihat luka di jari Vino yang di balut plaster.


"Sembuh ya!" lirih Sifa kemudian mengecupnya.


"Udah sembuh sayang, ayo aku antar sampai kelas!"


"Aku sendiri aja, aku nggak mau makin rame aja suara murid yang lain," tolak Sifa kemudian keluar dari dalam mobil Vino.


Mencoba menolak ajakan Vino yang ingin mengantarnya sampai kelas karena ingin menghindari opini publik, ternyata baru turun dari kursi kemudi saja desas desus dari mantan jebolan personil lambe turah sudah memenuhi telinga Sifa.


Sifa menarik nafas dalam dan membuangnya dengan kasar kemudian melirik Vino yang sudah berjalan mendekatinya


"Aku antar aja ya, percuma juga kamu nggak akan bisa menutup mulut mereka satu persatu!"


"Ya udah lah, sekalian aja kuyup dah nyebur juga!" ucapan Sifa yang ambigu justru membuat Vino menaikkan sebelah alisnya.


Sifa yang mengerti kebingungan Vino kemudian menarik lengan Vino untuk segera ke kelas. Tetapi saat berjalan menuju kelas Nita dengan angkuhnya berjalan menabrak lengan Sifa dari belakang membuat Sifa tersungkur, beruntungnya ada lengan yang menarik tubuh Sifa hingga jatuh ke pelukannya.


Vino yang sama-sama tidak sadar dengan kedatangan Nita, kalah gesit untuk menolong gadis itu. Setelah mencium wangi tubuh yang berbeda dengan suaminya, Sifa segera melepaskan cekalannya dan melihat ke arah si penolong.


Sifa terperanjat saat mengetahui siapa yang menolongnya dan wanita yang berada di sampingnya. Seketika ingatannya semalam kembali terlintas jelas membuat tubuh Sifa bergidik.


"Makasih Al...."


Setelah mendengar ucapan itu dari Sifa, mata Aldi kemudian melirik ke arah Vino.


"Tolong jagain dengan baik, kalo nggak sanggup loe bisa ikhlasin dia buat gue!" ucap Aldi membuat Vino mengepalkan tangannya dengan rahang yang sudah mengeras lalu menarik lengan Sifa hingga menabrak dadanya.


"Nggak usah khawatirkan milik orang lain, cukup loe jaga sikap dan perilaku loe di luaran sana, mungkin di sekolah image loe baik, karena loe tutupi dengan rapi sebagai ketos, tapi kalo mereka tau kelakuan loe di luar, gue nggak jamin loe bisa kembali di cap baik atau justru akan sama seperti gue, bad boy!"


Aldi terkesiap mendengar ucapan Vino, tetapi sebisa mungkin dia tutupi agar dia tidak terlihat bersalah dengan apa yang Vino ucapkan yang membuat anggapan orang lain membenarkan kata-kata Vino.


Vino melirik cewek di samping Aldi yang sangat dia kenal karena merupakan salah satu mantannya.


"Gue kira loe udah berubah ternyata lebih parah, udah berapa lama? cukup profesional juga sekarang hingga mampu menggaet ketos yang alim ini." ucapan Vino membuat muka Marta memerah menahan amarah.


Kemudian Vino memandang Sifa yang sejak tadi hanya diam memperhatikan.


"Ayo sayang, aku antar ke kelas!"

__ADS_1


__ADS_2