
Hawa dingin karena AC kini telah berubah dengan hawa panas dari kedua insan yang terbakar gairah. Vino benar-benar penakluk wanita, dia bisa membuat Sifa menginginkan lebih karena sentuhannya yang membuat hasrat semakin bergairah.
"By, aku ingin...."
"Tapi maafkan aku jika ini akan menyakitimu sayang!"
"Aku sudah siap by, lakukanlah..."
Vino kembali mencium bibir yang sejak tadi terus mengeluarkan suara indahnya. Dia ingin membuat Sifa lebih rileks karena setelah ini pasti Sifa akan kesakitan.
Dengan segala sentuhannya yang membuat Sifa semakin ingin, Vino mulai memasuki dengan perlahan, Sifa di buat meringis saat sesuatu yang mendesak semakin memaksa untuk singgah.
"Sakit by..."
" Aku pelan sayang, jika kamu nggak kuat aku bisa mundur lagi," lirih Vino dengan suara berat.
"Terus by, tapi pelan-pelan..."
"Iya sayang, sedikit lagi ya, tahan sayang..."
"Akh.." teriakan Sifa seraya masuknya milik Vino yang membuatnya menitikkan air mata.
Perih. itu lah yang Sifa rasakan saat ini, milik Vino yang gagah memang membuat sedikit ragu tetapi nyatanya masuk. Sifa memejamkan matanya dengan air mata yang jatuh ke telinga. Melihat itu Vino diam sebentar, dia tidak ingin terus mendesak, karena ini memang menyakitkan untuk istrinya.
Di kecupnya kedua mata Sifa, kemudian kedua pipi dan terakhir ke bibir mungil yang mendesis menahan sakit.
"Sedikit lagi sayang, lebih di tahan sebentar ya..."
"Eugh...." lenguhan Vino keluar bersama dengan darah segar yang mulai mengalir di batang yang kini terjepit kenikmatan.
Vino benar-benar bahagia, Sifa surganya saat ini, sempurna yang menuntunnya ingin lebih membawa Sifa menuju puncak kenikmatan dunia.
Perlahan Vino memaju mundurkan pinggulnya, membuat Sifa yang tadi mendesis sakit kini sudah kembali mend3sah nikmat. Keduanya benar-benar menyatu tak ada penghalang apapun bahkan peluh pun kini sudah menyatu.
"Akh....nikmat sayang, makasih cintaku!"
Sifa hanya bisa mengangguk, rasa ini tak dapat di gambarkan, sakit tapi nikmat, entahlah Sifa malu mengucapkannya.
Biarkan Vino bergerilya meraih apapun yang dia inginkan. Lenguhan serta erangan dari keduanya semakin bersahutan seiring pergerakan yang Vino lakukan hingga keduanya sampai ke titik puncak yang membuat mereka gemetar tak tertahan.
Vino ambruk setelah bisa nya memenuhi rahim Sifa seraya mengusap lembut perut istrinya, ntah apa maksudnya tetapi setelah itu Vino mencium perut Sifa kemudian berbaring di samping istrinya.
"Sayang makasih ya, maaf tadi menyakitimu!" lirih Vino kemudian mencium pundak polos Sifa dan menarik selimut untuk menutupi tubuh keduanya.
__ADS_1
Sifa tak menjawab sepatah katapun, tubuh yang belum terbiasa membuatnya sedikit lelah. Vino membuatnya berulang kali mengalami pelepasan. Hingga pagi keduanya masih terlelap di bawah selimut yang sama dengan tubuh yang masih polos.
Langit semakin meninggi, Sifa yang biasanya bangun pagi seperti habis minum obat tidur yang tak beranjak sedikitpun dari mimpi. Apa lagi dada bidang yang sekarang mendekapnya dengan erat membuatnya semakin tak ingin terjaga.
Berulang kali Vino memberi kecupan yang membuatnya seperti tergelitik, Vino pun enggan turun dari tempat tidur. Dia lebih senang merasakan hangat tubuh yang semalam menjadikannya tak perjaka lagi.
"Sayang...."
cup
"Udah siang loh, kamu nggak laper?"
"Eugh....."
Sifa hanya menggeliat menjadikan suara Vino seperti angin lalu. Vino di buat gemas karena posisi Sifa yang semakin menempel, membuat si junior kembali terjaga padahal ketika bangun tadi Vino sudah bersusah payah menahan agar tak berujung menyerang.
