
Pagi yang begitu cerah menyambut seluruh makhluk di muka bumi ini untuk memulai segala aktivitas, tetapi tidak untuk gadis cantik yang kini tengah terdiam mematung, hari ini dunianya seakan gelap dan kembali seperti ingin runtuh seperti beberapa tahun lalu, bahkan tubuhnya seketika kehilangan daya dengan ponsel yang telah terjatuh di lantai. Hampir saja Sifa terjatuh kalo saja Vino tidak cepat menangkap tubuhnya.
"Kamu kenapa sayang?"
Air mata Sifa pecah dengan Isak tangis kesedihan, beberapa kali Vino bertanya tetapi tak kunjung di jawab, kemudian Vino segera membawa tubuh Sifa kembali ke atas ranjang.
Vino segera mengambil ponsel Sifa yang tergeletak di lantai, dia ingin mencari tau apa alasan istrinya hingga menjadi sesedih ini. Vino membuka layar ponsel Sifa dan melihat beberapa panggilan tak terjawab dengan nomor yang tak di kenal. Membuka beberapa pesan masuk dan media sosial yang tersedia juga tak kunjung mendapat informasi apapun, hingga panggilan masuk di ponsel Vino yang berasal dari sang mamah seketika membuatnya terdiam dan paham apa yang terjadi sebenarnya.
Pandangan Vino mengarah pada Sifa yang sudah turun dari ranjang sedang memasukkan beberapa helai baju ke dalam koper.
"Sayang, tenangin diri kamu dulu oke! aku anter kamu, kita kesana bersama-sama," ucap Vino mencoba menenangkan hati Sifa.
Tidak ada jawaban dari Sifa hanya Isak tangis yang semakin terdengar membuat Vino tak tega dan menarik tubuh Sifa masuk ke dalam pelukannya.
Sebelum menerima panggilan Sifa dan Vino sudah rapi dengan seragam putih abu-abu mereka dan ingin bergegas berangkat ke sekolah. Tetapi ponsel Sifa yang bergetar terus menerus membuat gadis itu segera menghentikan kegiatannya yang sejak tadi sedang memberi cream agar tanda merah di leher tak terlihat.
Dalam perjalanan menuju bandara Sifa hanya diam tanpa mau berbicara sepatah kata pun, bahkan air matanya seakan sudah mengering. Vino begitu khawatir dengan kondisi Sifa saat ini, ia tak dapat membayangkan jika nanti Sifa akan benar-benar terpuruk jika kabar yang datang benar adanya.
Vino mencari makanan dan minuman untuk Sifa karena sejak pagi tadi belum ada apapun yang masuk ke dalam tubuhnya. Dengan langkah tergesa Vino kembali menyusul Sifa yang duduk di kursi tunggu untuk menunggu jam keberangkatan pesawat.
"Makan dulu sayang," Vino memberikan burger untuk Sifa makan tetapi hanya ada gelengan kepala yang Vino dapat.
"Minum susunya kalo gitu!" Lagi-lagi hanya gelengan kepala yang membuatnya kehabisan kata-kata untuk menghadapi Sifa.
__ADS_1
Vino membuang nafas kasar kemudian berlutut di hadapan Sifa untuk membujuk Sifa agar mau makan walaupun hanya sedikit, mengingat Sifa yang memiliki riwayat penyakit lambung ia takut pada saat seperti ini justru tubuh Sifa tak kondusif.
"Please sayang, makan ya....nggak apa-apa sedikit yang penting perut kamu ke isi!" Hati Vino rasanya hancur melihat Sifa yang seperti ini, jantung hatinya tengah bersedih.
Tawa canda lenyap, bahkan enggan berucap, sebagai suami Vino berusaha semampu mungkin untuk menjadi tempat segala gundah. Bahkan pelukannya sejak tadi terus berusaha untuk menenangkan.
Vino menyuapkan sedikit roti burger ke mulut Sifa, susah payah Vino membujuk hingga akhirnya mulut itu mau terbuka walaupun sedikit. Senyum Vino terbit saat melihat Sifa mau memakan walau hanya sedikit.