"Paha kamu sayang, jangan salahkan aku jika aku menyerangmu lagi ya!" bisik Vino di telinga Sifa kemudian menelusupkan kepalanya di leher yang penuh dengan tanda merah dari nya.
"Apa sich yank, aku masih ngantuk...." rengek Sifa.
"Aku mau lagi sayang, tanggungjawab dia bangun lagi!"
Mendengar itu Sifa justru mengusap lembut mini anaconda yang sudah berdiri kokoh, mungkin ia lupa jika semakin di sentuh semakin dia akan bangun dan menegang.
"Kamu mengusiknya sayang dan jangan salahkan dia yang akan masuk lagi ke sarangnya."
Vino semakin merapat dengan menempelkan dada mereka, merasakan dada lawan membuatnya semakin tersengat gairah. Hingga dengan tak sabar dia kembali mengulang permainan yang semalam.
Sifa yang masih mengantuk terpaksa harus membuka mata karena tangan Vino sudah tak aman.
Bahkan dia sudah merusuh di sekitar dada yang menjadi titik sensitif Sifa. Beruntung hari ini mereka libur setelah kemarin menyelesaikan ujian, jika tidak sudah di pastikan mereka akan bolos sekolah.
"Vin...."
Vino sudah kembali memasukkan mini anacondanya ke dalam sarang yang membuatnya menghangat di sana. Dia mulai memacu demi mampu membuat bisa itu kembali menyembur.
"Sayang rasanya aku ingin terus," Gerakan Vino tak selembut semalam, kini dia benar-benar ingin merasakan hal yang berbeda.
Hingga rasa sakit yang semalam, masih begitu perih saat miliknya menerobos masuk tetapi kini Sifa pun menikmati hujaman yang ia terima. Seakan tak ingin lepas, ntah setelahnya akan bagaimana yang jelas kali ini ia merasa seperti di atas awan.
"Di atas sayang!"
Vino membalikkan posisi, dia membiarkan Sifa bergerak di atasnya, dan menikmati kekokohan yang tercipta di bawah sana.
__ADS_1
Lenguhan serta erangan mengiringi pergerakan Sifa, Vino di buat tak berdaya, dia pun mend3sah hebat merasakan setiap sentuhan dan jepitan dari milik Sifa yang jelas begitu menggigit.
"Terus sayang, percepat lagi...."
"Aku mau pipis by," lirih Sifa.
"Keluarkan saja, basahi tubuh aku..."
"Kamu nggak jijik by?" tanya Sifa yang sudah tak tahan merasakan ledakan dari miliknya saat ini.
"Bahkan semalam aku meminumnya sayang," Vino meraih pinggul Sifa dan membantunya untuk semakin mempercepat gerakan agar Sifa cepat merasakan indahnya surga dunia.
"Akkhh.......Vin."
Sifa bergetar hebat dengan cairan yang keluar begitu deras, membuat Vino pun rasanya ingin segera menyemburkan kembali bisanya yang sudah siap keluar.
"Aku juga ingin sayang....."
"Aaakkhhh Sifa I love you."
Vino menekan tubuh bagian bawah hingga Sifa merasakan hangatnya yang mengalir di dalam sana. Siang yang indah bagi keduanya, menyatukan pelu dan tubuh mereka hingga kembali merasakan lemas.
Tubuh Sifa ambruk di atas Vino, nafasnya tersengal setelah berpacu dengan hasrat. Vino mengusap lembut punggung Sifa yang di basahi keringat.
cup
"Makasih sayang..."
"ayo kita mandi terus makan sayang, kamu pasti laper kan?"
"Tapi nggak pengen kemana-mana by, pengen tiduran aja di kamar, aku lemes."
"Iya nanti delivery aja, aku siapin makanannya terus kita makan di sini ya. "Pokoknya hari ini kita ngamar dan jika perlu kamu nggak usah pakai baju sayang, biar aku gampang nantinya."
Mendengar ucapan Vino, Sifa melayangkan tatapan tajam hingga membuat Vino meringis melihatnya.
"Kalo gitu aku nggak mau kamu ajak ngamar!"
"Kenapa?"
"Vino, aku ingin istirahat, lagian juga masih sakit!" Sifa segera turun dari tubuh Vino dan melepas sesuatu yang sejak tadi anteng di sarangnya.
"Tapi kalo sudah beraksi kamu menikmati sayang dan memang harus lebih sering lagi biar sakitnya itu hilang, semua hanya sesaat sayang setelahnya menjadi nikmat!"
__ADS_1
"Vino!"