"Pinter istri Vino....." susu yang masih cukup hangat ia arahkan kembali ke mulut Sifa agar dia mau meminumnya.
Perlahan tapi pasti Vino mampu membuat Sifa menghabiskan setengah dari burger yang ia beli dan satu gelas susu, sisanya masuk ke perut Vino.
Perjalanan jauh tak membuat Sifa terlelap, matanya terus terjaga dengan tatapan hampa. Vino menggenggam tangan Sifa sebagai tanda penyemangat agar dia kuat dan sebagai pengingat jika saat ini dia tidak sendiri lagi ada suami yang akan setia menemani.
Mata Vino mulai lelah tetapi dia usahakan sekuat mungkin untuk tak terlelap karena saat ini tugasnya menjaga bukan berujung malah dia yang di jaga.
"Mau minum?" tanya Vino dan di jawab gelengan kepala dari Sifa.
"Laper lagi nggak sayang?" lagi-lagi hanya gelengan kepala, melihat itu Vino menggaruk tengkuknya.
Sabar .....sabar, anggap aja belajar punya baby, yang harus aktif menanyakan walaupun tak ada jawaban.
Hamparan sawah begitu indah di pandang, dalam hati Vino andai tak ada apa-apa, ia rasanya ingin mengajak Sifa untuk masuk ke sawah, mencari belut kemudian bermain di sungai kecil yang mengaliri sawah dan berakhir makan di saung berdua, pasti sangat berkesan.
__ADS_1
Senyum Vino terbit saat membayangkan itu semua, dengan penampilan layaknya gadis desa Sifa datang menggendong bakul yang berisi makanan dengan beralas piring seng dan tak ketinggalan teh hangat yang tersedia di teko kecil.
Impian ku saat ini hanya terus bersamamu sayang, aku akan bersabar menghadapi kamu di saat susah maupun duka, sesuai janjiku aku akan menjaga kamu semampuku.
Vino memandang wajah sendu istrinya, sesekali mengecup jemari lentik yang sejak tadi berada dalam genggamannya.
Sesampainya di depan rumah kayu yang besar dengan pagar yang tinggi menjulang Sifa turun dari mobil dan segera melangkahkan kaki.
Langkahnya begitu berat, jemarinya begitu kuat menggenggam tangan suaminya, hingga dapat di rasakan oleh Vino kuku Sifa yang mengenai kulitnya, hal itu membuat Vino segera merangkul Sifa agar lebih tenang.
Air mata yang sudah mengering seketika runtuh tanpa ijin, semua bayangan kehidupan masa kecil kembali terlihat menghampiri. Jika waktu bisa terulang lagi mungkin Sifa akan lebih memilih untuk memperbaiki dan melakukan yang terbaik walaupun tak sejalan oleh hati.
Sampai di depan pintu, tubuh Sifa limbung bagai tertimpa beribu-ribu ton karung beras. Vino yang sejak tadi mendampingi selalu sigap di berbagai keadaan.
Hingga matanya fokus pada satu titik yang membuat pandangannya seketika menghitam dengan nafas yang terasa sesak. Semua tampak sedih saat melihat Sifa datang, menatap iba dan tak henti mengucap doa.
Sifa sudah tak mampu menahan tubuhnya, hingga lutut hampir bertemu dengan lantai kalo saja tidak segera di tahan oleh Vino.
"Sayang kalo tidak kuat berjalan jangan di paksa...." ucap Vino dengan dada yang sesak.
Sebisa mungkin Sifa berusaha untuk berdiri, Vino segera membantu dan tak ingin melepaskan, dia tau sebenarnya Sifa sudah tak sanggup tetapi semua ia paksakan agar terlihat mampu.
Perlahan Sifa menyeret langkahnya, Vino terus menguatkan dengan mengusap lembut lengan Sifa, tangisnya pecah kala matanya semakin jelas memandang. Orang-orang yang berkumpul sekitar sana segera menepi untuk mempersilakan Sifa melangkah dan semakin mendekat.
__ADS_1
Langkah Sifa terhenti saat sudah berjarak satu meter, jemarinya bergetar dalam genggaman Vino. Bahkan tubuhnya ambruk tak tertahan......"Nenek....."